Monthly Archives: August 2013

Don’t Fear—Keep Going

Standard

Don’t Fear—Keep Going
by: Joyce Meyer

If God is for us, who [can be] against us? [Who can be our foe, if God is on our side?] —Romans 8:31

We must learn how to deal with fear before it goes too far because it will never completely go away. Feeling fear is part of being alive. We may feel fear when we are doing something we have never done before, or when the obstacles seem insurmountable, or when we don’t have the natural help we feel we need. None of this means we are cowards; it means we are human. We can only be cowardly when we allow our fears to dictate our actions or decisions, instead of following our hearts and doing what we know is right for us.

We must accept the fact that fear will never go away completely, but also know we can live boldly and courageously because God has told us that He is always with us. Because of that knowledge we can choose to ignore the fear we feel. It’s okay to feel fear; it’s not okay to act on those feelings. You see, the word fear means “to take flight” or “to run away from,” and it causes us to want to flee from what God wants us to confront.

The only acceptable attitude for a Christian to have toward fear is “I will not fear.” Do not shrink back from anything in fear. You may be going forward with something you feel God has spoken to you to do. Then something happens to make it appear that it’s not working out or that people are not in favor of it. You realize that if you do what God wants you to do, you may risk losing some friends, some resources, or your reputation.

When you feel that fear, the first impulse is to shrink back, isn’t it? God knows that, and that is why He says, “Do not fear.” When He tells us not to fear, what He means is, no matter how you feel, keep putting one foot in front of the other and doing what you believe He has told you to do because that’s the only way to defeat fear and make progress.

Trust in Him: Trust the Word of God more than you trust the lies of the devil, and keep making progress!

From the book “Trusting God Day by Day”, by Joyce Meyer..

Advertisements

Kisah Hidup Joan of Arc

Standard

Kisah Hidup Joan of Arc
(1412 – 1431)

Ia Melakukan Apa yang Tuhan Minta Darinya

Sebagai gadis desa yang muda, ia dikenal sebagai “Jeanne”. Ia tumbuh dalam bagian Prancis yang sedang dihancurkan oleh Inggris dan sekutunya dari Burgundy, selagi penguasa Prancis, Charles VII, tetap tidak dimahkotai karena pelantikan tradisional, Reims, dikuasai oleh musuh-musuh Prancis.

Sebagai seorang gadis yang sangat religius, Joan sering berlindung di gereja lokal di tempat berdoa Arc. Di sana, ia mulai mengalami visi-visi dari para orang kudus dan mendengar suara-suara surga mendorongnya menyingsingkan lengan untuk menyelamatkan Prancis. Ia menjadi yakin bahwa ia adalah seorang “Ibu”, seorang yang telah dinubuatkan pada tahun silam sebagai seorang wanita muda yang akan mengembalikan kejayaan Prancis.

Ketegasan di dalam memimpin orang lain untuk memenangkan pertengkaran kecil melawan musuh menghasilkan hormat dari para pendukung Prancis, dan pada tahun 1429, ia membuat perjalanan yang sangat berani mengunjungi penguasa. Kata-katanya yang mengklaim bahwa dapat menyelamatkan bangsa melalui perintah khusus dari Allah telah membawanya ke pengadilan di Chinon. Sang penguasa sangat terkesan karena ia dapat bertahan melewati perjalanan yang berbahaya melalui perbatasan yang dikuasai oleh tentara Inggris yang kuat, dan ia dengan gentar menyetujui pertemuannya dengan Joan.

Ia memutuskan untuk menguji klaim dari Joan terhadap kekuatan spiritualnya. Ia memberi tahu kepada yang lain siapa dirinya dan berdiri berbaur bersama para tamu lainnya menunggu kedatangan Joan.

Joan memasuki ruangan dalam busana seorang pria dan berjalan langsung ke penguasa yang sesungguhnya, bukan penguasa palsu yang menyamar. Ia berlutut di depannya, dan sang penguasa, dalam kekagumannya, setuju untuk melakukan percakapan pribadi dengannya. Joan kemudian menceritakan kepada sang penguasa mengenai doa sang penguasa yang telah didoakan beberapa bulan sebelumnya secara rahasia dan diam-diam. Ia menggambarkan doa tersebut menggunakan kata-kata yang sama persis dengan yang digunakan sang penguasa, dan Joan memberikan kepadanya jawaban Tuhan.

Sang penguasa memiliki semangat kembali karena perkataan Joan dan mulai membuat rencana baru untuk berperang melawan mereka yang menginvasi Prancis.

