Terjebak dalam Kandang Beruang

Standard

Keluarga Van de Voort dari Middleburg, memiliki anak-anak yang sangat berhasrat mengunjungi kebun binatang. Setelah mengepak roti lapis, minuman-minuman dan kamera, mereka masuk ke dalam mobil.

Amber, berdiri tepat di sebelah kiri Irene, sang ibu, menekan wajahnya ke pagar kawat setinggi hampir satu meter yang mengelilingi kandang beruang. Pagar itu memiliki lubang-lubang kotak besar, diletakkan berhadapan dengan pagar geser yang terbuat dari dua pipa besi horizontal, dengan sebuah kawat besi yang mengikatkannya pada palang vertikal di bagian atas. Ini cukup rendah bagi orang dewasa, tapi sudah sesuai standar kebun binatang yang berlaku. Bagaimanapun juga, bagi Amber, pagar itu menghalangi pandangannya terhadap beruang.

Selagi Irene menjelaskan pada anak-anak tentang cara beruang hidup di alam liar, Amber menempatkan kakinya ke lubang kotak di pagar. Dengan sedikit usaha, ia menarik dirinya sedikit lebih tinggi, dan dalam beberapa detik, ia sampai di puncak pagar. Karena sudah berada di sana, tiba-tiba Amber kehilangan keseimbangan. Ia mencoba meraih pagar, namun luput. Ibunya seakan terpaku di tanah, dan jantungnya berdegup kencang. Roy, suaminya, mendengar bunyi debur, yang disusul oleh tangis ketakutan istrinya.

Si beruang hitam, biasa dipanggil Mike, yang berdiri saat mendengar suara deburan, telah mendekati Amber. Ia duduk tepat di depan balita kecil itu, hanya berjarak setengah meter, mengayunkan telapaknya yang “dipersenjatai” sepuluh cakar tajam. Roy melempar ranselnya ke dalam kandang untuk menarik perhatian beruang. Tanpa ragu-ragu dan dalam satu gerakan, ia melompat, menyusul ranselnya ke kandang.

Terjatuh keras dengan kaki kiri di atas batu, ia secara tak sengaja mengenai beruang dengan kaki kanannya. Mike, yang tidak gentar oleh tendangan ala karate Roy, menahan Amber dalam pelukannya. Menilai dari suara isapan yang ditimbulkan, ia seperti menjilat rambut anak kecil itu dengan lidah merah jambunya. Dan, insting yang kuat menguasai Roy. Ia mulai menendang dan mendorong Mike untuk menakuti hewan itu. Mike mengayunkan moncongnya yang panjang dan bergigi mengkilat, menggigit Roy dua kali di kedua kaki. Kemudian ia menyambarkan cakar hingga menggores dada Roy.

Tanpa merasakan sakit pada lukanya, Roy segera berlari dan berusaha melompat ke arah sang anak. Ketika ia merengkuhnya, Amber berpegang erat pada lehernya. “Daddy!” si kecil tersedu. Lalu Roy segera menuju ke dinding di sudut kandang, menggendong Amber di tangannya, dan Irene berhasil menarik tubuhnya ke atas. Dan setelah berusaha keras, akhirnya Roy juga berhasil keluar dari kandang tersebut.

Amber, bersama sang ibu, diterbangkan dengan helikopter ke rumah sakit Mutterhaus di Trier. Cedera yang dialaminya cukup ringan, hanya meninggalkan beberapa bekas luka di kepala. Sedang ambulans membawa Roy dan Bjorn ke rumah sakit St. Joseph di dekat Prum. Cedera paling serius hanyalah kaki yang retak. Roy menerima penghargaan berupa medali perak Carnegie Hero Fund pada Juni 2011, dan Irene menyatakan bahwa mereka tidak ingin Mike dibunuh. Karena itu adalah kandangnya, dan apa yang dilakukan adalah sesuatu yang alamiah. (Disadur dari Reader’s Digest Indonesia, edisi Juni 2012).

Di bulan November ini kita memperingati hari Pahlawan (10 November). Suatu hari di mana para pahlawan telah berjuang melawan para penjajah, demi mempertahankan bangsa dan negara Indonesia. Melalui kisah di atas, kita juga dapat belajar bahwa menjadi seorang “pahlawan”, tidak harus memiliki kehebatan tertentu atau bahkan peralatan perang yang lengkap. Menjadi seorang pahlawan ketika kita memiliki kepedulian terhadap sesama dan hidup kita meninggalkan “jejak sejarah” positif, yang dapat membawa manfaat yang baik bagi kehidupan banyak orang.

Berimanlah dalam mengambil langkah kecil ke depan untuk mengembangkan karakter yang menyerupai Kristus, dan Allah akan senantiasa setia dan memampukan Anda untuk mengubah dunia Anda. Tuhan Yesus memberkati..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s