Monthly Archives: August 2016

Siapa yang Menolongmu ke Surga? (Sebuah Peringatan buat Diri Sendiri)

Standard

Ada sebuah kisah panjang yang pernah saya dapat dari status rekan di facebook, yang mohon maaf saat itu saya lupa mencantumkan nama sumbernya dari siapa. Semoga kisah “Siapa yang Menolongmu ke Surga? (Sebuah Peringatan buat Diri Sendiri)” yang sudah disadur ini dapat menjadi berkat bagi setiap kita..

Pada suatu hari aku bersenggolan dengan seseorang yang tak aku kenal. 

“Oh, maafkan,” reaksi spontanku. Ia juga berkata, “Maafkan saya juga.” Singkat cerita kami berlaku sangat sopan, berpisah, dan saling mengucapkan salam. 

Namun cerita menjadi lain setiba di rumah. Saat menelpon kolega terbaik dengan bahasa lembut dan santun untuk meraih simpati, tiba-tiba anakku berdiri diam-diam di belakang. Saat berbalik, hampir saja membuatnya terjatuh..

“Minggir!!! Main jauh-jauh dari Papa sana! Mengganggu saja!!!” teriakku dengan marah. Anakku pun pergi ke kamarnya dengan hati yang hancur.

Saat berbaring di tempat tidur pada malam itu, dengan halus Tuhan berbisik, 

“Pada malam ini Aku akan menyuruh malaikat-Ku menyabut nyawamu dan mengambil hidupmu sekarang. Namun sebelumnya, Aku akan mengizinkan engkau melihat lorong waktu sesudah kematianmu. Sewaktu berurusan dengan orang yang tidak engkau kenal, etika kesopanan telah kau pergunakan dengan sangat baik. Tetapi dengan anak yang engkau kasihi, engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Akan Ku perlihatkan setelah kematianmu, bagaimana keadaan dan sikap dari atasan, kolega, sahabat dunia maya, serta keluargamu.”

Lalu aku melihat pada hari itu saat tubuh jenazahku terbujur kaku dan diletakkan di ruang keluarga, sangat sedikit sahabat dunia maya yang datang melayat. Selebihnya mereka hanya mendoakan lewat grup, ada yang tidak berkomentar apa pun atas kepergianku, dan bahkan ada hanya menulis 3 huruf singkat saja, “RIP (Rest In Peace)”

Teman-teman sekantor hampir semua datang dan sekejap melihat jenazahku. Lalu mereka asyik saling foto dan mengobrol, ada yang asyik membicarakan kehidupanku sambil tersenyum, bahkan ada yang hanya sibuk mengupas kacang kulit yang tersedia di meja. Atasan yang aku hormati pun hanya datang sebentar melihat jenazahku, dalam hitungan menit langsung segera pulang. Dan kolegaku, tidak semua aku lihat. Ah, mungkin mereka memiliki banyak urusan sehingga tidak sempat melayat.

Lalu aku melihat anak-anak menangis di pangkuan istriku. Anakku yang paling kecil berusaha menggapai tubuh jenazahku untuk memintaku bangun, namun istriku menghalaunya. Istriku pingsan berkali-kali, aku tak pernah melihat dia sekacau itu. Segera aku teringat betapa sering aku mengacuhkan ajakannya yang mengajakku mengobrol, aku selalu sibuk dengan HPku, sibuk dengan kolega dan rekan dunia mayaku. Sering kuacuhkan keluargaku saat aku sedang asik dengan ponselku. Aku tak mempedulikan saat mereka ribut meminta aku untuk menemani mereka bermain. Ya Tuhan, maafkanlah aku..

Tujuh hari sejak kematianku, teman-teman mulai melupakanku, sampai detik ini aku tidak mendengar doa yang dipanjatkan untukku, perusahaan mengganti posisiku dengan karyawan lain, teman dunia maya masih terlihat sibuk dengan berbagai lelucon di grup, tanpa ada satu pun yang membahas atau bersedih terhadap ketiadaanku di grup mereka.

