Jemaat Tesalonika: Jemaat yang Kuat secara Rohani

Standard

Surat Tesalonika adalah salah satu surat yang ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat yang berada di Tesalonika. Di sana diceritakan bahwa Paulus telah merintis jemaat dan mengalami pertumbuhan luar biasa. Tetapi saat surat itu dirilis, jemaat sedang mengalami ujian iman. Kekristenan sedang ditentang oleh agama Yudaisme, dan mereka mengalami masa-masa aniaya. Dalam 1 Tesalonika 1:6-8, dikatakan bahwa walaupun jemaat sedang dalam masa-masa aniaya, mereka tetap kuat di dalam iman, bahkan dapat menjadi teladan bagi jemaat lainnya.

Mengapa jemaat Tesalonika tetap kuat di dalam iman? Mengapa mereka dapat menjadi teladan bagi jemaat lainnya, di tengah aniaya yang mereka hadapi?

Poin pertama kita dapatkan dalam 1 Tesalonika 2:13: mereka mendengar dan mau menerima perkataan firman Tuhan yang disampaikan sebagai firman Allah. Jemaat Tesalonika percaya bahwa setiap firman yang disampaikan adalah firman Allah, tidak mempermasalahkan siapa yang berkhotbah. Iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus (Roma 10:17). Mendengar dengan sungguh-sungguh (tidak hanya sekadar mendengar), dan hidup mereka mau untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Bagaimana cara untuk mendengar suara Tuhan? Dalam Mazmur 51:8, dikatakan bahwa, “Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.” Maksud dari “kebenaran dalam batin” ialah orang yang mau jujur terhadap dirinya sendiri, dan mau dibentuk untuk menjadi lebih baik. Kitab Mazmur 51 memiliki latar belakang pertobatan Daud karena peristiwa dengan Betsyeba. Daud masih punya kesempatan untuk menyangkal saat nabi Natan menegur. Tetapi Daud tidak membela dirinya sendiri, ia menyadari dosa-dosanya dan mau untuk bertobat.

Poin kedua ada di dalam ayat 1 Tesalonika 2:14: mereka merasakan penderitaan yang dirasakan orang lain. Berbicara tentang saling melayani, membagi hidup, dan menguatkan iman sesama. Tidak hanya sekadar duduk memanasi bangku gereja, tapi juga mau untuk melayani sesama. Prinsip melayani Tuhan ada 3 hal: di dalam kerajaan surga tidak ada pengangguran, di dalam Tuhan jiwa kita mengalami ketenangan (Matius 11:28-30), dan milikilah kerendahan hati (Matius 20:26-28). Melayani sesama, bukan melihat status.

Poin ketiga ada di dalam 1 Tesalonika 4:1-2: mereka mendengar suara gembalanya, mendengar suara pemimpin. Hal ini berbicara tentang kehidupan kita yang mau untuk digembalakan dalam sebuah gereja lokal. Kita punya tudung secara rohani sehingga tidak mudah menjadi sombong. Di dalam Alkitab, Tuhan selalu memakai pemimpin yang ada untuk menjaga dan mengarahkan hidup umat-Nya menjadi lebih baik. Di tengah kesempatan untuk dapat menjadi tenar, Israel Houghton (penyanyi rohani dari Amerika) mau untuk tetap berada di bawah penggembalaan Joel Osteen (Joel Osteen’s Lakewood Church di Houston, Texas). Karena mendengar suara gembala yang membuat dia ter-cover secara rohani, dan juga menjaga hidupnya supaya tetap rendah hati.

Biarlah melalui ulang tahun GMS Surabaya Barat yang ke-16 ini terus membuat kita menjadi kuat secara rohani dan menjadi teladan Kristus yang baik di manapun kita berada. Kita dapat belajar dari jemaat Tesalonika, yakni: mendengar sungguh-sungguh dan mau menerima perkataan firman Tuhan yang disampaikan sebagai firman Allah, mau melayani Tuhan dan sesama, serta taat dan mendengar suara gembala (mau digembalakan di dalam gereja lokal). Tuhan Yesus memberkati.

(Disadur dari khotbah Ps. Judy Koesmanto, di kebaktian ke-2, di GMS Barat Sukomanunggal)

[pernah dimuat dalam Buletin Phos edisi Mei 2012]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s