Sebuah jabatan kapten lama-kelamaan diberikan kepada Joan, yang mengambil posisi seorang pria dan menempatkan dirinya pada konflik militer yang paling berat. Ia memimpin peperangan dengan sukses untuk membobol blokade dari Orleans, yang mana ia menjadi terkenal dengan sebutan “Maid of Orleans”. Negara yang hampir ditaklukkan tersebut bersemangat karena keberaniannya, dan para tentara mulai berusaha mengusir orang-orang Inggris dan Burgundy dari tanah mereka. Dimahkotainya Charles VII di Reims dipandang sebagai titik balik dari perang.

Joan d’Arc tidak berhasil membebaskan Paris. Ia ditangkap pada awal tahun 1430 oleh orang-orang Burgundy, yang kemudian memberikannya kepada Pendeta Pierre Cauchon untuk diadili karena praktek sihir dan kebidatan. Di bawah tekanan yang berat dari Cauchon, yang berada di pihak Inggris, Joan tetap mempertahankan ketidakbersalahannya. Akhirnya, dalam kelelahan, ia menandatangani penerimaan tuduhannya sebagai bidat dan dipenjara, tetapi kemudian ia menarik kembali pernyataannya dan memastikan kembali ketidakbersalahannya. Ia kemudian diberikan kepada otoritas sekuler dan dibakar pada tahun 1431.

Dua puluh lima tahun kemudian, perintah baru membatalkan tuduhan dan hukumannya. Pada tahun 1920, ia masuk dalam daftar orang-orang kudus. Ia adalah simbol orang kudus Prancis.

Bagi orang percaya di seluruh dunia, Joan of Arc dijuluki sebagai seorang pahlawan terhadap satu fakta: ia rela mengambil risiko terhadap dirinya untuk menyampaikan berita dari Tuhan.

Para pengubah dunia seringkali terpanggil dan rela untuk berkorban.

Ditulis dari buku “You Can Be A World Changer”..

Biarlah melalui momen Kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus, kembali mengingatkan kita untuk tetap menjadi terang dan berkat bagi bangsa Indonesia ini.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

You can be a world changer..

Pernah dimuat di Buletin Phos edisi Agustus 2013..

Renungan Indah

Standard

Renungan Indah
Oleh: W.S. Rendra

Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas ranjang,
baik untuk menjadi perenungan bagi setiap kita ☺

Sering kali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku,
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan..

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa jabatanku hanyalah titipan-Nya

Tapi, mengapa aku tidak pernah bertanya:

Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan, kalau ini semua bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian,
Kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja
untuk melukiskan kalau itu adalah derita..

Ketika aku berdoa,
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku..

Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku..

Seolah keadilan dan kasih-Nya
harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusan-Nya
yang tak sesuai dengan keinginanku..

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanya untuk beribadah..
“Ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”..

Disadur dari broadcast BBM pak Gembala..

Sebuah Perenungan..

Standard

Dapat broadcast BBM ini dari seorang rekan,
semoga dapat menjadi berkat bagi kita semua..

Waktu adalah nafas yang tak akan datang kembali,
Digulung hari demi hari, bulan dan tahun tanpa terasa..

Nafas terus berjalan,
Satu hari berlalu, berarti 1 hari berkurang umur kita.
Umur yang tersisa di hari ini sungguh tak ternilai harganya, sebab esok hari belum tentu menjadi bagian dari diri kita..

Karena itu,
jika hari berlalu tapi tiada kebajikan
dan keimanan yang tiada bertambah,
apalah arti hidup kita di mata Tuhan?
Apa yang sudah kita perbuat bagi-Nya?
Apakah kita sudah menyenangkan hati Tuhan?

Jangan tertipu dengan usia muda,
karena syarat mati tidak harus tua..
Jangan terperdaya dengan badan sehat,
walau kita harus menjaga tubuh tetap sehat,
karena syarat meninggal tidak harus sakit..

Teruslah berbuat baik.
Walau tak banyak orang yang mengenalmu,
Tuhan mengenalmu lebih dari yang lain..
Jadilah seperti organ jantung,
yang tidak terlihat, tapi terus berdenyut setiap saat.
Hingga membuat kita terus hidup..
Tetaplah bersyukur pada Tuhan,
dalam kondisi apapun dan bagaimanapun.. Tetap mengandalkan Tuhan dalam segala perkara..
Jangan sombong dengan keadaan / kekayaan saat ini,
karena itu sangat mudah untuk Tuhan balikkan..

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33).

Tuhan Memberkati.