5 Bahasa Kasih untuk Anak-anak

Standard

  

Ada lima cara anak mengutarakan serta memahami cinta emosional, yaitu: sentuhan fisik, kata-kata penegasan, waktu berkualitas, hadiah, serta layanan. Beberapa orangtua berasumsi cinta mereka terhadap anak akan otomatis diketahui dan mengatakan “Ayah / Ibu mencintaimu” sudah cukup mampu menyampaikan cintanya. Tetapi keduanya tidak cukup. Anak-anak bereaksi terhadap tindakan, yaitu terhadap apa yang Anda lakukan bersama mereka.

Bahasa Cinta #1: Sentuhan Fisik

Adalah bahasa cinta yang paling mudah digunakan tanpa syarat, sebab orangtua tidak perlu mencari kesempatan khusus atau pun alasan apabila hendak melakukan kontak fisik. Peluang memindahkan cinta ke hati seorang anak dengan sentuhan hampir selalu tersedia. Bahasa sentuhan tidak terbatas pada pelukan dan ciuman saja, tetapi segala jenis kontak jasmani. Dalam keadaan sibuk sekalipun, orangtua masih bisa berulangkali menyentuh punggung, lengan atau pundak anak dengan lembut.

Bahasa Cinta #2: Kata-kata Penegas

Kata-kata yang mengandung kasih sayang dan mendatangkan rasa kasih, kata-kata pujian dan dorongan, kata-kata yang memberi bimbingan positif semuanya mengatakan, “Saya mempedulikanmu.” Kata-kata ini memupuk rasa aman dan perasaan bahwa dirinya berharga, dalam diri anak. Sebaliknya, kata-kata pendek yang keluar akibat frustasi singkat dapat melukai harga diri anak serta membuatnya meragukan semua kemampuan dalam dirinya.

Semakin besar amarah yang dilontarkan orangtua pada anaknya, anak akan menjadi anak yang anti-otoritas dan anti-orangtua. Apabila kita sebagai orangtua tidak menjadi penuntun utamanya, maka pengaruh dan orang lain memegang peran tersebut.

Bahasa Cinta #3: Waktu Berkualitas

Waktu berkualitas adalah hadiah orangtua pada anak berupa kehadiran mereka. Karena mengandung pesan: “Kau ini penting. Ayah / Ibu suka bersamamu,” maka waktu ini membuat anak merasa dirinya adalah orang terpenting di dunia bagi orangtuanya. Ia merasa benar-benar dicintai karena memiliki orangtua sepenuhnya bagi diri sendiri. Faktor terpenting dari waktu berkualitas bukan peristiwanya, melainkan orangtua melakukan sesuatu bersama anak, berdua dengannya.

Pertimbangkan Susanna Wesley, yang membesarkan sepuluh anak. Ia menjadwalkan satu jam seminggu untuk berdua saja dengan setiap anak. Ketiga putranya, Sam, John, dan Charles Wesley menjadi penyair, penulis, dan pengkhotbah. Charles menulis beberapa lagu pujian dan bersifat klasik di gereja Kristen. Di samping membantu anak-anaknya belajar alfabet, menulis, dan matematika, ia juga mengajarkan sopan santun dan tatakrama, nilai-nilai moral, serta hidup sederhana pada mereka.

Bahasa Cinta #4: Hadiah

Seorang anak akan memandang hadiah sebagai perpanjangan dari diri dan cinta Anda, dan ingin Anda ikut menikmatinya. Waspadalah! Jangan tergoda menghujani anak dengan hadiah sebagai pengganti dari bahasa cinta. Mengapa? Karena anak lambat laun akan belajar bahwa, salah seorang dari orangtuanya menganggap hadiah sebagai pengganti dari cinta sejati. Ia akan mengendalikan perasaan dan perilaku orang lain dengan pemberian hadiah yang tidak pada tempatnya. Tindakan ini sangat buruk akibatnya bagi watak dan integritas anak.

Bahasa Cinta #5: Layanan

Ketahuilah bahwa di hari Anda akan mendapat seorang anak, Anda mendaftarkan diri untuk memberikan pelayanan purna waktu. Sebagai orangtua, kita harus memperhatikan kesehatan jasmani (menjaga pola tidur, makan, dan olahraga harus seimbang) serta menjaga kesehatan emosional (pemahaman diri dan hubungan perkawinan yang saling mendukung).

Tujuan akhir dari melayani adalah membantu anak menjadi orang dewasa yang matang dan mampu memberi cinta pada sesama, melalui layanannya. Layanan ini tidak saja bersikap membantu terhadap mereka yang amat dicintai dan dihormatinya, namun juga melayani mereka yang tidak mungkin mampu membalas kebaikan hati itu. Karena anak-anak hidup berdasar contoh dari kedua orangtuanya yang melayani keluarganya serta mereka yang tinggal di dalam rumahnya, maka mereka juga belajar melayani.

Disadur dari buku “Lima Bahasa Kasih untuk Anak-anak”, ditulis oleh Gary Chapman & Ross Campbell, M.D.

Selamat merayakan Hari Anak Nasional, yang diperingati setiap Tgl. 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984, tanggal 19 Juli 1984.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s