Monthly Archives: June 2016

Kuasa Perkataan

Standard

Nelson Mandela, tokoh penting penentang rezim apharteid di Afrika Selatan yang dipenjara selama hampir tiga dekade, sangat paham tentang kuasa perkataan. Kita sering mengutip perkataannya saat ini, tetapi selama dipenjara, ia tidak banyak bicara karena takut akan akibat buruk yang dapat ditimbulkannya. Satu dekade setelah pembebasannya, ia berkata,

“Bukan kebiasaan saya untuk berkata-kata dengan sembarangan. Pengalaman setelah 27 tahun mendekam di penjara telah mengajar kami untuk menggunakan kesunyian dari kesendirian itu guna memahami betapa berharganya perkataan, dan betapa kuat dampak perkataan terhadap hidup-mati seseorang.”

Raja Salomo, penulis dari sebagian besar kitab Amsal di Perjanjian Lama, sering menulis tentang kuasa perkataan. Ia berkata, “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21). 

• Perkataan berpotensi untuk menghasilkan konsekuensi yang positif atau negatif (Amsal 18:20)

• Perkataan berkuasa memberikan hidup melalui kata-kata yang jujur dan membangkitkan semangat

• Perkataan juga dapat merusak dan membunuh lewat kebohongan dan gosip

Bagaimana kita dapat memastikan bahwa perkataan yang kita ucapkan akan memberikan hasil yang baik? Satu-satunya cara adalah dengan tekun menjaga hati kita. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). (Ditulis dari sumber Renungan Harian).

Advertisements

God’s Factor

Standard

Pernahkah Anda sedemikian berputus asa sehingga berdoa, “Tuhan, tanpa Engkau bisnisku akan hancur!” Jika pernah mengucapkan doa tersebut, Anda memahami “God’s Factor”. Kita sering merasa diri hebat sehingga melakukan segala sesuatu, termasuk pekerjaan kita, tanpa melibatkan Tuhan. Itulah sebabnya mengapa kita perlu mengingat faktor yang sangat penting ini dalam setiap perencanaan.

John C. Maxwell pernah berkata,

“Without God, we cannot, that’s God’s factor. But, without us, God will not, that’s leadership factor.” Tanpa Tuhan, kita memang tidak bisa melakukan apa-apa. Tanpa kesediaan kita untuk bekerjasama dengan-Nya, Dia tidak mau campur tangan.

Marilah kita bekerja seoptimal dan memberi yang terbaik, karena hal itulah yang Tuhan kehendaki. Marilah kita membuka hati selebar-lebarnya agar Tuhan dapat mencurahkan hikmat-Nya pada kita. Kerja sama yang harmonis ini akan terwujud sempurna, bila kita mau membuka diri dan rela diproses oleh-Nya, untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup setiap kita. (Disadur dari tulisan Xavier Quentin Pranata). 

Be a Man of Character

Standard

Kita tidak bisa menjadi matang dalam perbedaan moral hanya semata-mata lewat pengetahuan atau sebuah “saluran emosional”, tetapi kita harus terus-menerus berkembang, memurnikan, mengubah bagian terdalam dari keberadaan kita. Unsur-unsur di dalam diri kita ini menciptakan kualitas yang sebenarnya pada setiap bagian kehidupan; bukan yang tampak di luar dari sebuah produk, tetapi interiornya; bukan yang berkilau pada krom bumper, tetapi suara halus dari mesin yang dirawat; bukan bakat di lapangan bola, tetapi nasionalisme dan integritas ketika lampu sorot sudah padam (ketika kita tidak lagi menjadi pusat perhatian).

Kualitas suatu produk bergantung pada kualitas bahan yang digunakan. Semakin murah suatu barang, semakin banyak polesan yang diperlukan untuk membuatnya berkilau.

