Monthly Archives: July 2015

Layak untuk Direnungkan

Standard

  

Semua prestasi hebat memerlukan waktu. -David Joseph Schwartz

Coba renungkan kisah-kisah berikut ini:

Robert Frost, salah satu penyair besar Amerika, berjuang selama dua puluh tahun tanpa menjadi terkenal atau sukses. Album puisinya yang pertama baru terjual ketika usianya tiga puluh sembilan tahun. Kini puisinya telah diterbitkan dalam sekitar dua puluh dua bahasa dan memenangkan Pulitzer Prize untuk puisi sebanyak empat kali.

Ketika Luciano Pavarotti lulus dari perguruan tinggi, ia belum yakin apakah ia akan menjadi guru atau penyanyi profesional. Ayahnya berkata kepadanya, “Luciano, kalau kau duduk di antara dua buah kursi, maka kau akan jatuh. Kau harus memilih salah satu.” Pavarotti memilih menyanyi. Perlu tujuh tahun lagi untuk belajar dan frustasi sebelum penampilan profesionalnya yang pertama, dan masih tujuh tahun lagi sebelum bisa tampil di Metropolitan Opera. Akan tetapi, ia telah memilih kursinya dan kini telah sukses.

Pada akhir Perang Dunia II, wartawan terbaik CBS William Shirer memutuskan akan menjadi penulis profesional. Selama dua belas tahun ia dengan tekun menulis. Sayangnya, buku-bukunya jarang terjual, dan akibatnya ia sering kesulitan dalam membiayai keluarganya. Belakangan ia malahan menulis sebuah naskah yang panjangnya 1200 halaman–agennya, editornya, penerbitnya, teman-temannya–semua mengatakan kepadanya bahwa buku sepanjang itu tidak akan pernah laku.

Dan, ketika Shirer akhirnya menerbitkan buku itu, harganya sepuluh dolar. Buku paling mahal untuk masanya. Tidak seorang pun akan tertarik kecuali orang-orang sekolahan, kata mereka. Akan tetapi, The Rise and Fall of the Third Reich justru membuat sejarah dalam bidang penerbitan. Cetakan pertamanya saja terjual habis pada hari pertama. Bahkan sekarang buku itu masih menyandang kedudukan buku terlaris sepanjang sejarah menurut Book-of-the-Month Club.

Walt Disney pernah dipecat dari jabatannya sebagai editor surat kabar karena imajinasinya dianggap kurang. Disney mengenang hari-hari kegagalannya sebagai berikut: “Ketika usiaku menjelang dua puluh satu tahun, aku bangkrut untuk pertama kalinya. Aku tidur dengan bantal bekas sebuah sofa tua dan makan kacang dingin dari kaleng.”

Kebahagiaan tertunda yang dibayar dengan pengorbanan selalu terasa lebih manis. -Uskup Fulton Sheen

Salah satu suara yang paling indah baik di panggung maupun di layar lebar adalah suara James Earl Jones. Tahukah Anda bahwa Jones harus berjuang lama melawan kegagapannya yang parah? Dari usia sembilan hingga lima belas tahun ia harus berkomunikasi lewat tulisan. Seorang guru bahasa Inggris di SMU memberinya bantuan yang diperlukannya, tetapi ia masih berjuang dengan masalah tersebut hingga sekarang. Namun, belum ada suara yang lebih baik daripada suaranya. Baru-baru ini ia termasuk di antara sepuluh aktor dengan suara bicara yang paling indah.

Gregor Mendel, pakar botani Austria yang eksperimen kacangnya merupakan cikal bakal ilmu genetika dalam sains modern, tidak pernah lulus ujian untuk menjadi guru sains di sekolah menengah. Ia gagal dalam mata pelajaran biologi.

Dr. Benyamin Bloom dari University of Chicago melakukan sebuah studi yang lamanya lima tahun tentang para artis, atlet, dan cendekiawan terkemuka berdasarkan wawancara anonim terhadap dua puluh bintang prestasi dalam berbagai bidang, termasuk terhadap teman, keluarga, dan mantan guru mereka. Ia ingin menyingkapkan karakteristik yang sama-sama dimiliki oleh para bintang itu, yang telah membawa mereka ke keberhasilan luar biasa.

