Monthly Archives: April 2016

Pancasila dan Alkitab

Standard

• Pancasila dan Alkitab

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Pancasila terdiri dari dua kata yaitu: pañca yang berarti lima, dan śīla yang berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini sama dengan Alkitab yang merupakan pedoman bagi seluruh umat Kristiani dalam menjalankan kehidupan rohaninya. Lalu, apakah lima sendi utama penyusun Pancasila ini selaras dengan ajaran di dalam Alkitab? Berikut sedikit ulasannya..

Sila ke-1: KETUHANAN YANG MAHA ESA

Sila pertama mengatakan bahwa Tuhan itu satu (esa), dan sila ini sejalan dengan perkataan Musa dalam Ulangan 6:4 yang mengatakan bahwa TUHAN itu esa. Bahkan Tuhan Yesus sendiri juga menegaskan bahwa “Tuhan itu esa” (Markus 12:29).

Sila ke-2: KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

Sila kedua menjelaskan bahwa sebagai sesama manusia, kita harus bersikap adil dan senantiasa memperlakukan manusia lain dengan beradab. Perintah untuk menegakkan dan mengejar keadilan ini juga ditegaskan TUHAN dalam Yesaya 56:1 dan Ulangan 16:20. Mengapa kita diperintahkan menjadi manusia yang adil? Karena Dia sendiri mencintai keadilan (Ibrani 1:9).

Sila ke-3: PERSATUAN INDONESIA

Sila ketiga menekankan untuk menjaga persatuan dan perdamaian dengan seluruh rakyat Indonesia. Alkitab dalam Roma 14:19 meminta kita untuk, “..mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” Paulus juga menasihati supaya, “..seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” (1 Korintus 1:10).

Sila ke-4: KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN

Sila keempat mengingatkan agar dalam melakukan segala sesuatu, hendaknya kita dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, serta menyelesaikan permasalahan yang muncul dengan bermusyawarah terlebih dahulu. Tentang hikmat dan kebijaksanaan, Alkitab menceritakan kisah tentang Raja Salomo yang memimpin orang Israel dengan hikmat dan kebijaksanaan (1 Raja 3:16-27). Alkitab juga menjelaskan bahwa untuk mendapat hikmat, kita harus memintanya kepada Allah (Yakobus 1:5). 

Sedangkan penyelesaian masalah dengan permusyawaratan juga beberapa kali dilakukan dalam Alkitab. Salah satunya adalah pemilihan Matias untuk menggantikan Yudas Iskariot. Para rasul telah bermusyawarah dan membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu (Kisah Rasul 1:15-26).

Sila ke-5: KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

Sila kelima lebih ditujukan untuk para pemimpin agar terus menciptakan keadilan sosial untuk rakyat Indonesia, terutama bagi rakyat miskin dan rakyat kecil yang terpinggirkan. Pesan bagi para pemimpin ini juga tertulis dalam Mazmur 82:3, “Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan!”

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pancasila sebagai ideologi dasar bagi negara Indonesia, tidaklah bertentangan dengan ajaran Alkitab dan sebaliknya, banyak ayat dalam Alkitab yang selaras dengan kelima sila di Pancasila. Maka dari itu sebagai warga negara Indonesia yang baik, hendaknya kita menghormati Pancasila sebagai ideologi dasar bangsa serta mendukung segala keputusan pemerintah yang baik, karena ada tertulis,

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” (Roma 13:1).

Tuhan Yesus memberkati.. (Disadur dari akun Line “Online with God”).

Advertisements

Info Budaya: Angpao

Standard

Subject: Info Budaya: Angpao

Ternyata masih banyak orang Tionghoa belum tahu bagaimana melakukan “soja” dengan benar. Dalam bahasa Mandarin, soja disebut gongshou, yang dalam dialek Hokkian ada kiongchiu (ejaan lama kiongtjhioe). Cara soja yang benar berdasarkan pedoman seharusnya: “Yang” memeluk “Yin” atau tangan kanan dikepal kemudian tangan kiri menutupi tangan kanan dan jari jempol harus berdiri lurus, dan menempel keduanya. Soja kepada yang lebih tua dengan mengangkat sejajar mulut, soja kepada yang seumuran sejajar dengan dada, soja kepada yang lebih muda sejajar dengan perut, dan kalau soja kepada Tuhan harus di atas kepala.

