Monthly Archives: March 2013

Kisah Catherine Lawes

Standard

Pada tahun 1921 Lewis Lawes menjadi sipir di Penjara Sing Sing. Tak ada penjara yang lebih menyeramkan daripada Sing Sing pada masa itu. Namun saat Sipir Lawes pensiun sekitar 20 tahun kemudian, penjara itu menjadi lembaga yang memperjuangkan kesejahteraan umat manusia. Orang-orang yang mempelajari sistem dari lembaga tersebut mengatakan bahwa penghargaan atas perubahan yang terjadi sepantasnya diberikan pada Lawes. Namun saat dimintai komentar, Lawes berkata, “Saya berhutang budi atas semua perubahan ini pada istri saya yang mengagumkan, Catherine, yang dimakamkan di luar dinding penjara ini.”

Catherine Lawes adalah seorang ibu muda yang memiliki tiga anak kecil saat suaminya menjadi sipir penjara. Sejak awal semua orang memperingatkannya untuk tidak sekali-kali menginjakkan kaki ke dalam penjara, tetapi itu tidak menghentikan Catherine! Ketika diadakan pertandingan basket untuk pertama kalinya di penjara, ia berjalan ke dalam gedung olahraga itu bersama ketiga anaknya yang cantik dan duduk di tempat penonton bersama para narapidana.

Tekadnya adalah, “Suami saya dan saya akan menjaga para narapidana ini, dan saya yakin mereka akan menjaga kami! Saya tidak perlu merasa cemas!”

Ia bersikeras untuk berkenalan dengan mereka dan mengetahui data-data mereka. Ia tahu di situ ada seorang narapidana buta yang pernah membunuh; karena itu ia menghampirinya. Sambil menggenggam tangan narapidana itu ia berkata, “Apakah Anda dapat membaca huruf Braille?” “Apa huruf Braille itu?” tanya narapidana tersebut. Selanjutnya Catherine mengajarinya membaca huruf Braille. Bertahun-tahun kemudian narapidana itu menangis karena kasihnya pada Catherine.

Kemudian Catherine berjumpa dengan narapidana yang tuli dan bisu. Catherine mengikuti kursus untuk mempelajari cara menggunakan bahasa isyarat. Banyak orang mengatakan bahwa Catherine Lawes adalah jelmaan tubuh Yesus yang bangkit kembali di Sing Sing mulai dari tahun 1921 sampai 1937. Lalu ia tewas dalam kecelakaan mobil. Esok harinya Lewis Lawes tidak datang ke tempat kerja, dan wakil sipir penjara menggantikan kedudukannya. Dengan cepat para penghuni penjara tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Esok harinya jenazah Catherine dibaringkan dalam sebuah peti jenazah di rumahnya yang berjarak kira-kira satu kilometer dari penjara itu. Sewaktu wakil sipir penjara sedang berjalan-jalan pagi hari itu, ia merasa sangat terkejut melihat sekelompok besar narapidana yang tampak sangat kejam dan menyeramkan berkumpul seperti sekawanan hewan di gerbang utama. Ia mendekati mereka dan melihat ada airmata duka dan kesedihan pada diri mereka. Ia tahu betapa mereka sangat mengasihi Catherine. Ia menghadap ke arah mereka dan berkata, “Baiklah, kalian boleh pergi. Tapi kalian harus kembali dan melapor malam ini!”

Lalu ia membuka pintu gerbang dan para narapidana itu berjalan sejauh satu kilometer tanpa pengawalan, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Catherine Lawes. Dan mereka semua kembali untuk melapor. Semuanya!

(Ditulis oleh Tim Kimmel, dengan judul “Perubahan”..)

Setiap tanggal 8 Maret diperingati sebagai hari Wanita/Perempuan Internasional. Biarlah melalui kisah nyata ini, memotivasi dan membangkitkan setiap kita untuk bangkit dan meninggalkan sejarah yang baik dalam kehidupan. Menjadi wanita yang bijak dan takut akan Allah, serta menjadi berkat di manapun kita berada. Tuhan Yesus memberkati..

Pernah dimuat di Buletin Phos edisi Maret 2013..

Advertisements

Pelayanan di Mata Tuhan

Standard

“kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.” (Yohanes 13:5).

Guru membasuh kaki murid di dunia ini, sungguh tak lazim dan bahkan merendahkan diri guru itu sendiri. Tapi itulah yang dilakukan Yesus, setelah makan bersama murid-murid-Nya, Ia tiba-tiba bangun dari tempat duduk-Nya, lalu menanggalkan jubah-Nya, mengambil sehelai kain lenan, menuangkan air ke sebuah basi dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya.

Tentu saja murid-murid-Nya terperanjat, terperana, terkesima dan tak dapat menerima, tak pantas seorang guru membasuh kaki muridnya! Yang seharusnya dilakukan adalah sebaliknya.

