Monthly Archives: August 2012

Renungan Malam

Standard

Di abad 1, ada seorang Rabbi terkemuka yang suka belajar dan mngajar Taurat, namanya Rabbi Akiva. Saat itu, kekaisaran Romawi mengeluarkan keputusan melarang siapapun mempelajari dan mengajar Taurat. Suatu hari, ketika Akiva sedang mengajar Firman Allah secara terbuka kepada orang-orang, ada seorang laki-laki bertanya padanya, ” Rabbi, apakah Anda tidak takut ketahuan mengajar Taurat? ”

Rabbi Akiva menjawab:

Situasi kita saat ini, seperti rubah yang berada di tepi sungai. Lalu dia melihat rombongan ikan yang berenang melesat kian kemari dengan cepat. Karena penasaran rubah bertanya, “Hei ikan, mengapa kalian berenang sedemikian cepat?”

Ikan menjawab: “Kami berenang cepat untuk menghindari jaring nelayan! Kalau ngga, kami bisa ditangkap!”

Rubah: “Kalau begitu, daripada kalian hidup ketakutan, naiklah ke lahan kering sini, kalian pasti lolos dan kita bisa hidup bahagia bersama-sama.”

Ikan: “Rubah, nasihatmu sepertinya bagus. Tapi salah! Jika kami hidup takut di sini, di air, di tempat yang seharusnya kami hidup, bagaimana nasib kami nanti kalau kami harus hidup di tempat yang bukan tempat kami? Pasti kami akan mati di situ!”

“Begitulah kita yang duduk dan belajar Taurat di sini,” kata Rabbi Akiva, “kita pasti tahu nasib kita jika pergi dan meninggalkan Firman Allah. Karena tempat kita memang di sini.”

Seperti perumpamaan yang diberikan oleh Rabbi Akiva, bahwa apapun yang terjadi ikan tak bisa meninggalkan air. Demikianlah kita juga memerlukan Firman Tuhan. Kita tidak bisa hidup tanpa dan di luarnya. Amin.

(Sumber dari broadcast BBM)

Advertisements

Murid Kristus

Standard

Siapakah yang berani mengatakan bahwa dia adalah “murid Kristus?”

Banyak orang Kristen, terutama pendeta, penginjil, usher, singer, bahkan semua pelayan gereja yang merasa dirinya adalah murid Kristus. Benarkah kalau kita sudah melayani di gereja, di atas mimbar Tuhan, kita sudah dapat dikatakan murid-Nya? Hanya hati nurani yang tulus, benar dan bersih yang mampu menjawabnya, hanya orang-orang yang rendah hati yang berani mengaku apakah dia PANTAS disebut “IKON Kerajaan Allah”

Mari bayangkan begitu banyak pelayan gereja bergaya hidup borjuis, bak konglomerat, berdandan ala artis, sexi bahkan vulgar, semua dilakukan “tanpa” peduli tempat dan waktu sesuka-sesukanya, karena mampu dan hobby, keseimbangan katanya. Apakah arti keseimbangan menurut Firman Tuhan?

Jika keduniawian masih begitu menonjol sebagai gaya hidup, pernahkah kita merenungkan sejenak bagaimana orang non-Kristen memandang pelayan-pelayan gereja ini, tidakkah mereka berpikir tidak ada bedanya, sangat mungkin mereka justru merasa lebih sehat jasmani rohani tanpa buang waktu masuk gereja? Mungkin sekali mereka justru malah menjauhi gereja?

Bagaimana IKON Kerajaan Allah itu?
1. Hidup wajar
2. Hati nurani harus hidup
3. Kedewasaan pribadi
4. Kesehatan jiwa
5. Hukum Allah.

“Jangan bersembunyi dalam bungkusan gereja, bila mau menjadi murid Yesus….” Jadilah CONTOH IKON Kerajaan Allah yang sejati, asli bukan bungkusnya saja.

(Sumber dari broadcast BBM pak Gembala)

Renungan Siang

Standard

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”” (Matius 5:16).

Kekerasan mengatasnamakan agama terjadi lagi, masing-masing merasa keyakinannya yang paling benar dan berhak menjadi “tuhan” atas yang lain, seakan-akan agama tidak kuasa untuk membentuk manusia menjadi lebih baik. Kalau ada kelompok yang tidak sepaham dengannya, maka harus dihancurkan, dimusnahkan, padahal kehidupan adalah milik Allah, monopoli dan hak eksklusif Allah, jadi ketika ada manusia mau merampas hak eksklusif Allah dengan menghilangkan nyawa sesamanya, berarti dia melawan Allah sendiri, sang sumber dan pemilik kehidupan.