Hari ke-40 sejak tiada, rekan di facebook dan berbagai media sosial lainnya pun mulai “lenyap” secara drastis. Semua “memutuskan” pertemanan, seolah mereka tidak ingin lagi melihat berbagai kenanganku semasa hidup. Tidak ada satu pun yang mengunjungi kuburanku atau sekadar memanjatkan doa. Ketika melihat keluargaku, istriku sudah bisa tersenyum, tetapi tatapannya kosong, anak-anak masih ribut menanyakan kapan ayahnya pulang. Bahkan si bungsu selalu menunggu kepulanganku di jendela, seperti menantikan aku datang.

Lima belas tahun berlalu. Kulihat istriku menyiapkan makanan untuk anak-anakku dan mulai tampak guratan tua dan lelah di wajahnya. Namun dia tidak pernah lupa mengingatkan anak-anak untuk selalu berdoa untukku. Aku juga membaca tulisan di secarik kertas milik putriku pada malam hari itu. Dia menulis, 

“Seandainya saja Ayah masih hidup, pasti tidak akan ada laki-laki yang berani tidak sopan denganku, tidak akan aku lihat ibu sakit-sakitan mencari nafkah seorang diri buat kami. Oh Tuhan, mengapa Kau ambil Ayahku? Aku butuh Ayah ya Tuhan.” Kertas itu basah, pasti karena airmatanya. Ya Tuhan maafkanlah aku..

Sampai bertahun-tahun istri dan anak-anakku terus mendoakanku, agar aku selalu berbahagia di akhirat.

Namun seketika aku terbangun. Puji syukur, ternyata aku hanya bermimpi. Pelan-pelan aku pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya. Masih terlihat sisa airmata di sudut matanya, kasihan sekali, terlalu keras aku menghardiknya. 

“Anakku, Ayah sangat menyesal karena telah berlaku kasar padamu.”

Mendengar hal itu, anakku terbangun dan berkata, 

“Oh Ayah, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.” 

“Anakku, Ayah mencintaimu juga. Maafkan aku anakku.” Kupeluk anakku. Kucium pipi dan keningnya.

Lalu kulihat istriku tertidur. Istri yang sapaannya sering kuacuhkan, ajakannya bicara seringkali aku berpura-pura tidak mendengarnya, bahkan berbagai pesan darinya sering aku anggap tidak bermakna. Maafkan aku istriku, maafkan aku..

Apakah kita menyadari bahwa jika kita mati besok pagi, perusahaan di mana kita bekerja akan dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Teman-teman akan melupakan kita sebagai ” sebuah cerita” yang sudah berakhir? Hanya beberapa yang masih menceritakan saat kita masih hidup. Teman-teman dunia maya pun tak pernah membahas lagi, seolah, kita tidak pernah mengisi hari-hari mereka di grup.

Aku rebahkan diri di samping istriku, ponselku terus bergetar, berpuluh puluh notifikasi masuk menyapaku, menggelitik untuk kubuka, tapi tidak.. tidak. Aku matikan ponselku dan pejamkan mata. Maaf, bukan kalian yang akan membawaku ke surga, bukan kalian yang akan menolongku dari api neraka, tapi imanku pada Tuhan dan sikap pada keluargakulah kelak. Keluarga yang jika kita tinggalkan, akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.. (Ditulis dari berbagai sumber).

Good night all,

Big God bless you 🙂 

Advertisements

Dan Aku Kepunyaan Dia

Standard

Saya takkan melupakan hari pada saat saya menemukan keempat kata dalam Kidung Agung 2:16, “..DAN AKU KEPUNYAAN DIA..” Tanggung jawab yang harus saya hadapi di setiap harinya sungguhlah besar dan terkadang, harus menghadapi banyak persoalan, ada saatnya bahkan terjaga di tengah malam. Namun, bukannya berguling-guling di tempat tidur, saya bangun. Jika itu pada musim panas, saya akan pergi ke halaman belakang, ke tempat tak ada seorang pun yang melihat. 

