Sepotong Ayam Goreng

Standard

Sebuah kisah yang dapat menjadi bahan perenungan bagi setiap kita..

Karena hujan yang tidak kunjung berhenti, akhirnya saya memutuskan hujan-hujanan karena hari terlihat sudah malam. Ketika sampai di jalan Ciputat, perut ini sudah tidak bisa diajak kompromi lagi sehingga saya memutuskan untuk mampir dan makan malam di sebuah warung nasi, di pinggir jalan Ciputat. Ketika saya lagi asyik menikmati pecel lele, masuklah seorang bapak dengan istri dan dua orang anaknya ikut makan bersama-sama dengan saya di warung tersebut.

Yang menarik adalah kendaraan mereka berupa gerobak dorong dan bapak ini memesan dua piring nasi dan satu ayam goreng untuk istri dan kedua anaknya. Pertamanya sih tidak ada yang menarik, sampai ketika saya selesai makan, ada yang menarik hati saya. Ternyata, yang menikmati makanan itu hanya istri dan anaknya. Sedang sang bapak hanya melihat istri dan anaknya menikmati makanan yang disajikan. Sesekali saya melihat anak ini tertawa senang sekali, dan sangat menikmati ayam goreng yang dibelikan oleh bapaknya. Dan saya perhatikan, wajah sang bapak, walau tampak kelelahan tetapi ada senyum bahagia di wajahnya.

Lalu saya mendengar dia berkata, “Makan yang puas, ya, nak. Ini kan hari ulang-tahunmu.” Saya mau menangis mendengarnya. Seorang bapak dengan segala keterbatasannya sebagai seorang pemulung, membelikan masakan ayam goreng di pinggir jalan, untuk hadiah anaknya yang hari itu sedang berulang-tahun.

Saya jadi teringat akan lagu yang dinyanyikan oleh Jeffrey S. Tjandra, “Ku tahu, Bapa peliharaku. Dia baik, Dia baik..” Hampir-hampir mau menangis rasanya di warung itu. Segera sebelum air mata tumpah, saya berdiri dan membayar makanan, dan juga dengan pelan-pelan berkata sama penjaga warung, “Mas. Tagihan bapak itu, saya saja yang bayar dan tolong tambahin juga nasi putih, ayam goreng dan tahu tempe goreng untuk mereka.” Lalu lekas-lekas saya pergi meninggalkan tempat itu.

Kisah ini ditulis untuk menjadi bahan perenungan bagi kita, bahwa apapun keadaan kita: Dia adalah Bapa yang baik yang memelihara hidup kita. Janganlah menjadi takut, Dia tahu yang terbaik bagi hidup kita. Dan satu lagi. Janganlah pernah mengeluh akan apa yang kita alami maupun akan apa yang kita makan hari itu. Karena masih ada orang-orang yang lebih kurang beruntung dan apa yang mereka makan jauh lebih sederhana dari kita; tetapi hal itu tidak mengurangi damai sejahtera dan sukacita di hati mereka. Bersyukurlah senantiasa, apapun keadaan yang kita alami..

–Disadur dari berbagai sumber

[Pernah dimuat dalam Warta GMS Pusat, pada tanggal 10 Oktober 2010..]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s