Monthly Archives: September 2017

Ringkasan Khotbah: Rencana Besar Allah untuk Manusia

Standard

Ayat Bacaan: Efesus 2:1; Yeremia 29:11-13

Kapanpun kita mencari Tuhan, kita dapat menemukan-Nya. Yang menjadi masalah, kenapa terkadang hidup kita tidak mengalami damai sejahtera? Hal itu dikarenakan ada dosa, jiwa terluka, kepahitan, respon, dan reaksi buruk terhadap kehidupan sehingga membuat rencana Allah menjadi terhambat, bahkan gagal untuk terjadi dalam hidup kita. 

Kenapa jiwa dapat terluka? Kebutuhan dasar manusia tidak terpenuhi: pengakuan, penghargaan, dihormati, perhatian, pujian, komunikasi, perlakuan lembut, perlakuan tegas, rasa aman, dll. Kenapa kita tidak menemukannya? Kita salah dalam mencari sumbernya, semakin mencari semakin kecewa, Allah Bapa dalam Kristus Yesus adalah supplier utama kebutuhan jiwa kita. Hanya Tuhan Yesus yang dapat mengisi tabung emosi jiwa kita yang kosong, bukan isi dunia ini. 

Seringkali luka batin diremehkan, karena luka ini tidak terlihat dari luar, sehingga bisa disembunyikan. Apa yang ada di dalam hidup kita akan mempengaruhi bagaimana reaksi dan perbuatan kita (Amsal 14:13). Luka batin muncul ketika bagian yang terluka itu terusik. 

Luka batin seseorang tidak mudah dipahami orang lain (Amsal 14:10). Orang lain hanya memberikan dengan mudah stempel mengenai hidup kita. Luka batin terlalu menyakitkan untuk diakui dan dihadapi, dianggap sama dengan kelemahan yang harus ditutupi. Allah menginginkan kita “sehat” (Amsal 17:22a). Ketika kita “sehat”, yang keluar adalah perkara-perkara sehat. Kalau kita “sakit”, yang keluar adalah perkara-perkara sakit. 

Penyebab luka batin

Perkataan – sikap – perbuatan (Amsal 15:4). Hati-hati dengan perkataan, karena hal itu dapat mendatangkan berkat atau mendatangkan kutuk, dapat menyakiti perasaan orang lain. Ketika perkataan buruk merobek jiwa, itu dapat mempengaruhi kehidupan kita. 

Sikap / sudut pandang / paradigma yang keliru. Kejadian 37. Muncul: iri hati, benci, jengkel, dendam, rasa bersalah, benci-lebih benci-makin benci. Perjalanan yang awalnya Allah rencanakan baik, jadi tidak mulus karena adanya luka batin. 

Penyebab luka batin lainnya: situasi / kondisi – penderitaan (Amsal 27:9). Kalau pemimpin sakit, maka orang-orang yang dipimpinnya akan ikut sakit juga. Masuklah dalam proses, percayalah bahwa melalui proses tersebut Tuhan dapat menyembuhkan dan memulihkan hidup kita. Luka batin lainnya karena adanya penolakan, trauma, kematian. Perkataan yang keluar dari mulutnya adalah perkataan yang menyakitkan. Kita mungkin tidak sadar dengan luka di dalam, tetapi respon hidup kita tidak dapat menipu. 

Ada perceraian, pemerkosaan, dikecewakan, disiplin yang negatif, KDRT, tuntutan yang tidak masuk akal, ketidakadilan, bullying. Disiplin negatif akan mempengaruhi kehidupan anak-anak kita. 

Akibat luka batin: menghancurkan kehidupan (Mazmur 31:10-11). 

Ketika kita belum beres dengan satu perkara, maka Tuhan akan mengijinkan perkara-perkara lainnya yang sama untuk memproses hidup kita. Ketika kita sudah beres dan sembuh, kita tidak perlu khawatir terhadap hidup kita. Dia yang akan mengangkat dan membawa hidup kita dari kemuliaan menuju kemuliaan. 

