Change A Thing, Get Anything

Standard

Sekitar seratus tahun yang lalu, ada seorang pria tengah membaca koran pagi, tiba-tiba ia begitu terkejut dan merasa sangat ngeri. Bagaimana tidak? Di koran tersebut ia mendapati namanya tertulis di kolom berita kematian. Entah bagaimana persisnya, tapi yang jelas pihak koran telah keliru menuliskan nama orang yang meninggal dunia.

Reaksi pertama pria tersebut tentu saja sangat shock. “Apakah saya benar-benar masih di sini atau sudah di surga?” gumamnya pada diri sendiri. Ketika ia sudah kembali tenang, mulai timbul keinginannya untuk mengetahui, apa yang dikatakan orang-orang mengenai dirinya? Ia pun melanjutkan membaca berita yang berjudul “Raja Dinamit Tewas,” di mana ia disebut-sebut sebagai seorang pedagang “Penyebar Kematian.”

Pria yang lahir di Stockholm tanggal 21 Oktober 1833 itu memang seorang penemu dinamit. Akan tetapi ketika dirinya disebut-sebut sebagai “penyebar kematian,” ia pun tersentak dan bertanya-tanya dalam hati, “Apakah saya memang ingin dikenang dengan predikat ini?” Tentu saja tidak! Karena itulah ia memutuskan, sejak hari itu ia mulai bekerja keras dan mengubah arah tujuannya, yaitu menuju perdamaian. Nama pria itu adalah Alfred Nobel, dan sebagaimana kita tahu, namanya dikenang dan dikenal oleh masyarakat dunia sebagai nama sebuah hadiah yang sangat terhormat, Hadiah Nobel.

Ketika Alfred Nobel melakukan refleksi untuk mendefinisikan kembali nilai-nilai dan tujuan hidupnya, kita pun perlu melakukan hal yang sama, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

– Apa warisan yang akan kita tinggalkan?
– Bagaimana kita ingin dikenang?
– Dengan predikat seperti apakah, seluruh hidup kita akan digambarkan?
– Apakah kita akan dikenang dengan cinta dan rasa hormat?

Dengan merefleksikan pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka kita mulai mendefinisikan tujuan hidup, dan besar kemungkinan, seluruh hidup kita pun akan mengalami perubahan secara fundamental sebagaimana yang dialami Alfred Nobel. Bahkan sampai pada puncaknya, bukan tidak mungkin, kita pun akan dikenang dengan cara yang persis sama dengan tujuan hidup yang kita tetapkan.

Sebelum mengakhiri artikel ini, kami ingin mengutip sebuah kalimat yang tertera dalam epitaph atau batu nisan di makam Sir Isaac Newton (25 Desember 1642 – 20 Maret 1727) seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, alkimiawan, dan teolog yang berasal dari Inggris. “Nature and Nature’s laws lay hid in night: God said, ‘Let Newton be!’ and all was light.” Alam dan Hukum Alam tersembunyi di kegelapan malam; Tuhan berfirman, ‘Jadilah Newton!’ Maka semuanya menjadi terang.

Mestinya, begitu pula dengan tujuan hidup kita. Tak terlalu berlebihan kalau kita pun menetapkan tujuan, agar di setiap kehadiran dan keberadaan kita, dapat membawa terang atau manfaat–paling sedikit–bagi orang-orang terdekat atau masyarakat di sekitar kita. (Disadur dari Majalah LuarBiasa)

[pernah dimuat dalam Buletin Phos edisi Mei 2012]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s