Renungan Malam

Standard

Di abad 1, ada seorang Rabbi terkemuka yang suka belajar dan mngajar Taurat, namanya Rabbi Akiva. Saat itu, kekaisaran Romawi mengeluarkan keputusan melarang siapapun mempelajari dan mengajar Taurat. Suatu hari, ketika Akiva sedang mengajar Firman Allah secara terbuka kepada orang-orang, ada seorang laki-laki bertanya padanya, ” Rabbi, apakah Anda tidak takut ketahuan mengajar Taurat? ”

Rabbi Akiva menjawab:

Situasi kita saat ini, seperti rubah yang berada di tepi sungai. Lalu dia melihat rombongan ikan yang berenang melesat kian kemari dengan cepat. Karena penasaran rubah bertanya, “Hei ikan, mengapa kalian berenang sedemikian cepat?”

Ikan menjawab: “Kami berenang cepat untuk menghindari jaring nelayan! Kalau ngga, kami bisa ditangkap!”

Rubah: “Kalau begitu, daripada kalian hidup ketakutan, naiklah ke lahan kering sini, kalian pasti lolos dan kita bisa hidup bahagia bersama-sama.”

Ikan: “Rubah, nasihatmu sepertinya bagus. Tapi salah! Jika kami hidup takut di sini, di air, di tempat yang seharusnya kami hidup, bagaimana nasib kami nanti kalau kami harus hidup di tempat yang bukan tempat kami? Pasti kami akan mati di situ!”

“Begitulah kita yang duduk dan belajar Taurat di sini,” kata Rabbi Akiva, “kita pasti tahu nasib kita jika pergi dan meninggalkan Firman Allah. Karena tempat kita memang di sini.”

Seperti perumpamaan yang diberikan oleh Rabbi Akiva, bahwa apapun yang terjadi ikan tak bisa meninggalkan air. Demikianlah kita juga memerlukan Firman Tuhan. Kita tidak bisa hidup tanpa dan di luarnya. Amin.

(Sumber dari broadcast BBM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s