“Kami berharap akan menemukan cerita-cerita tentang bakat alam mereka yang luar biasa,” komentar Bloom. “Kami tidak menemukannya sama sekali. Ibu mereka sering bercerita justru anak lainnya yang mempunyai bakat luar biasa.”

Yang ditemukan dalam survei tersebut adalah cerita tentang kerja ekstra keras dan dedikasi yang sangat tinggi: misalnya perenang yang berlatih serius dua jam setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah dan pianis yang berlatih beberapa jam sehari selama tujuh belas tahun. Penelitian Bloom menyimpulkan dengan tegas bahwa semangat, tekad, dan kerja keras–bukan bakat–yang mengantar orang-orang ini ke puncak prestasi luar biasa mereka.

Ditulis dari buku “A 5th Portion of Chicken Soup for the Soul”, ditulis oleh Jack Canfield dan Mark Victor Hansen..

Advertisements

Menjadi Penafsir Alkitab yang Baik

Standard

Setiap orang Kristen berhak membaca dan menafsir Alkitab. Namun demikian, hal ini membutuhkan persiapan memadai dan mendapat pendidikan yang cukup. Diharapkan dia dapat membaca dengan lancar, berpikir jernih dan memiliki pengetahuan umum yang cukup luas. Kalau memungkinkan, sebaliknya juga menguasai dan mempelajari dengan tekun bahasa-bahasa yang digunakan penulis Alkitab, di samping beberapa bahasa asing yang sering dipakai di kalangan studi Biblikal, misalnya bahasa Inggris.

Penafsir Alkitab sebaiknya adalah seorang yang sudah dilahirkan kembali, sebab sebelum itu mata seorang pembaca Alkitab belum dibuka untuk menanggapi kebenaran Allah. Seorang penafsir juga perlu mempunyai rasa seni dan humor. Dia perlu bersikap obyektif dan terbuka, serta tidak terlalu membatasi diri kepada pandangan atau teologi tertentu.

Selain itu, dibutuhkan sikap dan motivasi yang benar: merindukan firman Allah sama seperti seorang yang lapar dan haus (Matius 5:6), bersedia belajar dengan rendah hati (sikap murid, siap untuk diajar, Yesaya 50:4a), memiliki keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang tidak bersalah, membaca Alkitab dengan rajin dan teliti, dan juga bertekad untuk menjalankan firman Tuhan. Karena seorang yang hanya mendengar tanpa menjalankan firman-Nya, dia bagaikan membangun sebuah rumah tanpa fondasi yang baik (Matius 7:24-27).

Selain bahasa-bahasa yang dipakai para penulis Alkitab, pengetahuan tentang sejarah, adat istiadat, pikiran, geografis, lingkungan hidup, masyarakat, politik, ekonomi, agama dan lain-lain yang ada hubungan dengan Alkitab juga amat penting. Seorang penafsir sebaiknya juga memiliki mental sehat dan intelek yang cukup baik. Dia dapat berpikir secara logis, dan sanggup “sedikit berimajinasi”, yakni daya membayangkan sesuatu dengan wajar dan terkontrol (menurut Diktat kuliah Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1983, hlm. 1-3, “Hermeneutics”, disusun oleh Peter Wongso dan George Sanusi).

Ini berarti, ketika seorang pembaca Alkitab menjelaskan sebagian Alkitab, dia mengikutsertakan dirinya ke dalam jalan cerita, situasi atau pembicaraan bagian itu. Dia seolah-olah hadir di tempat itu. Sudah tentu daya berimajinasi seperti ini harus dikuasai Roh Kudus, dibatasi firman Allah, dan dituntun pikiran sehat, sehingga penafsiran ini tidak merupakan rekaan subyektif yang menyimpang dari apa yang dimaksudkan penulis Alkitab.

