Monthly Archives: September 2016

Menyebar Gosip

Standard

Menyebar gosip adalah olahraga berburu yang dilakukan secara diam-diam untuk menghancurkan nama baik orang lain. Penggosip yang sudah mendarah daging senang menyaksikan nama baik seseorang hancur berkeping-keping. Mereka gemar mengupas sifat seseorang tanpa merasa bosan atau menyebabkan orang lain berselisih. 

Tim Stafford, penulis “That’s Not What I Meant”, menyebut gosip sebagai “percakapan sampah”. Saya tidak dapat menyetujuinya lagi. Gosip memiliki karakter yang agak sulit dimengerti. Gosip mengandalkan kabar angin yang dangkal dalam mengembangkan inti percakapan mereka. 

“Gosip adalah sejenis asap dari pipa tembakau kotor milik orang-orang yang menghembuskannya,” menurut penulis novel dari Inggris, George Elliot, “yang hanya membuktikan buruknya cita rasa perokok tersebut.”

Berjual beli gosip tidak hanya akan menyakiti korban yang tidak bersalah–yakni Anda–namun juga merendahkan penggosip dan siapa saja yang mendengarkannya. Berita baiknya bila seseorang mencoba bercerita kepada Anda mengenai sesuatu yang tidak ingin Anda dengar, Anda tidak perlu terjebak. Ada berbagai cara yang tak terhitung banyaknya untuk menghindari rahasia-rahasia yang tak diinginkan. 

Hentikan saja ucapan penggosip itu dengan cara tidak mendengarkan rahasia yang mereka kemukakan. Anda dapat menghindari untuk tidak membuka jalan bagi arus gosip, jika Anda siap dengan beberapa jawaban tegas yang pasti. (Ditulis oleh Dr. Les Parrott III, Ph.D).

Advertisements

Keranjang Arang & Kitab Suci

Standard

Subject: Keranjang Arang dan Kitab Suci

Ada seorang kakek yang hidup di perkebunan dengan cucu lelakinya yang masih muda. Setiap pagi sang kakek selalu bangun lebih awal untuk membaca Kitab Suci, yang terletak di meja makan di dapurnya. Cucu lelakinya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba meniru dalam cara apa pun semampunya. Hingga suatu hari sang cucu bertanya, 

”Kakek, aku mencoba membaca Kitab Suci seperti yang Kakek lakukan, tetapi aku tidak pernah dapat memahaminya. Apa yang kubaca segera terlupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Kitab ini?”

Dengan tenang sang kakek mengambil keranjang tempat arang, memutar sambil melubangi keranjangnya serta menjawab, 

”Bawalah keranjang ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuh dengan air.”

Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air selalu habis terbuang sebelum tiba di depan rumahnya. Sang kakek tertawa dan berkata, 

“Lain kali kamu harus melakukannya lebih cepat lagi.”

Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tersebut untuk mencoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi hasilnya tetap, lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum tiba di depan rumah. Dengan terengah, ia berkata pada kakeknya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dilubangi. Maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. 

Sang kakek berkata, 

”Aku tidak mau ember itu, aku hanya mau keranjang arang itu. Oh ayolah, usaha kamu kurang cukup.”

Maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu.

Cucunya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan pada sang kakek biar sekalipun ia berlari secepatnya, air tetap akan bocor terbuang sebelum ia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika sampai di depan, keranjangnya sudah kosong lagi. Sambil terengah ia berkata, 

”Lihat Kek, percuma!”

”Jadi kamu pikir percuma?” jawab kakek, “lihatlah ke dalam keranjangnya.“

Ketika cucu lelakinya melihat ke dalam keranjangnya, untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang arang yang tua dan kotor, kini menjadi keranjang yang bersih luar dan dalam. Lalu sang kakek mengatakan,

“Cucuku, itulah yang terjadi ketika kamu membaca Kitab Suci. Kamu tidak akan selalu bisa untuk memahami atau mengingat setiap ayat yang terdapat di dalamnya, tetapi ketika kamu setia membacanya, Tuhan akan membantumu merubah setiap karakter yang kurang baik, yang ada di dalammu. Itu semua adalah kasih karunia-Nya semata. Jangan pernah lupa bahwa perubahan selalu terjadi dari dalam dahulu baru ke luar..”

