Monthly Archives: June 2012

Cover Yourself with Him

Standard

“Clothe yourself with the Lord Jesus Christ (the Messiah), and make no provision for [indulging] the flesh [put a stop to thinking about the evil cravings of your physical nature]” (Romans 13:14, AMP)

Is there something in your life that you would like to put a stop to today? Maybe it’s a certain behavior, addiction or bad attitude that isn’t pleasing to God? Just as Adam and Eve were exposed in their sin and needed to be clothed in the Garden, we need to clothe ourselves to protect us from sin. When you “clothe yourself” with the Lord Jesus Christ, He strengthens you against temptation.

How do you clothe yourself with Jesus Christ? In the same way you cover yourself in the natural with clothing — by putting something on. You have to daily “put on” the Word of God. You have to cover your ears by listening to the Word. You cover your eyes by watching only what is pleasing to the Lord. You cover your mouth by speaking the Word and encouraging those around you. As you cover yourself with Christ, you will be strong against temptation, and you will walk in the victory the Lord has planned for you!

A PRAYER FOR TODAY
Heavenly Father, thank You for sending Your Son, Jesus, to pay the penalty for my sins. Thank You for providing a way out of temptation so that I can stand clean before You. Help me stand strong as I cover myself with Your Word in Jesus’ name. Amen.

— Joel & Victoria Osteen

Advertisements

No Condemnation

Standard

Subject: No Condemnation

“There is therefore now no condemnation to those who are in Christ Jesus, who do not walk according to the flesh, but according to the Spirit” (Romans 8:1, NKJV)

Jesus came to break the curse of sin, shame and condemnation in our lives. He came so that we could see things the way God sees them. Do you know how God sees you? He sees you as valuable. He sees you as strong. He sees you as capable, talented and trustworthy. The voice of condemnation says exactly the opposite. Condemnation is a loss of value. It’s the accusing voice of the enemy that says, “You’re not good enough…you’ll never be good enough…you’re a failure.”

Condemnation is never from God. The Bible tells us there is no condemnation for those who are in Christ Jesus. When you embrace and declare God’s truth in your life, you activate His power to overcome the voice of condemnation. No matter how you may be feeling, wake up every morning and declare that the Greater One lives in you. Declare that you are strong in the Lord and in the power of His might. Declare that He loves you and has called you according to His purpose. Choose to see yourself as valuable, the way God sees you. Embrace His truth so that you can overcome condemnation and live in victory all the days of your life!

A PRAYER FOR TODAY
Father in heaven, thank You for setting me free from condemnation. Thank You for believing in me and filling me with Your vision for my life. Help me to see my life the way You see it in Jesus’ name. Amen.

— Joel & Victoria Osteen

Don’t Give Up

Standard

“So let’s not get tired of doing what is good. At just the right time we will reap a harvest of blessing if we don’t give up” (Galatians 6:9, NLT)

Are you believing God for something that is taking longer than you thought or expected? If you are praying according to His promises, no matter how long you may have been standing, don’t give up! Your season is coming. Your harvest of blessing is on its way. It might be today, it might be tomorrow, it might be next week, next month or next year; but remember, at the right time you will experience your breakthrough. Be encouraged today because God is faithful, and His promises are true.

Keep standing, keep hoping, keep believing. Keep doing good. Keep declaring the promises of God over your life. Choose to be around people who are going to encourage you and fill your heart and mind with God’s Word. Let a song of praise come out of your mouth. As you continue to press on in faith and keep an attitude of victory, you will see your harvest of blessing and live as an overcomer in every area of your life.

A PRAYER FOR TODAY
Heavenly Father, thank You for Your faithfulness in my life. Fill me with Your strength to keep doing good and standing firm until I see my harvest of blessing. Thank You for Your peace and grace in Jesus’ name. Amen.

— Joel & Victoria Osteen

Power in His Word

Standard

“Your word have I laid up in my heart, that I might not sin against You” (Psalm 119:11, AMP)

Did you know that the Word of God has the power to protect you and keep you from doing the things you know you shouldn’t do? Hebrews tells us that the Word of God is living and active; it’s powerful in our lives. God communicates to us through His written Word, the Bible, and He communicates with us through His spoken Word which can come in many ways. In scripture, God spoke to people through a burning bush, a still small voice, and even a donkey. Today, He may speak to your heart through a friend, a worship song, or something in creation. One thing is for sure, when He does speak, your spirit knows it. There is confirmation in your inner man. God always speaks truth, and truth always sets you free!

God’s Word also protects you. When you hold His Word close to your heart, it acts like a shield around your heart. You hold His Word close to you by meditating on it, focusing on it, thinking about it and declaring it. As you allow His truth to sink into your spirit, it will empower you and change you. It will equip you to live the good life He has prepared for you!

A PRAYER FOR TODAY
Heavenly Father, thank You for Your Word which strengthens and protects me. Thank You for speaking truth to my heart. Help me to hear Your voice more clearly that I may live a life pleasing to You in Jesus’ name. Amen.

— Joel & Victoria Osteen

Menjadi Cermin Bapa

Standard

Nats: “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4).