Dalam upaya menafsir Alkitab, pengalaman dan pertumbuhan kerohanian orang yang bersangkutan juga mengambil peranan yang sangat penting. Penafsiran juga berhubungan erat dengan kesastraan. Seorang penafsir yang ideal adalah seorang yang tertarik dan menguasai pengetahuan dasar tentang kesastraan. Dia sebaiknya juga memahami beberapa aspek mengenai komunikasi. Seorang penafsir yang baik biasanya juga membaca dan menganalisis apa yang dibacanya.

Sayang sekali, tidak semua penafsir menaruh perhatian akan hal-hal ini, terutama syarat-syarat yang berkaitan dengan kerohanian. Di mata sebagian sarjana, Alkitab dapat dimengerti sama seperti buku-buku lain. Alkitab bukanlah buku manusia yang biasa, melainkan firman yang diilhamkan Allah. Roh Kudus adalah Penulis yang sesungguhnya. Dialah yang berkarya dalam hati penulis-penulis Alkitab. Begitu juga Roh Kudus yang akan memimpin orang Kristen ke dalam seluruh kebenaran.

Roh Kudus juga mengubah pembacaan dan penyelidikan Alkitab menjadi berkat bagi diri pembaca dan orang lain. Dengan kata lain, tanpa pertolongan Roh Kudus, seringkali pembacaan Alkitab itu kering, dan penyelidikannya tidak mendatangkan manfaat. Namun, keadaan akan berubah jika Roh Kudus menuntun pembaca Alkitab. Ini dapat dibuktikan pada karya dan komentari (commentary) tertentu yang walaupun sudah lama ditulis tetapi tetap membangun kerohanian umat Tuhan.

Itu sebabnya seorang penafsir harus dengan rendah hati datang kepada Roh Kebenaran untuk memohon pertolongan-Nya.

(Disadur dari buku “Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab”, ditulis oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th.)

5 Bahasa Kasih untuk Anak-anak

Standard

  

Ada lima cara anak mengutarakan serta memahami cinta emosional, yaitu: sentuhan fisik, kata-kata penegasan, waktu berkualitas, hadiah, serta layanan. Beberapa orangtua berasumsi cinta mereka terhadap anak akan otomatis diketahui dan mengatakan “Ayah / Ibu mencintaimu” sudah cukup mampu menyampaikan cintanya. Tetapi keduanya tidak cukup. Anak-anak bereaksi terhadap tindakan, yaitu terhadap apa yang Anda lakukan bersama mereka.

Bahasa Cinta #1: Sentuhan Fisik

Adalah bahasa cinta yang paling mudah digunakan tanpa syarat, sebab orangtua tidak perlu mencari kesempatan khusus atau pun alasan apabila hendak melakukan kontak fisik. Peluang memindahkan cinta ke hati seorang anak dengan sentuhan hampir selalu tersedia. Bahasa sentuhan tidak terbatas pada pelukan dan ciuman saja, tetapi segala jenis kontak jasmani. Dalam keadaan sibuk sekalipun, orangtua masih bisa berulangkali menyentuh punggung, lengan atau pundak anak dengan lembut.

Bahasa Cinta #2: Kata-kata Penegas

Kata-kata yang mengandung kasih sayang dan mendatangkan rasa kasih, kata-kata pujian dan dorongan, kata-kata yang memberi bimbingan positif semuanya mengatakan, “Saya mempedulikanmu.” Kata-kata ini memupuk rasa aman dan perasaan bahwa dirinya berharga, dalam diri anak. Sebaliknya, kata-kata pendek yang keluar akibat frustasi singkat dapat melukai harga diri anak serta membuatnya meragukan semua kemampuan dalam dirinya.

Semakin besar amarah yang dilontarkan orangtua pada anaknya, anak akan menjadi anak yang anti-otoritas dan anti-orangtua. Apabila kita sebagai orangtua tidak menjadi penuntun utamanya, maka pengaruh dan orang lain memegang peran tersebut.