Pekerjaan membasuh kaki adalah pekerjaan “hina”, tugas seorang budak, pelayan, hamba. Tapi justru karena itu, Yesus sengaja melakukannya, Ia melaksanakan tugas seorang “pelayan” dan Dia berkata: “Aku telah memberi teladan kepadamu.” Bukankah sikap inilah yang harus kita contoh? Yang menjadi masalah dewasa ini adalah orang berlomba-lomba bukan untuk menjadi pelayan Tuhan yang melayani Tuhan, melainkan melayani kepuasan diri sendiri.

Kebanggaan pelayanan masa kini adalah menjadi yang terbesar, Alkitab menuliskan pertengkaran yang terjadi di antara murid-murid Yesus karena mereka ingin tahu siapakah yang terbesar di antara mereka. Pelayanan berpusat pada kehebatan gedung gereja, banyaknya jumlah jemaat, banyaknya jumlah persembahan, mujizat yang terjadi..

Mereka memang menyebut nama Yesus, namun tanpa penyerahan diri kepada-Nya bahkan sebaliknya menjual nama Yesus untuk keuntungan diri sendiri.

Melayani di mata dunia memang bukan pekerjaan bergengsi, bahkan cenderung direndahkan. Untuk melayani dibutuhkan kerendahan hati dan penyangkalan diri, kesediaan untuk, bilamana perlu berjongkok di bawah orang yang kita layani dan membasuh kakinya, tapi bukan menjilat.

Pelayanan adalah tindakan atau aksi, bukan rumusan atau formulasi..

(Ditulis dari bbm pak Gembala..)

Bantuan Sang Panglima

Standard

Nats: “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;” (Yohanes 13:14).

Judul: BANTUAN SANG PANGLIMA

Suatu ketika beberapa tentara Amerika bersusah payah memindahkan sebatang pohon besar yang mengalangi jalan. Di dekat mereka, sang kopral hanya berdiri sambil mengomel. Seorang penunggang kuda yang lewat melihatnya. Ia bertanya, mengapa kopral itu tak membantu anak buahnya. Kopral itu menjawab, “Aku ini kopral, yang berhak memberi perintah.” Tanpa berkomentar, si penunggang kuda turun dan membantu para tentara tadi sampai berhasil. Lalu, sambil naik kuda lagi, ia berkata, “Kalau anak buahmu butuh bantuan lagi, panggil saja panglima perangmu. Ia akan datang.” Seketika si kopral sadar bahwa penunggang kuda tadi tidak lain George Washington, panglima perang Amerika saat itu (dan nantinya menjadi presiden negara tersebut).

Menjelang penangkapan-Nya, Yesus menyampaikan pesan yang mengusik. Dia melepaskan jubah, mengambil kain lenan, dan mengikatkannya di pinggang. Lalu, Dia berlutut dan mencuci kaki para murid. Para murid bahkan belum pernah melakukan hal itu di antara mereka sendiri. Namun, Guru, Tuhan, dan Raja mereka tidak segan-segan untuk melayani. Pesan-Nya jelas: Dia menginginkan para pengikut-Nya saling melayani.

Betapa baiknya bila kita tak membiarkan diri merasa “lebih hebat” dari orang lain. Juga lebih sedikit berharap untuk dilayani. Lalu, mulai lebih banyak berpikir bagaimana dan apa saja yang bisa kita lakukan untuk melayani sesama. Siapa pun itu. Bahkan orang-orang yang kita anggap tidak patut dilayani. Mari kita menularkan semangat untuk saling melayani ini. –AW

KETIKA YESUS MERAJA DI HATI PASTI MELUAP HASRAT UNTUK MELAYANI

(Ditulis dari Renungan Harian Online..)

Arti Sebuah Kebahagiaan

Standard

“Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.” (Kisah para rasul 5:41).

Setiap orang pasti ingin hidup berbahagia, Aristoteles pun, ribuan tahun yang lalu mengatakan bahwa kebahagiaan adalah tujuan semua orang. Dunia memang mengarahkan kita untuk mencari kebahagiaan melalui berbagai cara, ada yang mengatakan bahwa kebahagiaan dapat diraih apabila kita mempunyai harta yang cukup banyak.

Ada lagi yang mengatakan bahwa kebahagiaan dapat dicapai melalui pengakuan, pujian, popularitas. Semua hal di atas hanya memberikan kegembiraan atau kesenangan sesaat, tapi sayangnya tidak abadi.

Begitu sering kebahagiaan itu kita identikkan dengan kesenangan duniawi dan kenikmatan daging semata, dengan kemewahan dan kelimpahan materi semata. Banyak orang begitu gigihnya berusaha memuaskan keinginan dagingnya dan untuk itu mereka rela mengorbankan hubungan dengan Tuhan, karena mereka percaya bahwa kenikmatan duniawi mampu memberi kebahagiaan.

