Ringkasan Khotbah (28/5-2017)

Standard

Ayat Bacaan: Daniel 11:32

Dari ayat bacaan di atas, kita akan menjumpai di kehidupan ini ada dua macam kelompok orang percaya. Pertama, yang mudah dibujuk (dan pada akhirnya menjadi) murtad dengan berbagai kata-kata hasutan yang licin, karena kurang memiliki pengenalan akan Tuhan. Kedua, yang tidak mudah dibujuk, tidak mudah murtad / meninggalkan-Nya, tidak mau menukar kemuliaan-Nya demi alasan apapun, malah hidupnya berjalan semakin kuat karena memiliki pengenalan yang dalam dan benar akan Tuhan. 

Lalu mengapa Yudas pada akhirnya mengkhianati Yesus, walau tiga tahun telah mengikuti dan menjadi murid-Nya? Bukankah Yudas telah mendengar setiap perkataan dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, setiap perbuatan yang telah dilakukan-Nya selama di dunia ini? Jawabnya karena Yudas tidak pernah mengenal Yesus secara pribadi di dalam hidupnya. Yudas memang telah mendengar dan melihat perkataan dan perbuatan yang dilakukan Yesus, tetapi Yudas tidak memiliki Yesus di dalam hidupnya. 

Kekuatan rohani dan iman kita hanya berjarak sejauh pengenalan pribadi kita akan diri-Nya. Ada aspek kognitif / pengetahuan (gnosis): Kita hanya sekadar tahu tentang apa yang telah dilakukan Tuhan dari pembacaan firman-Nya di dalam Alkitab. Tetapi kita juga harus belajar untuk melangkah masuk lebih dalam ke aspek pengenalan: Kita memiliki pengalaman pribadi berjalan bersama dengan diri-Nya. Kita mengenal siapa diri-Nya karena kita mengalami Tuhan sendiri di dalam hidup kita. 

Bagaimana kita dapat mengenal pribadi Tuhan dengan lebih dalam? 

Pertama, kita mengenal secara pribadi bagaimana kodrat / sifat dasarnya Tuhan, yakni Mahahadir, Mahakuasa, dan Mahatahu. Contoh: Yusuf ketika dijebak oleh istri Potifar (Kejadian 39). Diceritakan bahwa Yusuf menolak rayuan dari istri Potifar karena Yusuf tahu bahwa Allah yang dia sembah adalah Allah yang Mahahadir. Walau tidak ada orang yang melihat dan mengetahuinya, tetapi Dia tetap Allah yang Mahatahu. Kita pun juga harus menjaga hidup kita dengan benar, sebab walau tidak ada seorangpun yang melihat perbuatan kita, (masih) ada Tuhan yang terus melihat dan menyertai kehidupan kita. 

Contoh lainnya adalah kehidupan Sadrakh, Mesakh dan Abednego ketika menjawab raja Nebukadnezar di depan perapian yang dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasanya. Daniel 3:17-18 bukan menunjukkan ketidakmampuan Allah dalam menyelamatkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Tetapi menunjukkan bahwa Allah yang mereka sembah adalah Allah yang sanggup untuk menyertai dan membuat “…tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.” (ayat 27). 

Kedua, kita mengenal secara pribadi bagaimana karakter Allah dalam hidup kita. Allah kita adalah Allah yang setia, penyayang, cemburuan (jangan pernah menomorduakan Tuhan), dsb. Ketiga, mengenal rencana Tuhan bagi hidup kita. Di dalam Yeremia 29:11 dikatakan bahwa sesungguhnya Tuhan tidak pernah iseng dalam menciptakan hidup kita. Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi dalam hidup kita, tanpa seijin Tuhan (Lukas 12:6-7).

Bagaimana caranya kita bertumbuh?

Pertama, membaca firman Tuhan di dalam Alkitab setiap hari. Selalu ada yang baru pada saat kita membacanya. Pengetahuan dan pewahyuan kita tentang firman-Nya juga terus bertumbuh setiap hari. Jangan hanya mengandalkan mendengar firman Tuhan saat di Ibadah Raya saja. Kedua, melatih diri kita untuk belajar berdialog dengan Tuhan. Kita mau belajar untuk bertanya, mendengar, dan menaati suara Tuhan. Dia dapat berbicara dalam hidup kita melalui banyak hal: Melalui Saat Teduh (berdoa dan membaca firman-Nya setiap hari), ada peneguhan di dalam hati, situasi dan kondisi orang-orang di sekitar yang berbicara dalam hidup kita, dan banyak hal lainnya. 

Ketiga, mengutamakan Tuhan dalam setiap aspek hidup. Kita belajar untuk menyenangkan hati-Nya, melalui perkataan dan perbuatan di hidup kita. Keempat, jangan menduakan Tuhan. Dia adalah Allah yang cemburu (Keluaran 20:5-6; Yakobus 4:5). Kelima, belajar untuk mengucap syukur di dalam segala hal kepada Tuhan (1 Tesalonika 5:18). Sebab ketika kita belajar mengucap syukur, hal itu akan menjadi salah satu sumber kekuatan dalam hidup kita. 

Mengucap syukur atas setiap penyertaan-Nya di dalam hidup kita. Mengucap syukur bahwa selalu ada rencana Tuhan yang terbaik bagi hidup anak-anakNya, di setiap peristiwa yang diijinkan-Nya terjadi di dalam hidup.. (Dikhotbahkan oleh Pdt. Lukito Budhihardjo, di Gereja MDC Ibadah ke-2 Pk.10.00). 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s