Saat masih kecil di hari raya Tahun Baru Imlek, anggota keluarga saling mengucapkan “Sin Cun Kiong Hie” (Xin Chun Gong Xi) yang berarti selamat menyambut musim semi atau selamat tahun baru. Tetapi sekarang sudah diganti dengan “Gong Xi Fa Cai – Wan Shi Ru Yi – Shen Ti Jian Kang”, yang berarti: “Semoga sukses selama-lamanya dan selalu dalam keadaan sehat”. 

Tradisi Tahun Baru Imlek selalu dikaitkan dengan pemberian angpao, juga pada saat pesta pernikahan, masuk rumah baru, ulang tahun, maupun acara pesta lainnya. Kata angpao berasal dari dialek Hokkian yang artinya: bungkusan atau amplop merah. Warna merah dalam budaya Tionghoa berarti lambang pembawa hokie maupun kegembiraan. 

Yang berkewajiban memberi angpao pada umumnya orang yang telah berkeluarga, sebab dalam budaya Tionghoa, pernikahan merupakan batasan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Walau demikian bagi yang belum menikah, tetapi ingin memberi angpao, sebaiknya diberi tanpa menggunakan amplop merah.

Jumlah uang dalam angpao bervariasi. Untuk perhelatan yang bersifat sukacita biasanya besarnya dalam angka genap, angka ganjil untuk kematian. Angka “empat” ter-asosiasi dengan ketidakberuntungan, karena pelafalan angka empat (shi, 四) memiliki arti “mati” (shi wang, 死亡). Jumlah uang dihindari menggunakan angka empat. Walau demikian, angka delapan (8) terasosiasi untuk keberuntungan. Pelafalan angka delapan (8) berarti “kekayaan”.

Kewajiban memberi angpao bukan terhadap anak-anak saja, melainkan juga kepada orang yang dituakan. Pemberian angpao Tahun Baru Imlek itu sebenarnya mempunyai makna yang lebih dikenal dengan sebutan “Ya Sui” yang berarti hadiah untuk anak-anak dalam rangka pergantian tahun maupun pertambahan usia. Tradisi Ya Sui ini sudah dikenal sejak zaman Ming dan Qing.

Karakter Sui dalam Ya Sui berarti “umur”, dan mempunyai lafal sama dengan karakter Sui lainnya yang berarti “bencana”. Jadi, Ya Sui bisa juga diartikan sebagai lambang penangkal bencana, dengan harapan yang mendapat Ya Sui akan terlindungi selama setahun mendatang tanpa ada gangguan penyakit maupun bencana. Pemberian angpao zaman dahulu belum dikenal, sebab mereka baru menggunakan uang kertas pada pada jaman dinasti Song. Uang kertas baru menyebar luas secara resmi di zaman dinasti Ming.

Nominal uang kecil yang beredar di Tiongkok saat itu masih dalam bentuk koin perunggu yang diberi lubang segi empat di tengahnya dan lebih dikenal dengan nama Wen atau Tongbao. Koin-koin yang dihadiahkan sebelumnya diikat terlebih dahulu menjadi untaian uang dengan menggunakan tali merah. Orang-orang kaya memberi untaian uang sampai 100 koin, sebab ini juga melambangkan umur panjang.