Menghancurkan kehidupan: Rasa tidak aman (curiga, takut), kemarahan (Efesus 4:26), pencemaran rohani karena ada luka di jiwa (Ibrani 12:15), keterikatan terhadap dosa, cepat atau lambat kita dapat melukai batin orang lain, sakit penyakit, timbul kejahatan. 

Apakah bisa dipulihkan? Mazmur 10:14. Tidak ada cara lain selain bertemu Tuhan, karena hanya Dia satu-satunya yang dapat mengobati dan memulihkan jiwa kita yang luka. Jangan biarkan ada celah, karena ketika kita disakiti, terang Kristus tidak dapat terpancar melalui hidup kita. 

4 langkah praktis menuju pemulihan:
1. Mengakui permasalahan (Amsal 28:13). 

2. Ambil tanggung jawab. Luka batin kita hanya dapat dipulihkan Tuhan, bukan orang lain (Roma 12:2). Budi itu moral, akhlak. Dapat diubah ketika jiwa kita sehat dan sembuh. 

3. Kembali bersama Yesus. Terima pengampunan untuk diri sendiri. Minta bantuan Roh Kudus untuk menunjukkan akar dari permasalahan dan bagaimana harus berdoa. 

4. Lepaskan pengampunan (Matius 18:21-35). Mengampuni dengan segenap hati, bukan dengan kasih manusia tapi dengan kasih Allah. 

Ketika hidup kita menyimpan luka dan belum sembuh, maka hidup kita tidak dapat menghasilkan buah, tetapi menghasilkan nanah. Biarkan Tuhan menyembuhkan luka di dalam hidup kita. 

Ditulis dari khotbah Maam Dhani di retreat DK / HB MDC Surabaya..

Advertisements

Ringkasan Khotbah: Can Demons Possess a Christian

Standard

Sebuah kemenangan dapat terjadi bila kita mengetahui siapa dan bagaimana kekuatan lawan kita. Bukan untuk takut dan takluk kepadanya, tetapi untuk mengatasi dan mengalahkannya. Possess: dikuasai. 

Ayat Bacaan: Kolose 1:13; 1 Tesalonika 5:23; Filemon 1:9-13. 

Rencana setan: Membutakan orang-orang untuk mengenal Kristus dengan benar, orang-orang ditipu dan dibohongi bahwa hidup mereka tak berguna. Titik pertama kehidupan rohani kita bermula dari lahir baru, lalu kita harus terus bertumbuh sesuai dengan kehendak-Nya. Dari anak-anak rohani, bertumbuh terus menjadi dewasa, dan menjadi bapa-bapa rohani. 

Apakah orang Kristen dapat kerasukan? Contoh: Matius 16:21-23 (Petrus); Yohanes 13:2 & 27 (Yudas); Kisah 5:1-16 (Ananias & Safira)

Kerasukan: Di bawah pengaruh, punya ikatan. Selain lahir baru, kita juga membutuhkan pembaharuan pikiran (renewing our mind, Roma 12:2). What do you see, what do you think, what do you hear, what do you do, what do you say. 

2 Korintus 10:5 : Selaraskan dan tundukkan pikiran kita pada kehendak Kristus. Butuh pembaharuan budi dan jiwa secara terus menerus. Kita membutuhkan kuasa Tuhan untuk meruntuhkan “benteng pikiran” dalam hidup kita. 

Oppression: secara umum adalah serangan pada pikiran, pikiran yang dipengaruhi. Hiduplah berdisiplin dalam membaca kebenaran firman Tuhan. Seperti sebuah tekanan mental dan beban berat yang kita ngga tahu apa penyebabnya. 

Possession: dikendalikan oleh roh-roh jahat. Ada panah dari si jahat yang terus menerus dipanahkan. Kita harus memilih: Tunduk pada kebenaran firman Tuhan atau kita mengikuti pikiran dari si jahat. 

