Kisah Hidup Corrie ten Boom

Standard

Corrie Ten Boom
(1892-1983)

Seorang Utusan atas Belas Kasihan dan Pengampunan Allah

Kehidupan awal Corrie ten Boom kelihatannya normal dan biasa dalam setiap hal. Ia tumbuh sebagai seorang dari empat anak yang lahir dari keluarga Reformed Belanda yang sangat taat, yang telah menjadi pembuat jam beberapa generasi lamanya. Usaha keluarganya berhubungan dengan para pemasok Yahudi di Jerman, dan hal ini mengisyaratkan bahaya Nazi pada keluarga ten Boom. Willem, saudara laki-laki Corrie bergabung dengan gerakan bawah tanah orang-orang Belanda untuk menyediakan rute pelarian bagi orang-orang Yahudi yang ingin kabur dari Jerman.

Berita tersiar dengan cepat di antara orang Yahudi bahwa keluarga ten Boom–yang pada saat Perang Dunia II meletus terdiri atas seorang ayah dan dua anak putri yang tidak menikah–dapat dipercaya. Lorong-lorong tersembunyi dan tempat tersembunyi lainnya dari rumah bertingkat tiga menjadi sebuah mimbar bagi orang-orang Yahudi yang sedang diburu.

Pada tahun 1944, tepat seratus tahun setelah kakeknya memulai pertemuan doa Kristen untuk berdoa bagi orang-orang Yahudi, Corrie ten Boom, saudara perempuannya, dan ayahnya ditangkap oleh Gestapo setelah mereka dikhianati oleh seorang rekan Belanda yang mencurigai mereka sebagai orang-orang yang bersimpati kepada Yahudi. Secara mengagumkan, para buronan Yahudi yang disembunyikan di rumah mereka luput dari pencarian.

Corrie dan saudara perempuannya, Betsy, dipenjarakan di Ravensbruck, sebuah kamp kematian yang menyeramkan bagi para wanita, dan ayah mereka mendekam di sebuah penjara sampai akhir hayatnya beberapa bulan kemudian. Di Ravensbruck, Corrie dan Betsy mendorong wanita yang ada di sekelilingnya untuk percaya kepada Allah, dan pada malam harinya, mereka berkumpul bersama dan membaca Alkitab serta berdoa keras-keras untuk menginspirasikan iman bagi para tahanan lainnya. Betsy meninggal pada hari Natal, dan Corrie dilepaskan segera setelah itu melalui “kesalahan administrasi”. Sisa wanita sebaya lainnya dimusnahkan seminggu setelah pembebasan Corrie.

Menyebut dirinya sendiri sebagai “pembantu tua pada pertengahan lima puluhan”, Corrie mengabdikan tiga puluh tiga tahun dari hidup berikutnya untuk menceritakan mengenai kesetiaan Allah dalam kesakitan dan kesulitan yang dialaminya. Ia berkeliling ke enampuluh empat negara, menceritakan ceritanya dan berbicara menentang ketidakadilan dan anti-Semitisme yang telah menyebabkan pembunuhan terhadap orang-orang Yahudi. Bukunya, “Tramp for the Lord,” dan otobiografinya yang menjadi sebuah film, “The Hiding Place,” menjadi terkenal di kancah internasional.

Salah satu saat yang paling sulit dalam hidupnya adalah ketika ia kembali ke Ravensbruck pada tahun 1947. Ia pergi ke Jerman untuk membagikan Injil kepada orang-orang Jerman, memberi tahu mereka bahwa kasih Allah dan pengampunannya terbuka kepada semua orang, juga kepada mereka yang telah menganiaya dan membunuh orang-orang Yahudi. Pada akhir dari pertemuan itu, ia menemukan dirinya berhadapan muka dengan salah seorang penjaga yang paling jahat dari Ravensbruck.

Ia kemudian mengingat: “Tidak mungkin bahwa penjaga tersebut berdiri beberapa detik lamanya di sana–tangannya terulur–tetapi bagi saya ini seperti berjam-jam selama saya bergumul dengan hal yang paling sulit yang harus saya lakukan.” Kemudian, menyadari bahwa ia harus mengampuni bahkan seperti Kristus telah mengampuninya, ia mengulurkan tangannya kepada pria ini.

Pengalaman ini membuatnya untuk memproklamasikan kepada para pemirsa di seluruh dunia bahwa, “Yesus adalah Pemenang,” dan bahwa di dalam Kristus, “kita dapat menjadi lebih dari para penakluk”. Ia telah menguatkan beritanya mengenai pengampunan dan kasih Allah di dalam hidupnya.

Para pengubah dunia mengampuni mereka yang menyebabkan penderitaan mereka. “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi..” (Lukas 6:35).

[Ditulis dari buku “You Can Be A World Changer”]

Pernah dimuat dalam Buletin Phos November 2012..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s