Angpao dinilai bukan dari besar kecilnya, melainkan ketulusan hati saat memberi, yang berisi Doa dan Harapan pada yang menerimanya. (Sekadar pengetahuan dan diambil dari berbagai sumber)

Jarak yang Jauh

Standard

Konon Bunda Teresa memandikan anak gelandangan di tepi sungai Gangga lalu mendengar ada keluarga sedang bertengkar dan berteriak. Ia berpaling ke murid-muridnya dan bertanya, “Kenapa orang suka saling berteriak kalau sedang marah?” tanya Bunda Teresa. Salah satu menjawab, “Karena kehilangan sabar, kita berteriak.”

“Tetapi, kenapa harus berteriak pada orang yang ada di sebelahmu? Kan pesannya bisa tersampaikan juga dengan cara halus?”

Murid-murid saling beradu jawaban namun tidak ada satu pun yang mereka sepakati. Akhirnya Bunda Teresa bertutur, “Bila dua orang sedang bermarahan, jarak kedua hati mereka sangat jauh. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar terdengar. Semakin marah, semakin keras teriakan karena jarak kedua hati tersebut semakin menjauh.”

“Apa yang terjadi saat dua insan sedang jatuh cinta?” lanjutnya, “Mereka tidak lagi berteriak satu sama lain. Mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan. Jarak antar kedua hati sangatlah dekat.”

Setelah merenung sejenak, ia meneruskan, “Bila mereka semakin saling mencintai, apa yang terjadi? Mereka tidak lagi berbicara. Hanya berbisikan dan saling mendekat dalam kasih sayang. Bahkan mereka tidak lagi perlu berbisikan. Mereka cukup saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi.”

Bunda Teresa memandangi murid-muridnya dan mengingatkan lembut, “Jika terjadi pertengkaran, jangan biarkan hati menjauh. Jangan ucapkan perkataan yang membuat jarak hati keduanya kian menjauh. Karena jika kita biarkan, maka suatu hari jaraknya tidak lagi dapat ditempuh dan didekatkan..”

Keterbatasan Kita

Standard

Keterbatasan Kita

Suzanne Bloch adalah seorang imigran dari Jerman yang sering bermain musik bersama Albert Einstein dan para ilmuwan terkemuka lainnya. Ia berkata bahwa Einstein adalah pemain biola hebat, tetapi sering membuat jengkel para pemusik lainnya karena tak bisa mengikuti ketukan irama. “Einstein tak bisa menghitung ketukan,” kata Bloch menjelaskan. Einstein memang dapat merancang berbagai teori revolusioner tentang alam semesta, tetapi bermasalah dalam menghitung ketukan irama. Meski memiliki keterbatasan, Einstein tetap adalah seorang pemusik yang antusias.

Apakah terkadang kita meratapi berbagai keterbatasan yang dimiliki? Kita semua memiliki kemampuan, tetapi terkadang terhambat oleh ketidak-mampuan yang kita miliki dari sisi lainnya. Dari sini kita dapat tergoda menggunakan “keterbatasan”, sebagai alasan untuk tidak melakukan beberapa hal yang sebenarnya bisa dilakukan, jika Allah yang memberi kekuatan untuk memampukan. Jika kita tidak berbakat berbicara di depan umum atau menyanyi di paduan suara, bukan berarti kita berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa di dunia pelayanan.

Marilah kita berusaha mencari pimpinan dan tuntunan Allah agar dapat menggunakan talenta yang sudah dipercayakan dalam hidup ini. Kita masih dapat berdoa. Kita masih dapat menunjukkan kebaikan hati pada orang lain. Kita masih dapat mengunjungi orang-orang kesepian, yang menderita sakit penyakit, dan berusia lanjut. Kita masih dapat menceritakan betapa berartinya Yesus bagi sekitar. Paulus berkata, “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut anugerah yang diberikan kepada kita..” (Roma 12:6).

Albert Einstein mungkin kurang berbakat dalam bermain biola, tetapi bukan berarti hal itu membuatnya terhanyut dalam perasaan hidup tak berguna, diam dan tak berbuat apa-apa, serta berujung pada pencarian jati diri sia-sia yang terjebak dalam pertanyaan klise untuk apa ia diciptakan. Albert Einstein mulai melangkah untuk menciptakan berbagai teori di ilmu Fisika. Bermain biola bukanlah satu-satunya tujuan dalam hidupnya, masih banyak hal yang dapat ia perbuat di hidupnya.