Markus 5:3-5: Tujuan utama setan: menghancurkan. Tujuan Anak Allah: memerdekakan. Kalau kita mendengar suara untuk mengakhiri hidup, itu pasti bukan kehendak Allah tapi suara setan. 

Kisah 19:18-19; Lukas 9:42

Heal: To free from errors (stronghold & sins / legal ground)

Legal ground: Sering pergi ke tempat alternatif, orang pintar, merupakan pintu masuk roh jahat untuk menghancurkan hidup kita. Butuh dilepaskan. 

Kisah 8:9-25

Legal Ground:
1. Dosa (Kejadian 4:7). Kalau tahu ada larangannya, jangan dilanggar. Nafsu yang baik itu dari Tuhan, tetapi harus ditaruh di tempat yang tepat, yakni pernikahan. Hidup harus disiplin dengan firman, kuduskan pikiran kita, segera bereskan hal-hal yang menyakiti hati Tuhan. 
2. Trauma: an emotional wound or shock that causes substansial, sometimes lasting damage to psychological development. Setan bisa memakai trauma kita di masa lalu, untuk menghalangi hidup kita berjalan bersama dengan Tuhan. 
3. Latar belakang keluarga yang berhubungan dengan okultimisme / agama palsu (Keluaran 20:3-5). Praktik Okultimisme: Ulangan 18:10-12. Setan mengetahui masa lalu kita dengan tepat, kita juga jangan menyerahkan masa depan kita padanya dengan mempercayai ramalan-ramalan. Hati-hati dengan familiar spirit, roh jahat yang dapat meniru keluarga yang kita kenal. 
4. Kekerasan. Anak yang lahir dari keluarga pemabuk / pecandu. Kalau ada kepahitan dengan orangtua, kita harus mengampuni mereka supaya tidak menjadi seperti mereka. Mendapat kekerasan fisik berlebihan. Pelecehan seksual dapat menjadi legal ground, yang dapat menjadi pintu masuk roh jahat. 

Apakah identitas kita? Kita yang percaya pada Tuhan Yesus adalah anak-anak Allah. Roh yang di dalam diri kita jauh lebih besar dari dunia. 

Langkah praktis: Nyatakan secara pribadi dengan ucapan kita tentang iman kita pada Kristus, kita adalah milik-Nya, bukan milik Iblis. Rendahkan diri kita dan mengakui setiap dosa yang kita ingat. Bertobat dan ampuni. Putuskan dan sangkali dengan ikatan kuasa setan apapun. Dilepaskan dari semua kutuk dan mulai usir keluar setan-setan tersebut. Ada kalanya kepahitan tidak hanya sekadar forgive dan forget, tetapi ada yang harus dibereskan dengan pelepasan dan pengampunan. Kadang luka itu begitu dalam, tetapi Tuhan sanggup memulihkan..

Ditulis dari khotbah Kak Lidya CSES, di retreat DK / HB MDC Surabaya

Ringkasan Seminar Parenting

Standard

Orangtua perlu belajar untuk dapat berkata-kata dengan tepat dan sanggup membangun relasi dengan anak-anak. Kata-kata yang disampaikan boleh saja sama, tetapi bila disampaikan dengan nada hangat dan suasana menerima, anak-anak akan bertumbuh menjadi pribadi hangat dan bersemangat. Relasi bukan hanya sekadar kehadiran bersama, tetapi hati dan pikiran juga harus bersama. Membahas sesuatu secara bersama, tidak hanya membahas sesuatu melalui gadget. 

Generasi Alpha adalah generasi yang dihidupi anak-anak kita kelak. Mereka memiliki gerak yang semakin berkurang dan semakin lengket dengan teknologi. Mereka cenderung lebih asyik membahas sesuatu melalui gadget, daripada secara bertemu (face to face). Adanya Nomophobia: Takut bila Mobile Phone-nya jauh dari pemiliknya. 

Generasi yang dihidupi anak-anak kita adalah SWAG generation: Lebih mementingkan ketenaran daripada hidup dengan kebenaran. Kita harus meng-connect-kan anak-anak kita dengan Tuhan dan nilai-nilai kebenaran, serta hidup kita juga harus menjadi teladan bagi anak-anak kita. 

