Anak Ayam yang Bodoh

Standard

Suatu ketika ada seekor anak ayam yang suka berkelana di pekarangan, mencari makanan. Kepadanya sudah beberapa kali diperingatkan agar ia tidak berkelana terlalu jauh. Mengapa? Karena burung elang suka datang menyambar anak-anak ayam. Begitu percaya diri anak ayam itu, sehingga ia meremehkan peringatan, dan terus saja berkelana ke segala penjuru.

Pada suatu hari, seekor elang yang sedang kelaparan mengintai anak ayam mungil, dan menukik tajam ke arahnya. Melihat elang itu, sang induk ayam berteriak memberi pertanda agar semua anak ayam berlindung di bawah naungan sayapnya. Semua anak ayam melejit ke arah induknya mencari perlindungan, kecuali anak ayam itu yang masih mengembara kian kemari mencari makanan. Elang itu menukik tajam ke dekat anak ayam itu. Cakarnya dengan lembut mencengkeram anak ayam itu dan membawanya terbang.

Sambil mencengkeram anak ayam itu kuat-kuat, namun lembut, sang elang mengudara ke tempat tinggalnya di atas gunung. Tidak menyadari dirinya dibawa terbang oleh seekor elang, anak ayam itu berpikir bahwa akhirnya ia dapat terbang juga. Sang elang membawanya ke puncak gunung. Ketika anak ayam itu sedang mencari makanan di tempat yang baru itu, sang elang mematuk dan membutakan mata si anak ayam dengan patuknya yang keras dan tajam. Sewaktu anak ayam itu tertatih-tatih ke sini ke sana, sang elang segera memakannya, potong demi potong.

Seperti itulah kesudahan orang-orang yang mengembara jauh dari hadirat Allah yang kekal (Hosea 8:1). Ketika anak ayam itu sedang dibawa terbang oleh sang Rajawali, anak ayam itu mengira dirinya sedang terbang. Begitu pula iblis dengan liciknya dan dengan begitu halus menipu orang yang menjauh dari hadirat Allah sehingga orang itu mengira dirinya baik-baik saja dan bahwa ia masih menikmati berkat dari Allah (lihat Matius 4:8; Lukas 4:5). Seperti anak ayam itu, ketika seseorang terperangkap oleh tipu daya iblis, si iblis akan membutakan pengertian rohaninya dan menumpulkan kepekaannya terhadap Allah (Matius 6:22-23).

Karena kehidupan rohaninya sudah dibutakan dan menjadi gelap, orang itu akan lebih jauh lagi terpikat oleh segala macam kejahatan. Ia terus-menerus hidup dalam dosa dan memberontak terhadap Allah (Roma 7:8). Sebagaimana anak ayam yang dibutakan itu akhirnya dilahap oleh sang elang, orang itu akan mati di dalam dosanya (Yohanes 10:10, Roma 7:11). Bukankah Simson juga mengalami akhir yang tragis seperti itu (Hakim 16)?

Disadur dari Permata Hikmat
Ditulis oleh Sadhu Sundar Selvaraj
Halaman 25-26

“Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” (Wahyu 2:5). Segera bertobat dan kembali pada kasih kita yang mula-mula kepada Tuhan Yesus. Aminn..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s