Jika Kita Bisa Lebih Cepat

Standard

Ada cerita yang saya dapatkan dari sumber facebook. Semoga dapat menginspirasi kita di hari Senin, di minggu kedua bulan Agustus 2016 ini..

•Jika Kita Bisa Lebih Cepat

Ada cerita tentang seorang anak muda dengan ayahnya yang memiliki lahan pertanian. Beberapa kali dalam setahun mereka memanen hasil pertanian, memenuhi gerobak dengan sayur-sayuran, dan pergi ke kota untuk menjual hasil produksinya. Namun sang ayah dan anaknya ini memiliki karakter dan tingkah laku yang berbeda. Sang ayah percaya dalam melakukan segala sesuatu hendaknya sambil dinikmati. Lain hal dengan anaknya, ia selalu tergesa-gesa, tipe orang yang sangat ambisius.

Pada pagi yang cerah, mereka mengikat seekor kerbau untuk menarik gerobak yang penuh dengan sayuran dan memulai perjalanan jauh. Sang anak berpikir jika mereka berjalan lebih cepat, mereka dapat sampai ke pasar di pagi berikutnya. Maka sang anak terus memukul kerbaunya dengan tongkat, memaksa hewan itu untuk berjalan lebih cepat. 

“Tenang saja, anakku,” kata sang ayah, “kamu akan hidup lebih lama.”
“Tetapi jika kita sampai ke pasar terlebih dahulu dari yang lainnya, kita dapat menjual sayur-sayuran ini lebih banyak,” bantah anaknya.

Tidak ada jawaban. Sang ayah malah menurunkan topi untuk menutupi matanya, dan tertidur di atas gerobak. Kesal dan geram, sang anak terus memaksa si kerbau untuk berjalan lebih cepat.

Lamanya perjalanan membuat mereka lelah dan singgah sejenak di sebuah rumah kecil. Sang ayah terbangun, tersenyum, dan berkata, “Ini adalah rumah pamanmu. Mari kita singgah terlebih dahulu dan menyapanya.”

“Tetapi kita sudah kehilangan waktu hampir satu jam,” keluh sang anak.

“Lalu? Tidak menjadi masalah kan kalau kita kehilangan waktu hanya beberapa menit saja? Adikku dan aku tinggal berdekatan, tetapi kita jarang saling mengunjungi,” jawab sang ayah pelan.

Sang anak merasa gelisah dan menggerutu ketika melihat dua pria tua itu tertawa melepas rindu dan bercengkerama dalam waktu hampir satu jam. Tak lama kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan, sang ayah menggantikan tugas anaknya untuk menuntun kerbau.

Ketika sampai di jalan bercabang, sang ayah menuntun kerbau itu ke arah kanan.

“Ayah, melalui jalan ke arah kiri kan jauh lebih cepat,” kata anaknya.

“Aku tahu, anakku. Tetapi jalan ini pemandangannya jauh lebih indah,” sahut ayahnya.
“Apakah Ayah tidak menghargai waktu?” tanya anaknya tidak sabar.

“Oh, aku menghargainya sekali! Makanya aku ingin melihat keindahan dan menikmati setiap detiknya.”

Jalan yang berliku-liku menuntun mereka melewati padang rumput indah, bunga-bunga liar, dan ombak di pantai–di mana semuanya itu tidak dapat dinikmati anak muda itu. Ia gelisah, sibuk dengan dirinya sendiri, dan diliputi berbagai kekhawatiran yang belum tentu akan terjadi. Ia bahkan tidak menyadari betapa indahnya suasana matahari yang tenggelam pada sore hari itu.

Senja pun tiba. Sang surya mulai tenggelam menyinari padang gurun sehingga tampak lebih memerah. Sang ayah menghirup aroma senja, mendengar bunyi air sungai mengalir, dan menuntun kerbau ke tempat persinggahan. “Mari kita tidur disini,” ajak sang ayah.

“Ini adalah perjalananku yang terakhir, yang kulakukan bersamamu,” kata anaknya sambil marah, “kau lebih tertarik melihat matahari tenggelam dan menghirup wewangian bunga di padang daripada mencari uang!”

Sang ayah hanya tersenyum, dan beberapa menit kemudian ia tertidur. Sementara itu sang anak dengan panas hati memandang langit malam yang penuh bintang. 

Malam itu berlalu sangat pelan, dan ia tetap merasa gelisah. Sebelum matahari terbit, anak muda itu segera membangunkan ayahnya. Mereka naik ke atas gerobak dan melanjutkan perjalanannya. Sekitar satu mil ke depan, mereka melihat seorang petani yang tidak mereka kenal berusaha menarik gerobaknya dari selokan.

“Mari kita bantu dia,” bisik ayahnya.

“Dan kehilangan beberapa waktu lagi?” bentak anaknya.

“Tenang, anakku. Mungkin saja kita mengalami hal seperti itu, dan kita pasti membutuhkan bantuan dari orang lain. Jangan pernah melupakan kejadian ini dalam hidupmu.”

Dengan perasaan marah, anak itu menuruti perkataan ayahnya. Pagi sudah menunjuk waktu hampir jam delapan, ketika gerobak petani berhasil ditarik keluar dari selokan. Tiba-tiba di langit terlihat sebuah percikan cahaya membelah angkasa yang kemudian disertai bunyi geledek. Di belakang bukit tampak langit menggelap berwarna hitam.

“Sepertinya akan turun hujan besar di kota,” sahut ayahnya.

“Jika kita bisa lebih cepat, dagangan kita mungkin sudah habis sekarang ini,” gerutu anaknya.

“Tenanglah.. Kamu akan hidup lama, anakku. Dan kamu akan menikmati hidup lebih lama,” demikian nasihat ayahnya itu.

Hari sudah menjelang siang ketika mereka tiba di bukit untuk melihat kota tujuan mereka. Mereka berhenti dan melihat ke bawah cukup lama. Tidak ada yang berbicara di antara mereka. Akhirnya, anak muda tersebut memeluk dan menepuk pundak ayahnya seraya berkata, “Aku mengerti apa yang kau maksud, Ayah. Terima kasih banyak..”

Mereka membalikkan arah gerobak dan mulai meninggalkan kota itu. Kota yang dahulu sering dipanggil orang, Hiroshima.

Disadur dari tulisan Billy Rose..

Seringkali penundaan waktu yang diijinkan Tuhan datang dalam kehidupan, bertujuan mendatangkan kebaikan dalam hidup. Jangan terlalu terburu menyimpulkan bahwa apa yang kita alami sekarang adalah jalan akhir. Bisa jadi jalan yang harus kita lalui masih panjang. Bisa jadi di sepanjang jalan ke depan, kita akan melihat dan mengalami berbagai kebaikan dan mujizat dari Tuhan, untuk hidup kita. 

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 37:23-24).

Have a blessed day all,

Big God bless you 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s