Relasi dalam keluarga berpotensi menjadi intim jika mempunyai kadar ketertarikan dan diberi pupuk interaksi yang cukup. Relasi adalah kodrat manusiawi. Setiap anak memiliki sifat khas / uniknya sendiri-sendiri. Kita tertarik melihat anak-anak karena kita menyadari bahwa Allah menciptakan anak-anak sungguh amat baik dan mereka diciptakan untuk menyelesaikan sebuah karya dalam hidupnya. Interaksi yang cukup: Dengarkan anak-anak lebih banyak daripada kita yang sering berbicara. Hal ini akan menolong kita untuk berinteraksi dengan anak-anak kita. 

Setiap anak unik, nomer satu adalah peran dari orangtua, bukan dari sekolah / lingkungannya. Anak-anak butuh diterima, ditumbuhkan, dan dibentuk pribadi karakternya oleh orangtua sehingga pada akhirnya mereka memiliki karakter Kristus. Masa kritis kecerdasan anak sejak berada di dalam kandungan sampai berusia dua tahun. Masa kritis pembentukan kehidupan kepribadian seseorang mulai dari nol sampai dua belas tahun. 

Gizi utama karakter yang baik: Cinta kasih tanpa syarat (1 Korintus 13:1-3), Perhatian, Komunikasi. 

Hati-hati ketika menyampaikan kasih sayang kita. Sekalipun mereka berbuat nakal, kita tetap mengasihi mereka tanpa syarat. Perhatian pada mereka, walau kita tidak melihat secara langsung, tetapi kita tahu ada apa dengan anak-anak kita. Kita melihat dari mengapa sikapnya sedih, bagaimana tatapan matanya, kita bisa mengenal ada sesuatu yang terjadi dengan anak-anak kita. 

Anak seperti tangki: Perlu diisi dengan cinta kasih tanpa syarat. Jika isinya penuh, karakter / kepribadian dan prestasinya menjadi semakin baik. Jika isinya kosong, kepribadiannya menjadi bermasalah, mudah marah, cemas, hilang kreativitas, memberontak, nakal yang negatif, pemalu, depresi, dll. 

Jangan sampai anak-anak kita menulis mengenai kita: Orangtua hanya mampu memberikan materi, tetapi tidak pernah benar-benar hadir dalam hidup kita. 

Isi tabungan emosi: Mendengarkan, memahami keunikannya, dan menerima. Bila anak-anak meminta waktu kebersamaan dengan kita, hal itu bukan berarti karena mereka cengeng, tetapi karena mereka membutuhkan kebersamaan orangtua dalam hidup mereka. Empati: Menerima pergumulan dan cara berpikir juga model temannya. Mencoba memahami apa yang dia alami dan rasakan dengan “berdiri di atas sepatunya” dia. Memahami bahwa apa yang dia alami tidak dapat dipaksakan harus sesuai dengan apa yang pernah kita alami di masa lalu. 

Support: sesuai kebutuhannya dan tidak Kepo. Menyediakan waktu: Proaktif dan Inisiatif, harus dimulai dari orangtua. Bila kita tidak pernah memulainya, maka kita tidak akan pernah memilikinya. Memberikan pujian dengan kata-kata penguat dalam hidupnya. 

Tipe bahasa Kasih:
A: Kata-kata Pujian 

B: Waktu, Kualitas Kebersamaan

C: Hadiah, Pemberian

D: Melayani

E: Sentuhan

Lima Bahasa Cinta:
1. Waktu yang berkualitas: perlu adanya kuantitas yang cukup dan kedekatan emosi antara orangtua dengan anak. 

2. Kata-kata positif (pujian) dan dukungan, pujilah anak dengan tulus dan spesifik. 

3. Sentuhan fisik, seperti pelukan sayang, ciuman, belaian. 

4. Pelayanan: Membantu anak-anak untuk melakukan sesuatu dalam batas-batas wajar, misal: Membantu mengerjakan tugas, membuatkan minuman. 

