Monthly Archives: October 2016

Berpikir Positif

Standard

Hidup ini sukar dan memiliki tuntutan banyak. Terkadang kita terpukul kalah dan merasa putus asa, tetapi kita tidak boleh menyerah kalah. Kita dapat memilih pikiran kita. Tidak seorang pun dapat memaksa kita untuk memikirkan suatu cara tertentu. Jika Anda tidak bahagia, tidak seorang pun memaksa Anda merasa tidak bahagia. Jika Anda memiliki pikiran negatif dan sikap buruk, tidak seorang pun memaksa Anda menjadi sarkastik dan murung. 

Anda memutuskan apa yang akan dipertimbangkan dalam pikiran Anda. 

Hanya karena musuh menanam pikiran negatif dan mematahkan semangat di otak Anda, tidak berarti Anda harus memelihara dan membantunya bertumbuh. Walau Anda melakukannya, pikiran itu akan mempengaruhi emosi, sikap, dan akhirnya tindakan Anda. Anda akan lebih cenderung patah semangat dan depresi, dan jika Anda terus merenungkan pikiran negatif, maka pikiran negatif tersebut akan segera menyerap energi dan kekuatan dari Anda. 

Tidak realistis jika berpura-pura bahwa tidak pernah ada hal buruk terjadi pada kita dan keluarga. Kepura-puraan bukanlah jawaban; memutarbalikkan kata dan kalimat juga tidak untuk membuat Anda tampak lebih rohani. Jika Anda sakit, akuilah; tetapi tetap mengarahkan pikiran Anda pada Penyembuh Anda. Jika tubuh Anda lelah, jika roh Anda letih, tidak apa-apa: tetapi arahkan pikiran Anda pada Dia yang telah berjanji,

“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31).

Kita harus bertanggung jawab atas pikiran dan tindakan kita. Selama kita terus berdalih dan mempersalahkan silsilah keluarga, lingkungan, hubungan masa lalu kita dengan orang lain, keadaan kita, dan menganggap kesalahan itu disebabkan oleh Tuhan, Iblis, siapa saja atau apa saja, kita tidak pernah benar-benar merdeka dan sehat secara emosi. 

Bukan keadaan Anda yang membuat Anda jatuh; pikiran Anda tentang keadaan Andalah yang menjatuhkan Anda. Mungkin Anda berada dalam satu pertempuran terbesar dari hidup, dan Anda tetap dipenuhi sukacita, damai sejahtera dan kemenangan–jika Anda sungguh-sungguh belajar cara memilih pikiran yang benar. 

Kita dapat memilih untuk percaya bahwa Tuhan lebih besar dari semua masalah kita. (Disadur dari berbagai sumber).

Have a blessed day, 

Big God bless you 🙂 

Advertisements

Perkataan yang Menyedihkan

Standard

Saya mendengar perkataan yang paling menyedihkan hari ini. Dua saudara seiman sedang berbeda pendapat tentang sesuatu. Pria yang lebih tua menggunakan ayat-ayat Alkitab seperti senjata, dengan menebas apa pun yang dianggapnya salah dalam hidup lawan bicaranya. Pria yang lebih muda kelihatan jenuh menanggapi lawan bicaranya yang tengah menguliahi dirinya dan merasa sangat dikecewakan. 

Saat obrolan mereka hampir usai, pria yang lebih tua mengomentari sikap lawan bicaranya yang terlihat tidak acuh. “Dahulu kamu begitu bersemangat,” katanya, sebelum akhirnya ia terdiam, “aku tak tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan.”

“Bapak kehilangan kesempatan untuk mengasihiku,” kata si orang muda. “Selama Bapak mengenalku, sepertinya yang penting bagi Bapak adalah membuktikan kesalahan-kesalahanku. Apa yang kuinginkan? Aku ingin melihat Yesus, di dalam dan melalui diri Bapak.”

Seandainya perkataan itu ditujukan pada saya, hati saya pasti hancur. Tuhan mengingatkan bahwa ada banyak kesempatan yang terlewat bagi saya untuk mengasihi orang lain. Dan saya sadar bahwa ada banyak orang yang juga tidak dapat melihat Yesus di dalam dan melalui diri saya. 

Kasih haruslah menjadi pendorong utama dari apa pun yang kita lakukan; dalam segala sesuatu yang kita lakukan (1 Korintus 13:1-4). Janganlah kita melewatkan kesempatan mendatang untuk menyatakan kasih pada sesama. Karena, perbuatan kasih selalu jauh lebih baik daripada sekadar perkataan. (Disadur dari sumber renungan harian).

