Monthly Archives: July 2013

Periode Anak Belajar Kata-kata

Standard

Masa anak-anak adalah masa di mana manusia belajar banyak tentang lingkungan dan kehidupan yang terjadi di sekitarnya, mereka belajar dengan mendengar, melihat dan merasakan. Masa seperti ini merupakan hal penting bagi orangtua untuk mendidik anaknya dengan hal-hal yang positif, salah satunya dengan kalimat-kalimat yang baik yang ia dengar. Namun kebanyakan orangtua mengajarkan hal seperti itu di saat mereka sudah mulai bisa berbicara atau riang gembira berlari dan bermain. Lalu kapan pendidikan penting itu dimulai?

Seorang ahli mengatakan, masa di mana seorang anak mulai mendengar dan belajar “kata” adalah sejak mereka berada di dalam perut, di usia kehamilan tiga bulan, ia akan belajar kata dari apa yang diucapkan oleh sang ibu. Periode ini penting bagi ibu hamil agar berhati-hati dalam mengucapkan kalimat.

Masa selanjutnya ketika mereka mulai mencoba mengucapkan kata, antara 1 sampai 2 tahun. Di sini seorang anak tidak hanya akan belajar dengan mendengar dari ucapan sang ibu saja, namun anak akan belajar dari lingkungan rumah tangga seperti ayah dan kakak. Kata yang sering diucapkan oleh ayah, misalnya kata “kopi”, secara tidak sadar Anda melakukan repetition (pengulangan). Karena kata ini sering diucapkan oleh sang ayah, karena kebiasan minum kopi, kemudian kata itu ia dengar dari sang ibu dengan kalimat yang berbeda namun mengandung kata “kopi” misalnya, “Ayah mau Mama ambilkan kopinya sekarang?” dan hal itu terus terjadi sehingga anak akan mencoba mengucapkan kalimat yang sama.

Lalu bagaimana jadinya jika Anda mengucapkan kalimat kotor atau tidak baik? Tentu ia juga akan mencoba mengucapkan kalimat itu. Karena proses ini adalah proses pemrograman alam bawah sadar anak yang tentunya akan menentukan sikap, pola pikir, dan pola laku di masa mendatang.

Para ahli psikologis anak di Amerika mengatakan jika anak sering mendengar kata negatif, misalnya tentang seks, hal ini dapat merusak harga diri dan sikap terhadap seks dan seksualitas di masa dewasa. Ini penting bagi Anda untuk tidak bertengkar di depan anak-anak. Karena ketika bertengkar, emosi biasanya tidak terkontrol dan dapat mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak baik untuk didengar oleh anak Anda.

Periode selanjutnya adalah di mana anak sudah mulai berbicara sekitar 2 sampai 12 tahun. Ini adalah fase penting, biasanya anak akan mulai bertanya tentang suatu kata yang jarang ia dengar, atau pertama kali ia lihat dan biasanya di masa ini anak sangat responsif terhadap kejadian di sekitarnya. Misalnya, ia menanyakan tentang kata “pembalut”, karena mungkin ia melihat iklan di TV tentang itu. Kemudian ia akan bertanya apa pembalut itu, Anda mencoba untuk menjelaskan, dan selanjutnya ia akan bertanya lagi kenapa orang menstruasi?

Cara menyikapi hal ini adalah dengan menjelaskan mereka dengan kalimat yang lebih sopan dan tidak langsung ke titik poin yang membuat ia bingung dan terus bertanya. Cobalah jawab mereka dengan “Pembalut adalah sejenis bahan untuk membalut luka yang berdarah, tapi apa yang adik liat di Tv itu adalah produk kebersihan untuk perempuan dewasa”. Biarkan mereka tahu, tetapi hindari mereka dengan kalimat yang kurang baik untuk didengarkan di masa ia masih terlalu lugu. Jadi, berhati-hatilah berbicara di depan anak-anak dan gunakan pilihan kalimat yang lebih sopan. Karena hal itu akan membantu membentuk karakter mereka di masa mendatang. (Disadur dari berbagai sumber).