5. Pemberian hadiah: Memberikan benda-benda kecil dan sederhana, namun diberikan dengan tulus. 

Virus Cinta yang Merusak:
Egois, memaksakan keinginan sendiri

Kritikan

Semburan kemarahan

Ketidakjujuran

Kebiasaan-kebiasaan menjengkelkan

Tidak peduli perasaan dan kesukaan anak

Ketika orangtua bersikap interogasi plus hanya sekadar memberi informasi, akan membawa anak-anak pada kehancuran. Komunikasi dalam Alkitab: Yakobus 1:19-20. Ketrampilan menangkap berita: Ada kasih, memahami bahwa pribadi anak-anak kita itu penting dan berita yang mereka sampaikan berharga. 

Anak-anak adalah cermin, bukan sumber. Mereka memancarkan apa yang telah mereka terima. Berilah cinta kasih, bukan amarah dan pukulan. Kembangkan kekuatan anak daripada sibuk memperbaiki kelemahannya. Sadarilah anak-anak adalah anugerah, kita harus mendidik mereka memiliki karakter yang baik. 

“Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!” (Mazmur 144:12). 

Ditulis dari sharing Ibu Lanny Herawati di Seminar Parenting di SD MDC Surabaya.. (Email: Lanny_herawati@ymail.com)

Ringkasan Khotbah: Iman yang Sejati

Standard

Ayat Bacaan: Roma 1:17b; Ibrani 11:6a

Definisi Iman: Ibrani 11:1. Iman adalah dasar tentang jaminan, keyakinan, dan kepastian. Iman tidak berkaitan langsung dengan berkat dan mukjizat, tetapi dasar kepercayaan kita harus kepada Pribadi yang telah berjanji dan yang tidak pernah tidak menepati janji-Nya. Iman berkaitan langsung pada Pembuat mukjizat itu sendiri. Orang benar akan hidup oleh iman, karena tanpa iman tidak mungkin seseorang berkenan pada Allah. 

2 Korintus 5:7 : Falsafah anak-anak Tuhan berjalan karena percaya, bukan karena melihat. Iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus (Roma 10:17). Membaca firman tidak hanya sebatas Logos (membaca firman hanya secara tertulis), tetapi bertumbuh menjadi Rhema (firman tersebut menghidupi kehidupan setiap kita). 

Iman bukan sekadar perasaan, bukan datang tiba-tiba, iman datang karena ada sebab-akibat. Bila kita tidak mengerti dan mengenal pada siapa kita beriman, maka iman kita hanya sebatas perasaan belaka, iman yang asal-asalan. Milikilah iman pada Tuhan dengan benar, mengenal Dia secara karib, maka iman kita menjadi iman yang benar. Iman kita dimampukan Tuhan untuk memiliki kuasa dan menghasilkan mukjizat dalam hidup. Memiliki iman dengan benar, maka perbuatan kita akan menjadi benar.

Sering kita melihat iman dipakai untuk merekayasa, memaksa Tuhan agar keinginan daging kita digenapi. Jangan pernah lupakan bahwa pembuat mukjizat itu adalah kedaulatan Tuhan sendiri, bukan karena keinginan kita pribadi. Adalah kehendak Tuhan sendiri apakah Dia mau menyembuhkan saat itu, atau menyembuhkan di lain waktu. Tugas kita hanyalah sebagai saluran berkat dan alat untuk memohonkan mukjizat pada Tuhan. 

Ulangan 5:11 : Jangan sembarangan menyebut nama Tuhan untuk memaksa melakukan keinginan daging kita. Semua ada di dalam tangan Tuhan sendiri: Kapan Dia mau melakukan, bagaimana cara Dia membuat mukjizat.. Yang penting kita memiliki iman yang benar pada Tuhan, kita memohonkan mukjizat Tuhan dengan benar sambil berserah pada Tuhan yang berdaulat atas hidup kita. 