Judul: Menjadi Cermin Bapa

Kita diciptakan oleh Tuhan Yang Agung dan Besar agar kita hidup untuk kemuliaan-Nya. Inilah salah satu pengajaran yang melekat kuat di benak John Piper melalui kehidupan bapaknya. Saat ibunya meninggal karena kecelakaan, John menemani sang bapak yang luka parah di ambulans. Di sela tangis menahan rasa sakit, ia berbicara tentang Roma 8:28 dan mengajar John bahwa Tuhan memegang kendali atas segala situasi. Tak malu dengan tubuhnya yang pendek, sang bapak juga mengajar John mensyukuri dan tidak menyia-nyiakan rancangan Tuhan atas dirinya.

Sesuai Efesus 6:1, John memberi penghormatan publik kepada bapaknya dengan menceritakan teladan-teladan imannya di tengah jemaat yang ia gembalakan. Melalui hal itu ia menginspirasi banyak bapak untuk menjalani hidup yang layak dihormati oleh anak-anaknya, dan mengajak orang untuk memandang Pribadi Tuhan sebagai Bapak yang sempurna. Ya, menjadi bapak adalah sebuah panggilan yang indah, karena status tersebut mencerminkan Pribadi Tuhan sebagai Bapak di surga. Itu sebabnya setiap bapak diminta mendidik anak-anaknya “di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (ayat 4), bukan ajaran dan nasihatnya sendiri.

Memperingati Hari Ayah, marilah kembali bersyukur kepada Tuhan yang berkenan menjadi Bapak kita. Bapak-bapak di dunia barangkali mengecewakan, tetapi tidak dengan Bapa di surga. Dia menerima dan mengasihi kita sepenuhnya, ajaran dan nasihat-Nya sempurna. Mari mendoakan para bapak yang kita kenal, agar dapat mendidik keluarganya dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Dan, mari memberikan penghormatan kepada mereka yang telah memberkati kita dengan hidup sebagai cerminan Bapa di surga. –ELS

GENERASI YANG MENGASIHI DAN MENGHORMATI TUHAN DIBENTUK OLEH PARA ORANGTUA YANG MENCERMINKAN-NYA.

[Sumber dari Renungan Harian Online]

I’m an Actor, Not Reactor

Standard

Pada suatu hari, ada dua orang ibu yang memasuki toko pakaian hendak membeli baju seragam untuk anaknya. Ternyata pada saat itu pemilik toko pakaian sedang badmood (suasana hatinya lagi kurang baik), sehingga dia melayani dengan tidak baik, terkesan buruk, melayani dengan tidak sopan, dan dengan muka yang cemberut. Ibu pertama jelas marah karena menerima layanan yang kurang baik seperti itu. Tetapi yang mengherankan, ibu kedua malah bersikap santai, bahkan membalas dengan bersikap sopan pada penjualnya.

Lalu ibu pertama bertanya, “Mengapa Ibu bersikap sopan dan baik hati kepada penjual yang menyebalkan itu? Bukankah dia telah melayani kita dengan kurang baik?” Lantas ibu kedua menjawab, “Mengapa aku harus mengijinkan dia untuk menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah yang menentukan hidup kita, bukannya orang lain.” “Tetapi dia telah melayani dengan buruk sekali,” bantah ibu pertama. “Itu adalah masalahnya. Kalau dia mau badmood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dan lain-lain, toh tidak ada kaitannya dengan kita. Kalau sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia yang mengatur dan menentukan sikap hidup kita, padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri kita sendiri,” jelas ibu kedua.

Melalui kisah di atas, tanpa disadari tindakan kita kerap kali dipengaruhi oleh tindakan orang lain. Kalau orang melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk. Dan terjadi sebaliknya. Kalau orang berbuat tidak sopan, kita akan membalasnya dengan perbuatan yang lebih tidak sopan. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah hati, tiba-tiba menjadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang tersebut. Ini berarti tindakan kita telah dipengaruhi oleh sikap orang lain.

Kalau kita merenungkan, betapa tidak arifnya tindakan kita. Mengapa untuk berbuat baik, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain? Jagalah suasana hati kita dan jangan biarkan sikap buruk orang lain menentukan cara kita bertindak. Kitalah sang penentu yang sesungguhnya atas suasana hati kita sendiri. Jangan biarkan orang lain yang mengatur emosi kita. Orang lain boleh memaki, namun kita boleh memilih untuk tetap tersenyum. Orang lain boleh menghina, namun kita boleh memilih untuk tetap memaafkan. Orang lain boleh memarahi, namun kita boleh memilih untuk tetap sabar.

Apapun yang dilakukan orang lain, kita boleh memilih untuk tetap rendah hati dan bersikap bijaksana. Saat kita mampu mengatur emosi diri sendiri, kita sudah menjadi PEMENANG dari kehidupan ini.

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32).
“Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.” (Amsal 25:28).

