Monthly Archives: October 2012

The Time of Favor

Standard

“That day the LORD exalted Joshua in the sight of all Israel; and they revered him all the days of his life…” (Joshua 4:14, NIV)

I love the promise that God gave to Joshua. He said, “Joshua, today I will begin to make you great in the eyes of all the Israelites.” He was saying, “Today, I’m going to start releasing more of My favor, My blessings, My increase.” But notice, there was a specific time in his life that God began to release favor in a new way.

Friend, I believe God wants to do the same thing for you. He wants to release His blessing and favor in such a way that it makes you great — a great parent, a great spouse, a great leader, a great employee, a great friend, a great business person. He is saying to us what He said to Joshua, “This day I’m going to begin to make your name great. This day I’m going to begin to release My favor in a new way. I’m going to open doors that no man can shut.” It is a set time of God’s favor. Get ready! Make room in your thinking. Stay open to Him and keep an attitude of faith and expectancy because the time of God’s favor is here!

A PRAYER FOR TODAY
Father, I bless You today. Thank You for pouring out Your favor and blessing upon me. I open my heart and mind to receive every good thing You have in store for me today in Jesus’ name. Amen.

— Joel & Victoria Osteen

Advertisements

9 Kalimat Terlarang, Bagian Kedua (Habis)

Standard

6. Awas Kalau Nanti..

Kata ‘awas’ yang sifatnya ancaman atau menakuti dengan harapan Si Kecil akan patuh pada perintah Anda bukanlah ide yang baik untuk mendisiplinkan Si Kecil. “Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 80 persen anak usia 2-3 tahun akan mengulangi apa yang Anda larang di hari yang sama tidak peduli tipe disiplin apa yang Anda gunakan,” ungkap Murray Straus, Ph.D., dari Universitas New Hampsire, Family Research Lab.

Daripada mengancam, lebih baik katakan keinginan Anda dengan tegas namun lembut, misalnya ketika Si Kecil merengek minta dibelikan mainan, katakan padanya, “Kalau kamu terus merengek seperti itu, kita akan pulang sekarang. Tapi kalau kamu berhenti merengek, kita akan tetap di toko ini dan memilih belanjaan bersama.” Kemudian tepati pernyataan Anda dengan tindakan.

7. Tunggu Sampai Ayah Pulang..

Kalimat ancaman seperti ini sebenarnya sangat tidak adil bagi pihak ‘Ayah’, sebab membuat seorang Ayah seolah sosok yang menakutkan dan suka memberi hukuman. Walaupun, ketika pulang sang Ayah, mungkin, tidak memberikan hukuman apapun padanya, tapi perasaan ketakutan selama menanti kepulangan Ayahnya pasti sangat menyiksa. Jika memang Si Kecil patut diberi hukuman, akan lebih efektif jika Anda segera melakukannya supaya ia segera menyadari apa kesalahannya. Misalnya, “Kamu memukul adikmu dan itu tidak baik. Mama minta kamu masuk ke kamarmu dan tidak boleh menonton TV sampai sore.”

8. Sini Biar Mama Saja Yang Menyelesaikan!

Sekilas, terdengar tidak ada yang salah dengan kalimat ini, karena sebenarnya tujuan Anda adalah membantu Si Kecil dengan pekerjaan yang sedang dilakukannya. Namun, jika Anda selalu mengambil alih pekerjaan Si Kecil, maka ia akan terbiasa bergantung pada Anda dan ia tidak akan pernah bisa mandiri. Hal yang perlu Anda lakukan adalah beri Si Kecil kepercayaan bahwa ia bisa melakukan apa yang ia kerjakan sampai selesai.