Di tengah kegelapan malam, saya memandang ke atas, mengangkat wajah, menarik napas dalam-dalam, dan berkata, “..DAN AKU KEPUNYAAN DIA..” Saya mengucapkannya dengan lantang.. 

Mungkin kita tidak dapat ke halaman belakang, tapi kita masih bisa berdiri di tengah dapur atau ruang keluarga, atau tepat di dalam kamar. Pandanglah ke atas dan ucapkan dengan lantang “..DAN AKU KEPUNYAAN DIA..” Katakan sekali lagi. Ulangilah sampai kata-kata itu menjadi bagian terpenting dalam diri kita. 

Kita bukan sekadar milik kerajaan Allah, tetapi kerajaan Allah adalah milik kita, karena kita adalah kepunyaan-Nya. Kita tidak dapat memikul beban seorang diri. Dia tahu bila kita tidak akan pernah bisa untuk menanggungnya sendirian. Kita akan roboh di bawah beban kita. Sebenarnya, berbagai persoalan tersebut bukanlah persoalan kita. Itu adalah persoalan Allah. 

Hidup kita sangatlah berharga di mata-Nya. Kita adalah ahli waris-Nya. Berjalan dan pandanglah diri, apakah kita terlihat seperti seorang anak Raja dan ahli waris-Nya? Apakah kita bertindak seperti seorang anak Raja? Apakah ahli waris-Nya akan berbicara seperti perkataan kita, atau hidup dalam kekalahan di setiap harinya? (Disadur dari tulisan Kathryn Kuhlman).

Big God bless you 🙂 

Pepatah Jawa

Standard

Pepatah Jawa: 10 Petuah Bijak dari Semar

1. Urip Iku Urup. Hidup merupakan nyala jiwa. Hidup hendaknya memberi manfaat bagi orang sekitar.
2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara. Harus dan wajib hukumnya mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak.
3. Sura Dira Jaya Jayaningrat, Leburing Dening Pangastuti. Segala sifat keras hati, picik, dan angkara murka hanya dapat dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar.
4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sakti Tanpa Aji-aji, Sugih Tanpa Bandha. Berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan / mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan / kekuatan / kekayaan / keturunan. Kaya tanpa didasari hal-hal yang bersifat materi.
5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan. Jangan mudah sakit hati manakala musibah / hasutan menimpa diri. Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.
6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman. Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut pada sesuatu, jangan kolokan atau manja.
7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan, Lan Kemareman. Jangan terobsesi atau terpesona dengan kedudukan, materi, dan kepuasan duniawi.
8. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Celaka. Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.
9. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendho. Jangan tergiur dengan hal-hal tampak mewah, cantik, dan indah. Jangan berpikir gampang / plin-plan agar tidak kendur niat dan semangat.
10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna. Jangan sok kuasa, sok besar / kaya, sok sakti.

(Ditulis dari berbagai sumber..)

Semoga dapat memberi manfaat,

Big God bless you 😊

Mendorong Batu Besar

Standard

Ada ilustrasi yang menggambarkan seorang bapak yang diijinkan Tuhan di jalan yang hendak dilaluinya, ditaruh sebuah batu besar dan berat. Selama bertahun-tahun bapak ini mendorong batu tersebut, berusaha untuk memindahkannya. Karena tidak bergerak sedikit pun akhirnya bapak ini protes sama Tuhan,

“Mengapa batu itu sama sekali tidak bergerak, padahal saya sudah tekun dan setia berusaha mendorongnya? Apakah Tuhan sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menolong saya memindahkan batu tersebut?”