[Disadur dari berbagai sumber]

[Pernah dimuat dalam Buletin Phos edisi Juni 2012]

Tentang Kekudusan

Standard

Seorang ibu muda Kristen duduk sambil membaca Alkitabnya. Dia terus menggunakan sebagian besar waktunya untuk membaca, mencari tahu lebih dalam tentang Roh Kudus. Dia menghabiskan berjam-jam untuk mencari dan meneliti Alkitab, sehingga pekerjaan rumah tangganya menjadi sesuatu yang melelahkan dan menjemukan dan pekerjaan itu dilakukan dengan terburu-buru atau seringkali diabaikan. Kedamaian, kehangatan, dan rasa nyaman yang menjadikan rumah itu sebagai suatu tempat istirahat yang tenang bagi seluruh anggota keluarga, sekarang telah lenyap.

Pada suatu hari, saat dia sedang mempelajari Alkitabnya dengan konsentrasi penuh, putrinya yang masih kecil berjalan menghampirinya sambil membawa bonekanya yang rusak. Dia berkata, “Ibu, tolong perbaiki boneka saya.” Dengan gerakan yang tidak sabar ibu itu menepis gadis kecil itu dan berkata, “Ada hal yang lebih penting yang sedang Ibu lakukan daripada memperbaiki bonekamu. Pergilah dan bermainlah, sayang. Tidakkah engkau lihat Ibu sedang sibuk membaca Alkitab?”

Gadis kecil itu menjauh dengan sedih dan ibu itu kembali melanjutkan pencariannya akan kekudusan. Tetapi pencariannya tidak membuahkan hasil dan pada akhirnya ibu itu menutup Alkitabnya dengan helaan nafas, dan dia mencari putrinya. Dia menemukan putrinya sedang tertidur dengan bonekanya di pelukannya. Sisa air mata masih membekas di wajah kecilnya yang cantik.

Saat itu Allah berbicara pada ibu itu. Seketika itu juga hati ibu tersebut dijalari perasaan bersalah, dan dengan lembut dia membungkuk dan mencium putrinya itu. Sambil menggendong putrinya dalam pelukannya, ibu itu berdoa kepada Allah memohon pengampunan. “Maafkan Ibu, ya sayangku. Ibu akan memperbaiki bonekamu itu.”

Pada saat itu Allah menyingkapkan kepada ibu tersebut kenyataan bahwa kekudusan tidak akan dihasilkan dengan mengabaikan kewajibannya. Pengabdiannya kepada Allah dilihat dari kepeduliannya terhadap keluarganya, suaminya, putrinya, pekerjaan rumah tangganya; dan sekali lagi rumah itu menjadi sebuah rumah yang nyaman dan setiap lembar Alkitab disingkapkan dengan kemuliaan yang baru.

Ada kekudusan dengan menjadi seorang ibu yang baik. Ada kekudusan dengan menjadi seorang istri yang baik. Kekudusan juga berarti menjadi seorang suami yang baik. Anda tidak bisa berkata bahwa Anda ini sangat rohaniah dan mengikuti Tuhan dalam kekudusan jika Anda melupakan atau mengabaikan anak-anak Anda, jika Anda melupakan atau mengabaikan anak lelaki atau perempuan, suami, istri Anda. Saat ini saya sedang mengatakan sesuatu yang sangat praktis seperti halnya firman Allah. Jangan abaikan keluarga Anda. Jangan abaikan anak-anak Anda.

Anda adalah contoh hidup bagi mereka. Anda mungkin saja menjadi satu-satunya Alkitab yang sedang mereka baca sekarang ini. Dengan mengabaikan mereka, mereka akan kehilangan keyakinan pada Anda yang merupakan sesosok rohaniah dan ibu yang ilahi. Bertahun-tahun kemudian, mereka bisa mengacungkan jari tuduhan kepada Anda dan berkata terus-terang, “Kau sangat sibuk membaca majalah dan buku-buku rohani sehingga kau tidak pernah memiliki waktu untuk menjadi teladan Kristus atau Ibu yang dipimpin oleh Roh bagi keluargamu.”

Anggaplah ini sebagai suatu peringatan yang diberikan dalam kasih: jika keluarga Anda tidak lagi menganggap rumah mereka menjadi sesuatu yang tenang, maka itulah saatnya untuk menyelidiki hati dan hidup Anda. Saya berbicara kepada anak-anak Allah yang mengakui hal-hal rohaniah. Ingatlah selalu: rumah seorang pria seharusnya menjadi istananya; dan setiap pria yang memiliki keluarga seharusnya bahagia dan rindu untuk selalu pulang ke rumah, untuk menghabiskan waktunya bersama dengan istri dan anak-anaknya.

Dan tugas istri adalah menciptakan suasana damai, kehangatan dan kasih, sehingga menjadi rumah yang tenang dan nyaman yang membuat suami serta anak-anak bergegas pulang ke rumah. Jika anak-anak Anda lebih suka berada di rumah tetangga daripada di rumah mereka sendiri, maka mungkin ada sesuatu yang tidak beres dengan suasana kehidupan rumah mereka dan Anda adalah bijak untuk membawa masalah itu dalam doa.

Apapun yang kita lakukan, saudaraku yang terkasih, haruslah ada sukacita dalam segala hal yang kita lakukan. (Disarikan dari tulisan Kathryn Kuhlman).

[Pernah dimuat dalam Buletin Phos edisi Juni 2012]