9. Malu Dong..

“Malu dong, masa sudah besar minta disuapi.” Atau “Sudah punya adik tapi kok masih cengeng saja.” Kalimat-kalimat seperti itu biasanya diucapkan orangtua dengan harapan Si Kecil akan merasa malu dan mau mengubah sikapnya sesuai dengan yang diinginkan. Masalahnya, balita kadang belum dapat memahami rasa malu akibat kesalahan yang diperbuatnya. Jika Anda terlalu sering mengatakan hal ini, maka mereka bisa saja berpikir bahwa segala sesuatu yang dilakukannya selalu salah di mata Anda. Jadi berhati-hatilah dengan ucapan Anda.

Saat berbicara dengan Si Kecil gunakan:

– Kalimat pendek. Lebih baik menggunakan kalimat pendek untuk meminta Si Kecil melakukan sesuatu yang benar daripada melarang mereka berhenti melakukan yang salah. Misalnya, “Makan yang sehat,” lebih baik daripada, “Jangan makan cokelat itu.”
– Kalimat dan pesan positif yang diulang lebih baik daripada larangan yang diulang.
– Nada lembut tapi tegas. Dibanding nada marah dan tajam karena hanya akan menimbulkan reaksi emosional Si Kecil bukan proses berpikir.

– Saat berbicara sebaiknya ajak Si Kecil duduk, atau buat posisi mata Anda sejajar dengan matanya. Ini supaya Anda mendapatkan perhatiannya, dan ia tetap fokus dengan apa yang akan Anda katakan. Tapi, pastikan kontak mata Anda tidak terlalu intens sehingga Si Kecil menganggap pandangan mata itu sebagai cara ‘berkomunikasi’ bukan ‘mengontrol’.
– Awali kalimat yang berisi permintaan dengan menyebutkan nama Si Kecil, misalnya “Sally, bisa tolong..”
– Sesuaikan pengarahan Anda dengan usia Si Kecil. Semakin kecil usianya, sebaiknya kalimat yang Anda gunakan semakin pendek dan sederhana. Pertimbangkan tingkat pemahaman anak Anda.
– Jangan berteriak! Ketika Anda sedang emosi, sebaiknya pulihkan emosi Anda terlebih dahulu.

(Ditulis dari: Majalah Mother & Baby)

[Pernah dimuat di Buletin Phos edisi Oktober 2012]

Sepuluh Kepribadian yang Luar Biasa

Standard

Pertama: Ketulusan.
Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.

Kedua: Kerendahan Hati.
Kerendahan hati mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya, yang bisa bersikap rendah hati. Orang yang rendah hati dapat mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.

Ketiga: Kesetiaan.
Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban, dan tidak suka berkhianat.

Keempat: Positive Thinking.
Orang yang memiliki pikiran dan yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan saat dia berada di dalam situasi yang buruk sekalipun.

Kelima: Keceriaan.
Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh, dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia memiliki potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

Keenam: Bertanggung Jawab.
Orang yang memiliki tanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau pun melakukan kesalahan, dia berani untuk mengakuinya dan meminta maaf.

Ketujuh: Percaya Diri.
Memungkinkan seseorang untuk menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya sendiri dan juga orang lain.

Kedelapan: Kebesaran Jiwa.
Dapat dilihat dari kemampuan seseorang untuk memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan terhadap sesama.

Kesembilan: Easy Going.
Orang yang easy going akan menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan dia berusaha untuk mengecilkan masalah-masalah besar.

Kesepuluh: Empati.
Empati adalah sifat yang mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tetapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain yang bersangkutan.

(Disarikan dari berbagai sumber).

[Pernah dimuat di Buletin Phos edisi Oktober 2012]

Memulihkan Persekutuan yang Retak

Standard

Hubungan selalu layak dipulihkan. Karena inti kehidupan ialah belajar bagaimana mengasihi, Allah ingin agar kita menghargai hubungan dan berupaya untuk memeliharanya dan bukannya menolaknya ketika ada keretakan, sakit hati, atau konflik. Alkitab mengajar kita bahwa Allah telah memberi pada kita pelayanan untuk memulihkan hubungan (2 Korintus 5:18 AITB). Karena alasan inilah sebagian Perjanjian Baru ditulis untuk mengajar kita cara bergaul dengan baik satu sama lain. Paulus mengajar bahwa kemampuan kita untuk bergaul dengan baik dengan orang lain merupakan tanda kedewasaan rohani (Roma 15:5 AITB).