Lalu sang kakek melanjutkan,

“Sekarang coba lihatlah jalan yang telah kamu lalui saat membawa keranjang arang yang berlubang tersebut. Dahulu di jalanan itu hanya terdapat rumput kering dan tandus. Tetapi sejak kamu melaluinya dengan keranjang arangmu, jalan yang kamu lalui sekarang dipenuhi banyak bunga cantik yang bermekaran. Rumput yang kering pun sekarang kembali menghijau dan sejuk untuk dipandang.”

Mungkin apa yang kita lakukan hari-hari ini adalah pekerjaan yang sederhana dan mungkin, tampak tak berguna. Tetapi bila kita melakukannya dengan hati yang mengasihi-Nya dan dengan setia, maka pekerjaan itu tidaklah pernah sia-sia. Melalui kesetiaan kita, akan membawa berkat bagi orang lain. (Disadur akun Line: Online with God).

Have a blessed Sunday all,

Big God bless you 🙂 

Sudut Pandang Berbeda

Standard

Subject: Sudut Pandang Berbeda

Ada seorang anak kehilangan sepasang sandal karena hanyut terbawa arus air laut. Lalu ia menulis di atas pasir pantai, 

“Laut ini pencuri!”

Tak jauh dari sana ada seorang nelayan memperoleh hasil tangkapan ikan yang banyak. Lalu ia menulis di pasir pantai, 

“Laut ini sangat pemurah!”

Ada seorang pemuda yang mengalami keadaan tragis yakni, tenggelam dihanyutkan air laut. Ibunya menulis di pasir pantai,

“Laut ini pembunuh!”

Tak jauh dari sana, ada bapak tua yang memperoleh sebutir mutiara dari hasil tangkapan lautnya. Lalu ia menulis,

“Laut ini ladang rezeki!”

Setelah berbagai kejadian tersebut, datanglah ombak menggulung pasir di tepi pantai dan menghapus semua kata-kata yang dituliskan beberapa orang tadi..

Setiap keadaan yang diijinkan terjadi, selalu memiliki sudut pandang berbeda. Ada yang memandangnya sebagai sikap Tuhan yang tidak adil karena mengijinkan keadaan kurang baik terjadi, ada pula yang memandangnya sebagai sebuah kebetulan hal baik, dan ada juga yang memiliki sudut pandang lainnya. 

Marilah kita belajar memiliki sudut pandang yang berbeda yakni, apa pun keadaan yang diijinkan Tuhan terjadi, tetaplah percaya bahwa Dia (masih) turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Walau sekarang kita belum melihat jejak kaki kebaikan-Nya, tetaplah mempercayai bahwa hati-Nya selalu merancangkan kebaikan bagi hidup kita. 

Kita memang tidak dapat menghalangi burung terbang di atas kepala kita, tetapi kita masih dapat menghalangi burung tersebut membuat sarang di dalam kepala kita. Ada kalanya kita tidak memiliki kendali untuk mencegah suatu keadaan terjadi, tetapi kita masih mempunyai pilihan untuk memiliki respon hati dan bersikap benar, apa pun keadaannya, terhadap apa yang kita alami.. (Disadur dari berbagai sumber).

Have a blessed day,

Big God bless you all 🙂

Being Yourself (by: Joyce Meyer)

Standard

Few tips will help you succeed at being yourself (by: Joyce Meyer):

1. Never say or think negative things about yourself, such as, “I never do anything right.” “I’ll never change.” “I’m ugly.” “I look terrible.” “I’m dumb.” “Who could ever love me?” Matthew 12:37 says, …by your words you will be justified…, and by your words you will be condemned…. Proverbs 23:7 says, …as [a man] thinketh in his heart, so is he. In other words, the way we talk and think about ourselves reveals how we feel about ourselves. 

2. Speak good things about yourself (as private confessions) in line with what the Word says about you. For example: “I am the righteousness of God in Christ.” “I am made acceptable in the Beloved.” “God created me and formed me with His own hands, and God doesn’t make mistakes.” I like starting the day making good confessions. Perhaps you can do this while you’re driving to work or cleaning house. I also encourage you to look in the mirror and say out loud, “God loves and accepts you, and so do I.” You may even try hugging yourself. This is beneficial to people who have lacked love and acceptance in their lives. 

3. Never compare yourself with other people. God must love variety or He wouldn’t have created us all differently—even down to our fingerprints. You’ll never succeed at being yourself if you’re trying to be like someone else. Other people can be a good example to you, but duplicating even their good traits will manifest differently through your individual personality. 

