Monthly Archives: December 2012

Oleh Kemurahan Allah

Standard

“Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa,” (2 Korintus 4:3).

Kalau kita menyadari bahwa kita ini “pelayan” Tuhan, maka kita tidak akan tawar hati.

Dalam buku, “Dengan mata menatap ke Yesus”, dikatakan bahwa dunia bukan surga, jalan orang percaya, seperti jalan yang ditempuh. Tuhan Yesus, bukanlah jalan yang selalu bertabur bunga, ada via dolorosa yang harus kita lalui, salib yang harus kita pikul, ada ratapan yang harus kita teriakkan.
Hari tidak terasa kita sudah di penghujung tahun 2012, kita akan meninggalkan tahun 2012 dengan sejumlah kenangan manis dan juga kenangan pahit, kita melakukan refleksi dan melahirkan resolusi untuk kita masuki pada tahun 2013.

Kalau kita renungkan kembali apa yang telah terjadi tahun 2012 dan kita boleh ada sampai saat ini, semuanya sebenarnya “oleh kemurahan Allah.” Oleh kemurahan Allah, kalau kita berhasil, usaha menjadi maju, penyakit disembuhkan, begitu juga apabila masa-masa sulit berhasil kita lalui, itu bukan karena kehebatan kita tapi semuanya semata-mata hanya oleh kemurahan Allah.

Kalau kita menyadari bahwa semuanya terjadi oleh kemurahan Allah, maka kita juga harus bertanya kepada diri kita sendiri; “Apa yang telah aku buat untuk Tuhan selama tahun 2012?”

Paulus mengingatkan bahwa, kita menerima jabatan pelayanan, misi pelayanan, panggilan pelayanan, bukan hanya soal pelayanan di gereja, tapi di mana pun kita berada, kita harus melayani Tuhan dan sesama, menjadi hambanya Tuhan, artinya itu bukan hanya sekadar kekuasaan, otoritas atau jabatan, seperti yang sering kita lakukan di mana kita lebih bersikap seperti “raja kecil”, “bos kecil”, kita bukan menjadi pelayan.

Ingatlah bahwa kita ini hanya bejana tanah liat, bukan batu karang, tidak ada yang bisa kita banggakan, semuanya hanya oleh kemurahan Allah.

(Ditulis dari bbm pak Gembala..)

Advertisements

Instropeksi terhadap Diri Sendiri

Standard

Ada sepasang suami istri yang selalu cekcok setiap hari. Akhirnya suaminya kesal dan pergi ke salah satu konsultan keluarga dan kesehatan, kebetulan orang tersebut juga seorang dokter.

Suami: Dok, saya sudah tidak tahan dengan tingkah istri saya.

Dokter: Loh, memang kenapa?

Suami: Setiap saya berbicara dengannya, ia selalu men-cuekin saya. Saya menduga dia tuli.

Dokter: Ooh begitu… Gampang lah. Lalu, dia tulinya pada jarak berapa meter?

Suami: Lho, memangnya kenapa Dok?

Dokter: Begini, tuli pada jarak 4 meter berbeda dosis obatnya dibanding dengan tuli pada jarak 3 meter, 2 meter, apalagi 1 meter.

Suami: Ooh, gitu ya Dok. Baiklah saya cek dulu di rumah.

Sesampainya di rumah ia melihat istrinya sedang memasak di dapur.

Kemudian setelah dia mengukur, maka pada jarak 4 meter ia pun bertanya kepada istrinya.

“Istriku sekarang kau masak apa?” Ternyata istrinya diam saja, dan ia pun melangkah 1 meter lagi mendekati istrinya dan ia bertanya lagi, “Istriku sekarang kau masak apa?”

Tapi istrinya masih diam saja, lalu ia pun melangkah 1 meter lagi mendekati istrinya, dan dengan perasaan dongkol ia bertanya lagi kepada istrinya dengan berteriak kesal, “Istriku sekarang kau masak apa?”

Tiba-tiba suasana hening sejenak dan istrinya pun berbalik dengan amarah yang tampak di wajahnya. Kemudian ia berkata dengan lantang, “Sudah kubilang 3 kali, aku masak rendang! Rendang!! Rendang!!! Masa sih kau tak dengar?”

Ternyata yang pendengarannya kurang bagus adalah dirinya sendiri, bukan si istri.