Have a blessed Sunday all,

Big God bless you 🙂 

Tetap Memberi yang Terbaik

Standard

Pengarang James A. Michener telah mengukir namanya dalam dunia kesusastraan dengan melahirkan begitu banyak novel sejarah. Gaya Michener menampakkan kekuatan dan keindahannya melalui tokoh-tokoh dengan silsilah keturunan luas dan berakar kuat pada budaya. Ironisnya, Michener sendiri tidak mempunyai akte kelahiran. Ditinggalkan ketika masih bayi dan diangkat anak oleh keluarga Michener di mana kepala keluarganya seorang janda, James tidak pernah tahu siapa orangtua kandungnya. 

Dibakar iri hati, kelicikan dan kedengkian, seorang kerabatnya yang tidak mau menyingkapkan jati dirinya menyatakan dirinya sebagai “Michener sejati”. Bahkan setelah Michener memenangkan penghargaan Pulitzer di tahun 1948, penulis berpena racun itu menuntut Michener atas tuduhan merusak nama baik keluarga Michener dan menuduhnya sebagai penipu. 

Surat terakhir yang diterima James Michener dari kerabat yang tidak dikenalnya itu tiba pada tahun 1977, setelah Presiden Ford menganugerahkan Medali Kebebasan Kepresidenan untuk James. Surat pendek yang pedas dan menyakitkan itu berbunyi,

“Masih tetap memakai nama yang bukan milikmu? Masih tetap menjadi penipu? Masih tetap berusaha menjadi lebih baik dari dirimu yang sebenarnya?”

Michener memberi kesaksian bahwa kata-kata dalam surat pendek itu “sangat membekas di jiwa”. Tetapi Michener mengubah kekuatan negatif dari tuduhan itu menjadi sebuah tantangan hidup.

“Semua yang dituduhkannya itu memang benar,” akunya, “saya telah menghabiskan hidup saya dengan berusaha lebih baik dari diri saya yang sebenarnya, dan saya adalah saudara bagi siapa pun yang memiliki cita-cita yang sama.” (Ditulis dari berbagai sumber).

Apa pun yang kita perbuat, selalu akan ada orang-orang yang memberi kritiknya pada kita. Bagaimana pun juga, marilah kita tetap menjadi yang terbaik, menjadi lebih baik dari hari kemarin, dan tetap berbuat baik bagi sesama. Have a blessed weekend all. Big God bless you 🙂 (ditulis dari berbagai sumber).

Roma 8:28

Standard

Pernyataan pertama yang sering diucapkan banyak orang ketika malapetaka menimpa mereka adalah ayat Roma 8:28. Namun ayat itu tidaklah mudah diterima di masa-masa sulit. Kisah hidup penulis himne Fanny Crosby merupakan contoh yang baik. 

Dunia telah menikmati puji-pujian karyanya yang tak lekang oleh waktu, tetapi kebaikan itu datang dari musibah yang menimpa dirinya, yaitu kebutaannya pada usia 5 tahun. Pada usia 8 tahun, ia telah menulis puisi dan lagu himne. Dengan menulis lebih dari 8.000 lagu rohani dan himne, Fanny telah memberkati dunia dengan puji-pujian populer seperti “Blessed Assurance (Ku Berbahagia)”, “Safe in the Arms of Jesus (S’lamat di Tangan Yesus)”, dan “Pass Me Not, O Gentle Savior (Mampirlah, Dengarlah Doaku)”. Tuhan memakai kesulitan yang diderita Fanny untuk mendatangkan kebaikan bagi dirinya dan kita, serta untuk memuliakan-Nya. 

Ketika bencana datang menimpa, memang sulit untuk memahami bagaimana hal itu dapat mendatangkan suatu kebaikan, dan kita pun tidak selalu bisa melihat kebaikan itu dalam hidup. Namun Tuhan mempunyai maksud baik dan Dia selalu menyertai kita. (Disadur dari sumber renungan harian).

Sang Penangkap

Standard

Hidup ini penuh risiko. Ada kalanya kita terbang tinggi menikmati keberhasilan. Lalu tiba-tiba kita bisa terperosok ke dalam kekecewaan yang mendalam dan hidup dihantui kegagalan yang pernah dialami. Ini semua membuat hati bertanya-tanya, apakah masih ada yang layak kita harapkan?