Sebagai orang percaya kita dituntut untuk melakukan kebaikan bukan kekerasan, menjadi saksi bukan batu sandungan. Tapi dalam kenyataannya, tidak semudah itu, kita tahu yang baik, namun yang kita lakukan justru yang tidak baik, persis kata Paulus; “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.”

Berapa banyak orang yang taat beragama, dengan akal budinya melayani hukum Allah, tapi dengan tubuh insaninya melayani hukum dosa. Bahkan Paulus juga mengatakan; “tapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Alkitab dengan tegas mengatakan, bukan orang yang berseru Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam kerajaan sorga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Sudahkah kita tahu, apa kehendak Bapa kita di sorga?

Paulus berkata syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, dia dilepaskan dari tubuh mautnya. Hanya oleh Roh Kudus kita dimampukan menjadi terang bagi dunia yang gelap ini dan melakukan perbuatan yang baik, yang memuliakan Bapa kita di sorga. Tugas kita adalah menjadi saksi Kristus, bukan saksi gereja atau agama.

(Dari broadcast BBM pak Gembala)

Cepat Mendengar, Lambat Berkata-kata

Standard

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;” (Yakobus 1:19).

Dalam hidup ini seringkali kita diperhadapkan dengan orang menyebalkan baik di lingkungan tempat kita bekerja, dalam masyarakat, bahkan dalam keluarga atau di lingkungan gereja. Rasanya kita ingin memberi pelajaran kepada orang yang menyebalkan atau kalau memungkinkan menyingkirkannya.

Menurut Kirschner & Brinkman, penulis buku “Dealing with people you can’t stand”, ada beberapa pilihan dalam menghadapi orang yang menyebalkan..

1. Kita anggap mereka angin lalu, tidak usah berbuat apa-apa, tapi ternyata seringkali justru kitanya yang dibuat stress karena orang-orang menyebalkan tidak akan tinggal diam.
2. Menghindar sejauh mungkin, jangan berkonfrontasi, dengan menghindar kita tidak mengijinkan diri kita menjadi korban, baik korban provokasi orang yang menyebalkan maupun korban emosi kita yang tidak terkendali. Tapi metode ini belum tentu efektif karena kita seringkali tidak bisa menghindar terus menerus.
3. Daripada susah mengubah orang yang menyebalkan, lebih baik kita yang berusaha mengubah sikap kita, berusaha melihat mereka dari sudut pandang yang lain, berusaha memahami mereka, kita harus bersikap lebih dewasa daripada mereka.

Dalam menghadapi mereka, Firman Tuhan mengingatkan kita agar kita lambat berkata-kata dan lambat untuk marah, kita harus bisa menguasai diri kita. Logika dunia mengatakan bahwa orang yang menyebalkan sama dengan orang yang melakukan kejahatan terhadap kita oleh karena itu lawanlah dengan kekerasan bukan dengan kebaikan. Tapi Alkitab mengatakan bahwa “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”

Susah bukan? Mengalahkan kedagingan kita, ego kita. Tapi itu perintah Tuhan, oleh karena itu kita perlu kuasa Roh Kudus yang bisa menolong dan memampukan kita untuk melakukannya.

(Dari broadcast BBM pak Gembala)

Dua Kesalahan

Standard

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” (Filipi 4:12).

Siapa yang mau ditimpa masalah? Rasanya tidak ada seorangpun, tapi di sisi lain siapa yang bisa menghindari masalah dalam hidupnya? Tidak ada.

Rasul Paulus adalah teladan yang patut kita contoh, dalam menghadapi masalah, kesulitan, deraan, ancaman, ia tidak menjadi kecewa, sebaliknya ketika ia diberkati, diberi kenyamanan, kelimpahan, ia tidak menjadi hanyut. Tuhan memang tidak pernah menjanjikan orang percaya, bebas dari masalah, karena dunia tidak dirancang sebagai disney world atau dream world atau dunia fantasi di mana manusia dapat mendapatkan kegembiraan sesaat, dibuai tokoh-tokoh impian.