4. Focus on your potential instead of your limitations. Actress Helen Hayes was told early in her career that if she were four inches taller she’d be the greatest actress of her time. Her coaches tried various methods of stretching her, but nothing increased her height. She refused to concentrate on the supposed limitation of being five feet tall and decided to concentrate on her potential. As a result, she was eventually cast as Mary, Queen of Scotland—one of the tallest queens who ever lived. 

5. Find something you like to do that you do well, and do it over and over. If you spend your time doing things you’re not good at, it’ll frustrate you and cause you to feel defeated and unsuccessful. 

6. Have the courage to be different and deal with criticism. Be a God-pleaser, not a man-pleaser (see Galatians 1:10). If you dare to be different, you’ll have to expect some criticism. Going along with the crowd—when you know in your heart God’s leading you a different way—is one reason people don’t succeed at being themselves. You won’t like yourself very much if you go against your own convictions.

7. Don’t let the way another person treats you determine your worth. 

8. Keep your flaws in perspective. People with a high level of confidence have just as many weaknesses as people without confidence, but they concentrate on their strengths—not their flaws or weaknesses. 

In conclusion, let me remind you of my opening statement: It’s tough to enjoy life when you don’t like yourself. When you learn to succeed at being yourself, you’ll be well on your way to enjoying life more fully.

Kereta Api Kehidupan

Standard

Subject: Kereta Api Kehidupan

Hidup bagaikan perjalanan naik kereta api dengan berbagai stasiun perhentiannya dan dengan berbagai peristiwa yang menyertai, entah kita suka atau pun tidak. Kita mulai naik “kereta api” ini ketika lahir, ketika orangtua memesankan tiket bagi kita. Dalam hati kita selalu menduga bahwa mereka akan tetap bersama dengan kita dalam perjalanan kereta api ini. Namun di suatu stasiun, orangtua akan turun dari kereta dan meninggalkan kita untuk berjalan sendirian di perjalanan ini..

Dengan berjalannya waktu, ada penumpang lain yang juga ikut naik menemani perjalanan kita. Beberapa di antara mereka akan menjadi orang yang berarti, entah itu menjadi pasangan hidup, teman baik, anak-anak, dan orang-orang yang kita kasihi. Tetapi ingatlah, tidak semua dari antara mereka yang akan selalu menemani hidup kita hingga akhir perjalanan.

Dengan berjalannya waktu pula, di antara mereka ada juga yang akan turun dari gerbong kereta dan meninggalkan kita sendirian. Kita tidak akan mengerti kapan waktunya mereka akan duduk satu ruangan bersama dengan kita, dan kita tidak akan tahu di stasiun mana akan berpisah. Maka dari itu kita harus hidup dengan cara terbaik, memaafkan, serta melupakan kesalahan yang pernah dilakukan seseorang. Tidak mudah memang, tetapi inilah perjalanan dalam kehidupan..

Di sepanjang perjalanan kereta itu, kita akan ditemani berbagai kejadian suka, duka, impian, harapan, ucapan “halo”, dan ucapan “selamat tinggal”. Dalam perjalanan kereta tersebut, Tuhan mengijinkan kita untuk bertemu dengan banyak orang agar kita dapat mengambil hikmah dan nilai terbaik, serta belajar dari kekurangan yang dimiliki seseorang agar tidak terulang kembali dalam kehidupan kita. 

Ketika ada orang-orang yang meninggalkan kita sendirian dalam gerbong kereta tersebut, tidak selalu karena mereka berbuat jahat, tetapi karena memang sudah selesai menurut waktunya Tuhan untuk orang tersebut mengajarkan sesuatu dalam hidup kita. Bila tiba saatnya juga bagi kita untuk meninggalkan kereta, kita dapat meninggalkan kenangan yang baik bagi mereka yang tetap meneruskan perjalanan dalam kereta kehidupan.

Terima kasih Sahabat, karena sudah menjadi salah satu penumpang yang baik dan istimewa dalam perjalanan kereta kehidupanku. Have a blessed day all & big God bless you 🙂 (disadur dari berbagai sumber).

Anda Unik! :)

Standard

Beranilah berbahagia dengan siapa diri Anda yang sebenarnya sekarang ini. Banyak masalah sosial, jasmani dan emosi berasal dari fakta bahwa orang tidak menyukai diri mereka sendiri. Mereka tidak nyaman dengan penampilan, cara berbicara, atau cara bertindak. Mereka tidak menyukai kepribadian mereka. Mereka selalu membandingkan diri dengan orang lain, berharap mereka berbeda. 