Padahal kesenangan dan kenikmatan karena hal-hal tersebut hanya cuma sementara. Mereguknya adalah sama seperti meneguk air laut, puas sebentar, lalu datang dahaga yang lebih menyiksa.

Bagi para rasul, kebahagian tidak identik dengan kenikmatan atau kemewahan, bahkan kesakitan dan penganiayaan pun, bila itu harus dialami demi nama Yesus, itu adalah kebahagiaan tersendiri.

Alkitab berkata; “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti”.

Damai sejahtera dan kebahagiaan yang Tuhan berikan tidak pernah berhenti dan tidak tergantung pada baik buruknya keadaan dalam hidup kita, asal kita memperhatikan perintah-perintah-Nya.

(Ditulis dari broadcast BBM pak Gembala..)

Bintang Dunia

Standard

“Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.” (Matius 2:10).

Judul: BINTANG DUNIA

Josh McDowell, dalam buku “Evidence That Demands a Verdict,” bercerita tentang Pdt. Joon Gon Kim, direktur Campus Crusade for Christ Korea, yang harus menyaksikan pembantaian atas keluarganya. Istri dan ayahnya dibunuh di hadapannya oleh tentara komunis, yang semuanya adalah orang sekampung yang ia kenal. Kim sendiri dipukuli dan ditinggalkan dalam keadaan setengah mati. Tetapi, Kim memohon agar Allah memberinya kasih bagi jiwa-jiwa musuhnya. Kim membawa 30 orang komunis kepada Kristus, termasuk pemimpin pasukan yang bertanggung jawab atas kematian orang orang yang dikasihinya.

Seperti bintang timur yang menuntun orang Majus untuk menemui sang Raja, membawa persembahan, dan sujud menyembah kepada-Nya, kita adalah bintang dunia pada masa kini. Kita mendapatkan tugas istimewa untuk menuntun orang kepada sang Raja dan mempersembahkan diri mereka sendiri sebagai persembahan yang hidup bagi-Nya.

Apabila kita mengerti nilai jiwa-jiwa di hadapan Kristus, seperti Pdt. Joon Gon Kim, kita akan mengedepankan pemberitaan kabar baik lebih dari berkubang dalam rasa sakit hati dan berbagai persoalan pribadi. Kita adalah sinar terang yang Tuhan gunakan untuk mewartakan sukacita bagi dunia ini.

Kita masing-masing pasti memiliki kesaksian tentang Kristus yang dapat dibagikan. Kita dapat berdoa agar Tuhan hari ini membukakan jalan untuk membagikannya kepada orang yang kita temui. Kita dapat menjadi bintang yang bersinar di dunia dan menuntun banyak jiwa kepada-Nya. –TS

TUHAN MENETAPKAN KITA SEBAGAI TERANG DUNIA BERCAHAYALAH SEHINGGA DUNIA MELIHAT KEMULIAAN ALLAH

(Ditulis dari Renungan Harian Online..)

Renungan Singkat: Tetaplah Bersyukur

Standard

“..Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”” (1 Raja-raja 19:4b).

Yang namanya hidup memang tidak mungkin terbebas dari stress atau tekanan yang membuat kita tertekan, tidak peduli apakah orang itu hebat atau tidak, kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, tua atau muda, bahkan anak-anak pun bisa menderita stress.

Nabi Elia, nabi yang hebat, nabi yang mampu menurunkan hujan lewat doanya, mengalahkan 450 nabi Baal, eh ternyata juga stress. Elia merasakan tekanan yang luar biasa, sampai dia merasa lebih baik mati. Dia membandingkan dirinya dengan nenek moyangnya, Musa. Dia membuat ukuran yang berlebihan terhadap dirinya.

Pemazmur juga mengalami tekanan, dia berkata; “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”

Seringkali, jika stress datang, kita protes kepada Tuhan, kita merasa masalah yang kita alami terlalu berat, padahal bukan masalahnya yang berat, tapi daya tahan kita yang lemah. Belajarlah dari pemazmur yang berharap kepada Tuhan, dia mengatakan; “Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.” “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.”

Jangan biarkan stress dan tekanan menguasai kita, apalagi sampai berpikir untuk mengakhiri hidup, berharaplah kepada Tuhan, maka penghiburan yang dari Tuhan akan menenangkan jiwa kita dan membuat hidup kita menjadi tenang.

Lihatlah Elia, Tuhan tidak membiarkan dia terpuruk, Dia memberikan makanan dua kali, bahkan memberikan Elia kesempatan untuk beristirahat memulihkan kondisinya.
Tuhan kita adalah Allah yang peduli, dia tidak akan membiarkan anak-anak-Nya jatuh sampai tergeletak, tangan-Nya selalu menopang kita.

Tetaplah bersyukur!

(Ditulis dari broadcast BBM pak Gembala..)