Kedewasaan dalam Hidup

Standard

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” (1 Korintus 13:11).

Setelah membaca ayat di atas, pasti kita akan bergumam, “Ah, Paulus ini kok pakai ajarin saya. Pastilah. Di mana-mana yang namanya usia masih anak-anak, ya berpikirnya seperti anak-anak. Dan, kalau sudah berusia dewasa, tentu keadaannya menjadi berbeda dan meninggalkan sifat ke-kanak-kanakan tersebut.” Tetapi, apakah benar kita sudah merasa dewasa? Apakah pernah terpikir di dalam hidup kita yang bertindak seperti ini..

• Bukankah seringkali kita masih merasa iri hati apabila melihat orang lain (yang kelihatannya) lebih diberkati? Padahal Tuhan sudah memberkati kita dengan cara-Nya sendiri.

• Bukankah seringkali kita masih sering membenci orang lain karena ucapan, sifat, dan kelakuannya kepada kita? Padahal seharusnya kita memeriksa diri sendiri apakah perkataan dan kelakuan kita tidak pernah menyakitkan orang lain.

• Bukankah seringkali kita melihat keluarga lain rasanya kok lebih berbahagia dari keluarga kita. Padahal, keluarga tersebut sebenarnya iri melihat keluarga kita yang lebih harmonis.

• Bukankah seringkali kita mengeluh akan apa yang kita terima dari Tuhan, karena tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Padahal kalau mau diperhatikan, Tuhan seringkali memberi jauh lebih baik dan berharga tanpa kita sadari.

• Bukankah seringkali kita merasa lelah karena telah berusaha sekuat tenaga tetapi kok hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan? Terlebih ketika melihat orang lain yang berusaha Tanpa sekuat tenaga tetapi hasilnya berlimpah, kita merasa iri. Padahal, Tuhan memberikan berkat-Nya pada setiap orang berbeda, karena sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Ternyata kita sebenarnya terlalu sibuk mengurusi kepunyaan orang lain, sehingga kita lupa untuk menikmati hasil seberapapun yang kita peroleh. Kita lupa untuk bersyukur pada apa yang sudah kita miliki. Jadi, kalau kita masih memiliki sifat ke-kanak-kanakan tersebut, apakah kita sudah layak menyandang predikat sebagai: “Orang Dewasa”?

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2).

-Disadur dari BBM bro Sugeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s