Bahasa Cinta #3: Waktu Berkualitas

Waktu berkualitas adalah hadiah orangtua pada anak berupa kehadiran mereka. Karena mengandung pesan: “Kau ini penting. Ayah / Ibu suka bersamamu,” maka waktu ini membuat anak merasa dirinya adalah orang terpenting di dunia bagi orangtuanya. Ia merasa benar-benar dicintai karena memiliki orangtua sepenuhnya bagi diri sendiri. Faktor terpenting dari waktu berkualitas bukan peristiwanya, melainkan orangtua melakukan sesuatu bersama anak, berdua dengannya.

Pertimbangkan Susanna Wesley, yang membesarkan sepuluh anak. Ia menjadwalkan satu jam seminggu untuk berdua saja dengan setiap anak. Ketiga putranya, Sam, John, dan Charles Wesley menjadi penyair, penulis, dan pengkhotbah. Charles menulis beberapa lagu pujian dan bersifat klasik di gereja Kristen. Di samping membantu anak-anaknya belajar alfabet, menulis, dan matematika, ia juga mengajarkan sopan santun dan tatakrama, nilai-nilai moral, serta hidup sederhana pada mereka.

Bahasa Cinta #4: Hadiah

Seorang anak akan memandang hadiah sebagai perpanjangan dari diri dan cinta Anda, dan ingin Anda ikut menikmatinya. Waspadalah! Jangan tergoda menghujani anak dengan hadiah sebagai pengganti dari bahasa cinta. Mengapa? Karena anak lambat laun akan belajar bahwa, salah seorang dari orangtuanya menganggap hadiah sebagai pengganti dari cinta sejati. Ia akan mengendalikan perasaan dan perilaku orang lain dengan pemberian hadiah yang tidak pada tempatnya. Tindakan ini sangat buruk akibatnya bagi watak dan integritas anak.

Bahasa Cinta #5: Layanan

Ketahuilah bahwa di hari Anda akan mendapat seorang anak, Anda mendaftarkan diri untuk memberikan pelayanan purna waktu. Sebagai orangtua, kita harus memperhatikan kesehatan jasmani (menjaga pola tidur, makan, dan olahraga harus seimbang) serta menjaga kesehatan emosional (pemahaman diri dan hubungan perkawinan yang saling mendukung).

Tujuan akhir dari melayani adalah membantu anak menjadi orang dewasa yang matang dan mampu memberi cinta pada sesama, melalui layanannya. Layanan ini tidak saja bersikap membantu terhadap mereka yang amat dicintai dan dihormatinya, namun juga melayani mereka yang tidak mungkin mampu membalas kebaikan hati itu. Karena anak-anak hidup berdasar contoh dari kedua orangtuanya yang melayani keluarganya serta mereka yang tinggal di dalam rumahnya, maka mereka juga belajar melayani.

Disadur dari buku “Lima Bahasa Kasih untuk Anak-anak”, ditulis oleh Gary Chapman & Ross Campbell, M.D.

Selamat merayakan Hari Anak Nasional, yang diperingati setiap Tgl. 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984, tanggal 19 Juli 1984.

Serba-Serbi Narkoba

Standard

Kita memperingati hari Anti Narkoba Sedunia setiap tanggal 26 Juni. Berikut adalah serba-serbi dari Narkoba..

Apa itu Narkoba?

Narkoba adalah singkatan dari Narkotika dan Obat berbahaya. Selain narkoba, istilah lain yang diperkenalkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah NAPZA yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Semua istilah ini, baik narkoba atau napza, mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi, atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini pemanfaatannya disalahgunakan, di antaranya dengan pemakaian yang telah di luar batas dosis.

Narkoba atau NAPZA merupakan bahan / zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh, terutama susunan syaraf pusat / otak, sehingga jika disalahgunakan akan menyebabkan gangguan fisik, psikis / jiwa dan fungsi sosial. Karena itu Pemerintah memberlakukan Undang-undang (UU) untuk penyalahgunaan narkoba yaitu UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan UU No.22 tahun 1997 tentang Narkotika.

Tips Terhindar dari Narkoba

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah pemakaian narkoba:

1. Dapatkan informasi yang benar mengenai bahaya narkoba dari koran, majalah, seminar, dan lain sebagainya. 

2. Persiapkan dan kuatkan mental untuk menolak, jika ada yang menawarkan narkoba.

3. Belajar berkata “TIDAK” kalau mendapat tawaran narkoba. Siapkan alasan yang dapat dipakai dan alihkan pembicaraan jika mulai disudutkan. Namun jika mereka mulai memaksa, segera tinggalkan mereka. Carilah pergaulan baru yang bersih dari narkoba.

