Pandangan Kita yang Terbatas

Standard

Ingatkah engkau ketika dahulu mulai belajar berjalan? Ketika engkau mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak? Ingatkah engkau, ketika pertama kali memandang segala sesuatu dari kakimu yang mungil? Segala sesuatu terasa begitu jauh dan tak terjangkau oleh tangan-tangan mungilmu. Kaki kursi maupun kaki bangku seakan-akan tongkat untuk menahanmu tetap berdiri.

Di bawah meja makan merupakan tempat favoritmu, meja makan yang cukup untuk menudungi kepalamu. Kau menengadah ke atas dan melihat lampu-lampu indah, kau takjub dan kagum melihatnya, lalu kau mengulurkan tanganmu untuk menjangkaunya. Tapi kau tak sanggup. Segala sesuatu tampak begitu jauh dan tak terjangkau bagi tangan dan kaki mungilmu yang berusaha untuk menggapainya.

Lalu kau mulai mendengar sebuah suara memanggilmu. Kau mencari di sekelilingmu dengan tertatih-tatih, tapi kau tidak menemukannya. Suara itu memanggilmu lagi. Kau semakin penasaran dan menjejakkan kakimu ke atas lantai cepat-cepat untuk mencari sumber suara itu. Tangan dan kaki kecilmu berusaha menjaga keseimbangan, ketika engkau berlari untuk menemukan siapa yang memanggilmu.

Suara yang begitu lembut, suara yang kau tahu berasal dari orang yang mengasihimu. Suara yang sama terdengar memanggilmu sekali lagi, tetapi engkau tetap tidak menemukan suara itu. Yang aku lihat di sekitarmu hanyalah mainan mobil-mobilanmu yang berserakkan, 4 buah kaki kursi, sebuah balon, beberapa buah buku, krayon, dan akhirnya, tampat favoritmu di bawah meja makan. Kau berlari dan dan menengok ke bawah meja makan, kalau sumber suara itu berasal dari sana. Dan kau mendengar suara itu sekali lagi, disertai dengan tawa yang lembut.

“Ke mana kau mencari, anakku? Lihatlah aku berada di atasmu.”

Kau pun mendongakkan kepalamu dan melihat sumber suara itu. Ibumu berdiri dan tersenyum melihatmu. Kau pun tersenyum dan berpikir “Hei, lihat, aku dapat menemukanmu.” Lalu kau mengulurkan tangan mungilmu, mencoba mengapainya. Mencoba menciumnya, mencoba memegang tangannya. Namun, aduh! Tanganmu tidak dapat mencapainya. Tiba-tiba Ibu terasa begitu jauh darimu. Ia berdiri menjulang tinggi dan tak dapat kau raih. Kau mulai kecewa dan menangis. Kau menginginkan ibu! Kau ingin mencium, memegang pipi, ingin menarik rambutnya. Kau menginginkan ibu, tapi kau tidak dapat mencapainya.. Ibumu terasa begitu jauh.

Dan, tiba-tiba kau merasa tubuhmu terangkat. Ada sepasang tangan yang memegang pinggang kecilmu. Kau melihat ibumu tersenyum dan berkata, “Nah, aku menemukanmu!” Kau menggapai dengan tanganmu, dan lihat, kau bisa memegang pipinya. Ia tertawa ketika tangan-tanganmu memegang pipinya. Bahkan ketika salah satu tanganmu menarik rambutnya, ia tertawa dan menarik kau mendekat padanya, dan mencium pipimu. Kau tertawa bahagia. Akhirnya kau bisa meraih ibumu. Oh tidak, akhirnya ibumu bisa meraih dan mendekapmu.

Berapa sering kita merasa bahwa Tuhan terlihat jauh dan tidak terjangkau bagi tangan-tangan kita? Atau mungkin kita ingin sekali menjangkau-Nya tapi.. Ups! Tangan kita kurang panjang. Kaki-kaki kita kurang tinggi untuk dapat menjangkaunya.

Pernahkah kita merasa bahwa saat Tuhan jauh, kita berpikir dan membayangkan diri kita seperti anak kecil dengan pandangan yang serba terbatas, sehingga tidak bisa melihat bahwa sesungguhnya kita berada di bawah kaki-Nya! Kita ada kurang dari 10 cm dari hadapan-Nya. Pandangan kita sangat terbatas. Tidak seperti pandangan-Nya! Pada pandangan-Nya kita begitu dekat, sehingga tangan-Nya bisa menjangkau dan menarik mendekat pada-Nya.

Bagi-Nya kita begitu dekat, sehingga bunyi nafas kita pun terdengar oleh-Nya. Ketika Ia menundukkan kepala, ada kita di dekat kaki-Nya. Ia tersenyum dan tertawa ketika melihatmu mencari-Nya, padahal kau ada di dekat kaki-Nya. Dan akhirnya, Ia mengangkat pingangmu, membawamu naik untuk dapat menciummu. Untuk membiarkanmu memegang pipi-Nya, untuk membiarkanmu menarik rambut-Nya. Ia ada dekat sekali denganmu. Yang kau perlukan hanyalah menjulurkan tanganmu ke atas, menengadahkan kepalamu, dan Ia akan mengangkatmu ke atas. Ia akan membungkuk dan mengulurkan tangan-Nya.

Jika kau merasa begitu jauh dari-Nya, ingatlah bahwa engkau berada di dekat kaki-Nya..

[Dari berbagai sumber]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s