Memulihkan Persekutuan yang Retak

Standard

Hubungan selalu layak dipulihkan. Karena inti kehidupan ialah belajar bagaimana mengasihi, Allah ingin agar kita menghargai hubungan dan berupaya untuk memeliharanya dan bukannya menolaknya ketika ada keretakan, sakit hati, atau konflik. Alkitab mengajar kita bahwa Allah telah memberi pada kita pelayanan untuk memulihkan hubungan (2 Korintus 5:18 AITB). Karena alasan inilah sebagian Perjanjian Baru ditulis untuk mengajar kita cara bergaul dengan baik satu sama lain. Paulus mengajar bahwa kemampuan kita untuk bergaul dengan baik dengan orang lain merupakan tanda kedewasaan rohani (Roma 15:5 AITB).

Karena Kristus ingin agar keluarga-Nya dikenal melalui kasih kita satu sama lain (Yohanes 13:35 AITB), persekutuan yang pecah merupakan kesaksian yang memalukan terhadap orang-orang yang belum percaya. Jika Anda menginginkan berkat Allah atas kehidupan dan ingin dikenal sebagai anak Allah, Anda harus belajar untuk menjadi pembawa damai (Matius 5:9 AITB). Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai,” yaitu orang-orang yang secara aktif berupaya menyelesaikan konflik. Pembawa damai tidak banyak karena membawa damai adalah kerja keras.

Membawa damai bukanlah menghindari konflik. Lari dari masalah, berpura-pura masalah tersebut tidak ada, atau takut membicarakannya sebenarnya adalah sifat pengecut. Kita harus berdoa meminta tuntunan Roh Kudus setiap saat. Membawa damai juga bukan memenuhi keinginan musuh. Selalu menyerah, bertindak seperti keset, dan membiarkan orang lain selalu menginjak-injak Anda bukanlah apa yang Yesus pikirkan. Dalam banyak hal Yesus tidak mau menyerah, tetap bertahan menghadapi musuh yang jahat.

Tujuh langkah alkitabiah memulihkan persekutuan

Pertama. Bicarakan masalah tersebut dengan Allah sebelum berbicara kepada orang tersebut. Doakanlah konflik terlebih dahulu, dan bukan menggosipkannya dengan seorang teman, dan Anda akan menemukan bahwa Allah mengubah hati Anda atau orang lain yang bermasalah tanpa bantuan Anda. Sebagian besar konflik bersumber dari kebutuhan yang tak terpenuhi, dan beberapa di antaranya hanya bisa dipenuhi oleh Allah. Tidak seorang pun bisa memenuhi semua kebutuhan Anda kecuali Allah.

Kedua. Tidak peduli apakah Anda yang melukai atau yang dilukai: Allah ingin agar Anda mengambil langkah pertama, jangan menunggu pihak lainnya. Memulihkan persekutuan yang retak begitu penting, sehingga Yesus memerintahkan bahwa hal tersebut perlu mendapatkan prioritas melebihi ibadah bersama (Matius 5:23-24 Msg). Keberhasilan dari suatu pertemuan damai sering kali bergantung pada pilihan waktu dan tempat yang tepat untuk bertemu. Waktu yang terbaik adalah ketika Anda berdua ada dalam keadaan yang terbaik.

Ketiga. Gunakan telinga lebih banyak daripada mulut Anda, bersimpatilah terhadap perasaan-perasaan mereka. Dalam Filipi 2:4 (AITB), kata “memperhatikan” adalah dari kata Yunani skopos, yang darinya kita membentuk kata teleskop dan mikroskop. Itu berarti memperhatikan dengan teliti. Mulailah dengan simpati, bukan solusi. Kesabaran datang dari kebijaksanaan, dan kebijaksanaan datang dari mendengarkan pandangan orang lain. Mendengarkan sama dengan berkata, “Saya menghargai pendapat Anda, saya peduli dengan hubungan kita, dan Anda berarti bagi saya.”