Kejadian 6:9 : Iman berkaitan dengan ketaatan, tidak ada kompromi. Kalau kita masuk ke dalam proses iman, kita membutuhkan ketaatan. Ayat 22: Nuh taat melakukan semuanya, tepat seperti yang telah diperintahkan Allah kepadanya. Inilah iman: Allah yang benar, memerintahkan yang benar, kita taat melakukannya dengan benar dan tepat. Iman kita benar, perbuatan kita benar. Iman kita tidak benar, maka perbuatan kita pun tidak benar dan asal-asalan. Kapan mukjizat terjadi, itu adalah hakNya Tuhan sendiri. 

Yohanes 15:7 : Iman berkaitan dengan kebenaran. Sering kita hanya membaca di bagian ayat “..mintalah apa saja dan kamu akan menerimanya..” tetapi kita tidak boleh lupa untuk tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya tinggal di dalam kita. Firman Tuhan terpatri dan menjadi satu di dalam hidup kita. Kebenaran tinggal di dalam hati kita, sehingga ketika kita meminta sesuatu, kita tahu apa yang kita minta itu adalah kebenaran dan selaras dengan kehendak Tuhan. 

Bukan sekadar “iman sebesar biji sesawi”, tetapi apakah kita memiliki iman yang benar dan kita tahu kepada siapa kita beriman? Apakah iman kita hanya sekadar perasaan saja? Apakah permintaan kita sesuai dengan kehendak Tuhan? Apakah permintaan kita hanya sekadar menuruti keinginan daging kita sendiri? Apakah permintaan kita memuliakan nama-Nya, atau hanya memuliakan diri kita sendiri? Apakah kita mengenal dengan karib kepada siapa kita beriman? Ketika kita mengenal pribadi Yesus dengan benar, maka kita tidak akan melakukan dan meminta sesuatu yang mengecewakan hati-Nya. 

Ditulis dari khotbah Ps. Bambang Susanto, di PD. LOV Surabaya, Tgl. 22 September 2017..

Ringkasan Khotbah: Life Transformation

Standard

Karunia terbesar yang kita miliki adalah karunia kehidupan -Mike Ditka

Pemberian terbesar dalam hidup ini adalah kehidupan. Bila kita tidak dapat menghargai pemberian yang sudah Tuhan berikan, maka sampai kapanpun kita tidak akan dapat berbahagia. Cara kita menghargai setiap pemberian Tuhan menentukan bagaimana kita memandang hidup dan menjadi berbahagia atas setiap pemberian dari-Nya. 

Yohanes 10:10 : Tuhan memiliki tujuan dalam memberi kehidupan. Supaya kita dapat diperkaya banyak hal, memiliki hidup yang dipuaskan dengan berkat dan kasih-Nya. 

Bagaimana kita dapat menjadi berkat bagi orang lain, bila kita sendiri tidak pernah puas dan tidak menghargai diri kita sendiri? Kita memiliki tanggung jawab untuk menyikapi dengan bijak terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam hidup. Kehidupan seperti taman Eden harus dijaga, dipelihara, dikembangkan. Menjaga hidup dengan cara menyelaraskannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita harus bijaksana menjaganya agar tidak ada “rubah atau hewan lainnya” yang merusak hidup kita. 

Kisah 13:36 : Daud melakukan kehendak Tuhan pada zamannya, lalu ia mangkat. Dari ayat di atas kita belajar perihal ukuran sukses: Selesai melakukan seluruh kehendak Tuhan yang sudah dipercayakan dalam hidup. Bagi dunia, Tuhan Yesus gagal karena Dia hanya memiliki waktu melayani selama 3 tahun saja. Tetapi bagi Allah, Tuhan Yesus sukses melakukan tugas yang sudah dipercayakan pada-Nya. 