Lalu Tuhan menjawab,

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk memindahkannya. Aku mengijinkan batu besar tersebut menghalangi jalanmu agar kamu belajar sesuatu dari sana. Sangat mudah bagi-Ku untuk memindahkan batu tersebut dalam sekejap, tetapi sekarang coba lihatlah otot-otot di tanganmu yang sudah terbentuk, karena setiap hari kamu setia dan tekun melatihnya dengan mendorong batu tersebut..”

Terkadang Tuhan mengijinkan kita berjalan melalui berbagai lembah rutinitas yang membosankan, keadaan tak pernah berubah dan tidak mengenakkan hidup kita, sepertinya hidup yang kita jalani tidak memiliki arti apa-apa. Tetapi, tetaplah setia. Dia ingin supaya kita setia dalam perkara kecil, setia dalam proses, ada berbagai pelajaran yang Tuhan ingin kita dapatkan di sana, melatih otot-otot rohani kita.. Dia ingin supaya apa yang kita pelajari dalam lembah rutinitas tersebut, kelak dapat berguna dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Pada akhirnya kita akan menemukan bahwa ayat ini akan menjadi pelajaran yang sangat mahal, yang hanya didapat saat kita memiliki pengalaman berjalan bersama dengan Allah sendiri..

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).

Have a blessed day all,

Big God bless you 🙂 

Kasih Karunia Allah

Standard

Kasih karunia Allah sering kali ditemukan dalam pengalaman padang gurun kita atau dalam penjara kita. Mungkin Anda menemukannya pada “jam Getsemani” Anda dan mengalami penderitaan. Anda tidak dilepaskan dari penjara yang telah memenjarakan Anda. Namun, Anda dapat memperoleh kasih karunia yang memberi Anda kemenangan sementara berada dalam penjara. 

“Getsemani” Anda bukanlah suatu tragedi. 

Bersama Allah, Anda bisa mengalami pengalaman hidup Anda yang terbesar. Oleh sebab itu, jangan berkubang dalam penderitaan Anda tetapi terimalah keadaan Anda sebagai sebuah tantangan, anggaplah pencobaan Anda sebagai suatu kesempatan bagi Allah untuk bekerja, dan membuat Anda menjadi kreatif. 

Anda tidak akan pernah bisa memberi kepada siapa pun melebihi yang telah Anda alami sendiri 

Kita harus mengalami untuk benar-benar hidup. Kita harus melewati sungai-sungai yang dalam untuk menjadi orang yang dewasa. Kita mencapai kedewasaan sebagai seorang Kristen hanya ketika kita memperoleh kemenangan atas setiap rintangan. Akhirnya, setiap krisis menjadi sebuah tantangan, sebuah petualangan, dan sebuah kesempatan untuk menguji janji-janji Allah. 

Apakah Anda menginginkan supaya janji-janji Allah digenapi? Anda takkan pernah mengalami sukacita ini dari tempat duduk Anda. Anda tidak akan pernah mengalami kesetiaan-Nya jika hanya menjadi penonton. Namun jika Anda berdiri “di tepi Laut Merah” Anda sehingga tidak bisa maju dan mundur, Anda akan menemukan kepastian firman Allah yang tidak berubah. 

Anda dapat memilih untuk turun dalam kekalahan, atau Anda dapat berpaling kepada firman Allah, mempertaruhkan hidup Anda pada janji-janjiNya yang tak bisa diingkari dan menjadi pemenang. (Ditulis oleh Kathryn Kuhlman).

Mimpi Sang Ayah

Standard

Hamba-Nya, Ps. Xavier Quentin Pranata pernah membagikan kisah ini di radio. Semoga dapat menjadi berkat..

Ada seorang ayah yang memiliki kegemaran suka meminum minuman keras, yang dibelinya dari bapak penjual minuman di ujung gang rumahnya. Hingga pada suatu hari ia bermimpi. Dalam mimpinya itu, sang ayah melihat ada empat ekor tikus. Tikus yang pertama bertubuh gemuk, tikus kedua dan ketiga bertubuh kurus, dan tikus keempat memiliki mata yang buta. Cukup lama sang ayah merenung tentang apa makna dari mimpi tersebut. Apakah mimpi tersebut sebuah pertanda kesialan, atau pertanda lainnya..

