Monthly Archives: November 2012

Let God Arise

Standard

“Let God arise, let His enemies be scattered…” (Psalm 68:1, NKJV)

What are you letting arise in your life today? In other words, what are you focusing your words, energy and thoughts on? You might say, “Oh, Joel, it’s just so hard right now. I’ve lost some money.” “My health doesn’t look good.” “Somebody walked out on me.” No, you’re focusing on the wrong things. You’re letting defeat, discouragement and self-pity rise up. Why don’t you turn that around and say, “God is still in control. Somebody may have walked out on me, I may be hurting right now, but I know God is the Restorer of my soul.” “I may have lost money in the stock market, but I’m not worried. I know God is my provider. He is supplying all of my needs. He is fighting my battles.”

When you start giving God glory and letting Him arise in your life, you can’t stay defeated. Your enemies will be scattered! They’ll tremble at your words of faith. Begin right now by declaring God’s goodness in your life and let Him arise so that you can move forward in the victory He has for you!

A PRAYER FOR TODAY
Father in heaven, I repent right now for allowing any negative, self-defeating thoughts or attitudes rise up in my life. You alone are my God, and I put my trust in You. I bless You today and choose to look for the good things You have for me in Jesus’ name. Amen.

— Joel & Victoria Osteen

Advertisements

You’re in Good Company

Standard

“…but Jesus refused to answer.” (Luke 23:9, NLT)

In scripture, many times people would come against Jesus and criticize Him. Many times it says, “Jesus answered them not a word.” He simply didn’t respond to His critics. He didn’t try to convince them to change their minds. He didn’t get upset because somebody was talking about Him. No, He just ignored it.

When people come against you and they’re jealous, trying to make you look bad, trying to discourage you, remember you’re in good company! Jesus was probably criticized more than anyone else. I love the fact that He didn’t try to explain Himself. He didn’t try to make everyone understand Him. He just stayed focused on what He was called to do. He simply ran His race.

Friend, Jesus set the example for you and me. We don’t have to try to win the approval of others. We have to understand that not everyone is going to understand us. Our focus should be on following God’s leading and let Him order our steps. The next time someone criticizes you, remember the example of Jesus. Overlook it, don’t get offended, and keep moving forward in the destiny God has for you!

A PRAYER FOR TODAY
Father, today I release every person who has criticized me or tried to discourage me. I choose to forgive them; I choose to turn away from that distraction. I choose to focus on You and the blessings You have in store for me in Jesus’ name. Amen.

— Joel & Victoria Osteen

Dua Jalur Kereta Api

Standard

Pada masa yang sama, Rick Warren, penulis buku “Purpose Driven Life,” mengalami dua hal yang bertolak belakang. Ia menuai kesuksesan besar karena bukunya tercetak hingga 15 juta eksemplar. Namun bersamaan dengan itu, hatinya merasa berat karena istrinya, Kay, diserang kanker.

Menyikapi hal bertentangan ini, Rick berkata,

“Saya terbiasa berpikir bahwa hidup adalah deretan gunung dan lembah, kita berjalan melalui saat-saat gelap, mencapai puncak gunung, kemudian kembali lagi, begitu terus-menerus. Kini saya tidak percaya itu lagi. Hidup ini lebih seperti dua jalur kereta api yang menyatu di ujung, dan di sepanjang jalan Anda akan menjumpai hal baik dan juga hal buruk.”

“Sebanyak apa pun hal baik yang Anda terima, Anda tetap akan menghadapi hal buruk yang mesti diatasi. Sebaliknya, seburuk apa pun hidup yang Anda jalani, selalu ada hal baik yang dapat disyukuri.”

Menyadari bahwa manusia tak dapat menghindar dari hidup yang berdinamika seperti dua “jalur kereta”. Ada tiga nasihat sederhana tapi sangat penting untuk selalu dilakukan, dalam segala keadaaan, baik maupun buruk, yakni: Bersukacita, Berdoa, Bersyukur. 

Agar ketika suka datang, manusia tak menjadi takabur. Atau, ketika duka menyapa, manusia tak menjadi putus asa. Sebab, sesungguhnya melalui jalan ini Tuhan menolong manusia untuk selalu melihat hidupnya secara seimbang. Bahwa hidupnya terselenggara bukan karena kekuatannya sendiri, tapi selalu ada Tuhan yang berdaulat. Dan, bahwa manusia hidup bukan hanya untuk menikmati dunia, tapi bahwa ada urusan kekekalan yang harus dipersiapkan mulai dari sekarang.

Duka dan Bahagia kadang datang bersamaan
Agar kita tidak lupa diri dan lupa Tuhan!
Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya.

(Ditulis dari broadcast bbm pak Gembala)

“Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” (Amsal 30:7-9).

Lakukan dengan Sungguh-sungguh

Standard

“Segala sesuatu yang berdasarkan perintah Allah semesta langit, harus dilaksanakan dengan tekun untuk keperluan rumah Allah semesta langit, supaya jangan pemerintahan raja serta anak-anaknya kena murka.“ (Ezra 7 : 23)

“Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku.” (Amsal 8 : 17)

“Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” (Ibrani 10:36)

Kesungguhan atau keseriusan merupakan faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan. Banyak orang yang memiliki ide yang bagus dan cemerlang namun hanya dapat membuahkan hasil yang biasa-biasa saja karena kurang serius dalam membuat perencanaan dan melakukan tindakan. Kesungguhan berarti melakukan dengan segenap hati, pikiran, tenaga dan kemampuan di dalam semangat serta dengan penuh rasa tanggung jawab.