Jaga hati kita dengan benar. Jangan biarkan kekecewaan, tingkah laku orang lain yang menyakitkan.. mengacaukan kehidupan kita. Belajarlah mengampuni bersama dengan kekuatan Tuhan yang memampukan. Dan, jangan berhenti hanya di tahap “mengampuni” saja, tetapi kita belajar untuk melanjutkannya dengan: Melakukan kehendak Tuhan dan menyenangkan hati-Nya. Memiliki hidup yang berbuah bagi banyak orang, memiliki sukacita dalam hidup, dan pada akhirnya luka itu akan sembuh dengan sendirinya, dengan berjalannya waktu. 

Contoh: Yusuf. Walau sering disakiti dan dikecewakan, dia mau untuk mengampuni dan menyelesaikan tugas yang telah dipercayakan dalam hidupnya. Bila Yusuf terus mengeluh dan tidak melakukan apa yang sudah Tuhan percayakan dalam hidupnya, maka bisa jadi Yusuf akan tetap terus berada di dalam penjara dan dia tidak akan pernah menggenapi mimpi yang telah dipercayakan dalam hidupnya yakni dengan menjadi penguasa muda di Mesir. 

You have continue your life..

Bagaimana melakukan hehendak Tuhan?

1. 2 Korintus 5:17 : Lahir baru. Hubungan yang telah putus dengan Tuhan harus kembali dilanjutkan dan diperbaharui. Lahir baru adalah dasar awal dari kehidupan kita berjalan bersama dengan Tuhan. Lahir baru dan pertobatan melalui iman Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan. 

2. Mazmur 51:8 : Batin kita dipenuhi dengan kebenaran. Cukuplah rendah hati dan membuka hidup kita untuk menerima kebenaran firman Tuhan. Tugas kita mengisi hidup dengan membaca, merenungkan, dan melakukan kebenaran firman-Nya. Tugasnya Tuhan adalah mengingatkan firman-Nya dan menuntun kehidupan kita. Buka hati kita lebar-lebar terhadap Tuhan, percayalah bahwa Dia masih sanggup memberi yang terbaik bagi hidup kita. 

3. Roma 12:2 : Perubahan pola pikir dan karakter. Orang Kristen adalah orang yang dapat berubah dan dirubah untuk menjadi lebih baik. Hidup tidak hanya sekadar menerima Tuhan Yesus dalam hidup kita dan menjalani pelayanan, tetapi hidup kita harus berubah menjadi lebih baik. 

4. Yakobus 1:25 : Perilaku yang benar. Kita harus fokus terhadap hidup ini. Bertekun dan disiplin dalam melakukan kebenaran firman Tuhan, menunjukkan adanya perubahan perilaku dalam hidup ini. 

Marilah kita memiliki tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan sehingga rupa Kristus menjadi semakin nyata dalam hidup kita. Watchman Nee mengatakan, “Tidak mungkin kita mengenal kehendak Kristus, bila karakter dan pribadi Kristus tidak semakin nyata dalam hidup kita.”

Amsal 28:5 : Carilah Tuhan, bertumbuhlah di dalam-Nya, embrace His truth, sehingga karakter Kristus semakin bertambah-tambah dalam kehidupan ini. Dia akan menuntun kita dari dalam hidup kita. Semakin bertambah karakter Kristus, semakin kita mengenal kehendak-Nya dalam hidup kita. 

Tuhan akan menyelesaikan rencana-Nya melalui gereja-Nya. Bila kita ingin menyelaraskan hidup kita dengan Tuhan, maka kita juga harus memiliki perspektif yang benar terhadap gereja Tuhan. Diselamatkan, bertumbuh dan melayani dalam komunitas orang-orang percaya. Menemukan fungsi kita di dalam tubuh Kristus dan mengembangkan talenta yang sudah dipercayakan-Nya dalam hidup ini. 