Karena Kristus ingin agar keluarga-Nya dikenal melalui kasih kita satu sama lain (Yohanes 13:35 AITB), persekutuan yang pecah merupakan kesaksian yang memalukan terhadap orang-orang yang belum percaya. Jika Anda menginginkan berkat Allah atas kehidupan dan ingin dikenal sebagai anak Allah, Anda harus belajar untuk menjadi pembawa damai (Matius 5:9 AITB). Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai,” yaitu orang-orang yang secara aktif berupaya menyelesaikan konflik. Pembawa damai tidak banyak karena membawa damai adalah kerja keras.

Membawa damai bukanlah menghindari konflik. Lari dari masalah, berpura-pura masalah tersebut tidak ada, atau takut membicarakannya sebenarnya adalah sifat pengecut. Kita harus berdoa meminta tuntunan Roh Kudus setiap saat. Membawa damai juga bukan memenuhi keinginan musuh. Selalu menyerah, bertindak seperti keset, dan membiarkan orang lain selalu menginjak-injak Anda bukanlah apa yang Yesus pikirkan. Dalam banyak hal Yesus tidak mau menyerah, tetap bertahan menghadapi musuh yang jahat.

Tujuh langkah alkitabiah memulihkan persekutuan

Pertama. Bicarakan masalah tersebut dengan Allah sebelum berbicara kepada orang tersebut. Doakanlah konflik terlebih dahulu, dan bukan menggosipkannya dengan seorang teman, dan Anda akan menemukan bahwa Allah mengubah hati Anda atau orang lain yang bermasalah tanpa bantuan Anda. Sebagian besar konflik bersumber dari kebutuhan yang tak terpenuhi, dan beberapa di antaranya hanya bisa dipenuhi oleh Allah. Tidak seorang pun bisa memenuhi semua kebutuhan Anda kecuali Allah.

Kedua. Tidak peduli apakah Anda yang melukai atau yang dilukai: Allah ingin agar Anda mengambil langkah pertama, jangan menunggu pihak lainnya. Memulihkan persekutuan yang retak begitu penting, sehingga Yesus memerintahkan bahwa hal tersebut perlu mendapatkan prioritas melebihi ibadah bersama (Matius 5:23-24 Msg). Keberhasilan dari suatu pertemuan damai sering kali bergantung pada pilihan waktu dan tempat yang tepat untuk bertemu. Waktu yang terbaik adalah ketika Anda berdua ada dalam keadaan yang terbaik.

Ketiga. Gunakan telinga lebih banyak daripada mulut Anda, bersimpatilah terhadap perasaan-perasaan mereka. Dalam Filipi 2:4 (AITB), kata “memperhatikan” adalah dari kata Yunani skopos, yang darinya kita membentuk kata teleskop dan mikroskop. Itu berarti memperhatikan dengan teliti. Mulailah dengan simpati, bukan solusi. Kesabaran datang dari kebijaksanaan, dan kebijaksanaan datang dari mendengarkan pandangan orang lain. Mendengarkan sama dengan berkata, “Saya menghargai pendapat Anda, saya peduli dengan hubungan kita, dan Anda berarti bagi saya.”

Keempat. Jika Anda bersungguh-sungguh dalam memulihkan suatu hubungan, Anda sebaiknya mengawali dengan mengakui kesalahan atau dosa-dosa Anda sendiri. Anda mungkin perlu meminta pihak ketiga untuk membantu mengevaluasi tindakan-tindakan Anda sebelum bertemu dengan orang yang yang dengannya Anda memiliki konflik. Juga mintalah kepada Allah untuk menunjukkan kepada Anda seberapa banyak masalah yang menjadi kesalahan Anda. Bertanyalah, “Akukah pembawa masalahnya? Apakah aku tidak realistis, tidak peka, atau terlalu peka?” Alkitab mengatakan, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri.” (1 Yohanes 1:8 AITB).