Keempat. Jika Anda bersungguh-sungguh dalam memulihkan suatu hubungan, Anda sebaiknya mengawali dengan mengakui kesalahan atau dosa-dosa Anda sendiri. Anda mungkin perlu meminta pihak ketiga untuk membantu mengevaluasi tindakan-tindakan Anda sebelum bertemu dengan orang yang yang dengannya Anda memiliki konflik. Juga mintalah kepada Allah untuk menunjukkan kepada Anda seberapa banyak masalah yang menjadi kesalahan Anda. Bertanyalah, “Akukah pembawa masalahnya? Apakah aku tidak realistis, tidak peka, atau terlalu peka?” Alkitab mengatakan, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri.” (1 Yohanes 1:8 AITB).

Seringkali cara kita menangani sebuah konflik malah menimbulkan luka yang lebih besar daripada masalah awalnya itu sendiri. Bila Anda mulai dengan secara rendah hati mengakui kesalahan-kesalahan Anda, hal tersebut meredakan kemarahan pihak lain dan membatalkan serangan-serangan mereka yang mengira Anda membela diri. Terima tanggung jawab atas kesalahan-kesalahan Anda dan mintalah pengampunan.

Kelima. Seranglah masalahnya, bukan orangnya. Anda tidak mungkin membereskan masalah jika Anda sibuk mencari siapa yang bertanggung jawab. Anda tidak akan pernah bisa menjelaskan pikiran Anda dengan marah, karena itu pilihlah kata-kata Anda dengan bijak. Jawaban yang lembut selalu lebih baik ketimbang jawaban yang kasar (Amsal 15:1 AITB). Omelan tidak pernah berhasil. Anda tidak pernah meyakinkan bila Anda kasar.

Keenam. Bekerja sama sebanyak mungkin. Damai selalu memiliki label harga. Kadang damai harganya adalah sebesar kesombongan kita, seringkali harganya adalah sebesar keegoisan kita. Demi persekutuan, berusahalah sekuat mungkin untuk berkompromi, menyesuaikan diri dengan orang lain, dan menunjukkan perhatian pada apa yang mereka butuhkan. Sebuah parafrase dari ucapan bahagia Yesus yang ketujuh, “Kamu berbahagia bila kamu bisa menunjukkan pada orang-orang bagaimana bekerja sama dan bukannya bersaing atau berkelahi. Yaitu bila kamu menemukan siapa dirimu sebenarnya, dan tempatmu dalam keluarga Allah.” (Matius 5:9 Msg).

Ketujuh. Utamakan rekonsiliasi, bukan resolusi. Adalah tidak realistis kalau mengharapkan semua orang setuju dengan segala sesuatu. Rekonsiliasi mengutamakan hubungan, sementara resolusi mengutamakan masalah. Bila kita mengutamakan rekonsiliasi, masalah akan kehilangan maknanya dan seringkali menjadi tidak relevan.

Kita dapat membangun kembali hubungan meskipun kita tidak mampu menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita. Kita bisa berbeda pendapat tanpa marah-marah. Allah menginginkan kesatuan, bukan keseragaman, dan kita bisa hidup bergandengan tangan tanpa sepakat atas semua masalah. Tidak berarti Anda berhenti mencari pemecahan masalah. Anda mungkin perlu tetap berdiskusi dan bahkan berdebat, tapi Anda melakukannya dalam semangat keharmonisan. Rekonsiliasi berarti Anda melupakan perbedaan pendapat itu, bukan masalahnya.

Ketujuh langkah ini sederhana, tetapi tidak mudah. Dibutuhkan banyak usaha untuk memulihkan sebuah hubungan. Itu sebabnya Petrus menasihatkan agar “berjuang sungguh-sungguh untuk mendapatkan perdamaian.” (1 Petrus 3:11 BIS). Tetapi ketika Anda mengusahakan damai, Anda melakukan apa yang ingin Allah lakukan. Itulah sebabnya Allah menyebut anak-anak-Nya pembawa damai.

Keterangan Penulis mengutip ayat dari:
AITB: Alkitab Indonesia Terjemahan Baru
Msg: The Message (Colorado Springs: Navpress [1993])
BIS: Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari

(Disarikan dari tulisan Rick Warren)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s