Demikian juga dengan hidup kita, setiap harinya kita sibuk melihat kekurangan, kesalahan dan kekhilafan orang lain sehingga tidak pernah introspeksi diri. Sebelum memvonis orang lain, introspeksilah terlebih dahulu diri sendiri. Inilah kunci menuju keharmonisan dan kedamaian hidup.

(Ditulis dari bbm pak Gembala..)

Mengambil Air di Dekat Sumur

Standard

Seorang pendeta yang masih muda yang baru ditahbis, diminta untuk mengambil air, ia diminta untuk mengambil air di dekat sumur gereja. Ia pun pergi ke sumur dan mencoba untuk menimba sumur, namun yang didapatkannya hanyalah ember kosong tanpa ada airnya.

Semakin ditimba, semakin sia-sialah usaha mendapatkan airnya. Semakin marah kesal dan jengkel, sumur itu tetap tidak memberikan air. Ia tidak percaya, dan mengintip ke dalam sumur. Sumur itu sangat dalam dan terlihat gelap ke dasar, hampir dipastikan tidak dapat terlihat apa yang ada di dalam sumur. Semakin berusaha, semakin emosi, dan kesal, yang ada malah keringat membasahi tubuh dan lelah yang tersisa.

Tiba-tiba Gurunya datang, kemudian pendeta muda itu komplain pada Gurunya. “Mengapa Guru tidak berkata bila sumur ini kosong, mengapa saya harus menimbanya?”

Sang Guru balik bertanya: “Berapa kali kamu menimba?” Pendeta muda menjawab: “Sudah banyak kali, dan sudah emosi jiwa”. Guru: “Bila sudah tahu kosong, mengapa harus menimba? Mengapa harus emosi dan mengapa menutup indra kesadaranmu?” “PLAK”
Kepala pendeta muda itu dipukul dengan tongkat. “Lihat ke samping sumur itu, di sana ada kran air dari pompa sumur, tinggal dibuka krannya airpun mengalir, Aku suruh kamu mengambil air di dekat sumur, bukan menimba sumur!”

Seketika wajah pendeta muda itu merah padam… Ia merasa sudah membuang-buang energi dan emosinya hanya karena tidak ada usaha untuk membuka ‘kesadaran’.

Bagaimana dengan kita? Apakah dari awal membaca kita memiliki pikiran yang sama seperti pendeta muda itu?

RENUNGAN:
Sering kita marah tanpa alasan, emosi jiwa, padahal duduk persoalannya disebabkan oleh karena kita sok tahu, sok yakin benar, dan tidak mau tahu. Akhirnya kita menyalahkan kondisi yang ada, padahal yang perlu diperiksa adalah otak kita sendiri.

Jika kita menghadapi masalah dan merasa stuck, bukalah mata hati kita dan cari solusi lain. Atau, apakah kita harus di ‘PLAK’ dahulu seperti pendeta muda tadi?

(Ditulis dari bbm pak Gembala..)

He Leads You by Peace

Standard

“For unto us a Child is born, unto us a Son is given; and the government will be upon His shoulder. And His name will be called Wonderful, Counselor, Mighty God, Everlasting Father, Prince of Peace.” (Isaiah 9:6, NKJV)

The Bible calls Jesus the Prince of Peace. That means He is the ruler of peace. He is the ultimate peace. Having His peace is not like having the peace the world has. His peace is permanent. It never changes and can never be taken away.

It’s interesting that the word “peace” literally means “to set at one again.” In other words, when we are one with the Father, when we line up our thoughts, our words and our actions with Him through the blood of Jesus Christ, we will experience His peace in our lives. Anytime you find that you don’t have peace about something on the inside of your heart, when you feel an uneasiness, that’s a sign that you should stop and pray and make sure you are in line with God’s direction.

Remember, His plans are always for your good. He leads you by peace and fills you with His joy. When you choose His ways, you become one with Him and experience His peace and blessing all the days of your life!

A PRAYER FOR TODAY
Father in heaven, thank You for filling me with Your Peace and joy. Have Your way in my heart and remove anything that displeases You. Help me to clearly hear Your voice so I can walk in all of Your ways in Jesus’ name. Amen.

