Tentang Kekudusan

Standard

Seorang ibu muda Kristen duduk sambil membaca Alkitabnya. Dia terus menggunakan sebagian besar waktunya untuk membaca, mencari tahu lebih dalam tentang Roh Kudus. Dia menghabiskan berjam-jam untuk mencari dan meneliti Alkitab, sehingga pekerjaan rumah tangganya menjadi sesuatu yang melelahkan dan menjemukan dan pekerjaan itu dilakukan dengan terburu-buru atau seringkali diabaikan. Kedamaian, kehangatan, dan rasa nyaman yang menjadikan rumah itu sebagai suatu tempat istirahat yang tenang bagi seluruh anggota keluarga, sekarang telah lenyap.

Pada suatu hari, saat dia sedang mempelajari Alkitabnya dengan konsentrasi penuh, putrinya yang masih kecil berjalan menghampirinya sambil membawa bonekanya yang rusak. Dia berkata, “Ibu, tolong perbaiki boneka saya.” Dengan gerakan yang tidak sabar ibu itu menepis gadis kecil itu dan berkata, “Ada hal yang lebih penting yang sedang Ibu lakukan daripada memperbaiki bonekamu. Pergilah dan bermainlah, sayang. Tidakkah engkau lihat Ibu sedang sibuk membaca Alkitab?”

Gadis kecil itu menjauh dengan sedih dan ibu itu kembali melanjutkan pencariannya akan kekudusan. Tetapi pencariannya tidak membuahkan hasil dan pada akhirnya ibu itu menutup Alkitabnya dengan helaan nafas, dan dia mencari putrinya. Dia menemukan putrinya sedang tertidur dengan bonekanya di pelukannya. Sisa air mata masih membekas di wajah kecilnya yang cantik.

Saat itu Allah berbicara pada ibu itu. Seketika itu juga hati ibu tersebut dijalari perasaan bersalah, dan dengan lembut dia membungkuk dan mencium putrinya itu. Sambil menggendong putrinya dalam pelukannya, ibu itu berdoa kepada Allah memohon pengampunan. “Maafkan Ibu, ya sayangku. Ibu akan memperbaiki bonekamu itu.”

Pada saat itu Allah menyingkapkan kepada ibu tersebut kenyataan bahwa kekudusan tidak akan dihasilkan dengan mengabaikan kewajibannya. Pengabdiannya kepada Allah dilihat dari kepeduliannya terhadap keluarganya, suaminya, putrinya, pekerjaan rumah tangganya; dan sekali lagi rumah itu menjadi sebuah rumah yang nyaman dan setiap lembar Alkitab disingkapkan dengan kemuliaan yang baru.

Ada kekudusan dengan menjadi seorang ibu yang baik. Ada kekudusan dengan menjadi seorang istri yang baik. Kekudusan juga berarti menjadi seorang suami yang baik. Anda tidak bisa berkata bahwa Anda ini sangat rohaniah dan mengikuti Tuhan dalam kekudusan jika Anda melupakan atau mengabaikan anak-anak Anda, jika Anda melupakan atau mengabaikan anak lelaki atau perempuan, suami, istri Anda. Saat ini saya sedang mengatakan sesuatu yang sangat praktis seperti halnya firman Allah. Jangan abaikan keluarga Anda. Jangan abaikan anak-anak Anda.

Anda adalah contoh hidup bagi mereka. Anda mungkin saja menjadi satu-satunya Alkitab yang sedang mereka baca sekarang ini. Dengan mengabaikan mereka, mereka akan kehilangan keyakinan pada Anda yang merupakan sesosok rohaniah dan ibu yang ilahi. Bertahun-tahun kemudian, mereka bisa mengacungkan jari tuduhan kepada Anda dan berkata terus-terang, “Kau sangat sibuk membaca majalah dan buku-buku rohani sehingga kau tidak pernah memiliki waktu untuk menjadi teladan Kristus atau Ibu yang dipimpin oleh Roh bagi keluargamu.”

Anggaplah ini sebagai suatu peringatan yang diberikan dalam kasih: jika keluarga Anda tidak lagi menganggap rumah mereka menjadi sesuatu yang tenang, maka itulah saatnya untuk menyelidiki hati dan hidup Anda. Saya berbicara kepada anak-anak Allah yang mengakui hal-hal rohaniah. Ingatlah selalu: rumah seorang pria seharusnya menjadi istananya; dan setiap pria yang memiliki keluarga seharusnya bahagia dan rindu untuk selalu pulang ke rumah, untuk menghabiskan waktunya bersama dengan istri dan anak-anaknya.

Dan tugas istri adalah menciptakan suasana damai, kehangatan dan kasih, sehingga menjadi rumah yang tenang dan nyaman yang membuat suami serta anak-anak bergegas pulang ke rumah. Jika anak-anak Anda lebih suka berada di rumah tetangga daripada di rumah mereka sendiri, maka mungkin ada sesuatu yang tidak beres dengan suasana kehidupan rumah mereka dan Anda adalah bijak untuk membawa masalah itu dalam doa.

Apapun yang kita lakukan, saudaraku yang terkasih, haruslah ada sukacita dalam segala hal yang kita lakukan. (Disarikan dari tulisan Kathryn Kuhlman).

[Pernah dimuat dalam Buletin Phos edisi Juni 2012]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s