Kita harus bersungguh – sungguh dalam segala hal, baik dalam bekerja, belajar, berdoa, memberitakan firm\an, melayani dan sebagainya. Orang yang bersungguh – sungguh adalah orang yang disiplin, membuat rencana dengan baik, tidak mudah menyerah, bekerja keras dan tuntas, tidak mendua hati (berfokus), dan sepenuh hati, pikiran, tenaga dan kemampuan.

Lawan dari kesungguhan adalah “asal-asalan”. Orang yang bekerja asal-asalan tidak akan mencapai hasil yang maksimal. orang seperti ini tidak akan bekerja tuntas dan cenderung mudah lupa akan tugas dan tanggung jawabnya. Kualitas yang dihasilkan juga tidak pernah memuaskan dan bahkan cenderung buruk.

Bagaimana kita dapat bersungguh – sungguh dalam segala hal?

 Pertama, sadari bahwa segala yang kita lakukan adalah untuk Tuhan (Ef. 6 : 5-7 ; Kol. 3 : 23) dan kemuliaan-Nya (1 Kor. 10 : 31).
 Kedua, sadari bahwa sebagai ciptaan Tuhan kita harus menghasilkan karya yang berguna (membawa dampak) bagi kemajuan orang lain dan kehidupan.
 Ketiga, sadari bahwa kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di hadapan Tuhan kelak.
 Keempat, kita akan memperoleh hadiah atau upah sesuai dengan kesungguhan kita (Flp. 3 : 13 – 14; Ef. 6 : 8; Kol. 3 : 23-24).
 Kelima, sadari bahwa kita memiliki potensi yang besar dan hanya dapat dikembangkan di dalam kesungguhan.
 Keenam, memiliki visi dan tujuan ilahi yang akan dicapai dalam hidup. Orang yang tidak memiliki visi dan tujuan tidak mungkin dapat bersungguh – sungguh dalam hidup dan menjalankan tugas.

Merasakan:

1. Apakah ciri-ciri orang yang “sungguh-sungguh” dalam melakukan sesuatu?
2. Menurut penilaian Anda sendiri, apakah Anda termasuk orang yang “sungguh-sungguh” atau orang yang “asal-asalan”?
3. Apa rencana Anda supaya dapat bersungguh-sungguh dalam kerohanian dan pelayanan?

(Ditulis dari Renungan CG di Gereja)

Mau Dikemanakan?

Standard

Setelah napas terakhir putus, mau dikemanakan jasad ini?
Mau dikasihkan ke siapa?
Adakah yang mau terima, mau beli atau memperebutkannya?

Semasa hidup, Andalah Tuan dan orang yang paling berkuasa di rumah mewah ini..
Namun, kini tak ada yang setuju Anda disimpan, walaupun hanya di garasi di belakang rumah ini.

Semasa hidup, tiap malam Anda duduk bersantai di ruang tamu sambil ngopi, baca koran, atau menyaksikan acara TV..
Kini tak ada yang bisa terima, walaupun Anda hanya duduk diam di pojok paling ujung, tanpa kopi, koran atau acara TV di ruang ini.

Semasa hidup, Anda duduk dengan gagah di kursi direktur utama di kantor Anda..
Namun kini, tak ada yang setuju Anda didudukkan di kursi manapun di kantor ini.

Semasa hidup, Anda bisa beristirahat nyenyak sesuka Anda di atas ranjang kamar pribadi bersama anak-anak, dan isteri..
Kini tak ada yang tak keberatan, jika Anda dibaringkan, walaupun hanya di atas lantai kamar ini sekalipun.

Semasa hidup, setiap bepergian Anda duduk dengan bangga di kursi belakang mobil mewah..
Kini tak ada yang mengijinkan Anda duduk, sekalipun hanya ditaruh di bagasi belakang mobil ini.

Walaupun Anda punya banyak rumah, villa, kondominium, dan apartemen..
Kini tak ada satupun tempat yang dapat menerima Anda. Seminggu kemudian badan ini akan membusuk. Satu-nya tempat yang mau menerima “Anda” adalah tanah di bumi ini.

Masih beranikah kita berkata dengan sombong:

“Ini milikku, ini wewenangku, ini kekuasaanku, itu punyaku, dan lain-lain?”

Renungkanlah. Hidup hanya sekali, isilah dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi orang lain..