Pernah dimuat dalam Buletin Phos edisi Juli 2013..

Advertisements

Kisah Hidup Father Flanagan

Standard

Kisah Hidup Father Flanagan
(1886 – 1948)

Ia Mendirikan Sebuah “Kota” untuk Melindungi Anak yang Terlupakan

Edward Joseph Flanagan dilahirkan di Irlandia, tetapi pada usia delapan belas tahun, ia pindah ke Amerika Serikat dan mulai mempersiapkan masa kepastorannya di Gereja Roma Katolik. Setelah belajar di Emmitsburg, Maryland; Roma; dan Innsbruck; ia ditahbiskan untuk menggembalakan pada tahun 1912 sebagai seorang pastor untuk wilayah Omaha, Nebraska.

Satu masalah utama di Omaha yang ditemukan Father Flanagan dan yang dipilihnya untuk diperhatikan adalah: anak-anak pria yang terlantar. Banyak dari anak-anak pria tersebut yang tidak lagi mempunyai ibu, tidak lagi mempunyai ayah, dan tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka tidak mempunyai siapa-siapa yang mengasihi atau mengajar mereka. Singkatnya, semuanya telah berhenti sekolah. Mereka menjadi terkenal di kota karena memecahkan kaca-kaca toko, menjadi maling kecil (seringkali mencuri makanan), dan memulai perkelahian di jalanan.

Suatu hari seorang penjaga toko berkata pada Flanagan, “Anak-anak tersebut harus ditangkap. Mereka harus disingkirkan.”

Melihat melampaui kebrutalan mereka, Father Flanagan melihat wajah-wajah yang lapar dan pakaian yang compang-camping. Ia menjawab, “Apa yang mereka butuhkan adalah sebuah rumah. Mereka membutuhkan orang yang mencintai mereka.”

Sang penjaga toko bertanya, “Tetapi siapa yang akan membawa mereka masuk?” Ia menjawab, “Mungkin saya akan melakukannya.” Dan ia melakukannya.

Father Flanagan meminjam beberapa dolar untuk menyewa sebuah rumah tua dan kemudian meminta mereka yang berada di sekitarnya untuk memberikan perabotan kepadanya, peralatan makan, dan tempat tidur untuk mengisinya guna membenahi rumah tersebut. Ia mengundang lima anak laki-laki untuk tinggal bersama-sama dengannya, menawarkan mereka tempat untuk makan, tidur, bermain, dan berdoa. Segera setelah itu anak-anak ini tertawa, belajar dan rutin pergi ke gereja. Para tetangga terkesan. Semakin banyak anak laki-laki yang mulai datang ke rumahnya, ingin mengecap kehidupan normal yang ditawarkannya.

Father Flanagan akhirnya menyimpulkan, “Anak-anak tersebut memerlukan sebuah kota tersendiri untuk mereka.”

Pada tahun 1922, Father Flanagan menemukan sebuah ladang yang dijual sebelas mil di luar Omaha, dan lagi-lagi ia meminta rekan-rekannya dan para tetangga untuk membantunya membeli ladang tersebut dan kemudian untuk membantu membangun sebuah kota. Mereka membangun jalan-jalan, trotoar, rumah-rumah, toko-toko, sebuah gereja, dan sebuah kantor pos. Sebuah ruang makan besar dibangun sebagai tempat bagi anak-anak pria tersebut makan, dan sebuah kolam renang dibangun guna memberikan tempat bagi mereka untuk berenang.

Anak-anak dari berbagai bagian mulai berdatangan. Suatu hari, seorang anak yang tidak dapat berjalan tiba di Boys’ Town (Kota Anak-anak Laki) tersebut, dan Father Flanagan meminta salah satu dari anak-anak yang agak besar untuk menuntun anak tersebut ke dalam ruangannya. Anak yang agak besar akhirnya menggendong sang pendatang baru tersebut di punggungnya dan Father Flanagan bertanya, “Ia tidak terlalu berat ‘kan?”