Kita diciptakan untuk memiliki hidup yang memuliakan Allah. Kalau semisal dalam satu bidang kita kurang maksimal, bukan berarti Dia tidak mempercayakan satu talenta pun dalam hidup kita. Perumpamaan talenta dalam Matius 25:14-30 mengajar bahwa Tuhan memberi talenta yang adil kepada hamba-hambaNya. Tidak harus selalu sama, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama: untuk memuliakan nama-Nya dan supaya kita setia dalam segala perkara yang telah dipercayakan-Nya dalam hidup ini. Amin. Tuhan Yesus memberkati.. (Disadur dari akun Line “Online with God”).

Panggung Vs. Mezbah

Standard

Subject: Panggung Vs. Mezbah

Di dalam dunia pelayanan akan selalu ada dua sisi kecenderungan yang akan muncul, apakah berperan sebagai panggung atau sebagai mezbah. Panggung membuat kita menuntut, tapi Mezbah membuat kita rela meletakkan.

Panggung seringkali membuat diri kita menghirup pujian dan menikmati suara gegap gempita tepuk tangan. Tapi Mezbah sunyi dari gempita penghargaan. Panggung mengerjakan sesuatu yang sesaat dan lalu hilang, tapi Mezbah mengerjakan sebuah kekekalan. Panggung adalah suatu kebanggaan, tapi Mezbah adalah suatu ekspresi tahu diri.

Panggung selalu mendorong kita untuk rebutan yang paling depan, tapi Mezbah membuat kita bersedia berada di paling bawah untuk diinjak supaya saudara kita bisa naik. Panggung selalu menyediakan lampu sorot yang sangat terang, menyilaukan, lalu kemudian hilang lenyap tak berbekas. Tapi Mezbah adalah suatu titik sinar kecil yang kian lama kian terang, dan pada akhirnya menjadi suluh yang sangat cemerlang, yang dapat menerangi jalan di sekitarnya yang gelap.

Panggung adalah ekspresi bahwa “aku bisa”, “aku mampu”. Tapi Mezbah adalah ekspresi “aku hanyalah hamba yang dimampukan-Nya”..

Panggung seringkali membuat kita merasa bahwa “aku” adalah yang terutama dan terpenting, tapi Mezbah membuat kita tersungkur dengan gemetar dan sadar bahwa kita ini bukan siapa-siapa, semua yang terjadi hanya karena anugerah-Nya semata. Panggung adalah bau kedagingan yang menyengat dan akan tetap tercium walau terbungkus parfum termahal di dunia. Namun Mezbah adalah bau harum yang menetes keluar dari kedagingan yang dipotong dan diletakkan dengan air mata.

Panggung adalah rumah bagi para bintang untuk beraksi, tapi Mezbah adalah tempat para hamba memberi diri. Panggung-panggung ambisi nantinya akan dirobohkan oleh bangunan Mezbah yang berkenan di Hati Tuhan.

Anugerahi kami Tuhan untuk mengerti bagaimana pentingnya membangun sebuah mezbah kehidupan, dan menyingkirkan panggung dalam setiap pelayanan kami.. Tuhan Yesus memberkati (ditulis dari berbagai sumber).

Nilai dalam Keluarga

Standard

• Nilai dalam Keluarga

Anak-anak yang dididik dalam keluarga penuh kesantunan, memiliki etika tata krama dan sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak-anak tangguh, disenangi, dan disegani banyak orang. Mereka belajar bersopan-santun memiliki aturan makan table manner di restoran mewah. Tetapi tidak canggung menikmati makanan di warteg kaki lima. Secara ekonomi mungkin mereka sanggup membeli barang-barang yang “wah”. Tetapi mereka dapat membedakan mana yang sekadar keinginan dan yang merupakan kebutuhan.