4. Miliki cita-cita dalam hidup, sehingga hidup memiliki arah.

5. Lakukan kegiatan positif yang dapat menolong kita untuk menjadi lebih mandiri. Misal menyalurkan hobi, berprestasi, dsb.

6. Mendekatkan diri pada Tuhan dan mengembalikan masalah yang kita hadapi pada-Nya.

Selain itu agar tidak terjerumus narkoba, diperlukan pendekatan kognitif dari orangtua, sekolah, dan guru. Pendekatan kognitif adalah pendekatan yang mencoba mengurangi persepsi negatif tentang diri sendiri, dengan cara mengubah kesalahan berpikir dan keyakinan diri yang keliru.

Dampak Buruk Narkoba

Narkoba berbahaya karena berpengaruh pada otak atau susunan syaraf pusat, dan perkembangan daya normal remaja terhadap: Daya ingat, sehingga mudah lupa; Perhatian, sehingga sulit konsentrasi; Perasaan, sehingga tidak dapat bertindak rasional; Persepsi, sehingga memberi perasaan semu atau khayal; dan Motivasi, sehingga keinginan dan kemampuan belajar merosot, persahabatan rusak, dan minat dan cita-cita semula berubah.

Selain timbul ketergantungan dengan segala akibatnya, penyalahgunaan narkoba juga dapat mengakibatkan:

1. Kerusakan pada berbagai organ tubuh: Hati, ginjal, lambung, paru, jantung, otak, dan sistem reproduksi. Tergantung jenis narkoba yang digunakan, jumlah, dan lama pemakaiannya .

2. Perubahan mental: Gangguan pemusatan perhatian, lemahnya motivasi belajar & bekerja, paranoid, dan penyakit parkinson.

3. Pola hidup bisa berubah karena kurang selera makan, kurang perhatian pada mutu makanan dan kebersihan diri, yang bisa menyebabkan keadaan kurang gizi, badan kurus, pucat, penyakit kulit dan gigi berlubang.

4. Nilai-nilai kehidupan agama, sosial, budaya bisa berubah. Perilaku seks bebas bisa mengakibatkan kehamilan yang tak diinginkan, penyakit kelamin, dan lain sebagainya.

5. Alat suntik yang tidak steril juga berakibat terjadinya radang pembuluh darah, infeksi jantung, abses, hepatitis B atau hepatitis C, atau bahkan bisa terinfeksi HIV / AIDS.

Banyak alasan yang sering dilontarkan mengapa memakai narkoba. Ada yang awalnya iseng mencoba, ditawari teman dan tidak bisa menolak karena takut atau segan, dan ada yang ingin lari dari masalah. Tidak sedikit yang terjerumus karena pergaulan, lingkungan sosial, stres, kesulitan hidup, bahkan karena ketidak-tahuan pada narkoba itu sendiri.

Terkadang punya masalah, merasa dirinya tidak sebaik orang lain.. Perasaan itu membuat hidup jadi tidak menyenangkan. Kemudian memakai narkoba dengan tujuan melupakan masalah. Dengan memakai narkoba, ia mengira masalah akan hilang, padahal begitu sadar, masalah itu masih ada dan harus dihadapi, sementara sebagian tubuh dan jiwanya sudah rusak terkena dampak buruk dari narkoba.

Jadi jangan pernah sekalipun iseng untuk memakai narkoba, apalagi dengan alasan untuk menghilangkan masalah. Alih-alih masalah bisa hilang, yang ada malah menemukan masalah baru. Jadi, hindarilah narkoba!

Ditulis dari sumber: Website Informasi dan Edukasi Narkoba Humas BNN, merupakan sub website dari website resmi http://www.bnn.go.id yang bertujuan melakukan pencegahan Narkotika, dengan cara edukasi dan informasi yang berbasis komunitas.