Budi Soehardi: The CNN Heroes

Standard

Budi Soehardi, The CNN Heroes–Mengembangkan Sayap Pesawat di Udara, Mengembangkan Kasih di Darat

“To help these children is a priviledge for me and my wife because it’s giving back to society.. Giving back what has been blessed to us.”

Adalah kalimat yang terucap dari Budi Soehardi pilot Singapore Airlines asal Indonesia yang juga merupakan pendiri dan pengelola panti asuhan Roslin di Kupang, Timor Barat. Karena uluran kasihnya, beserta Peggy Lakusa–istrinya, puluhan anak-anak korban Timor Timur kini dapat hidup dengan layak dan mengenyam pendidikan di bawah asuhan Budi dan Peggy selaku “orangtua” mereka (saat ini ada 66 anak di samping 18 orang yang sedang menunggu karena keterbatasan gedung).

Kiprah Budi yang luar biasa, dengan mendirikan dan mengelola panti Roslin secara mandiri (bahkan 80% dari gaji Budi digunakan untuk membiayai kebutuhan panti) membuat CNN menominasikan Budi sebagai CNN Top 10 Heroes of 2009. Yang luar biasa, Budi bukan sekadar menyediakan kebutuhan materiil untuk anak-anak yang diasuh di Roslin, tapi juga mempunyai hubungan yang dekat dengan anak-anak yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri, di samping 3 putra-putrinya sendiri. Budi dan Peggy juga rutin membantu sekitar 438 anak yang hidup di luar Roslin. Berikut adalah wawancara singkat dengan pria yang berasal dari Yogyakarta, yang selalu tampil low profile ini..

Apa tantangan terbesar dalam menjalankan pelayanan ini?

Pertama, keterbatasan waktu yang ada. Pekerjaan saya sebagai penerbang membuat saya harus mondar mandir Singapore-Amerika, 4-5 hari di Singapore dan sisanya saya pergunakan untuk panti asuhan. Yang tidak mudah juga, saya harus senantiasa mempertahankan kesehatan mengingat saya harus mengalami jetlag berkali-kali dalam seminggu karena tuntutan pekerjaan membuat saya sering berada dalam zona yang berbeda waktu sekitar 13-15 jam. Tantangan ketiga adalah masalah finansial.

Selama saya masih bekerja, maka masih ada income. Kalau seandainya saya tidak bekerja lagi, maka kelangsungan panti asuhan akan terganggu. Karena itu kami senantiasa berjuang agar bisa mandiri. Puji Tuhan saat ini kami sudah mampu berswasembada beras dari hasil sawah sendiri. Kami berencana untuk berswasembada lagi dengan membuka lahan untuk kebun pisang. Kami harap kebun tersebut kalau sudah dibuka dapat melatih anak-anak bekerja di situ, sekaligus menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat setempat.

Apa suka duka yang paling berkesan?

Paling sedih kalau anak-anak asuh kita ada yang sakit dan saya tidak bisa bersama dengan mereka. Sebab dengan begitu semua tanggung jawab harus dipikul oleh istri saya yang tugas rutinnya saja sebetulnya lebih berat dari saya. Duka lainnya adalah kalau ada anak yang sekolahnya kurang maju, tetapi puji Tuhan pada semester terakhir semua anak sangat maju dalam belajar mereka. Ada 3 anak yang juara kelas dan anak yang paling besar (Gerson Mangi) yang bersekolah di kedokteran sanggup belajar dengan baik.

Kami sangat berbahagia pada saat diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menerima penghargaan CNN di Los Angeles, juga ketika kami baru saja dihargai oleh bangsa Indonesia melalui SCTV program. Kami tidak berniat untuk mendapat penghargaan tersebut, tetapi Tuhan telah mengatur semuanya.

Apa saja kegiatan bapak selain mengelola panti asuhan? Bagaimana bapak mengatur waktu yang padat dengan jadwal terbang dengan waktu untuk keluarga dan waktu untuk anak-anak di Roslin?

Waktu yang ada senantiasa saya manfaatkan dengan baik dan saya tidak suka kalau ada waktu yang terbuang percuma. Puji Tuhan kita ada internet, jadi kita bisa senantiasa berkomunikasi dengan anak-anak kapan saja, di samping lewat telpon. Di samping tanggung jawab saya untuk panti asuhan dan terbang, saat ini saya juga sibuk dengan status saya sebagai President Rotary Club di Singapore, anggota FCAP (Fellowship of Christian Airline Personel in Singapore) dan anggota MAF (Mission Aviation Fellowship) di Singapore.

Waktu kita semua sama yaitu 24 jam sehari, yang saya rasakan tidak cukup untuk kita pakai untuk berbagai kegiatan tetapi kalau kita bisa mengaturnya dengan baik maka kita bisa saja melakukan banyak hal.

Kita acungkan jempol untuk Budi Soehardi dan istri, yang dengan sepenuh hati mencurahkan tenaga, pikiran serta sumber daya untuk membuat anak-anak pengungsi di Timor Barat tetap bisa tertawa, bermain, dan mengenyam pendidikan demi masa depan yang lebih baik. Informasi lebih lengkap mengenai Roslin bisa dibaca di http://www.roslinorphanage.org/

Kepakkan sayapmu dengan kasih di hatimu, karena sukacita dan kasih yang kau punyai adalah untuk dibagikan..

(Ditulis dari Buletin Forward: A Blessed Life, edisi Agustus 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s