Setiap kita dapat dipakai Tuhan. Setiap kita memiliki potensi dan memiliki peranan yang tidak dapat digantikan orang lain, di dalam Tubuh Kristus. Carilah tempat kita di dalam Tubuh Kristus. Bertumbuhlah di dalam Tuhan, melayani dan menjadi berkat bagi sesama, serta tidak menjadi seorang Kristen yang egois dan “one man show”. Adanya Contact: Supaya kita dapat saling menjaga dan mempertanggung jawabkan hidup kita dengan menjadi berkat bagi sesama. Menjadi saksi Kristus melalui hidup kita yang dapat menjadi teladan dan terang Kristus tidak sama dengan bersaksi tentang Kristus. Orang lain dapat melihat kehidupan yang diubahkan dan memuliakan nama Tuhan..

(Ditulis dari khotbah Pdt. Andreas Rahardjo di Ibadah 1 di MDC Surabaya..)

Ringkasan Khotbah: The Story of Hossana

Standard

Ayat Bacaan: Yesaya 2:1-5

Kata “gunung TUHAN” di ayat di atas berbicara tentang datangnya keselamatan, ada pertemuan antara yang Ilahi dengan manusia. Di ayat tersebut dijelaskan bahwa Tuhan bangkit menjadi Hakim dan Wasit. Ketika gunung TUHAN ditegakkan, maka akan terjadi tiga hal ini: Keselamatan, kebenaran / keadilan, rasa aman / damai. Untuk mengelola rasa damai di hati kita, akhir-akhir ini menjadi sulit. Tetapi Yesaya menubuatkan ketika gunung TUHAN ditegakkan (8 SM), maka ada damai di sana. 

Survey yang diadakan di anak-anak ketika Papa pulang ke rumah: Papa jangan marah-marah pada anak-anak. Anak-anak merindukan adanya suasana damai yang terjadi di dalam rumah. 

Markus 11:10 : Kata “Hosana” di sini berasal dari kata “Hosyi’ ah na” (Mazmur 118:25) yang memiliki tema: Nyanyian ratapan minta tolong. Tetapi ketika Yesus datang di tengah-tengah mereka, nyanyian mereka diubah menjadi nyanyian ucapan syukur. Tuhan memberikan arti yang baru dalam pujian manusia. Dari “ratapan minta tolong” diubah Tuhan menjadi “nyanyian ucapan syukur”, karena Tuhan Yesus sudah menyelamatkan hidup manusia dengan pengorbanan-Nya di atas kayu salib. 

Hanya di dalam Yesus, satu-satunya jalan keselamatan. Di atas kayu salib Dia sudah menyelesaikan tugas-Nya bagi kita: Mengalahkan kuasa maut dan Iblis, manusia hidup dalam damai dan rasa aman. Ketika Yesus naik ke sorga, sejarah dilanjutkan dengan pencurahan Roh Kudus (Kisah 1:8). Gereja dibangkitkan untuk menjadi saksi, yakni kumpulan orang percaya yang telah diselamatkan (Hosana) dan dipanggil untuk memberitakan keselamatan itu pada mereka yang belum diselamatkan, pada mereka yang berteriak meratap minta tolong (Hosyi’ ah na). 

Wahyu 7:9-10 : Puncak dari sejarah kehidupan manusia. Semua kaum, suku, dan bangsa akan memuji dan menyembah Tuhan, menyanyikan “Hosana” bagi Tuhan. Dan ketika mereka menyembah Tuhan di dalam kekekalan, rindukan ada di antara mereka yang menoleh ke arah kita, tersenyum, sembari berkata, “Terima kasih. Karena dirimu, saya dapat berdiri di sini dan menyanyikan Hosana bersama dengan kumpulan anak-anak Tuhan lainnya.”

Rindukan agar hidup kita dapat dipakai Tuhan untuk dapat menyampaikan kabar keselamatan bagi orang-orang di luar sana, menyampaikan kabar Hosana kepada orang-orang yang hidupnya meratapkan lagu permintaan tolong (Hosyi’ ah na). 

“Misi harus kembali ke rumahnya, yakni gereja Tuhan.” -Pdt. Andreas Rahardjo

Ditulis dari khotbah ko Betuel, di Ibadah 1 gereja MDC Surabaya, pada Tgl. 17 September 2017..