Hidup adalah Pilihan

Standard

“..Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu,” (Ulangan 30:19b).

Tuhan menciptakan manusia bukan sebagai robot, melainkan sebagai manusia yang segambar dan serupa dengan-Nya, yang memiliki kehendak bebas untuk memilih. Manusia diberi pilihan, hidup adalah pilihan dan pilihan kita itulah yang akan menentukan menjadi seperti apa kita. Saat kita mengalami kegagalan, memang rasanya tidak enak, tapi kita bisa memilih untuk bangkit dan berusaha lagi atau menyesali kegagalan dan larut dalam kesedihan.

Saat kita dikhianati, kenyataannya memang sakit, tapi kita bisa memilih untuk melepaskan pengampunan, daripada menyimpan sakit hati.

Pilihan selalu mempunyai implikasi dan konsekuensinya masing-masing. Ada yang memilih untuk hidup asal-asalan, sembarangan, semau-maunya, pokoknya asal senang, enak dan gampang. Ada lagi yang memilih untuk mengasingkan diri, bermeditasi, menjauh dari segala nikmat kedagingan. Jadi yang satu memper”tuhan”kan kenikmatan, yang satu lagi justru memper”setan”kan kenikmatan dunia.

Demikian juga manusia diberi pilihan untuk mengikuti atau memilih percaya kepada Tuhan atau mengikut si iblis. Tapi bagi yang memilih Tuhan, tidak cukup hanya percaya bahwa Dia ada atau menyebut nama Tuhan dengan bibir kita, tapi kita harus merindukan Dia seperti rusa yang dahaga merindukan air, bergantung sepenuhnya kepada-Nya, sebab tanpa air, rusa itu tidak bisa hidup.
Allah harus hadir bagaikan roh, darah dan daging di tubuh kita, bukan sekadar pakaian yang hanya sekali-kali kita kenakan, tapi lebih banyak kita tanggalkan.

Untuk memilih kita perlu tuntunan Roh Kudus agar kita tidak salah memilih, karena dunia selalu menawarkan pilihan yang kelihatan indah menawan hati, coraknya meriah dan berwarna warni, namun dalam kenyataannya hanya tampak luarnya saja, isinya kosong, hampa dan berujung pada kematian dan kutuk.

[Disarikan dari broadcast bbm pak Gembala]

Membaca broadcast bbm ini jadi teringat sebuah kisah tentang anak-anak yang usianya masih belasan tahun, dan yang ditantang main balapan sepeda motor di sebuah jalanan yang sepi kosong, sama temen-temennya. Nahas, motornya kenapa gitu, selip atau bagaimana, anaknya terjatuh dan meninggal di tempat. Sama temen-temennya cuma dibawa di sebuah RS di Surabaya, lalu ditinggal pulang begitu saja. Salah memilih, harusnya dia ngga nuruti kemauan temen-temennya. Usia belasan tahun, meninggalnya sia-sia. Bijaklah dalam mengambil sebuah keputusan..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s