Orang yang karakternya kurang baik selalu mencoba menyamakan dirinya dengan orang-orang yang karakter atau talentanya luar biasa, lalu ingin meraih identitas seperti orang-orang tersebut, atau mengendalikan mereka. Ia menggunakan identitas orang lain untuk menggantikan kurangnya integritas. Apa pun yang dimilikinya selalu dikaitkan atau diasosiasikan dengan orang lain. Karena reputasinya yang tidak dapat dipercaya, ia selalu meminjam nama orang lain.

Setiap manusia dibatasi tiga hal dalam hidupnya, yakni: pengetahuan yang dimilikinya, nilai dari karakternya, dan prinsip-prinsip yang mendasari kehidupannya. Hal-hal inilah yang membentuk manusia dari dalam, demi kebaikan maupun kejahatan. Hal-hal inilah yang menegaskan kualitas hidup manusia. Kualitas selalu berasal dari dalam diri seseorang, bukan dari luar.

Ditulis oleh: Edwin Louis Cole..

Belajar Mengampuni

Standard

Belajar untuk mengampuni mungkin menjadi pelajaran tersulit untuk dimengerti. Saya yakin bahwa Yusuf tetap dipenjara dengan tambahan waktu selama dua tahun, karena dia masih membawa kebencian terhadap saudara-saudaranya. Siapa saja yang akan berkata, “..menceritakan hal ihwalku kepada Firaun..” (Kejadian 40:14) sedang mencoba untuk membela dirinya. Pembelaan diri adalah perbendaharaan kata yang asing bagi kasih, karena kasih “tidak memegahkan diri” (1 Korintus 13:4). 

Pembelaan adalah hak prerogatif Tuhan. Tetapi itu juga merupakan apa yang ingin Dia lakukan — dengan satu syarat: kita tidak mencoba untuk membantu-Nya. Selama kita ikut campur, Tuhan akan mundur. Ketika kita menyerahkan pembelaan dalam tangan-Nya, Dia bebas melakukan bermacam-macam hal dengan cara-Nya. Dan menurut waktu-Nya. Tapi Dia akan membela! Pelajaran dari Yusuf adalah bahwa kita harus membiarkan Tuhan melakukannya dengan cara dan waktu-Nya.

Ketika kita telah mengampuni secara total mereka yang telah berlaku jahat kepada kita, kita merasa damai dan merasa tidak perlu melindungi diri kita. Satu-satunya cara untuk memperoleh kasih adalah dengan mengampuni orang lain secara total dari dasar hati. (Ditulis oleh R.T. Kendall)

Setia dan Adil

Standard

Beberapa nelayan di dataran tinggi Skotlandia kembali ke penginapan untuk minum teh. Ketika pelayan melayani mereka, salah satu dari mereka mulai menggambarkan tangkapan hari itu dalam gerakan nelayan yang khas, dan tangan kanannya menyenggol cangkir teh. Isinya terpercik ke seluruh dinding bercat putih dan noda cokelat jelek muncul. 

“Saya sangat menyesal.” Sang nelayan meminta maaf berulang kali.

“Tidak apa-apa,” kata seorang pria yang melompat dari meja di dekatnya. Menarik krayon dari sakunya, ia mulai membuat sketsa di sekitar noda teh, dan muncullah gambar rusa yang indah dengan tanduknya yang bercabang. Seniman itu adalah Sir Edwin Henry Landseer, pelukis fauna yang terkemuka dari Inggris.

Jika seorang seniman bisa melakukan itu dengan noda cokelat jelek, apa yang dapat Tuhan lakukan dengan noda dan kesalahan kita, jika kita menyerahkan semua itu kepada-Nya? Tidak ada yang tidak dapat Allah ampuni, kecuali penolakan kepada Kristus. Tidak peduli seberapa hitam dosa kita, meskipun sangat mengerikan, kalau kita mengaku kepada-Nya dalam pertobatan sejati dan iman, Dia akan mengampuni. Dia akan menerima dan memaafkan. 

Dikisahkan oleh Ruth Graham ketika mengunjungi mantan murid Sekolah Minggunya di penjara negara bagian di Jackson..

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9).

