Live Your Dream

Standard

“Saya tidak bermimpi di malam hari, saya bermimpi sepanjang hari; Saya bermimpi untuk hidup”
–Steven Spielberg

Berbahagialah orang yang terus bermimpi dan bersedia membayar harga untuk membuat impiannya terwujud menjadi nyata. Bahkan seandainya dalam perjalanan menggapai mimpi tersebut–seseorang harus meninggal dunia sebelum berhasil mewujudkan impiannya–ia telah menjalani suatu kehidupan yang penuh makna.

Lihatlah apa yang terjadi pada kisah hidup Dr Martin Luther King, Jr, [15 Januari 1929 – 4 April 1968] seorang pendeta, aktivis, dan pemimpin terkemuka dalam Gerakan Hak Sipil Amerika-Afrika. Dengan gigih ia memperjuangkan hak-hak sipil di Amerika Serikat tanpa kekerasan–mengikuti ajaran Mohandas Karamchand Gandhi, atau yang lebih dikenal sebagai Mahatma Gandhi–sehingga namanya menjadi ikon nasional dalam sejarah liberalisme Amerika modern.

Pada periode sebelas tahun antara 1957 dan 1968, King telah bepergian sejauh lebih dari sebelas juta kilometer dan berbicara sebanyak lebih dari dua ribu lima ratus kali. Ia senantiasa muncul di setiap adanya ketidakadilan, protes, dan gerakan; sambil terus menulis hingga menghasilkan lima judul buku serta berbagai artikel. Ia telah berunding dengan Presiden John F. Kennedy dan berkampanye untuk Presiden Lyndon B. Johnson. Dan karena perjuangannya tersebut, ia ditangkap sebanyak lebih dari dua puluh kali dan diserang sedikitnya empat kali. Tetapi karena itu pula ia dianugerahi lima gelar kehormatan; termasuk gelar “Man of The Year” oleh majalah Time pada tahun 1963. Di samping menjadi penerima hadiah Nobel Perdamaian termuda sepanjang sejarah, saat ia baru berumur 35 tahun.

Pada tahun-tahun tersebut, ia memimpin sebuah protes besar-besaran di Birmingham, Alabama, yang menarik perhatian seluruh dunia, untuk memberikan apa yang ia sebut sebagai “Koalisi Hati Nurani dan Inspirasi.” King juga memimpin pawai damai di Washington, DC, yang dihadiri oleh lebih dari 250.000 orang. Pada kesempatan inilah ia menyampaikan sebuah pidato berdurasi 17 menit yang sangat terkenal, di Lincoln Memorial, Washington DC, berjudul “I Have a Dream.”

Katanya,

“Saya punya impian bahwa suatu hari nanti bangsa ini akan bangkit dan hidup dalam arti yang sebenarnya dari kredo-nya: ‘Kami memegang kebenaran ini menjadi jelas; bahwa semua manusia diciptakan sama’.
Saya punya impian bahwa suatu hari bahkan negara bagian Mississippi, negara dengan terik panas ketidakadilan, dan penindasan, akan berubah menjadi oase kebebasan dan keadilan.
Saya punya impian bahwa empat anak saya pada suatu hari nanti akan tinggal di sebuah negara di mana mereka tidak hanya akan dinilai berdasarkan warna kulit mereka, tetapi dari isi karakter mereka.”

Pada bagian lain King menegaskan,

“Saya memiliki impian bahwa suatu hari nanti, setiap lembah akan ditinggikan, setiap bukit dan pegunungan akan dibuat rendah, tempat yang kasar akan dibuat dataran, dan tempat-tempat bengkok akan dibuat lurus, dan kemuliaan Tuhan akan terungkap, dan semua daging akan melihatnya bersama-sama. Ini adalah harapan kami. Ini adalah iman, kenapa saya kembali ke Selatan. Dengan iman ini kita akan dapat menebang keluar dari gunung keputusasaan batu harapan. Dengan iman ini kita akan dapat mengubah semua perselisihan bangsa kita menjadi simfoni indah persaudaraan.

Dengan iman ini kita akan dapat bekerja sama, berdoa bersama, berjuang bersama, masuk penjara bersama, berdiri untuk kebebasan bersama, mengetahui bahwa kita akan bebas suatu hari. Ini akan menjadi hari ketika semua anak-anak Tuhan akan dapat bernyanyi dengan makna baru…”

Akan tetapi, sebelum impian besarnya itu benar-benar terwujud, seorang pembunuh menembaknya pada tanggal 4 April 1968–saat ia tengah berdiri di balkon sebuah motel tempatnya menginap–dalam lawatannya untuk memimpin pawai protes simpatik dengan para pekerja sampah di Memphis, Tennessee. Sebuah peluru telah mengenai pipi kanannya, menghancurkan rahangnya, kemudian melewati sumsum tulang belakang, untuk akhirnya bersarang di bahunya. Martin Luther King, Jr, dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit pada pukul 07:05 waktu setempat.

Secara anumerta ia dianugerahi “Presidential Medal of Freedom” pada tahun 1977 dan Medali Emas Kongres tahun 2004. Dan sejak tahun 1986, pemerintah federal AS menetapkan peringatan Martin Luther King, Jr Day sebagai hari libur.

Semua orang punya impian. Apapun bentuknya, paling tidak, kita semua memimpikan hari esok yang lebih baik bagi pertumbuhan anak-anak kita. Karena itu sebagian besar orang pun menginginkan sebuah dunia yang lebih baik. Dunia yang tidak dipenuhi dengan begitu banyak kebencian, kejahatan dan hal-hal negatif lainnya, sebagaimana terjadi pada zaman Martin Luther King Jr.

Apapun impian Anda, kita perlu mulai hidup berdasarkan impian. Karena, bukankah hidup ini terlalu singkat untuk tidak mencobanya?

(Disadur dari Majalah LuarBiasa)

[Dimuat dalam Buletin Phos edisi Juli 2012..]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s