Anak yang agak besar tersebut tersenyum dan mengatakan, “Ia tidak berat, Father. Ia saudaraku!”

Pernyataan tersebut menjadi ciri dan simbol dari Boys’ Town. Aksi tersebut diabadikan dalam perunggu, dan pernyataan tersebut menjadi kutipan terkenal di seluruh negara.

Father Flanagan mendorong bahwa seluruh “kota” didedikasikan untuk membangun karakter anak-anak yang tidak mempunyai tempat tinggal dengan memberikan kepada mereka pendidikan religius, sosial, dan pelatihan kerja. Institusi tersebut sukses dan Father Flanagan menjadi seorang pengajar yang digemari dalam melatih dan merehabilitasi anak-anak yang sebelumnya telah menjadi penjahat muda. Setelah Perang Dunia II ia bekerja sebagai konsultan pemerintah Amerika Serikat dalam membangun program anak-anak remaja di Jepang dan Korea. Ia meninggal dalam misi yang sama di Eropa.

Para pengubah dunia melihat potensi dan nilai di dalam diri setiap umat manusia.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” (1 Yohanes 4:7).

Ditulis dari buku “You Can Be A World Changer”..

Pernah dimuat dalam Buletin Phos edisi Juli 2013..

Si Sumbu Pendek

Standard

“Orang yang sangat cepat marah akan kena denda, karena jika engkau hendak menolongnya, engkau hanya menambah marahnya.” (Amsal 19:19).

Judul: Si Sumbu Pendek
 
Apakah kita termasuk orang yang mudah marah? Sedikit saja ada sesuatu yang menjengkelkan, amarah kita segera meledak. Sasaran kemarahan kita pun beragam, mulai dari pasangan, anak, sampai orang lain yang tidak tahu-menahu mengapa kita marah. Jika jawaban kita “ya”, jangan-jangan kita termasuk “Si Sumbu Pendek”.

“Si Sumbu Pendek” adalah gambaran dari orang yang mudah meledak dalam kemarahan. Sama seperti petasan atau bom bersumbu pendek, disulut sedikit saja petasan atau bom itu segera meledak. Ledakan amarah “Si Sumbu Pendek” terkadang tanpa alasan logis dan tidak terkendali. Mengenai sifat buruk ini, nas hari ini menggaris-bawahi, “Orang yang sangat cepat marah akan kena denda, karena jika engkau hendak menolongnya, engkau hanya menambah marahnya.”

Dalam Alkitab Terjemahan BIS, frasa “akan kena denda” dituliskan dengan “merasakan sendiri akibatnya”. Orang yang pemarah tidak jarang terkena akibat dari kemarahannya sendiri. Dalam kondisi marah, upaya orang lain untuk menolongnya tidak jarang malah menambah kemarahannya. Orang jadi perlu berhati-hati jika hendak menolong orang yang sedang marah karena bisa-bisa kita akan kena marah juga.

Marah bukanlah dosa, tetapi sifat pemarah menandakan adanya masalah dalam penguasaan diri orang tersebut. Jika kita termasuk dalam kelompok “Si Sumbu Pendek”, mintalah anugerah Tuhan agar kita dapat lebih mengendalikan amarah. Yakinlah bahwa Allah sanggup mengubahkan segala sesuatu, termasuk mengubah seorang pemarah menjadi seorang peramah. –Widodo Surya Putra

Kemarahan yang mudah meledak
Membahayakan diri sendiri dan orang lain

Ditulis dari Renungan Harian Online..

Tamu di Dunia

Standard

Karena kita tamu,
maka kehadiran kita hanyalah sementara.
Kaya atau miskin hanyalah sementara,
Segala kejayaan atau kegagalan,
hanyalah sekian puluh tahun.

Jabatan, kedudukan,
popularitas dan kemuliaan tidak selamanya.
Tidak ada presiden atau raja selamanya,
tidak ada direktur atau manager yang abadi,
sebab kita semua hanya tamu.

