Kisah Hidup Father Flanagan

Standard

Kisah Hidup Father Flanagan
(1886 – 1948)

Ia Mendirikan Sebuah “Kota” untuk Melindungi Anak yang Terlupakan

Edward Joseph Flanagan dilahirkan di Irlandia, tetapi pada usia delapan belas tahun, ia pindah ke Amerika Serikat dan mulai mempersiapkan masa kepastorannya di Gereja Roma Katolik. Setelah belajar di Emmitsburg, Maryland; Roma; dan Innsbruck; ia ditahbiskan untuk menggembalakan pada tahun 1912 sebagai seorang pastor untuk wilayah Omaha, Nebraska.

Satu masalah utama di Omaha yang ditemukan Father Flanagan dan yang dipilihnya untuk diperhatikan adalah: anak-anak pria yang terlantar. Banyak dari anak-anak pria tersebut yang tidak lagi mempunyai ibu, tidak lagi mempunyai ayah, dan tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka tidak mempunyai siapa-siapa yang mengasihi atau mengajar mereka. Singkatnya, semuanya telah berhenti sekolah. Mereka menjadi terkenal di kota karena memecahkan kaca-kaca toko, menjadi maling kecil (seringkali mencuri makanan), dan memulai perkelahian di jalanan.

Suatu hari seorang penjaga toko berkata pada Flanagan, “Anak-anak tersebut harus ditangkap. Mereka harus disingkirkan.”

Melihat melampaui kebrutalan mereka, Father Flanagan melihat wajah-wajah yang lapar dan pakaian yang compang-camping. Ia menjawab, “Apa yang mereka butuhkan adalah sebuah rumah. Mereka membutuhkan orang yang mencintai mereka.”

Sang penjaga toko bertanya, “Tetapi siapa yang akan membawa mereka masuk?” Ia menjawab, “Mungkin saya akan melakukannya.” Dan ia melakukannya.

Father Flanagan meminjam beberapa dolar untuk menyewa sebuah rumah tua dan kemudian meminta mereka yang berada di sekitarnya untuk memberikan perabotan kepadanya, peralatan makan, dan tempat tidur untuk mengisinya guna membenahi rumah tersebut. Ia mengundang lima anak laki-laki untuk tinggal bersama-sama dengannya, menawarkan mereka tempat untuk makan, tidur, bermain, dan berdoa. Segera setelah itu anak-anak ini tertawa, belajar dan rutin pergi ke gereja. Para tetangga terkesan. Semakin banyak anak laki-laki yang mulai datang ke rumahnya, ingin mengecap kehidupan normal yang ditawarkannya.

Father Flanagan akhirnya menyimpulkan, “Anak-anak tersebut memerlukan sebuah kota tersendiri untuk mereka.”

Pada tahun 1922, Father Flanagan menemukan sebuah ladang yang dijual sebelas mil di luar Omaha, dan lagi-lagi ia meminta rekan-rekannya dan para tetangga untuk membantunya membeli ladang tersebut dan kemudian untuk membantu membangun sebuah kota. Mereka membangun jalan-jalan, trotoar, rumah-rumah, toko-toko, sebuah gereja, dan sebuah kantor pos. Sebuah ruang makan besar dibangun sebagai tempat bagi anak-anak pria tersebut makan, dan sebuah kolam renang dibangun guna memberikan tempat bagi mereka untuk berenang.

Anak-anak dari berbagai bagian mulai berdatangan. Suatu hari, seorang anak yang tidak dapat berjalan tiba di Boys’ Town (Kota Anak-anak Laki) tersebut, dan Father Flanagan meminta salah satu dari anak-anak yang agak besar untuk menuntun anak tersebut ke dalam ruangannya. Anak yang agak besar akhirnya menggendong sang pendatang baru tersebut di punggungnya dan Father Flanagan bertanya, “Ia tidak terlalu berat ‘kan?”

Anak yang agak besar tersebut tersenyum dan mengatakan, “Ia tidak berat, Father. Ia saudaraku!”

Pernyataan tersebut menjadi ciri dan simbol dari Boys’ Town. Aksi tersebut diabadikan dalam perunggu, dan pernyataan tersebut menjadi kutipan terkenal di seluruh negara.

Father Flanagan mendorong bahwa seluruh “kota” didedikasikan untuk membangun karakter anak-anak yang tidak mempunyai tempat tinggal dengan memberikan kepada mereka pendidikan religius, sosial, dan pelatihan kerja. Institusi tersebut sukses dan Father Flanagan menjadi seorang pengajar yang digemari dalam melatih dan merehabilitasi anak-anak yang sebelumnya telah menjadi penjahat muda. Setelah Perang Dunia II ia bekerja sebagai konsultan pemerintah Amerika Serikat dalam membangun program anak-anak remaja di Jepang dan Korea. Ia meninggal dalam misi yang sama di Eropa.

Para pengubah dunia melihat potensi dan nilai di dalam diri setiap umat manusia.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” (1 Yohanes 4:7).

Ditulis dari buku “You Can Be A World Changer”..

Pernah dimuat dalam Buletin Phos edisi Juli 2013..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s