Seringkali cara kita menangani sebuah konflik malah menimbulkan luka yang lebih besar daripada masalah awalnya itu sendiri. Bila Anda mulai dengan secara rendah hati mengakui kesalahan-kesalahan Anda, hal tersebut meredakan kemarahan pihak lain dan membatalkan serangan-serangan mereka yang mengira Anda membela diri. Terima tanggung jawab atas kesalahan-kesalahan Anda dan mintalah pengampunan.

Kelima. Seranglah masalahnya, bukan orangnya. Anda tidak mungkin membereskan masalah jika Anda sibuk mencari siapa yang bertanggung jawab. Anda tidak akan pernah bisa menjelaskan pikiran Anda dengan marah, karena itu pilihlah kata-kata Anda dengan bijak. Jawaban yang lembut selalu lebih baik ketimbang jawaban yang kasar (Amsal 15:1 AITB). Omelan tidak pernah berhasil. Anda tidak pernah meyakinkan bila Anda kasar.

Keenam. Bekerja sama sebanyak mungkin. Damai selalu memiliki label harga. Kadang damai harganya adalah sebesar kesombongan kita, seringkali harganya adalah sebesar keegoisan kita. Demi persekutuan, berusahalah sekuat mungkin untuk berkompromi, menyesuaikan diri dengan orang lain, dan menunjukkan perhatian pada apa yang mereka butuhkan. Sebuah parafrase dari ucapan bahagia Yesus yang ketujuh, “Kamu berbahagia bila kamu bisa menunjukkan pada orang-orang bagaimana bekerja sama dan bukannya bersaing atau berkelahi. Yaitu bila kamu menemukan siapa dirimu sebenarnya, dan tempatmu dalam keluarga Allah.” (Matius 5:9 Msg).

Ketujuh. Utamakan rekonsiliasi, bukan resolusi. Adalah tidak realistis kalau mengharapkan semua orang setuju dengan segala sesuatu. Rekonsiliasi mengutamakan hubungan, sementara resolusi mengutamakan masalah. Bila kita mengutamakan rekonsiliasi, masalah akan kehilangan maknanya dan seringkali menjadi tidak relevan.

Kita dapat membangun kembali hubungan meskipun kita tidak mampu menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita. Kita bisa berbeda pendapat tanpa marah-marah. Allah menginginkan kesatuan, bukan keseragaman, dan kita bisa hidup bergandengan tangan tanpa sepakat atas semua masalah. Tidak berarti Anda berhenti mencari pemecahan masalah. Anda mungkin perlu tetap berdiskusi dan bahkan berdebat, tapi Anda melakukannya dalam semangat keharmonisan. Rekonsiliasi berarti Anda melupakan perbedaan pendapat itu, bukan masalahnya.

Ketujuh langkah ini sederhana, tetapi tidak mudah. Dibutuhkan banyak usaha untuk memulihkan sebuah hubungan. Itu sebabnya Petrus menasihatkan agar “berjuang sungguh-sungguh untuk mendapatkan perdamaian.” (1 Petrus 3:11 BIS). Tetapi ketika Anda mengusahakan damai, Anda melakukan apa yang ingin Allah lakukan. Itulah sebabnya Allah menyebut anak-anak-Nya pembawa damai.

