9 Kalimat Terlarang, Bagian Pertama

Standard

Anda perlu selektif memilih kata-kata untuk Si Kecil, karena setiap kata yang diucapkan mengandung makna dan berpengaruh pada masa depannya. “Kata-kata orangtua bisa menjadi inspirasi bagi anak, tetapi juga bisa melukai perasaan,” seperti kata Chick Moorman, penulis buku “Parent Talk and Spirit Whisperers.” Sulit memang untuk selalu berhati-hati ketika berbicara dengan Si Kecil, namun tidak ada salahnya untuk mencoba..

1. Jangan Ganggu Mama!

Ketika Anda terlalu sering menggunakan kata tersebut pada Si Kecil, bisa jadi saat ia dewasa giliran Anda yang akan diabaikan olehnya. “Di dalam diri Si Kecil akan terbentuk sebuah pola pemikiran bahwa tidak ada gunanya mengajak Anda berbicara, karena Anda pasti tidak tertarik dengan apa yang hendak ia katakan,” ujar Suzette Haden Elgin, Ph.D., pendiri dari sebuah sekolah yang mempelajari tentang bahasa, Ozark Center, di Huntsville, Arkansas.

Tidak salah jika Anda mengatakan hal yang sebenarnya pada Si Kecil bahwa Anda sedang sibuk, tapi ada baiknya jika Anda mengunakan kata yang lebih halus dan ubah nada suara Anda menjadi lebih lembut misalnya, “Mama perlu menyelesaikan pekerjaan ini, nanti kalau sudah selesai baru kita menggambar bersama ya.” Bukankah kalimat itu akan terdengar lebih menyenangkan buat Si Kecil?

2. Kamu Anak Yang Sangat..

Jika Anda menambahkan kalimat ini dengan kata sifat misalnya, “Kamu anak yang sangat pemalas,” atau “Kamu anak yang sangat nakal,” itu sama saja dengan memberi label ‘malas’ dan ‘nakal’ pada Si Kecil. “Anak-anak mudah sekali percaya dengan apa yang mereka dengar,” ujar Suzette. Mereka akan berpikir bahwa malas adalah sifatnya dan tidak akan berusaha merubah sifatnya untuk menjadi rajin.

Deskripsikan lebih spesifik perilaku apa yang ingin Anda ubah dari Si Kecil, misalnya “Kamu tidak boleh mendorong temanmu, sebab ia bisa jatuh dan terluka,” dengan begitu ia akan lebih memahami sikap apa yang tidak boleh ia lakukan dan apa sebabnya.

3. Jangan Menangis!

Menangis adalah cara para balita mengungkapkan perasaan kecewa, sakit, ketakutan, sedih, atau marah karena mereka belum pandai menyusun kata-kata untuk menggambarkan perasaannya. Jadi, wajar jika mereka sering menangis karena hal-hal kecil yang kadang kita anggap sepele. “Mengatakan jangan menangis tidak akan membuat Si Kecil merasa lebih baik, kalimat itu malah akan membuatnya merasa kalau menunjukkan rasa sedih atau ketakutan adalah hal yang salah,” kata Suzette.

Daripada Anda berusaha mencegah ia mengungkapkan emosinya, cobalah untuk memahami Si Kecil. “Sakit ya Nak, lain kali hati-hati ya naik sepedanya!” Atau “Kamu pasti sedih mainanmu rusak, yuk kita perbaiki sama-sama!” Saat Anda mengucapkan kata ‘sakit’ atau ‘sedih’, Si Kecil akan belajar kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya. Lama kelamaaan, ia akan memberitahu Anda apa yang ia rasakan, misalnya memberitahu bahwa tangannya sakit tanpa menangis.

4. Kenapa Sih Kamu Tidak Bisa Seperti Kakak (Adik) mu?

Coba bayangkan, jika prestasi kerja Anda dibanding-bandingkan oleh atasan Anda, bagaimana perasaan Anda? Kesal, bukan? Sama halnya dengan Si Kecil, perasaannya pun bisa terluka ketika Anda mengatakan, “Tuh lihat, adikmu saja sudah tidak ngompol lagi.” Hal yang dikhawatirkan jika kebiasaan membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan yang lain terus dilanjutkan, adalah persaingan antar saudara. Rasa iri dari yang dibandingkan, dan rasa angkuh atau cepat berpuas diri dari pembanding.

Hal yang harus dipahami oleh setiap orangtua adalah masing-masing anak terlahir dengan karakter dan sifat yang unik. Tahapan tumbuh kembang anak-anak juga berbeda satu sama lain. Jadi maklumi saja jika si kakak belum lulus “potty training”. Tapi coba lihat betapa pintarnya ia menyebutkan angka yang Anda tunjukkan.

5. Kan Mama Sudah Bilang..

Belajar adalah proses “trial and error,” jadi wajar jika Si Kecil beberapa kali melakukan kesalahan, meski sebelumnya Anda sudah memberitahu atau mengajarinya. Ada kalanya, Si Kecil ingin mandiri dan mencoba sesuatu yang baru. Jika ternyata ia gagal, daripada mengatakan, “Kan Mama sudah bilang berkali-kali.” Anda bisa mengatakan, “Yuk, kita ulangi lagi, tadi caranya sudah benar tapi coba pegang kardus susunya dengan dua tangan seperti ini.” Kalimat ini menunjukkan Anda percaya bahwa ia sebenarnya mampu melakukan apa yang sedang ia kerjakan.

(Bersambung di 9 Kalimat Terlarang, Bagian Kedua [Habis])

Pernah dimuat dalam Buletin Phos edisi September 2012..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s