(Disadur dari broadcast bbm pak Gembala)

When Your Angel Coming Late (Ketika Malaikatmu Datang Terlambat).. [thanks to ci Sianne ^^]

Standard

When Your Angel Coming Late
(Ketika Malaikatmu Datang Terlambat)
By: Sianne R Sardi

Jurnal pribadi
Genoa, 25 November 2012

Judul : When your angel coming late (Ketika malaikatmu datang terlambat)

Ribuan tahun lalu, seorang pria bernama Yesus Kristus, mengaku sebagai Juru Selamat yang diutus ke dunia untuk membantu manusia KELUAR dari kutuk dosa. Kemana pun Ia pergi pastilah ada mujizat mengiringiNya. Yang buta dapat melihat, yang lumpuh berjalan, yang bisu bicara dan yang sakit disembuhkan. Bukan hanya itu saja, sejarah mencatat ada 3 orang mati dibangkitkan (Mak Mertua Petrus, Pemuda dari Nain dan Lazarus dari Betania) dalam pelayananNya sehingga semua orang TAKJUB dan mengikutiNya ke mana-mana. Sementara para ahli kitab (Farisi, Saduki dan Herodiani) menyebutNya sebagai PENYESAT yang memakai kuasa setan untuk menyembuhkan orang.

Mereka yang percaya kepada kata-kataNya TAK PEDULI kepada komentar dan opini sesamanya. Mereka terus MEMELUK iman kepada Kristus dan dianiaya sampai mati mengenaskan dari generasi ke generasi. Bahkan sesudah Yesus sendiri ‘menghilang’ dari bumi. Sebenarnya tujuan pengutusan Yesus jelas, tetapi manusia yang menganggap Tuhan tak pernah punya tubuh jasmani tetap bersikukuh menyebutnya NABI atau GURU. Ketika Ia mati, bangkit di hari ketiga dan naik ke Sorga, bukan hanya muridNya yang merasa kehilangan dan patah semangat. Semua pengikutNya merasakannya! Karena TAHU kedalaman hati umatNya, mereka diberi pelindung dan penghibur yang disebut Roh Kudus.

Tak semua orang PERCAYA adanya roh pelindung dan penghibur ini. Reaksi kebanyakan orang SAMA dengan reaksi mereka ketika melihat Yesus. BEDANYA, mereka MENOLAK Yesus karena MUSTAHIL Juru Selamat lahir ke dunia dalam rupa manusia. Mereka MENOLAK Roh Kudus karena sangatlah TAK MUNGKIN kita dijaga dan dihibur oleh sesuatu yang tak tampak alias tak bisa dilihat! Bisa saja SALAH SANGKA, yang bicara hati nurani dan dianggap Roh Kudus! Maka pro dan kontra pun terus bergulir di mana-mana dari jaman ke jaman. Termasuk soal KEILAHIAN Yesus.

Jika yang KELIHATAN tak dipercaya dan yang TAK KELIHATAN pun SUSAH dipercaya, sebenarnya apa yang manusia TUNGGU dari sosok supra natural yang mereka panggil TUHAN? Apa MENARIKNYA pribadi bernama TUHAN itu jika sejatinya manusia merasa MERDEKA tanpa Tuhan? Suatu kali ketika makan malam bersama beberapa teman, aku ditanya salah seorang dari antaranya,”Mengapa kamu berdoa untuk makanan yang kamu BAYAR?” Aku tertawa dan menjawab,”Bersyukur saja karena masih bisa makan dan bisa membayar makanan dengan uang sendiri.” Ia menoleh ke arah Fabio, suamiku, sambil tersenyum penuh arti.

Ya, aku paham arti senyumannya waktu itu. Tuhan ‘kan TAK PERNAH mengirim uang dari langit! Juga TAK PERNAH mendadak MELUNASI uang kuliah, biaya dokter dan obat, biaya sewa rumah, dll. Dalam segala hal yang TAMPAK BEKERJA adalah kita. Bahkan dalam hal-hal tertentu, sekalipun kita menghabiskan semua waktu untuk menyebut namaNya dan berharap bantuanNya, yang namanya BANTUAN Tuhan itu sama dengan ‘kehadiran’ angin di musim panas. Tak mengubah hawanya menjadi sejuk, malah debu berterbangan ke mana-mana membuat udara semakin ‘kering’.

Tuhan juga (seolah-olah) membiarkan kejahatan merebak, menjamur, menyebar ke mana-mana. Tak ada hukuman bagi manusia yang ‘serong hatinya’ atau ‘keluar jalur’. Malah kehidupan mereka tampak baik-baik saja dan tercukupi. Padahal bumi yang dipijak sama, begitu pula waktu yang dibagi. Kesulitannya pun ada, tetapi yang berharap kepada Tuhan terlihat jauh lebih susah hidupnya. Ketika mereka berusaha mencari tahu jawabannya, para rohaniwan menjawab sekenanya,”Itu UJIAN dari Tuhan.” Apakah Tuhan menciptakan manusia dengan ‘senjataNya’ terarah ke kepala kita tiap hari? Apakah Tuhan memang ingin MENGUJI kita sekalipun TAHU di akhir ujiannya kita sering GAGAL? Apakah Tuhan sengaja membiarkan kita terpuruk dalam kemiskinan, ketidak-berdayaan, kelemahan supaya kuasaNya nyata dalam hidup kita?