Tuhan tidak merancang dunia yang membuat manusia rapuh dan lembek, walau mungkin dunia seperti itulah yang kita idam-idamkan, justru iman itu teruji dari goncangan-goncangan yang menimpa kita. Dalam khotbah yang berjudul; “Dua kesalahan” dikatakan bahwa hidup kita bukanlah produk “sekali jadi” melainkan suatu “proses menjadi” Bergerak, Berkembang, Bertumbuh, Berubah. Dalam setiap proses pertumbuhan ini, satu unsur tak terhindarkan; kesakitan, masalah dan bertumbuh itu menyakitkan.

David Watson, seorang pendeta dari Inggris, ketika ia tahu bahwa ia menderita kanker usus, ia mengumpulkan teman-temannya dan membentuk kelompok doa, berdoa dengan keyakinan penuh bahwa Watson akan mengalami mujizat kesembuhan. Ternyata ia tidak sembuh juga, ia menulis buku; “fear no evil”, di situ ia bersaksi bahwa yang ia butuhkan adalah iman yang menopang, iman yang mengajarkan kepadanya “seni menghadapi maut”, di mana mati secara baik adalah prestasi, bukan kegagalan, yang harusnya disadari oleh orang beriman dan pula iman yang tdk silau dalam kemakmuran.

(Disadur dari BBM pak Gembala)

Keramahan dari Hati

Standard

“Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.” (Titus 3:2).

Judul: Keramahan dari Hati

Banyak bangsa mengedepankan keramahan sebagai nilai lebihnya di mata bangsa lain. Bangsa kita pun demikian. Namun, kadangkala upaya ini membuat keramahan tak lagi muncul dari hati. Misalnya saja, saat kita mengunjungi bank, kita menerima sapaan pegawai atau pun petugas  keamanannya. Kata-kata sapaannya tertata dan seragam, tetapi tanpa rasa dan tak kontak dengan yang disapa. Mimik wajah dan bahasa tubuh terlihat tak alamiah. Hasil latihan. Sebaliknya, sekalipun mungkin bukan dengan bahasa “sekolahan”, di toko-toko kelontong kecil ataupun di pasar, kita sering lebih merasa hangat disambut. Keramahan yang muncul karena tugas atau dari hati, dapat dirasakan bedanya. 

Paulus berpesan melalui Titus agar jemaat, pengikut Yesus, selalu ramah terhadap semua orang. Berlaku ramah bukan hanya kepada sesama pengikut Yesus, melainkan juga kepada semua orang, kepada mereka yang berlaku baik terhadap jemaat maupun yang tak menyukai jemaat. Mengapa? Paulus mengingatkan, bahwa kita diselamatkan juga bukan karena perbuatan baik kita (ayat 4-5). Semuanya adalah anugerah Tuhan. Anugerah itulah yang kita teruskan kepada sesama melalui sikap yang ramah. 

Keramahan bagi sebagian orang butuh pembiasaan. Dalam suasana Idul Fitri ini, bagaimanakah kita menunjukkan keramahan kepada kerabat, handai taulan, tetangga, mitra usaha, atau pun rekan sejawat yang merayakannya? Mintalah Roh Kudus menolong Anda merangkai kata yang tepat, sehingga mereka bisa melihat kasih Tuhan yang meluap dari hati Anda. –MUN               

Nyatakanlah keramahan dalam kata-kata yang meluap dari hati yang penuh kasih Kristus.

(Sumber dari Renungan Harian Online)

10 Pepatah Tiongkok

Standard

Subject: 10 Pepatah Tiongkok

Bacanya perlu perlahan-lahan dan dipahami..

1. Perjalanan 1000 mil diawali dengan satu langkah  kecil.
2. Sebuah batu permata tidak bisa dipoles tanpa gesekan, seperti halnya seorang manusia disempurnakan dengan rintangan hidup.
3. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.
4. Yang bertanya seperti orang bodoh selama 5 menit tapi yang tidak bertanya akan jadi orang bodoh selamanya karena ketidaktahuan.
5. Jika tidak ingin seorang pun mengetahuinya, jangan melakukannya.
6. Berikan seseorang seekor ikan dan kita memberinya makan untuk sehari. Ajarkan cara untuk menangkap ikan, kita memberinya makan untuk seumur hidup.
7. Waktu terbaik pertama menanam sebuah pohon adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua, mulai hari ini.
8. Bila ingin tahu masa lalu, lihat kondisi saat ini. Bila ingin tahu masa depan, lihat perbuatan saat ini.
9. Sebuah pembicaraan dengan orang bijak, lebih baik daripada 10 tahun menuntut ilmu.
10. Hidup sebagian, telah ditentukan dan sebagian lagi oleh teman-teman yang dipilih.

(Sumber dari email pak Gembala)