Mewariskan Keterampilan Mengelola dan Karakter

Standard

Keluarga yang saleh akan menurunkan keterampilan mengelola dan karakter sebagai jaminan keberhasilan yang utama; mereka tidak menekankan benda-benda atau uang. Siapa pun yang menghendaki bisnisnya yang sudah berhasil tetap berhasil bagi generasi-generasi yang akan datang, dan tetap berada di tangan keluarga, harus melatih anak-anaknya untuk mengambil alih bisnis tersebut.

Mereka harus memahami semangat yang menghasilkan keberhasilan, yaitu visi jangka panjang, kepedulian terhadap orang lain dan bagaimana membangun relasi, serta memiliki pemahaman yang menyeluruh bahwa mereka adalah hamba-hamba yang bertanggung jawab terhadap Tuhan dalam hal bagaimana mereka mengembangkan apa yang telah Tuhan percayakan kepada mereka.

Kita tidak tahu berapa banyak yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita. Kita berharap bahwa, jika Kristus belum datang kembali, Tuhan akan mengizinkan kita untuk meninggalkan warisan bagi mereka. Tetapi apakah Anda ingin tahu apa yang sungguh-sungguh kita pedulikan? Kita tidak terlalu peduli perihal meninggalkan warisan. Kita peduli tentang meninggalkan keterampilan karakter, karena seseorang yang memiliki keterampilan karakter bisa mendapat semua hal yang ia butuhkan. Tetapi sebaliknya, seseorang yang memiliki segala sesuatu tanpa keterampilan karakter tidak akan dapat mempertahankan segalanya, apalagi mendapatkan lebih banyak lagi.

Banyak yang berpikir bahwa Anda harus mewariskan kekayaan untuk menjadi kaya. Salah! Menurut George Gilder dalam bukunya “Wealth and Poverty” mengatakan, “Sebagian besar kekayaan orang Amerika habis dalam dua generasi. Mengapa? Ketika uang itu benar-benar diwariskan, sebagian besar dari padanya jatuh ke tangan anak-anak yang terhilang.. Karena setelah menerima suatu warisan, mereka sering kali melenyapkan kualitas-kualitas wirausahawan yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungannya.”

Kesalahan yang dilakukan oleh banyak orang kaya adalah tidak pernah mengajar kepada anak-anak mereka bagaimana menjadi kaya. Jadi, ketika anak-anak mewarisi kekayaan, mereka menghambur-hamburkannya, menggunakannya dengan cara yang bodoh, atau berinvestasi dalam proyek-proyek yang tidak menguntungkan. Kunci untuk menghindari pemborosan: tanamkan keterampilan mengelola yang bijak di dalam diri kita sendiri; kemudian melalui teladan, pengajaran, dan praktik, tanamkan itu kepada anak-anak kita. Tidak seorang pun bisa mendapat karakter yang saleh dan dewasa jika tidak mempunyai tanggung jawab akan pengelolaan yang bijaksana dan setia atas milik pribadinya sendiri.

Saya yakin Tuhan ingin membangkitkan dinasti-dinasti dan keluarga-keluarga Kristen, yang mengajarkan kepada anak-anak mereka dari satu generasi kepada generasi selanjutnya, dan membangun sebuah bola salju kekayaan untuk digunakan bagi Kerajaan Allah. Tetapi hal itu hanya akan terjadi ketika umat Tuhan belajar, melalui praktik pengelolaan kekayaan pribadi secara disiplin, untuk menjadi pengelola-pengelola yang baik.

Di dalam Amsal 20:21 dikatakan bahwa kekayaan yang diperoleh dengan cepat akan segera lenyap. Mengapa? Karena jika Anda mendapat terlalu banyak kekayaan dengan cara yang terlalu cepat, Anda belum memiliki keterampilan untuk mengelolanya. Itulah sebabnya mengapa mereka yang cepat kaya jarang tetap kaya untuk jangka waktu yang lama. Menumpuk kekayaan tidak didasarkan pada seberapa cepat Anda mendapatkan kekayaan itu. Ini didasarkan pada kemampuan untuk mengelola apa yang menjadi tanggung jawab Anda. Itulah sebabnya mengapa berjudi dan keinginan cepat menjadi kaya tidak pernah baik untuk jangka panjang.

Ingatkah ketika bangsa Israel mengambil Tanah Perjanjian? Musa berkata, “TUHAN, Allahmu, akan menghalau bangsa-bangsa ini dari hadapanmu sedikit demi sedikit; engkau tidak boleh membinasakan mereka dengan segera, supaya jangan binatang hutan menjadi terlalu banyak melebihi engkau.” (Ulangan 7:22). Prinsipnya sederhana: Jangan mengambil lebih daripada yang dapat Anda kelola. Berinvestasi dalam hubungan adalah kunci menuju kepada kekayaan, karena hubungan akan meningkatkan respons perjanjian (pengaturan diri) dan bukan pemborosan jangka pendek. Tindakan terakhir Kristus sebelum kematian-Nya adalah mengatur akan pengurusan keluarga-Nya. Betapa indah contoh itu untuk kita ikuti!

Disadur dari tulisan Dennis Peacocke, yang merupakan seorang orator yang paling baik. Beliau juga merupakan presiden dari Strategic Christian Services, dan dianggap sebagai seorang ahli strategi alkitabiah tingkat internasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s