Di sebuah ibadah pemakaman baru-baru ini, sang pendeta menceritakan kisah tentang seorang pemain trapesium (trapeze). Pemain ini mengakui bahwa meski terlihat sebagai bintang dalam pertunjukan itu, bintang sebenarnya adalah rekannya, si penangkap. Penangkap berada dalam posisi menggantung di palang trapesium satu lagi, dan bertugas meraih tangan dan menjamin pendaratan yang aman baginya. Ia menjelaskan bahwa kuncinya di sini adalah kepercayaan. Dengan tangan terulur, pemain trapesium yang melompat harus percaya bahwa si penangkap telah siap dan mampu menangkapnya. 

Menghadapi kematian adalah seperti mempercayai Allah sebagai penangkapnya. Setelah kita melakukan berbagai lompatan di sepanjang kehidupan, kita dapat percaya bahwa Tuhan akan mengulurkan tangan untuk menangkap para pengikut-Nya dan menarik kita dengan selamat pada Dia selamanya. 

Ini mengingatkan kita pada kata-kata penghiburan Yesus pada para murid-Nya, 

“Janganlah gelisah hatimu.. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan.. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14:1-3).

Hidup memang benar penuh risiko, tetapi tetaplah bersemangat! Jika kita percaya pada-Nya, sang Penangkap akan menanti di ujung sana untuk membawa kita pulang dengan selamat. (Ditulis dari sumber renungan harian).

Menenangkan Badai

Standard


Katsushika Hokusai adalah salah seorang seniman yang paling produktif dan terkenal dalam sejarah Jepang. Antara tahun 1826 dan 1833, ketika berusia antara 60an dan awal 70an, ia menciptakan karya terbaiknya. Karya ini berupa serangkaian lukisan berwarna yang dicetak dari ukiran kayu berjudul “Thirty-Six Views of Mt. Fuji (Tiga Puluh Enam Pemandangan Gunung Fuji)”. 

Di antara lukisan-lukisan itu, ada sebuah maha karyanya yaitu, “The Great Wave off Kanagawa (Ombak Kanagawa yang Dahsyat)”. Lukisan yang diciptakan dalam masa krisis finansial dan emosional di Hokusai ini menggambarkan ombak laut yang menjulang tinggi dengan buih-buih air pada ujungnya berbentuk seperti cakar yang akan menelan tiga perahu kecil yang penuh pendayung. 

Mazmur 107 juga menceritakan kisah tentang orang-orang yang mengalami masa sulit di tengah samudera. Terapung di atas ombak, “mereka naik sampai ke langit dan turun ke samudera raya.” Dan akibatnya, “jiwa mereka hancur karena celaka.” (ayat 26). Pada akhirnya, para pelaut ini mengirimkan sinyal minta tolong pada Tuhan, dan Dia menanggapinya dengan menenangkan samudera dan membimbing mereka sampai ke tujuannya (ayat 28-30).

Ketika menghadapi situasi yang membuat putus asa, kita cenderung datang pada orang lain untuk meminta bimbingan dan penghiburan. Namun mereka juga berada di perahu yang sama–tersesat dalam pasang-surutnya samudera kehidupan. Hanya Tuhan yang berada di luar perahu dan Dia berkuasa, stabil, dan cukup kuat untuk menenangkan badai (ayat 24-25, 29). 

Apakah Anda menghadapi masalah? Carilah Dia. (Ditulis dari sumber renungan harian). 

Be Your Best

Standard

Jonas Salk, pengembang vaksin polio Salk, mempunyai banyak pengkritik walaupun ia sudah memberikan sumbangan yang luar biasa pada dunia kedokteran. Mengenai kritik ia mengamati,

“Pertama orang akan mengatakan kepada Anda bahwa Anda salah. Kemudian, mereka akan mengatakan kepada Anda bahwa Anda benar, tetapi apa yang Anda kerjakan sebenarnya tidak penting. Akhirnya, mereka akan mengakui bahwa Anda benar dan bahwa apa yang Anda kerjakan sangat penting; tetapi bagaimana pun juga, mereka sudah mengetahuinya selama ini.”

Untuk menjadi orang terbaik sebisa Anda–Anda perlu menjadi diri Anda sendiri. Itu tidak berarti bahwa Anda tidak bersedia bertumbuh dan berubah. Itu hanya berarti bahwa Anda berusaha menjadi yang terbaik sebisa Anda. (Ditulis dari berbagai sumber).