Karena tamu, begitu waktunya tiba,
kita semua harus beranjak pergi.
Semua harta benda, emas permata,
rumah dan kendaraan hanyalah pinjaman.
Walaupun semua aset adalah hasil jerih payah keringat kita,
Walaupun kita mempunyai surat kepemilikan yang sah
dan semua harta benda atas nama kita secara hukum.
Namun semuanya hanyalah kepemilikan sementara,
hanyalah pinjaman!

Karena pinjaman, begitu waktunya tiba,
harus dikembalikan..

Semua yang ada di badan kita,
yang terkalung di leher, terselip di jari,
yang dikenakan di pergelangan tangan,
yang tersimpan di saku,
semua harus dikembalikan
sama seperti ketika kita belum memilikinya!

“Ketika lahir dua tangan kita kosong,
ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong..”

Waktu datang kita tidak membawa apa-apa,
waktu pergi kita juga tidak membawa apa pun..

Jangan sombong karena kaya & berkedudukan,
jangan minder karena miskin & hina.
Jangan tamak, bukankah kita semua hanyalah tamu
dan semua milik kita hanyalah pinjaman?

Tetaplah rendah hati,
seberapapun tinggi kedudukan kita..

(Ditulis dari bbm pak Gembala..)

Jujurlah, Masihkah Allah Bermakna?

Standard

“Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian! Amin.” (Roma 16:24).

Dalam khotbah yang berjudul “Jujurlah, Masihkah Allah Bermakna?” Mungkin kita dengan spontan menjawab, tentu saja Allah masih bermakna dalam hidup kita. Tapi kalau merenungkan lebih dalam, apakah kita benar-benar mengingat-Nya dan Allah sungguh Dialah yang menguasai hidup ini? Atau kita hanya sekadar berkata dan menyebut Allah Maha besar, Dia Maha kuasa, tapi dalam kenyataannya, Dia belum dan bukan yang menguasai hidup kita, tapi “yang lain” yang menguasai hidup kita.

Karena sejujurnya, kadang kita hanya sering mengingat dan memedulikan-Nya sekali waktu, artinya, sekali-kali dan sewaktu-waktu, terutama saat kita mengalami musibah, masalah atau kemalangan, kesusahan dalam hidup. Pada saat itulah biasanya kita dibuat sadar dan terhenyak, sehingga baru menyadari betapa kecil dan terbatasnya hidup kita serta tidak berdaya.

Sebaliknya sering ketika kita ada pada situasi “normal”, artinya perjalanan kehidupan berada sepenuhnya dalam penguasaan dan pengendalian, maka kitalah yang menentukan hitam-putihnya kehidupan, apa yang benar dan yang salah, juga kita-lah yang menentukan arah kehidupan, hanya kita-lah, tidak ada yang lain, tidak juga, Tuhan..

Konsekuensinya, dalam kehidupan nyata dari hari ke hari, Allah sebenarnya tidak kita perlukan lagi. Kita berpikir untuk apa Tuhan? Karena selama ini, kita “mampu” untuk sepenuhnya memegang kendali kehidupan.

Ingatlah hanya oleh karena kasih karunia-Nya saja, kita hidup dan sukses. Itu bukanlah hasil kerja keras kita. Kalau sukses biarlah kita tetap berkata, “Terima kasih Tuhan, Engkau telah menolongku.” Sehingga ketika kegagalan dan kekecewaan menimpa, kita tidak akan menuntut pertanggung jawaban-Nya, sambil menuding, “Di mana Engkau Tuhan? Mengapa hal ini terjadi padaku?”

Biarlah Allah masih dan tetap selalu bermakna dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati..

(Disadur dari broadcast BBM pak Gembala)

Renungan Malam: Sebuah Pengingat bagi Kita Semua ☺

Standard

Sebuah pengingat bagi kita semua.. ☺

Seseorang telah menuliskan kata-kata yang indah ini. Cobalah sedikit untuk mengerti maknanya..

