Terobosan Rohani

Standard

Di bawah ini adalah versi lengkapnya, tapi karena keterbatasan ruang, beberapa kalimat dikurangi. Semoga dapat menjadi berkat bagi setiap kita..

Terobosan Rohani (2 Korintus 12 : 7-10). Pengertian kata “terobosan” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki pengertian: menembus, mendobrak, mematahkan (barisan, kepungan musuh). Dasar dari terobosan rohani adalah memiliki cara pandang Allah dengan merubah mindset (pola pikir) yang diselaraskan dengan konsep Allah. Artinya dari konsep manusia/dunia diubah kepada konsep surgawi dan adanya tindakan yang nyata di dalam hidup ini.

Konsep surgawi akan menghasilkan perubahan/transformasi hidup yang radikal, sehingga kita dapat menikmati mukjizat-mukjizat Allah (The Year of Increase: Increase in all things). Terobosan rohani sangat berdampak terhadap kehidupan, serta berpengaruh terhadap jiwa dan tubuh jasmani kita. Terobosan rohani berkaitan erat dengan iman kepada Allah yang transenden (melampaui/melebihi segala-galanya/sukar dipahami/di luar pengertian manusia) dan imanen (tetap ada, selama-lamanya bersifat kekal). Oleh karena itu, setiap dari kita harus memiliki roh yang kuat agar dapat memahami rencana Allah di dalam kehidupan kita.

Seorang penerobos akan berjalan terus di depan karena dia percaya bahwa Tuhan sendiri yang berada di kepala barisan (Mikha 2:13). Bila Tuhan memberi suatu pewahyuan, Dia menginginkan agar kita juga diperlengkapi. Roh kita juga dikuatkan dan dimampukan untuk berjalan dalam kehendak Allah. Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26). Iman yang dimiliki harus disertai dengan perbuatan yang selaras dengan iman yang benar terhadap Allah, bukan dengan cara yang sembarangan.

Paulus dalam kesaksiannya di 2 Korintus 12:7-8, tidak bersaksi karena Tuhan menyembuhkan dirinya dari “duri dalam daging”. Tetapi dia membagikan tentang Tuhan yang tetap memberikan duri tersebut. Melalui hal ini, Tuhan memberikan rambu-rambu, supaya Paulus tidak bergeser dari iman dan perbuatannya. Terobosan rohani (perubahan mindset/pola pikir) yang terjadi dalam diri Paulus adalah ketika ia mengenal Kristus (Filipi 3:7-9). Ia tidak bersaksi tentang doa-doanya yang dikabulkan oleh Tuhan, tetapi justru tentang doa yang tidak dikabulkan. Ia membagikan tentang: “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (ayat 10b). Kita harus tetap mengasihi Tuhan, walau doa-doa kita diijinkan Tuhan tidak dijawab. Sebab Tuhan memberi yang terbaik bagi hidup kita.

Terobosan rohani terjadi ketika kita memiliki hubungan yang karib dan intim bersama dengan Tuhan. Bila kita mengalami terobosan rohani, maka terobosan-terobosan yang lain akan mengikuti. Terobosan dapat saja terjadi tanpa Tuhan, tetapi sifatnya hanyalah sementara. Konsep pikiran kita harus diubah: mengikut Kristus bukan karena ada mujizat, tapi karena roh kita diikat bersama dengan Kristus dan tetap setia (iman dan berbuat yang benar) sampai garis akhir dan menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya.

Tidak semua doa yang dinaikkan dengan penuh kesungguhan hati akan dikabulkan oleh Tuhan. Sebab doa bukanlah “alat” untuk memaksa Allah menuruti kemauan kita. Doa sendiri adalah ekspresi penyerahan diri kita pada kedaulatan dan kuasa-Nya. Yesus sendiri di dalam firman-Nya mengajarkan demikian: “..tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42). 

Tidak semua doa dikabulkan, namun tidak ada doa yang tidak dijawab, walaupun jawaban Tuhan itu berbeda dengan keinginan dan permohonan doa kita. Ketika kita meminta kekuatan, Ia memberi kelemahan agar kita tetap setia dan taat pada-Nya. Ketika kita meminta kesehatan agar dapat mengerjakan perkara yang lebih besar, Ia memberi anugerah agar dapat mengerjakan segala sesuatu dengan lebih baik. Ketika kita meminta kekayaan (supaya lebih bahagia), Ia memberi kekurangan supaya kita dapat belajar bijaksana dalam kehidupan ini.

Kasih karunia Tuhan tidak hanya terwujud ketika kita dibebaskan dari kesulitan, tapi ketika kita diberi kekuatan menghadapi dan melewati setiap pencobaan yang diijinkan-Nya datang di dalam kehidupan kita. (Disarikan dari khotbah Ps. Bambang Susanto).

[Dimuat dalam Buletin Phos edisi Juli 2012..]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s