Anda tidak diciptakan untuk meniru orang lain. Anda diciptakan untuk menjadi diri Anda sendiri. Anda dapat berbahagia dengan pribadi yang Tuhan ciptakan, dan berhentilah berharap bahwa Anda berbeda. Jika Tuhan menghendaki Anda memiliki kepribadian yang berbeda, Ia akan memberikan kepribadian itu kepada Anda.

Ketika Anda berusaha menjadi seperti orang lain, bukan saja hal itu merendahkan diri Anda, itu juga merampas keunikan Anda. 

Sebuah faktor penting dalam melihat diri Anda seperti Tuhan melihatnya, adalah memahami nilai yang terkandung di dalam Anda. Pengertian Anda mengenai nilai Anda tidak dapat didasarkan pada keberhasilan atau kegagalan Anda. Tuhan membangun nilai ke dalam diri kita ketika Ia menciptakan kita. Sebagai ciptaan-Nya yang unik, Anda mempunyai sesuatu untuk diberikan pada keluarga Anda dan dunia ini, yang tidak seorang pun memilikinya, dan tidak seorang pun dapat melakukannya. 

Di sepanjang hidup, Tuhan terus membentuk kita menjadi pribadi yang diinginkan-Nya. Kunci meraih sukses masa depan adalah tidak putus asa tentang masa lalu atau masa sekarang, sementara Anda berada di dalam proses menjadi “sempurna”.

Tuhan tidak menginginkan sekumpulan kloning. Ia menyukai keragaman, dan Anda tidak boleh membiarkan orang lain menekan Anda atau membuat Anda merasa buruk terhadap diri sendiri, karena Anda tidak cocok dengan citra mereka. 

Jadilah diri Anda apa adanya, bukan tiruan. 

Biarlah Anda merasa aman dengan diri Anda sendiri seperti yang diciptakan Tuhan, dan jadilah terbaik seperti yang diciptakan Tuhan. Sekali pun semua orang menolak Anda, ingatlah, Tuhan berdiri di depan Anda dengan tangan-Nya yang terbuka lebar. Belajarlah berbahagia dengan diri Anda, sebagaimana Tuhan menciptakan Anda. (Ditulis oleh: Joel Osteen).

Proses Sepotong Besi

Standard

Sepotong besi berharga $2.50

• Jika ditempa menjadi tapal kuda, harganya akan menjadi $50,-

• Jika ditempa menjadi bel gereja, harganya dapat naik menjadi $175,-

• Jika dibentuk menjadi pedang, harganya berlipat menjadi $1.600,-

• Jika dibentuk menjadi arloji Rolex, harganya melonjak menjadi $125.000,-

Setiap tempaan dan pembentukan terhadap besi tersebut akan meningkatkan nilai jualnya. Lebih banyak ditempa, dipukul, dan dibakar, maka nilainya menjadi semakin tinggi. Dalam mengarungi kehidupan, jika kita diijinkan melalui area pembentukan, tempaan dan ujian, maka karakter kita nantinya akan semakin terbentuk. Ibarat emas semakin dilebur dan dipanaskan, maka hasilnya akan timbul bagaikan emas murni.

Terkadang kita merenung mengapa harus melalui semuanya ini? Sampai kapan keadaan akan berakhir? Kita memang tidak tahu di mana dan kapan titik akhirnya, tetapi marilah bersama-sama belajar menikmati proses kehidupan yang diijinkan terjadi, tetap menjaga serta memiliki respon hati yang benar dalam memandang setiap keadaan, entah itu mendatangkan suka, maupun duka. 

Manusia mungkin sudah menyerah menghadapi kita, tetapi ingatlah bahwa Tuhan dan keputusan kita sendirilah yang menentukan, apakah kita mau berhenti dan keluar dari proses? Atau kita tetap percaya dan meneguhkan hati, bila Tuhan sendiri tidak pernah menyerah dalam menghadapi tingkah laku hidup kita, maka kita juga tidak boleh menyerah saat bergumul di dalam proses-Nya. 

Sebuah proses tidak akan pernah mengkhianati hasilnya. Jatuh? Bangkit lagi. Gagal? Coba lagi. Tetaplah bersyukur, berpikir dan berkata positif, serta tetap mengusahakan yang terbaik dalam setiap karya dan aktivitas kita. 

Haleluya!

“Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” (Ibrani 12:10).

(Disadur dari berbagai sumber..)