Death Bed

Standard

“Jika kita sudah menyelesaikan semua tugas yang diberikan saat kita ditempatkan di bumi, koita boleh meninggalkan tubuh yang membungkus roh kita seperti kepompong melepaskan kupu-kupu. Jika saatnya sudah tepat, kita melepaskannya, lalu kita terbebas dari segala derita, takut dan kuatir, bebas seperti kupu-kupu yang indah terbang pulang kepada Allah..” demikian surat Kubler kepada seorang anak pengidap kanker yang sedang menghadapi kematian.

Kubler melakukan riset dan menolong ribuan orang yang menghadapi kematian baik anak maupun dewasa, termasuk pasien kanker dan AIDS. Ia mengajar di banyak sekolah kedokteran dan sekolah psikologi/pedagogi. Ia memelopori pembangunan rumah tampung bagi orang yang menghadapi ajal. Maka, ia pun dijuluki “Dokter Spesialis Kematian”. Siapa sebenarnya Kubler?

Kubler lahir dengan nama Elizabeth di Zurich, Swiss, tahun 1926, sebagai anak kembar tiga dengan Erika dan Eva. Sekarang kita mengenal Kubler dengan nama Elizabeth Kubler-Ross, sebab Ross adalah nama keluarga suaminya.

Dalam Perang Dunia kedua, Swiss tidak terlibat perang, namun Swiss kedatangan banyak pengungsi dan orang-orang yang terluka. Sebagai remaja yang giat, Kubler menjadi sukarelawan di rumah sakit dan membantu para peternak di Ecurcy, Prancis, yang peternakannya hancur akibat perang. Setelah itu ia menjadi sukarelawan di sebuah klinik di desa Lucima, Polandia.

Pada suatu malam, Kubler terbangun oleh suara rintihan dari luar. Seorang ibu menggendong anak dan memelas, “Tolonglah anakku ini.” Kubler memegang dahi anak itu. Demamnya menyengat. Ini mungkin typhus. Kubler berkata, “Ibu, saya bisa membuat teh hangat. Tetapi, kami tidak bisa menolong anak Ibu, sebab kami sudah lama kehabisan obat.” Ibu ini langsung menukas, “Tetapi Anda harus menolong anak ini. Tiga belas anak saya, semua dibunuh tentara Hitler. Hanya ini anak saya sekarang.” Kubler berkata, “Mungkin kita bisa bawa ke rumah sakit si Lublin, tapi itu lima jam jalan kaki dari sini. Ibu itu berteriak, “Saya sanggup!”

Maka, berjalanlah Kubler sepanjang malam mengantar mereka. Sebulan kemudian sang ibu dengan bahagia mengabarkan bahwa anaknya selamat. Kubler belajar mengerti arti kebahagiaan: Kita bahagia jika membahagiakan orang lain.

Pada usia 30 tahun Kubler masuk Sekolah Kedokteran di Zurich. Sudah lama ia bercita-cita menjadi dokter karena terilhami oleh buku otobiografi Albert Schweitzer, seorang teolog, musikolog, dan dokter yang menjadi utusan Injil di pedalaman Afrika. Setelah bekerja sebagai dokter di Zurich, Kubler kemudian pindah ke New York dan masuk sekolah Psikiatri. Ketika ia bekerja di berbagai rumah sakit, Kubler kecewa melihat perlakuan terhadap pasien yang hampir meninggal dunia. Mereka tidak mendapat kasih sayang, kehangatan, dan keramahan. Mereka bagaikan dibuang dan disingkirkan. Tidak ada sentuhan, belaian, atau senyuman untuk mereka.

Kubler teringat pada cerita Alkitab tentang penderita kusta. Orang tidak mau mendekati dan didekati oleh penderita kusta. Masyarakat menyingkirkan penderita kusta sehingga akhirnya mereka mati bagaikan hewan. Tetapi, Yesus bersikap lain. Ia mendekati orang kusta, bahkan mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mereka. Tertulis, “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan..” (Lukas 5:13).

Oleh sebab itu, Kubler turun tangan untuk melayani para pasien yang hampir meninggal dunia. Dengan penuh kesabaran, ia duduk bercakap-cakap di tepi ranjang setiap pasien. Ia melakukan riset tentang pergumulan jiwa orang yang menghadapi ajal. Riset ini menjadi salah satu cikal bakal studi Psikologi/Pedagogi Kematian.

Beberapa tahun kemudian, Kubler menjadi terkenal di seluruh dunia dengan hasil risetnya melalui buku “On Death and Dying”. Ia berdalil tentang lima kemungkinan tahap perasaan menjelang ajal. Pertama, penyangkalan, saat kita menolak datangnya maut. Kedua, marah. Ketiga, penawaran, saat kita berjanji untuk berperilaku lebih baik jika umur diperpanjang. Keempat, depresi karena ternyata kematian makin mendekat. Kelima, rasa damai saat kita menerima kenyataan dan berserah. Kelima tahap ini bisa juga terjadi pada keluarga yang kekasihnya baru saja meninggal.

Ketika ibunya sendiri sudah renta dan menghadapi kematian, Kubler tidak sampai hati melihat penderitaan itu. Sering seorang diri ia berlutut di gereja memohon Tuhan memanggil pulang sang ibu. Kubler heran bahwa doanya tidak terkabul. Ibunya bertahan hidup sampai empat tahun lagi. Akhirnya, Kubler belajar bahwa Tuhan mempunyai maksud tertentu, yaitu memberi kesempatan kepada sang ibu untuk menerima cinta kasih dari anak-anaknya dan Tuhan memberi kesempatan kepada Kubler untuk mencintai ibunya selama empat tahun lagi.

Di kemudian hari Kubler membangun beberapa rumah tampung untuk pasien kanker yang sudah mendekati ajal. Setelah itu juga rumah tampung untuk pasien penderita AIDS. Ternyata kepeduliannya terhadap pasien penderita AIDS malah membuat Kubler dibenci oleh kelompok-kelompok tertentu. Rumah Kubler dibakar habis dan ia beberapa kali hampir dibunuh.

Pada usia 69 tahun Kubler kena stroke. Ia lumpuh. Akibatnya rumah tampungnya ditutup. Ia hanya bisa bergerak dengan bantuan kursi roda sampai meninggal pada usia 78 tahun. Dalam keadaan lumpuh, Kubler menulis bukunya yang ke-23, berupa otobiografi berjudul “The Wheel of Life-A Memoir of Living and Dying”. Ada beberapa tema yang mengemuka. Tulisnya: “Hidup ini berat. Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah seperti bersekolah. Kita mendapat banyak pelajaran. Makin banyak, makin susah.” Di bagian lain ia menulis, “Tidak ada kebetulan. Semua yang terjadi dalam hidup mempunyai maksud positif.” Tulisnya pula, “Seluruh tujuan hidup adalah untuk bertumbuh. Pelajaran intinya adalah belajar mencintai dan dicintai tanpa syarat, dan itulah pelajaran yang paling susah.”

Namun, yang paling menonjol dalam otobiografi Elizabeth Kubler-Ross ini adalah keyakinannya bahwa tiap orang ditempatkan di bumi untuk tugas tertentu. Tugas itu unik, sebagaimana tiap orang pun unik. Tugas itu membuat hidup kita berarti dan berakhir dengan tuntas. (Ditulis dari warta gereja).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s