Integritas

Standard

Integritas bukanlah apa yang Anda bayangkan atau harapkan. Integritas itu nyata, terukur, serta mencakup:

• bertanggung jawab

• jujur

• berpegang pada janji yang diucapkan

• setia dalam perkara kecil

Anda tidak bisa berpura-pura berintegritas. Rintangan maupun kesempatan baru yang kita hadapi setiap hari akan memunculkan apa yang ada di dalam diri Anda. Apabila integritas terdapat dalam fondasi Anda, keputusan-keputusan Anda akan membuktikan hal tersebut. Uang bukanlah faktor penentu integritas. Meskipun Anda kehilangan uang, popularitas, dan persahabatan, tidak ada yang cukup berharga untuk ditukar dengan integritas Anda. Berapa pun harganya, integritas memiliki nilai yang lebih besar.

Lakukan hal yang benar, karena memang itulah yang tepat untuk dilakukan.

Keinginan untuk menjadi pribadi yang berintegritas tidak menjadikan kita sempurna. Saya tidak selalu membuat keputusan yang tepat, namun Tuhan selalu mengampuni dan menyediakan peluang untuk memulai lagi. Terkadang awal yang baru berarti membangun kembali dari dasar, tapi setidaknya fondasi (yaitu integritas) telah ada. Ada saat ketika saya benar-benar tidak memiliki apa-apa kecuali integritas. Itu sangat sulit, tetapi bagi karakter dan masa depan saya, integritas mendatangkan keajaiban!

Apakah integritas akan mengikat dan membatasi ataukah mendatangkan kebebasan dan rasa damai? Integritas akan bersifat membatasi bagi mereka yang tidak ingin melakukan apa yang benar, namun akan memberi rasa bebas pada yang tahu manfaatnya. Integritas, pada dasarnya, adalah sesuatu yang berasal dari hati.

Dalam perjalanan hidup, bila Anda pernah mendapati diri Anda tidak memiliki apa pun selain integritas, itu artinya Anda memiliki lebih dari cukup untuk memulai lagi. (Ditulis oleh Paul J. Meyer)

Jangan Menyebut Nama Tuhan dengan Sembarangan

Standard

​”Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” (Keluaran 20:7).

Kalau kita menyaksikan talkshow atau acara debat di televisi, tidak sedikit orang yang menyebut nama Tuhan, seakan terlihat begitu rohani dan beriman. Alkitab sudah mengingatkan bahwa kita tidak boleh menyebut nama-Nya dengan sembarangan, misalnya: menggunakan nama Tuhan untuk hal negatif (mengutuk, memaki), menyebut nama Tuhan dengan motivasi salah, menyebut nama Tuhan dengan tujuan sia-sia (sering kita saksikan di film-film, orang menyebut “Yesus” ketika sedang terkejut atau kaget), serta menyebut nama Tuhan untuk bersumpah palsu.

Yang lebih tragis, sering kita menyaksikan orang-orang memakai jubah putih, seakan tidak bercela, namun menghunus senjata, memaki, menghina, bahkan melakukan tindakan anarkis, eh masih berani-beraninya mereka menyebut nama Tuhan Mahabesar. Beberapa orang dengan sengaja memakai nama Allah sebagai penguat atau penjamin suatu janji, nama Allah dijadikan garansi untuk janji-janji gombal, bahkan yang lebih mengerikan, nama Tuhan dipakai untuk membenarkan perbuatannya.

Bisa saja mereka adalah para hamba Tuhan, pemimpin gereja yang pekerjaan utamanya memang sering menyebut nama Tuhan.. Tetapi lain di mimbar gereja, lain juga di luar, lain ucapan, lain tindakan, berkata dan hidup dengan sembarangan / tidak bijaksana. Bisa saja kita sebagai umat Kristiani yang sering mengatakan “Puji Tuhan”, tetapi justru kita tidak memuji, melainkan mencaci Dia. Kita tidak memuliakan Allah, melainkan memalukan nama-Nya.

Tuhan Yesus mengatakan,

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:21-23).

Tuhan Yesus memberkati.. (Ditulis dari berbagai sumber)