Aku TAK TAHU arti Tuhan dalam hidup orang lain! Tetapi di jaman yang serba moderen ini, aku justru menemukan Tuhan dengan cara kuno alias tak moderen sama sekali. Ia bicara kepadaku melalui apa saja. Entah itu mimpi, suara yang jelas kudengar atau penglihatan. Yang pasti aku merasakan penyertaanNya dalam segala hal. Ketika aku membutuhkan pekerjaan, Ia memberiku info tempatnya,”Kirim lamaran ke Andi Offset” atau “Kirim ke Maranatha” (sehingga aku dapat proyek buku Bu Agnes Maria). Jadi, Tuhan cuma mengarahkan saja, sisanya aku yang menyelesaikannya. Intinya, aku tak bekerja sendirian. Demikian pula dengan Tuhan! Ia TAK MUNGKIN mengulurkan tanganNya dari langit untuk menahan rumah kita supaya tak roboh dari terpaan Topan, mengubah daun menjadi lembaran uang kertas, menghujani kita dengan makanan dari atas awan dan sederet harapan manusia untuk Tuhan yang mereka bayangkan selama ini.

Tuhan ‘memakai’ manusia sebagai kepanjangan tanganNya! Supaya DITERIMA dan lebih masuk akal. Tiap manusia yang memiliki kepedulian kepada sesamanya adalah MALAIKAT bagi orang sekitarnya. Aku punya pengalaman luar biasa mengenai hal ini. Januari 2010, aku bekerja tanpa upah karena percaya kepada orang yang memanggilku waktu itu. Ketika tiap orang berteriak senang,”Rupiah MENGUAT!” karena gajian, aku kembali ke kamarku dengan satu tanda-tanya besar,”Statusku bekerja sekarang apa ya? Kalau cuma penulis bayangan TAK PERLU lha mengantor dan menghabiskan biaya makan, sewa kamar, dll.” Tetapi aku PERCAYA kepada janji orang tersebut jadi aku memilih BERTAHAN di sana dan berharap Pebruari 2010 aku melihat perubahan statusnya.

Pertengahan Pebruari 2010, seorang ibu dari Solo mengirim pesan singkat ke HP-ku,”Sianne, ibu kirim uang via TIKI ke kosmu. Sewaktu berdoa, Tuhan menggerakkan saya untuk mengirimnya ke kamu. Saya cuma mau taat saja. Saya TAK bermaksud menghina kamu. Diterima saja ya.” Aku tertawa ketika membacanya. Beberapa hari kemudian paketnya datang, isinya: handuk dengan namaku disulam di sana, makanan khas Solo dan uang sebesar Rp. 1.500.000. Apakah hanya itu? TIDAK! Di bulan Juni 2010, aku bermimpi duduk di tengah kerumunan orang banyak dan melihat Cik Irene sedang melintas dengan suaminya. Ia melihatku dan berkata,”Ne, kamu kok berdiri di sana? Ayo, ke sini! Makan bareng kita.” Di saat yang bersamaan Cik Irene bermimpi aku duduk dalam kegelapan dengan wajah sedih.

Besok paginya beliau mengirimiku pesan,”Ne, saya bermimpi bertemu kamu tadi malam dan Tuhan menggerakkan saya untuk mengirimi kamu uang. Uangnya saya transfer ke rekening kamu. Diterima ya. Saya pergi ke Hongkong sekarang, ada hal penting yang harus saya urus.” Bisa dibayangkan perasaanku waktu itu? Aku merasa MALAIKATKU baru saja dikirim Tuhan ke depan pintu rumahku! Dengan uang Rp. 2.500.000 yang dikirim beliau itulah aku bertahan di Surabaya, menunggu statusku yang katanya sedang diperjuangkan. Hehehehehe…….Sejatinya, aku TAHU kalau Tuhan akan mengirim aku ke tempat lain. Hanya saja aku TAK PERCAYA karena BELUM melihatnya!

Agustus 2010 adalah kali pertama aku bertemu Fabio! Siapa yang menyangka pertemuan dengannya adalah JALAN LAIN yang Tuhan pilih untuk aku jalani? Aku masih bertahan tinggal di Surabaya dengan harapan DITERIMA bekerja kembali. Aku SADAR kalau ‘pintunya’ DITUTUP setelah Agustus berakhir tetap tak ada kabar mengenainya. 29 Agustus 2010 aku memberitahu mamiku kalau aku MENYERAH kalah. Aku mengemasi barang dan pulang. 30 Agustus 2010 aku sudah berada di kamarku di Sampang, Madura, ketika seorang teman baik yang sangat dekat denganku, mengirim email kepadaku,”Ce Sianne, ketika saya berdoa, Tuhan menggerakkan saya untuk memberi uang kepada Cece. Jumlahnya tak banyak, tetapi lumayan lha untuk menyambung hidup. Hehehehehe….” Aku berteriak,”GILA! Aku sudah terlanjur PULANG!” Hehehehe….Seingatku uang yang ia kirim waktu itu Rp. 1.250.000.

Tetapi dari kejadian demi kejadian menakjubkan inilah aku belajar bahwa malaikat TAK SELALU BERSAYAP! Aku termasuk orang yang tak mau mengalah kepada keadaan. Ketika aku harus bertemu Fabio dan Papanya, Desember 2010, satu-satunya uang yang kupunya adalah uang asuransi yang sebagian preminya dibelikan saham/unit. Aku mengajukan permohonan berhenti dan mengambil semuanya. Karena keikut-sertaanku sudah 3 tahun, maka aku bisa mengambil semua uangku di sana. Jumlahnya Rp. 13.000.000 dan kubelikan tiket ke Italia sekitar Rp. 10.000.000. Ini KESALAHANKU karena berusaha MEMBANTU Tuhan!

