Monthly Archives: October 2013

Praktik Dukun Kristiani

Standard

“Sebab bangsa-bangsa yang daerahnya akan kaududuki ini mendengarkan kepada peramal atau petenung, tetapi engkau ini tidak diizinkan TUHAN, Allahmu, melakukan yang demikian.” (Ulangan 18:14).

Beberapa hari yang lalu beberapa media online menyajikan liputan mengenai banyaknya caleg yang pergi ke paranormal agar bisa menang dalam pemilihan, menjadi anggota legislatif baik di pusat maupun di daerah. Dan banyak paranormal tersebut memasang tarif yang tidak murah, di samping itu mereka juga memberikan pelayanan yang beragam agar orang merasa nyaman dan percaya.

Memang “bisnis spiritual” merupakan bisnis yang cukup langgeng, bahkan di masa-masa tertentu mengalami zaman keemasan, apalagi sekarang ini, yang pergi ke mereka adalah orang yang berduit dan juga terpelajar.

Kalau kita tanya kepada mereka yang pergi ke paranormal, sebagian besar pasti beragama, termasuk juga umat Kristiani. Memang praktik ramal meramal sudah ada sejak zaman dahulu, namun Alkitab mengingatkan kita dengan keras bahwa meminta petunjuk dewa, arwah, roh peramal, orang mati, adalah kekejian bagi Tuhan..

“Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu.” (Ulangan 18:10-12).

Sangat disayangkan bahwa banyak umat Kristiani begitu gampang percaya, dibingungkan, diresahkan dan digelisahkan oleh ramalan-ramalan, termasuk ramalan bintang dan feng sui.

Di samping banyak umat Kristiani pergi ke dukun atau paranormal, ternyata sekarang ini juga banyak dukun-dukun Kristiani, yang praktiknya tak ubahnya seorang dukun, cuma mungkin menyebut-nyebut nama Yesus dan ayat-ayat Alkitab, oleh karena itu banyak umat menjadi semakin bingung. Apalagi praktik dukun-dukun Kristiani seringkali ditandai dengan mujizat-mujizat dan membuat umat semakin tercengang dan menaruh harapan besar padanya.

Umat semakin fokus kepada mujizat, bukan lagi Yesus, umat
menjadi keliru menafsirkan hamba-hamba Tuhan yang tidak membuat mujizat sebagai hamba Tuhan tanpa Roh Kudus, lupa bahwa dukunpun bisa melakukan mujizat.

Ditulis dari broadcast bbm pak Gembala..

Advertisements

Bangun Cinta Vs. Jatuh Cinta

Standard

Mengapa orang menikah?
Karena mereka jatuh cinta
Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia?
Apakah karena jatuh cinta?
Bukan, tapi karena mereka terus membangun cinta..

Jatuh cinta itu mudah.
Tetapi bangun cinta itu tak semudah membalik telapak tangan,
membutuhkan waktu seumur hidup.

Mengapa jatuh cinta mudah? Karena pada saat itu kita “buta, bisu dan tuli” terhadap keburukan pasangan kita. Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang dapat ditutupi lagi. Dengan interaksi waktu selama 24 jam per hari, 7 hari dalam seminggu, semua sifat akan terbuka apa adanya..

Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta:
Jatuh cinta dalam keadaan menyukai.
Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan yang menjengkelkan.
Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud sebuah pelukan, melainkan berbentuk itikad baik dalam memahami konflik dan bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima oleh semua pihak.

Cinta yang dewasa tak menyimpan dendam, walau ada beberapa hal yang membutuhkan kepekaan untuk bisa diungkapkan, seperti masalah keuangan, orangtua dan keluarga, bahkan sampai masalah seks..

Namun sepeka apapun masalah itu, perlu dibicarakan dengan baik dan dari hati ke hati, agar kejengkelan tidak berlarut lama. Syarat untuk keberhasilan dari sebuah pembicaraan adalah kita dapat saling menerima, memperhitungkan­ perasaan satu sama lainnya.
Jika suami / istri saling memperhatikan perasaannya sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling bermusuhan dan rumah tangga berubah bukan lagi menjadi surga, tetapi neraka.

Apakah kondisi ini dapat diperbaiki?

Tentu saja bisa, saat masing-masing mengingat komitmen awal mereka. Apakah dahulu mereka ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan? Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta.

Membangun cinta berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak dapat saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.

Mau punya teman hidup? Jatuh cintalah..
Tetapi sesudah itu.. Bangunlah cinta..