1. Doa bukanlah sebuah “ban serep” yang dapat kita keluarkan ketika sedang dalam permasalahan. Tetapi merupakan “kemudi” yang menunjukkan arah tepat berupa hikmat dan tuntunan Tuhan, sesuai dengan waktu-Nya yang terbaik atas kehidupan kita.

2. Mengapa kaca depan mobil sangat besar dan kaca spion begitu kecil? Karena masa lalu tidak sepenting masa depan kita. Tidak salah dengan belajar dari masa lalu. Tetapi tetap ingatlah bahwa sejarah adalah tempat yang indah untuk dikunjungi, tetapi tempat yang mengerikan untuk ditinggali. Jadi, tetaplah berharap pada Tuhan dan milikilah rasa optimis untuk memandang masa depan. Majulah menghasilkan karya-karya positif yang mengukir sejarah dan menjadi berkat bagi generasi Anda dan penerus.

3. Hubungan pertemanan yang baik itu seperti sebuah buku. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membakarnya, tetapi butuh waktu tahunan untuk menulisnya. Jadi berbijaksanalah untuk tahu kapan waktu yang terbaik menulis kata-kata yang bijaksana di setiap halaman, dan tahu kapan waktu yang terbaik untuk membakar halaman tersebut.

4. Semua hal yang terjadi dalam hidup ini bersifat sementara. Jika hal itu berlangsung baik, nikmatilah, karena tidak akan bertahan selamanya. Tetapi jika berlangsung kurang baik, jangan khawatir, karena hal itu juga tidak akan bertahan lama dan akan segera berlalu.

5. Teman lama diibaratkan seperti emas, teman baru adalah berlian. Jika kita mendapatkan sebuah berlian, jangan pernah melupakan emas. Karena untuk mempertahankan sebuah berlian, kita selalu memerlukan dasar emas. Tetaplah menjaga hubungan yang baik dengan semua orang. Ada kata-kata bijak yang mengatakan, “Milikilah seribu kawan, satu musuh pun jangan..”

6. Seringkali ketika sudah hilang harapan dan kita mungkin berpikir bahwa hal ini adalah akhir dari segalanya, Tuhan tersenyum dari surga seraya berkata “Tenang, ini hanyalah sebuah belokan, dan bukanlah akhir..” Segala perkara yang diijinkan-Nya terjadi, percayalah bahwa hal itu untuk mendatangkan kebaikan dalam kehidupan kita. Tuhan akan mengajar dan memberi hikmat, agar kelak kita dapat menjadi terang dan berkat bagi orang lain yang memiliki permasalahan seperti yang pernah kita hadapi.

7. Ketika Tuhan memecahkan masalahmu, kamu memiliki kepercayaan pada kemampuan-Nya. Tetapi ketika Tuhan mengijinkan untuk tidak memecahkan masalahmu, Dia memiliki kepercayaan pada kemampuanmu. Sebab Dia tahu bahwa pencobaan yang kita alami tidak pernah melebihi kekuatan, dan Dia akan memberi jalan keluar yang terbaik bagi setiap kehidupan kita (1 Korintus 10:13).

8. Helen Keller pernah ditanya seperti ini, “Apakah ada yang lebih buruk daripada kehilangan penglihatan mata?” Dia menjawab, “Ada, yakni kehilangan visi, harapan, dan rasa optimis yang ada di dalam diri setiap kita..”

9. Ketika kita berdoa untuk orang lain, Tuhan mendengar dan memberkati mereka. Tetapi, ingatlah bahwa ketika hidup kita sudah diberkati, ada seseorang yang telah mendoakan kita.

10. Khawatir tidak akan menghilangkan masalah di hari esok. Khawatir hanya akan menghilangkan rasa damai dan kekuatan di hari ini. Kesusahan sehari cukuplah sehari (Matius 6:34), serahkanlah pada Tuhan segala apa yang sudah kita persiapkan dan rencanakan. Karena Dia yang akan berdiri untuk menjaga, memberkati, dan memberikan yang terbaik bagi kehidupan kita. Amin..