Sejak April 2010, jauh sebelum Fabio datang ke Indonesia, kita berdua telah sepakat bertemu dua kali selama tahun 2010. Pertemuan pertama di bulan Agustus 2010, Fabio datang ke Indonesia untuk merayakan ulang tahunku. Pertemuan kedua di bulan Desember 2010, aku datang ke Italia untuk merayakan ulang tahun Fabio. Ulang tahun Fabio adalah 8 Desember, maka aku merancang kepergianku ke sana pada tanggal 5-19 Desember 2010. Ini emailku kepada Singapore Airlines waktu itu:

Sianne Ribkah M.H To: id_feedback@singaporeair.com.sg

Subject: 09-Apr-2010; 07:59 AM

Dear all,

Saya berencana untuk terbang ke Italy (Milan) pada tanggal 5 Desember2010 dan balik ke Surabaya tanggal 19 Desember 2010. Saya mohon bantuan Anda untuk jadual tepatnya dan harganya. Terima kasih untuk bantuannya.

Best regards,
Sianne R

…..dan dijawab oleh petugas bagian pemesanan tiketnya:

From: ID_Feedback@Singaporeair.com.sg
Date: Mon, 12 Apr 2010 11:11:52 +0700

Kepada Yth. Ibu Sianne,

Terima kasih atas email yang telah Ibu kirimkan kepada kami tertanggal 09-April-2010, Mengenai perihal harga tiket pesawat untuk tujuan Milan, harganya adalah USD 1427.00 (masa berlaku tiket 1 bulan, harga sudah termasuk pajak dan biaya servis USD 50.00, harga yang kami infokan adalah harga yang berlaku per hari ini dan dapat berubah sewaktu-waktu), jadwal penerbangan ke MIlan dari Jakarta setiap hari terbang, apabila kami boleh sarankan akan lebih baik apabila Ibu membeli tiketnya langsung di situs resmi kami: http://www.singaporeair.com.sg dengan demikian Ibu tidak akan dikenakan biaya servis USD50.00 dan Ibu dapat langsung mengecek jadwal keberangkatan kami setiap harinya melalui link berikut : http://www.singaporeair.com/saa/en_UK/FlightInfo/ettQuery.jsp Terima kasih atas perhatian Ibu.

Hormat kami,
Carlina, Singapore Airlines Reservation/Ticketing Dept.
Phn. 021 – 5299 7888; Fax. 021 – 5790 3886 / 021 – 5790 3887
Menara Kadin Indonesia, 8th floor
Jl. H.R. Rasuna Said blok X – 5, kav 2 & 3, Jakarta 12950-Indonesia
http://www.singaporeair.com

Nah, karena kuanggap KEMAHALAN, kubatalkan! Lalu aku berpindah ke Emirat Airlines. Aku membeli tiketnya TANPA memperhitungkan kesulitan mendapatkan visanya! Maklum ini kali pertama aku terbang sendiri dan mengurus segala sesuatunya sendiri. Untuk memesan visa, kita harus membawa berkas dokumen yang diminta dan semuanya diserahkan berdasarkan perjanjian wawancara di kedutaan Italia Jakarta melalui web site mereka. Ketika Fabio balik ke Italia, aku membuka web sitenya dan panik karena semua hari selama bulan September sampai November PENUH! Itu artinya TAK ADA jadual wawancara untukku!

Aku langsung menelepon kesana-kemari, berusaha mencari agen perjalanan yang bisa mengurus VISA saja dan akhirnya kakak perempuanku mengusulkan Great Union karena kantornya selalu memakai jasanya dan berhasil. Di bulan-bulan itu aku diuji kesabarannya dan imannya kepada JANJI Tuhan itu. Saudara jauhku yang memiliki agen perjalanan malah mengecamku,”Jangan bermimpi terbang ke Eropa kamu! Tak akan bisa! Kecuali kamu punya uang 300 juta! Ke luar negeri saja tak pernah, mau bermimpi ke Eropa! Mana bisa! Mana mungkin! Kalau mamimu, cecemu dan kokomu uangnya dikumpulkan dan semuanya sejumlah 300 juta baru saya bantu urus!”

Dengan memelas aku berkata,”Lalu bagaimana dengan tiketku? Aku terlanjur beli.” Kembali ia menjawab,”SALAH SENDIRI! Urus visa dulu baru beli tiket! Yang kamu serahkan ke sana BUKAN tiket jadi, tetapi tiket yang dipesan. Kalau tidak jadi berangkat, HANGUSLAH tiket kamu!” Aku tak mau mendengarkan suara siapapun! Kalau sudah berjalan maju, TAK BOLEH mundur! Maka aku memberanikan diri bicara mengenai kesulitanku ke Fabio dan ia mengirim surat JAMINAN dan laporan pajaknya ke kedutaan yang isinya MENJAMIN kebutuhanku selama di Italia. Jadi, semua dokumenku LENGKAP! Persoalannya adalah TAK ADA jadual kosong untuk wawancara di Jakarta.

