Yudas, Orang yang Tidak Pernah Tahu

Standard

Kadang saya bertanya-tanya orang seperti apa Yudas itu. Mukanya, cara bertindaknya, siapa teman-temannya. Saya rasa saya sudah menggambarkan dia sebagai tipe standar. Saya selalu melukis dia sebagai orang yang kurus tetapi kuat, matanya bulat kecil seperti manik-manik, orang yang licik dan tidak dapat dipercaya sama sekali, lengkap sampai janggut kambingnya. Saya gambarkan dia sebagai orang yang sudah terasing dari rasul-rasul lain. Tidak punya teman. Jauh dari orang. Jelaslah bahwa dia seorang pengkhianat. Mungkin hasil dari keluarga yang pecah. Anak berandal di masa mudanya.

Tetapi saya bertanya-tanya apakah itu benar. Kita tidak punya bukti (kecuali sikap diam Yudas sendiri) yang mengisyaratkan bahwa ia menyendiri. Pada Perjamuan Terakhir, ketika Yesus mengatakan bahwa pengkhianat-Nya duduk semeja dengan Dia, kita tidak mendapati para rasul langsung berbalik memandang Yudas sebagai orang yang jelas berwatak pengkhianat. Saya kira kita sudah salah menilai Yudas. Mungkin dia justru bersifat berlawanan dari gambaran kita. Dia bukan licik dan kurus kering, tetapi mungkin kokoh, baik hati dan gembira. Daripada orang yang pendiam dan introvert, dapat saja dia berwatak ramah dan bermaksud baik. Saya tidak tahu.

Tetapi di samping semua yang kita tidak tahu tentang Yudas, ada satu hal yang kita tahu pasti: ia tidak ada hubungan dengan sang Guru. Ia sudah melihat Yesus, tetapi ia tidak mengenal Dia. Ia sudah mendengar Yesus, tetapi ia tidak mengerti Dia. Ia punya agama tetapi tidak punya hubungan.

Ketika iblis mencari jalan mengelilingi meja makan di ruang atas itu, ia membutuhkan seseorang yang khusus untuk mengkhianati Tuhan kita. Ia memerlukan orang yang sudah melihat Yesus tetapi tidak mengenal-Nya. Ia memerlukan orang yang mengenal tindakan-tindakan Yesus tetapi luput dari pengenalan akan misi Yesus. Yudaslah orangnya. Ia mengenal kekaisarannya tetapi tidak pernah mengenal Pemiliknya.

Kita mendapat pelajaran ini dari si pengkhianat. Sasaran penghancuran iblis yang terbaik tidak terdapat di luar gereja tetapi di dalamnya. Sebuah gereja tidak akan mati karena kelanggengannya di Hollywood atau karena korupsi di Washington. Ia akan mati karena kerusakan internal—dari mereka yang memakai nama Yesus tetapi tidak pernah bertemu dengan Dia dan dari mereka yang mempunyai agama tetapi tidak punya hubungan (dengan Yesus). Yudas memakai mantel agama tetapi tidak pernah mengenal hati Kristus. Marilah kita jadikan sasaran kita untuk mengenal Dia … Secara mendalam. (Disarikan dari tulisan Max Lucado).

[Pernah dimuat di Buletin Phos]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s