Keterangan Penulis mengutip ayat dari:
AITB: Alkitab Indonesia Terjemahan Baru
Msg: The Message (Colorado Springs: Navpress [1993])
BIS: Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari

(Disarikan dari tulisan Rick Warren)

A Brand New Thing

Standard

“For I am about to do something new. See, I have already begun!” (Isaiah 43:19, NLT)

Can you see the “brand new thing” God is doing in your life? Sometimes it’s easy to see the hand of God moving, and sometimes the storms of life can cloud our vision. But no matter where you are in life today, meditate on this truth that God is working even when you can’t see Him. Like a seed buried deep in the ground, it may seem dark and lonely and there may be dirt all around, but that is place where life springs forth. Trust that God is doing a new thing! You can trust Him because He is faithful! His plan for you today is blessing. His plan is to give you a future and a hope. His plan is to do a new thing in your life. Let go of the thoughts of the past and open your heart to what God is doing today. Ask Him to show you what He’s doing. Ask Him to reveal it to your heart. Seek Him and you will find Him and see the brand new think He’s doing in you!

A PRAYER FOR TODAY
Heavenly Father, thank You for doing a work in me, even when I don’t see it. Thank You for the brand new thing You have. I open my heart and put my faith and trust in You in Jesus’ name! Amen.

— Joel & Victoria Osteen

Dedicate Your Job to the Lord

Standard

“Commit your work to the Lord, and then your plans will succeed.” (Proverbs 16:3 NLT)

Whatever you want God to bless, you give to him first. Dedicate it, consecrate it, hallow it, and then God will bless it. As a pastor, I want you to succeed in life. Obviously I want you to succeed spiritually, but I also want you to succeed in your work. I want you to be a witness at your work. I want you to use your platform for the glory of God. When you dedicate your business to Christ, he gets involved with decisions. He tells you what to do. He becomes the chairman of your board. He gets the glory.

“We are Christ’s ambassadors, and God is using us to speak to you. We urge you, as though Christ himself were here pleading with you, ‘Be reconciled to God!’” (2 Corinthians 5:20 NLT)

Just as I’m the minister of Saddleback Church, you’re a minister of a church — at your workplace. Your job is to be an ambassador of Jesus to the people around you. The blessings that God pours out in your life — in your career, in your business, in your finances, in your family, in your health — they all come because of Jesus Christ.

“Let us give thanks to the God and Father of our Lord Jesus Christ! For in our union with Christ he has blessed us by giving us every spiritual blessing in the heavenly world” (Ephesians 1:3 TEV).

By Rick Warren

(From email bro Maurits)

Tetap Percaya

Standard

NUH belum tahu banjir akan datang,
ketika ia membuat kapal dan ditertawai kaumnya..
ABRAHAM belum tahu akan tersedia domba,
ketika pisau nyaris memenggal buah hatinya..
MUSA belum tahu laut akan terbelah,
saat dia diperintah memukulkan tongkatnya..
Para IMAM pengusung Tabut Allah tidak pernah tahu bahwa deras air sungai Jordan akan berhenti dan kering,
ketika kaki mereka berpijak masuk ke dalam air..

Yang mereka tahu adalah mereka harus patuh dan percaya pada perintah ALLAH, dan tanpa berhenti..
Berharap akan yang terbaik..
Ternyata di balik ketidaktahuan kita,
TUHAN telah menyiapkan kejutan!

Biasanya tangan TUHAN bekerja di detik-detik terakhir pengharapan hamba-Nya..
Jangan kita berkecil hati,
karena terkadang TUHAN mencintai kita dengan cara-cara yang kita tidak suka..

Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan,
bukan apa yang kita inginkan..
Lakukan bagianmu,
Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya…

Biarlah…..

Kekuatan SIMSON
Kebijakan SALOMO
Kesabaran AYUB
Iman ABRAHAM
Inspirasi DANIEL
Ketulusan ESTER
Keberanian DAUD
Kesalehan HENOKH
Kelembutan MUSA
Ketaatan YOSUA
Kesetiaan RUTH dan
Sukacita HABAKUK
Menjadi bagian dalam Pribadi kita.

Tetaplah Percaya. (Matius 21:21),
Tetaplah Berdoa. (Markus 9:23),
Tetaplah Setia. (Matius 25:21),
Tetaplah Cari Kerajaan Allah. (Matius 6:33).

(Disarikan dari email bro Maurits, dari milis SITYB)