Berhari-hari aku mendoakannya dan akhirnya ada kabar baik dari Great Union yang awalnya MENOLAK kecuali aku pergi ke Yunani dan meneruskan perjalanan ke Italia. Pada akhirnya, aku mendapat jadual wawancara 19 November 2010. Aku terbang ke Jakarta dan petugasnya berkata,”Nanti 1 Desember 2010 visanya jadi.” Lalu ia memberi kartu untuk mengambil visa, yang kuserahkan ke petugas Great Unionnya. Aku pulang dengan semangat baru dan pengharapan baru. Bisa dibayangkan perasaanku saat itu ketika 1 Desember 2010, petugas Great Union memberitahuku kalau Visaku TIDAK BISA diambil karena masih dibicarakan perlu atau tidak diberikan oleh pemerintah di Roma.

Aku langsung panik kembali. Kembali suara-suara melemahkan mengecam, melemahkan semangat terlontar dari orang-orang di sekitarku. Aku cuma punya satu pribadi yang sangat KUANDALKAN, yang kupanggil ketika situasi gawat darurat menimpaku. Aku berdoa sambil memutar lagu “Draw me close to You”-nya Katinas sambil berkata dengan air mata berderai,”Aku YAKIN ini TAKDIRKU! Aku pasti terbang! Aku akan melihat Venesia! Aku bertemu Fabio lagi! Jangan permalukan aku, Tuhan!” Hanya kalimat itu saja yang kuulang-ulang tiap kali berdoa. Tak ada lainnya! Kalau aku membuka telinga terlalu lebar kepada suara-suara di luar sana, aku pasti sudah menyerah sejak awal.

Salah satunya berkomentar,”Kamu ini sedang melawan Tuhan! Terlalu memaksakan diri! Kalau menurut saya ya, ini BUKAN dari Tuhan. Coba berdoa lagi, siapa tahu salah dengar…” Aku tak menjawabnya. Aku cuma percaya kepada suara Tuhan saja! Jadi, kutunggu KEAJAIBAN itu sekalipun kelihatannya MUSTAHIL kudapatkan. Gerejaku di Sampang mengadakan retreat doa di YWI, Batu, tanggal 6 Desember 2010. Dengan kesedihan yang tak terkatakan aku mengikutinya sambil membawa kameraku. Sepanjang perjalanan ke Batu dengan bis yang disewa oleh gereja, aku menyetel lagu “Draw me close to You”-nya Katinas dan kuletakkan di telingaku.

Itu caraku ‘menghidupkan’ harapan yang hampir mati. Rombongan gereja tiba di YWI, Batu, jam 12.00 malam. Begitu masuk kamar, kita (mamiku, dua adikku) bergantian mandi lalu kembali aku berdoa sambil menangis. Mamiku sempat menggodaku waktu itu,”Duuuhh, anak mami yang satu ini, kalau mau sesuatu HARUS dapat sampai berdoa berkali-kali.” Aku tersenyum saja. Karena kelelahan kita tertidur dengan cepat. Jam 04.00 am aku mendengar suara Tuhan berbisik di telingaku,”Jangan kuatir, anakku! Visamu JADI 9 Desember 2010! Orang yang sama akan menelepon kamu dan memberitahu kamu.” Aku terbangun dengan senyum lebar. Aku menceritakan hal itu ke mamiku dan semua saudaraku. Di luar dugaan jawaban mereka SAMA dengan lainnya,”Jangan terlalu optimis! Nanti kalau tak terjadi KECEWA dan MARAH ke Tuhan.”

Akhirnya aku sadar, IMAN itu timbul dari PENDENGARAN! Jika yang kamu DENGARKAN adalah suara-suara melemahkanmu, HABISLAH imanmu! Aku berdoa,”Tuhan, aku percaya kepadaMu!” Tanggal 7 Desember kita balik ke Madura dan aku berusaha ‘berjalan di atas air’ seperti Petrus! Berjalan di antara KEMUSTAHILAN! Aku memberitahu Fabio mengenainya, sekalipun kecewa ia memakluminya. Tetapi aku tetap berkata kepadanya,”Aku PASTI bisa datang! Lihat saja! Aku cuma TERLAMBAT datang! Tetapi TIDAK dibatalkan!” Ia tertawa dan menjawab,”Amin!”

Tanggal 9 Desember 2010, jam 09.30 am, telepon genggamku berbunyi, aku langsung berlari mengangkatnya begitu melihat kode 021 dan nomor kedutaan Italia di Jakarta,”Ya, ini saya sendiri. Visa saya jadi?” Petugasnya tertawa dan berkata,”Iya, Bu Sianne. Akhirnya Visanya jadi hari ini. Silakan nanti diambil jam 03.00 pm.” Aku langsung berteriak,”Aku terbang ke Italia! Hore!” Detik itu juga aku menelepon Haryono Tour dan mengganti jadual terbangnya menjadi 14 Desember 2010 sampai 6 Januari 2011. Pada akhirnya aku TERBANG……melihat Venesia, bertemu Fabio dan Papa, Paulo dan teman-teman kerjanya. Lalu merancang pernikahan 2011, mendapat pekerjaan TEPAT WAKTU sehingga aku bisa membeli tiket sekali berangkat ke Italia dengan harga terjangkau.

