Layak untuk Direnungkan

Standard

  

Semua prestasi hebat memerlukan waktu. -David Joseph Schwartz

Coba renungkan kisah-kisah berikut ini:

Robert Frost, salah satu penyair besar Amerika, berjuang selama dua puluh tahun tanpa menjadi terkenal atau sukses. Album puisinya yang pertama baru terjual ketika usianya tiga puluh sembilan tahun. Kini puisinya telah diterbitkan dalam sekitar dua puluh dua bahasa dan memenangkan Pulitzer Prize untuk puisi sebanyak empat kali.

Ketika Luciano Pavarotti lulus dari perguruan tinggi, ia belum yakin apakah ia akan menjadi guru atau penyanyi profesional. Ayahnya berkata kepadanya, “Luciano, kalau kau duduk di antara dua buah kursi, maka kau akan jatuh. Kau harus memilih salah satu.” Pavarotti memilih menyanyi. Perlu tujuh tahun lagi untuk belajar dan frustasi sebelum penampilan profesionalnya yang pertama, dan masih tujuh tahun lagi sebelum bisa tampil di Metropolitan Opera. Akan tetapi, ia telah memilih kursinya dan kini telah sukses.

Pada akhir Perang Dunia II, wartawan terbaik CBS William Shirer memutuskan akan menjadi penulis profesional. Selama dua belas tahun ia dengan tekun menulis. Sayangnya, buku-bukunya jarang terjual, dan akibatnya ia sering kesulitan dalam membiayai keluarganya. Belakangan ia malahan menulis sebuah naskah yang panjangnya 1200 halaman–agennya, editornya, penerbitnya, teman-temannya–semua mengatakan kepadanya bahwa buku sepanjang itu tidak akan pernah laku.

Dan, ketika Shirer akhirnya menerbitkan buku itu, harganya sepuluh dolar. Buku paling mahal untuk masanya. Tidak seorang pun akan tertarik kecuali orang-orang sekolahan, kata mereka. Akan tetapi, The Rise and Fall of the Third Reich justru membuat sejarah dalam bidang penerbitan. Cetakan pertamanya saja terjual habis pada hari pertama. Bahkan sekarang buku itu masih menyandang kedudukan buku terlaris sepanjang sejarah menurut Book-of-the-Month Club.

Walt Disney pernah dipecat dari jabatannya sebagai editor surat kabar karena imajinasinya dianggap kurang. Disney mengenang hari-hari kegagalannya sebagai berikut: “Ketika usiaku menjelang dua puluh satu tahun, aku bangkrut untuk pertama kalinya. Aku tidur dengan bantal bekas sebuah sofa tua dan makan kacang dingin dari kaleng.”

Kebahagiaan tertunda yang dibayar dengan pengorbanan selalu terasa lebih manis. -Uskup Fulton Sheen

Salah satu suara yang paling indah baik di panggung maupun di layar lebar adalah suara James Earl Jones. Tahukah Anda bahwa Jones harus berjuang lama melawan kegagapannya yang parah? Dari usia sembilan hingga lima belas tahun ia harus berkomunikasi lewat tulisan. Seorang guru bahasa Inggris di SMU memberinya bantuan yang diperlukannya, tetapi ia masih berjuang dengan masalah tersebut hingga sekarang. Namun, belum ada suara yang lebih baik daripada suaranya. Baru-baru ini ia termasuk di antara sepuluh aktor dengan suara bicara yang paling indah.

Gregor Mendel, pakar botani Austria yang eksperimen kacangnya merupakan cikal bakal ilmu genetika dalam sains modern, tidak pernah lulus ujian untuk menjadi guru sains di sekolah menengah. Ia gagal dalam mata pelajaran biologi.

Dr. Benyamin Bloom dari University of Chicago melakukan sebuah studi yang lamanya lima tahun tentang para artis, atlet, dan cendekiawan terkemuka berdasarkan wawancara anonim terhadap dua puluh bintang prestasi dalam berbagai bidang, termasuk terhadap teman, keluarga, dan mantan guru mereka. Ia ingin menyingkapkan karakteristik yang sama-sama dimiliki oleh para bintang itu, yang telah membawa mereka ke keberhasilan luar biasa.

“Kami berharap akan menemukan cerita-cerita tentang bakat alam mereka yang luar biasa,” komentar Bloom. “Kami tidak menemukannya sama sekali. Ibu mereka sering bercerita justru anak lainnya yang mempunyai bakat luar biasa.”

Yang ditemukan dalam survei tersebut adalah cerita tentang kerja ekstra keras dan dedikasi yang sangat tinggi: misalnya perenang yang berlatih serius dua jam setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah dan pianis yang berlatih beberapa jam sehari selama tujuh belas tahun. Penelitian Bloom menyimpulkan dengan tegas bahwa semangat, tekad, dan kerja keras–bukan bakat–yang mengantar orang-orang ini ke puncak prestasi luar biasa mereka.

Ditulis dari buku “A 5th Portion of Chicken Soup for the Soul”, ditulis oleh Jack Canfield dan Mark Victor Hansen..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s