— Joel & Victoria Osteen

Do Not Be Afraid

Standard

“…an angel of the Lord appeared to him in a dream. ‘Joseph, son of David,’ the angel said, ‘do not be afraid to take Mary as your wife. For the child within her was conceived by the Holy Spirit.’ ” (Matthew 1:20, NLT)

Have you ever felt overwhelmed or even afraid of what God has called you to do? Maybe you were pursuing a dream or goal and things didn’t turn out the way you planned. Joseph had planned to take Mary as his wife, but when he found out she was pregnant, he didn’t know what to think. He was afraid that he might be making a mistake because things didn’t turn out the way he planned. But, God sent a messenger in a dream to reassure Joseph that he was on the right path.

Today let me reassure you that God knows right where you are, and He knows how to get you to where you need to be. Even when things don’t go the way you planned, His hand is on you. Do not be afraid. Trust that God is working behind the scenes on your behalf, and that He will lead you into the life of blessing that He has prepared for you.

A PRAYER FOR TODAY
Father in heaven, I choose to trust in You. Even when things don’t go the way I planned, I know You are at work in my life. Thank You for Your perfect love which casts out all fear. I love You and surrender every area of my life to You in Jesus’ name. Amen.

— Joel & Victoria Osteen

God with Us

Standard

“Behold, the virgin shall become pregnant and give birth to a Son, and they shall call His name Emmanuel — which, when translated, means, God with us.” (Matthew 1:23, AMP)

In the Bible, Jesus has many names that identify His character. One of those names is Emmanuel, which means “God with us.” Before Jesus came to earth, the Spirit of God resided in the temple. The people had to go through all kinds of rituals to become clean enough to go near to Him. Today, as believers, we are the temple of the Holy Spirit. When we accept Jesus as our Lord and Savior, He is the one who cleanses us and makes His home in our hearts. He becomes one with us, closer than the air we breathe.

Isn’t it good to know that God is always with us? His peace is always with us. His joy is always with us. His power is always with us, and His victory is always with us. The next time you feel alone, think about this scripture. Know that He is near because you serve Emmanuel — the God who is always with you!

A PRAYER FOR TODAY
Father in heaven, thank You for choosing to make Your home in me. Thank You for filling me with Your peace and joy. I bless You today, knowing that You will never leave me nor forsake me in Jesus’ name. Amen.

— Joel & Victoria Osteen

Nama-Nya Yesus

Standard

Nats: Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Lukas 2:21)

Judul: NAMANYA YESUS

Seorang pria bertanya kepada pendetanya, “Apa yang harus saya lakukan agar masuk surga?” Jawaban sang pendeta mengejutkannya, “Anda sudah terlambat. Tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk bisa masuk surga.” Dengan gelisah ia bertanya, “Apa maksud Anda, Pak Pendeta? Tidakkah ada sesuatu yang bisa saya lakukan?” Pendeta itu menjawab, “Apa yang harus dilakukan untuk masuk surga telah dikerjakan untuk Anda oleh Yesus, dua ribu tahun silam. Yang perlu Anda lakukan sekarang hanyalah menerima apa yang telah Dia kerjakan bagi Anda. Tidak ada yang bisa Anda tambahkan lagi.”

Nama Yesus berarti “Allah menyelamatkan”. Dan sesuai nama yang diberikan sebelum kelahiran-Nya (lihat Matius 1:21), Dia memang datang ke dalam dunia sebagai jalan keselamatan yang disediakan Allah sendiri. Yesus tidak datang untuk merintis sebuah agama atau membangun sebuah tradisi. Dia datang untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Dia juga disebut Kristus (lihat ayat 11), yang berarti Sang Mesias, Yang Diurapi. Dia disebut Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita (Matius 1:23).

Yang terbaik dari Natal adalah Yesus. Sia-sialah segala perayaan tanpa kehadiran-Nya. Melalui kelahiran Yesus, kita mendengar Allah berkata: “Anakku, tidak ada yang dapat kau lakukan untuk membereskan masalahmu. Sebab itu, Aku sendiri yang akan menolongmu. Aku datang untuk menggantikan rasa frustrasimu dengan kedamaian, kesalahan-kesalahanmu dengan pengampunan, kegelisahanmu dengan pengharapan yang pasti. Maukah engkau memercayai-Ku sepenuhnya?” Bagaimana kita meresponi kasih karunia-Nya ini? –JOE

TIDAK ADA USAHA YANG DAPAT MEMBAWA KITA KEPADA ALLAH. YANG DAPAT KITA LAKUKAN ADALAH MENERIMA ANUGERAH-NYA.

Sumber dari Renungan Harian Online..