Bisa kamu bayangkan apa yang harus kulawan saat itu begitu tahu TAK ADA uang untuk membeli tiket ke Italia? Aku TAK MAU mengemis ke mana-mana! Aku ENGGAN menelepon orang-orang dan meminta dana ke mereka! Bukankah aku punya Tuhan yang KAYA? Jika Ia peduli kepada hidupku, sehingga Ia mengatur TADIRKU begitu sempurnanya…..mana mungkin kali ini Ia meninggalkanku?! Aku kembali berdoa meminta pekerjaan dan Tuhan menyuruhku melamar kerja ke Maranatha, yang menuntunku ke proyek bukunya Bu Agnes Maria tepat di bulan Juli 2011. Pada akhirnya aku punya uang untuk membeli tiket ke Italia dan kembali TERBANG sejauh aku bisa.

Nah, jika kamu bertanya alasan aku sangat ingin punya PEKERJAAN tetap, ini jawabanku: “Tuhan pernah memberitahuku kalau aku punya pekerjaan kelak, ada tangis bayi di rumahku!” Itu artinya, aku mendapat bayi sekaligus pekerjaan di waktu yang bersamaan. Hahahahaha…..Sepanjang aku BELUM punya pekerjaan, yang namanya bayi itu cuma impian semusim saja. Ketika aku ditanya oleh Bu Agnes,”Kapan pulang Indonesia? Saya punya banyak pekerjaan untuk kamu.” Aku TAHU apa artinya ucapan beliau itu. Tahun ini aku sibuk mengurus ijin tinggal dari Questura/Kepolisian bagian Imigrasi, kartu kesehatan dan surat tinggal dari City Hall Genoa. Itu sebabnya aku dan Fabio berniat pulang tahun depan di bulan yang sama dengan ulang tahunku dan ulang tahun pernikahan kami. Kuyakini di bulan itu Tuhan sedang menyiapkan kejutan lainnya untukku. Tentu saja akan terjadi jika aku PERCAYA.

Hari ini aku sengaja menulis lengkap kejadian sepanjang 2010-2011, lengkap dengan bukti Visanya. Aku ingin kamu, dia dan mereka belajar TERBANG di atas KEMUSTAHILAN. Tentu saja jika kamu PERCAYA kepada keajaiban……dan TUHAN, Pemberi keajaiban itu. Bila kamu tetap tak bisa mengepakkan sayap ke mana-mana, mungkin malaikatmu terlambat datang ke dalam hidupmu. Jangan putus asa! Tunggulah sampai Tuhan menggerakkan seseorang membantumu…..mengajarimu terbang dengan iman, melihat masa depan dan menikmati keajaiban demi keajaiban tiap hari. Jika sampai tenggat waktu yang kamu tentukan malaikatmu belum muncul juga, mungkin itu karena kamu TAK MEMPERCAYAINYA lagi…..BUKAN salahnya bila malaikatmu terlambat datang. Kamu menutup pintunya dan mengunci semua jendelanya. 

Ditulis oleh Sianne Ribkah M.H-Sardi © 2012

Death Bed

Standard

“Jika kita sudah menyelesaikan semua tugas yang diberikan saat kita ditempatkan di bumi, koita boleh meninggalkan tubuh yang membungkus roh kita seperti kepompong melepaskan kupu-kupu. Jika saatnya sudah tepat, kita melepaskannya, lalu kita terbebas dari segala derita, takut dan kuatir, bebas seperti kupu-kupu yang indah terbang pulang kepada Allah..” demikian surat Kubler kepada seorang anak pengidap kanker yang sedang menghadapi kematian.

Kubler melakukan riset dan menolong ribuan orang yang menghadapi kematian baik anak maupun dewasa, termasuk pasien kanker dan AIDS. Ia mengajar di banyak sekolah kedokteran dan sekolah psikologi/pedagogi. Ia memelopori pembangunan rumah tampung bagi orang yang menghadapi ajal. Maka, ia pun dijuluki “Dokter Spesialis Kematian”. Siapa sebenarnya Kubler?

Kubler lahir dengan nama Elizabeth di Zurich, Swiss, tahun 1926, sebagai anak kembar tiga dengan Erika dan Eva. Sekarang kita mengenal Kubler dengan nama Elizabeth Kubler-Ross, sebab Ross adalah nama keluarga suaminya.

Dalam Perang Dunia kedua, Swiss tidak terlibat perang, namun Swiss kedatangan banyak pengungsi dan orang-orang yang terluka. Sebagai remaja yang giat, Kubler menjadi sukarelawan di rumah sakit dan membantu para peternak di Ecurcy, Prancis, yang peternakannya hancur akibat perang. Setelah itu ia menjadi sukarelawan di sebuah klinik di desa Lucima, Polandia.

Pada suatu malam, Kubler terbangun oleh suara rintihan dari luar. Seorang ibu menggendong anak dan memelas, “Tolonglah anakku ini.” Kubler memegang dahi anak itu. Demamnya menyengat. Ini mungkin typhus. Kubler berkata, “Ibu, saya bisa membuat teh hangat. Tetapi, kami tidak bisa menolong anak Ibu, sebab kami sudah lama kehabisan obat.” Ibu ini langsung menukas, “Tetapi Anda harus menolong anak ini. Tiga belas anak saya, semua dibunuh tentara Hitler. Hanya ini anak saya sekarang.” Kubler berkata, “Mungkin kita bisa bawa ke rumah sakit si Lublin, tapi itu lima jam jalan kaki dari sini. Ibu itu berteriak, “Saya sanggup!”