Anak semata wayangnya mencoba memberanikan diri mengartikan mimpi tersebut. Anaknya berkata,

“Ayah. Tikus yang gemuk itu adalah lambang dari bapak penjual minuman keras di ujung gang kita. Begitu banyak orang yang membeli minuman kerasnya, sehingga bapak tersebut tubuhnya menjadi gemuk karena memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan apa saja.”

Sampai di sini, sang anak berhenti sejenak. Lalu dengan sangat berhati-hati ia melanjutkan ceritanya,

“Maaf, Ayah. Tikus yang buta itu adalah perlambang Ayah sendiri yang tidak dapat melihat tipuan dari bapak penjual minuman keras itu. Ayah ditipu menghabiskan uang sebegitu banyaknya untuk membeli minuman keras, sehingga tidak ada lagi uang untuk membeli makanan di rumah. Kedua tikus bertubuh kurus itu adalah lambang dari Ibu dan saya, yang selama ini hanya mendapat sisa-sisa uang dari pembelian minuman keras. Untuk membeli makanan di rumah pun, kami harus sangat hemat, bahkan tak jarang harus berpuasa karena di rumah tidak ada persediaan bahan makanan..”

Hari ini, hal apa yang membutakan mata sehingga mengorbankan waktu bersama dengan orang yang kita sayangi? Tidak selalu berupa barang, bisa juga berupa kegemaran. Be wise. Karena bila sering berkata, “Not now, Son..” pada anak kita, akibat kesibukan sehingga tidak memiliki waktu bersama keluarga.. Kelak ketika anak sudah besar dan kita ingin memiliki waktu dengannya, dia akan menjawab, “Not now, Dad..” Big God bless you 🙂 

Debu Tanah

Standard

Ketika Allah memilih debu tanah sebagai bahan untuk menciptakan Adam (Kejadian 2:7), Dia tidak perlu cemas akan kehabisan bahan baku. Menurut Hannah Holmes, penulis “The Secret Life of Dust (Rahasia Kehidupan Debu),”

“Ada satu hingga tiga milyar ton debu gurun terbang ke angkasa setiap tahunnya. Satu milyar ton debu bisa mengisi empat belas juta gerbong kereta yang jika dibariskan, bisa mengelilingi garis khatulistiwa Bumi sebanyak enam kali.”

Karena jumlahnya yang berlimpah ruah itu, tidak seorang pun perlu membeli debu. Di rumah, saya mengacuhkannya selagi saya bisa. Alasan saya sederhana: Jika saya tidak mengusiknya, debu itu tidak akan begitu terlihat. Namun pada akhirnya debu akan menumpuk sedemikian rupa, sehingga saya tak bisa lagi menganggap debu itu tidak ada. Akhirnya, saya harus mengeluarkan semua peralatan pembersih dan mulai menyingkirkan debu yang sudah lama menumpuk itu. 

Selagi membersihkan debu, saya bisa melihat wajah saya tercermin pada permukaan yang mengkilap. Kemudian saya melihat hal lain: Saya melihat Allah mengambil debu yang tidak berharga dan membentuknya menjadi sesuatu yang tak ternilai–yaitu Anda, saya, dan setiap manusia (Kejadian 2:7).

Kenyataan bahwa Allah menggunakan debu untuk menciptakan manusia membuat saya berpikir ulang jika saya hendak menyebut seseorang atau sesuatu itu tidak berharga. Mungkin sesuatu yang hendak saya singkirkan–baik itu seseorang atau suatu masalah yang menjengkelkan–justru menjadi bahan yang Allah berikan untuk menyatakan kemuliaan-Nya. (Ditulis dari sumber Renungan Harian).