Mereka mungkin terbiasa bepergian naik pesawat antar kota. Tetapi tetap santai dan menikmati saat harus naik angkot. Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan. Tetapi mampu dan nyambung saat berbicara santai bertemu orang di jalanan. Mereka visioner saat bertemu rekan kerja. Tetapi mampu bercanda lepas saat bertemu teman sekolah. Saat bertemu orang yang jauh lebih kaya, mereka dapat menyesuaikan diri dan tidak norak. Tetapi saat bertemu dengan orang yang level ekonominya “di bawah”, mereka juga tidak merendahkan.

Mereka mampu membeli barang bergengsi, tetapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah adanya kualitas dan kapasitas diri, bukan dari barang yang dikenakan. Mereka punya, tapi tidak berteriak ke mana-mana. Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya.

Jangan mendidik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan dan etika tata krama. Hal-hal sederhana tentang kesantunan di bawah ini jangan sampai diabaikan:

– Pamit saat hendak pergi dari rumah

– Permisi saat masuk ke rumah teman (menyapa orang-orang yang berada di dalam rumah itu)

– Saat masuk atau pulang kerja memberi salam kepada rekan, terlebih pada pimpinan

– Mengembalikan pinjaman uang sekecil apapun

– Berani meminta maaf saat ada kesalahan

– Tahu berterima kasih jika dibantu, sekecil apapun

Sebelum dan Sesudah Menikah

Ketika akan menikah jangan hanya mencari seorang istri, tetapi carilah ibu bagi anak-anak. Hal yang sama, janganlah mencari suami, tetapi carilah ayah bagi anak-anak. Ketika melamar pasangan, ingatlah bahwa kita tidak sedang meminta kepada orangtua si gadis saja, tetapi lebih dari itu meminta kepada Tuhan melalui wali dari si gadis. Setelah menikah pun kita tidak hanya menikah di hadapan negara, tetapi juga di hadapan Tuhan yang menjadi Saksi hidup dari pernikahan yang kudus.

Sadarilah bahwa ketika menempuh hidup berkeluarga, jalan yang akan dilalui tidaklah melalui jalan “bertabur bunga”, tetapi juga “semak belukar” yang penuh onak dan duri. Bahkan ketika diijinkan biduk rumah tangga sedang oleng, janganlah saling berlepas tangan. Sebaliknya, justru semakin erat berpegang tangan, serta tetap memandang dan berharap hanya kepada Tuhan.

Ketika Tuhan mempercayakan untuk memiliki anak-anak, jangan membagi cinta kita kepada suami atau istri dan anak, tetapi cintailah istri, suami, dan anak-anak kita masing-masing 100%. Ketika posisi kita adalah seorang suami, boleh saja terkadang bermanja-manja kepada istri. Tetapi jangan lupa bangkit secara bertanggung jawab bila istri membutuhkan pertolongan. Hal yang sama juga berlaku bagi istri. Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

Ketika mendidik anak jangan pernah berpikir bahwa orangtua yang baik adalah orangtua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orangtua yang baik adalah orangtua yang jujur kepada anak. Tetaplah yakin bahwa tidak ada seorang anak pun yang tidak mau bekerjasama dengan orangtua, yang ada hanyalah anak yang merasa tidak didengar oleh kedua orangtuanya, ketika anak-anak sedang memiliki masalah.

Ketika ada PIL (Pria Idaman Lain), janganlah diminum, cukup suami sebagai obat. Ketika ada WIL (Wanita Idaman Lain), janganlah dituruti, cukup istri sebagai pelabuhan hati.

Ketika memilih Potret Keluarga, pilihlah potret “keluarga sekolah” yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia. Dan agar keluarga kita langgeng dan harmonis, gunakanlah formula: takut akan Tuhan, kasih sayang, kesetiaan, komunikasi, keterbukaan, kejujuran, dan kesabaran. Tuhan Yesus memberkati. (Ditulis dari berbagai sumber..)