Maka, berjalanlah Kubler sepanjang malam mengantar mereka. Sebulan kemudian sang ibu dengan bahagia mengabarkan bahwa anaknya selamat. Kubler belajar mengerti arti kebahagiaan: Kita bahagia jika membahagiakan orang lain.

Pada usia 30 tahun Kubler masuk Sekolah Kedokteran di Zurich. Sudah lama ia bercita-cita menjadi dokter karena terilhami oleh buku otobiografi Albert Schweitzer, seorang teolog, musikolog, dan dokter yang menjadi utusan Injil di pedalaman Afrika. Setelah bekerja sebagai dokter di Zurich, Kubler kemudian pindah ke New York dan masuk sekolah Psikiatri. Ketika ia bekerja di berbagai rumah sakit, Kubler kecewa melihat perlakuan terhadap pasien yang hampir meninggal dunia. Mereka tidak mendapat kasih sayang, kehangatan, dan keramahan. Mereka bagaikan dibuang dan disingkirkan. Tidak ada sentuhan, belaian, atau senyuman untuk mereka.

Kubler teringat pada cerita Alkitab tentang penderita kusta. Orang tidak mau mendekati dan didekati oleh penderita kusta. Masyarakat menyingkirkan penderita kusta sehingga akhirnya mereka mati bagaikan hewan. Tetapi, Yesus bersikap lain. Ia mendekati orang kusta, bahkan mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mereka. Tertulis, “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan..” (Lukas 5:13).

Oleh sebab itu, Kubler turun tangan untuk melayani para pasien yang hampir meninggal dunia. Dengan penuh kesabaran, ia duduk bercakap-cakap di tepi ranjang setiap pasien. Ia melakukan riset tentang pergumulan jiwa orang yang menghadapi ajal. Riset ini menjadi salah satu cikal bakal studi Psikologi/Pedagogi Kematian.

Beberapa tahun kemudian, Kubler menjadi terkenal di seluruh dunia dengan hasil risetnya melalui buku “On Death and Dying”. Ia berdalil tentang lima kemungkinan tahap perasaan menjelang ajal. Pertama, penyangkalan, saat kita menolak datangnya maut. Kedua, marah. Ketiga, penawaran, saat kita berjanji untuk berperilaku lebih baik jika umur diperpanjang. Keempat, depresi karena ternyata kematian makin mendekat. Kelima, rasa damai saat kita menerima kenyataan dan berserah. Kelima tahap ini bisa juga terjadi pada keluarga yang kekasihnya baru saja meninggal.

Ketika ibunya sendiri sudah renta dan menghadapi kematian, Kubler tidak sampai hati melihat penderitaan itu. Sering seorang diri ia berlutut di gereja memohon Tuhan memanggil pulang sang ibu. Kubler heran bahwa doanya tidak terkabul. Ibunya bertahan hidup sampai empat tahun lagi. Akhirnya, Kubler belajar bahwa Tuhan mempunyai maksud tertentu, yaitu memberi kesempatan kepada sang ibu untuk menerima cinta kasih dari anak-anaknya dan Tuhan memberi kesempatan kepada Kubler untuk mencintai ibunya selama empat tahun lagi.

Di kemudian hari Kubler membangun beberapa rumah tampung untuk pasien kanker yang sudah mendekati ajal. Setelah itu juga rumah tampung untuk pasien penderita AIDS. Ternyata kepeduliannya terhadap pasien penderita AIDS malah membuat Kubler dibenci oleh kelompok-kelompok tertentu. Rumah Kubler dibakar habis dan ia beberapa kali hampir dibunuh.

Pada usia 69 tahun Kubler kena stroke. Ia lumpuh. Akibatnya rumah tampungnya ditutup. Ia hanya bisa bergerak dengan bantuan kursi roda sampai meninggal pada usia 78 tahun. Dalam keadaan lumpuh, Kubler menulis bukunya yang ke-23, berupa otobiografi berjudul “The Wheel of Life-A Memoir of Living and Dying”. Ada beberapa tema yang mengemuka. Tulisnya: “Hidup ini berat. Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah seperti bersekolah. Kita mendapat banyak pelajaran. Makin banyak, makin susah.” Di bagian lain ia menulis, “Tidak ada kebetulan. Semua yang terjadi dalam hidup mempunyai maksud positif.” Tulisnya pula, “Seluruh tujuan hidup adalah untuk bertumbuh. Pelajaran intinya adalah belajar mencintai dan dicintai tanpa syarat, dan itulah pelajaran yang paling susah.”

Namun, yang paling menonjol dalam otobiografi Elizabeth Kubler-Ross ini adalah keyakinannya bahwa tiap orang ditempatkan di bumi untuk tugas tertentu. Tugas itu unik, sebagaimana tiap orang pun unik. Tugas itu membuat hidup kita berarti dan berakhir dengan tuntas. (Ditulis dari warta gereja).