Hanya Sekadar Agama

Standard

Baru-baru ini ada seorang gadis muda berusia dua puluh tiga tahun, terbang ke Pittsburgh dari New York, untuk menghadiri Kebaktian Hari Jumat di Gereja First Presbiterian. Keluarganya sangat agamawi dan telah menjadi jemaat dari gereja yang sama. Sebelum anggota keluarga baru lahir, mereka semua tahu ketika bayi itu lahir akan diberikan pada gereja, dan mengikuti Sekolah Minggu. Saat cukup usia, dia akan menjadi jemaat, anggota paduan suara, lalu menjadi diaken atau pengerja gereja. Hal ini terjadi dari generasi ke generasi.

Tetapi gadis muda ini mematahkan pola tersebut dan menyimpang dari tradisi itu. Dia adalah orang pertama dari keluarga tersebut yang menolak gereja. “Nona Kuhlman, saya memberontak menentang agama. Saya muak dan lelah dengan agama!” Sebelum dia berkata lanjut, saya melihatnya dan berkata, “Saya juga merasakan hal sama, aneh bukan?” Dia menatap saya dengan ketidakpercayaan di wajahnya. Saya membuatnya tertegun dan tidak mampu berkata-kata.

“Apa yang baru kau dengar itu benar,” kata saya. “Jika saya harus menjadi agamawi, saya tidak akan melakukan apa yang sedang saya lakukan hari ini, karena saya tidak dibenarkan berlaku seperti itu. Saat masih kecil, saya adalah anak yang paling nakal di Concordia., Missouri. Tetapi kakak perempuan saya adalah orang yang baik, sehingga saya yakin dia sangat agamawi secara alamiah. Bagaimana orangtua saya bisa melahirkan anak yang berbeda sifat, saya tidak akan pernah mengetahuinya. Saya tidak bisa menjadi seorang agamawi, jika memang diharuskan begitu.”

“Tetapi apakah kamu tahu sesuatu? Saya sangat tergila-gila dengan Yesus! Saya sangat mencintai-Nya lebih dari segala hal yang ada di dunia ini, karena seluruh hidup saya tidak berputar di sekeliling agama, tetapi di sekeliling Yesus Kristus, Anak Allah yang hidup. Hal itu bukanlah sesuatu yang kaku dan agamawi, tetapi sesuatu yang pribadi, sangat penting, dan memberi saya tujuan hidup. Apa yang saya hidupi adalah suatu kehidupan, dan bukan hanya sekadar agama.”

Akhirnya dia mengeluarkan suaranya dan kami berbicara cukup lama. Sebelum pergi, dia berkata, “Saya telah mengerti seluruhnya. Berdoalah buat saya sekarang, Nona Kuhlman. Berdoalah sehingga saya tidak melewatkan yang terbaik dari Allah untuk hidup saya!”

Mungkin semua yang telah Anda alami selama ini adalah sekadar agama. Tetapi, jika hidup Anda dipusatkan kepada-Nya, maka Anda memiliki sesuatu yang LEBIH dari sekadar agama: tujuan hidup, Alkitab (dan firman Allah yang nyata), serta sukacita dan kedamaian bagi jiwa (Yohanes 15:11). Agama tidak akan memberikan seorang Pribadi yang akan bersyafaat bagi hidup Anda, yaitu Imam Besar, Perantara, dan Pribadi yang memberikan nama-Nya kepada Anda untuk digunakan sebelum Dia naik ke Surga (Ibrani 4:14-15; Yohanes 14:13; Yohanes 15:16).

Agama tidak akan bertahan dalam ujian ketika Anda berhadapan dengan: pencobaan hidup, kekecewaan, dan dengan kubur yang menganga atau kekekalan. Jangan semata-mata bergantung pada agama. Bapa di Surga, Tuhan Yesus Kristus, dan Allah Roh Kudus adalah seorang Pribadi. Kekristenan yang sejati bukanlah agama, melainkan suatu hubungan dengan Pribadi dari Ketritunggalan Allah: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. (Disarikan dari tulisan Kathryn Kuhlman)

Christianity is not a religion, it’s the way of life..

[Dimuat dalam Buletin Phos edisi April 2012]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s