Ringkasan Seminar Parenting

Standard

Orangtua perlu belajar untuk dapat berkata-kata dengan tepat dan sanggup membangun relasi dengan anak-anak. Kata-kata yang disampaikan boleh saja sama, tetapi bila disampaikan dengan nada hangat dan suasana menerima, anak-anak akan bertumbuh menjadi pribadi hangat dan bersemangat. Relasi bukan hanya sekadar kehadiran bersama, tetapi hati dan pikiran juga harus bersama. Membahas sesuatu secara bersama, tidak hanya membahas sesuatu melalui gadget. 

Generasi Alpha adalah generasi yang dihidupi anak-anak kita kelak. Mereka memiliki gerak yang semakin berkurang dan semakin lengket dengan teknologi. Mereka cenderung lebih asyik membahas sesuatu melalui gadget, daripada secara bertemu (face to face). Adanya Nomophobia: Takut bila Mobile Phone-nya jauh dari pemiliknya. 

Generasi yang dihidupi anak-anak kita adalah SWAG generation: Lebih mementingkan ketenaran daripada hidup dengan kebenaran. Kita harus meng-connect-kan anak-anak kita dengan Tuhan dan nilai-nilai kebenaran, serta hidup kita juga harus menjadi teladan bagi anak-anak kita. 

Relasi dalam keluarga berpotensi menjadi intim jika mempunyai kadar ketertarikan dan diberi pupuk interaksi yang cukup. Relasi adalah kodrat manusiawi. Setiap anak memiliki sifat khas / uniknya sendiri-sendiri. Kita tertarik melihat anak-anak karena kita menyadari bahwa Allah menciptakan anak-anak sungguh amat baik dan mereka diciptakan untuk menyelesaikan sebuah karya dalam hidupnya. Interaksi yang cukup: Dengarkan anak-anak lebih banyak daripada kita yang sering berbicara. Hal ini akan menolong kita untuk berinteraksi dengan anak-anak kita. 

Setiap anak unik, nomer satu adalah peran dari orangtua, bukan dari sekolah / lingkungannya. Anak-anak butuh diterima, ditumbuhkan, dan dibentuk pribadi karakternya oleh orangtua sehingga pada akhirnya mereka memiliki karakter Kristus. Masa kritis kecerdasan anak sejak berada di dalam kandungan sampai berusia dua tahun. Masa kritis pembentukan kehidupan kepribadian seseorang mulai dari nol sampai dua belas tahun. 

Gizi utama karakter yang baik: Cinta kasih tanpa syarat (1 Korintus 13:1-3), Perhatian, Komunikasi. 

Hati-hati ketika menyampaikan kasih sayang kita. Sekalipun mereka berbuat nakal, kita tetap mengasihi mereka tanpa syarat. Perhatian pada mereka, walau kita tidak melihat secara langsung, tetapi kita tahu ada apa dengan anak-anak kita. Kita melihat dari mengapa sikapnya sedih, bagaimana tatapan matanya, kita bisa mengenal ada sesuatu yang terjadi dengan anak-anak kita. 

Anak seperti tangki: Perlu diisi dengan cinta kasih tanpa syarat. Jika isinya penuh, karakter / kepribadian dan prestasinya menjadi semakin baik. Jika isinya kosong, kepribadiannya menjadi bermasalah, mudah marah, cemas, hilang kreativitas, memberontak, nakal yang negatif, pemalu, depresi, dll. 

Jangan sampai anak-anak kita menulis mengenai kita: Orangtua hanya mampu memberikan materi, tetapi tidak pernah benar-benar hadir dalam hidup kita. 

Isi tabungan emosi: Mendengarkan, memahami keunikannya, dan menerima. Bila anak-anak meminta waktu kebersamaan dengan kita, hal itu bukan berarti karena mereka cengeng, tetapi karena mereka membutuhkan kebersamaan orangtua dalam hidup mereka. Empati: Menerima pergumulan dan cara berpikir juga model temannya. Mencoba memahami apa yang dia alami dan rasakan dengan “berdiri di atas sepatunya” dia. Memahami bahwa apa yang dia alami tidak dapat dipaksakan harus sesuai dengan apa yang pernah kita alami di masa lalu. 

Support: sesuai kebutuhannya dan tidak Kepo. Menyediakan waktu: Proaktif dan Inisiatif, harus dimulai dari orangtua. Bila kita tidak pernah memulainya, maka kita tidak akan pernah memilikinya. Memberikan pujian dengan kata-kata penguat dalam hidupnya. 

Tipe bahasa Kasih:
A: Kata-kata Pujian 

B: Waktu, Kualitas Kebersamaan

C: Hadiah, Pemberian

D: Melayani

E: Sentuhan

Lima Bahasa Cinta:
1. Waktu yang berkualitas: perlu adanya kuantitas yang cukup dan kedekatan emosi antara orangtua dengan anak. 

2. Kata-kata positif (pujian) dan dukungan, pujilah anak dengan tulus dan spesifik. 

3. Sentuhan fisik, seperti pelukan sayang, ciuman, belaian. 

4. Pelayanan: Membantu anak-anak untuk melakukan sesuatu dalam batas-batas wajar, misal: Membantu mengerjakan tugas, membuatkan minuman. 

5. Pemberian hadiah: Memberikan benda-benda kecil dan sederhana, namun diberikan dengan tulus. 

Virus Cinta yang Merusak:
Egois, memaksakan keinginan sendiri

Kritikan

Semburan kemarahan

Ketidakjujuran

Kebiasaan-kebiasaan menjengkelkan

Tidak peduli perasaan dan kesukaan anak

Ketika orangtua bersikap interogasi plus hanya sekadar memberi informasi, akan membawa anak-anak pada kehancuran. Komunikasi dalam Alkitab: Yakobus 1:19-20. Ketrampilan menangkap berita: Ada kasih, memahami bahwa pribadi anak-anak kita itu penting dan berita yang mereka sampaikan berharga. 

Anak-anak adalah cermin, bukan sumber. Mereka memancarkan apa yang telah mereka terima. Berilah cinta kasih, bukan amarah dan pukulan. Kembangkan kekuatan anak daripada sibuk memperbaiki kelemahannya. Sadarilah anak-anak adalah anugerah, kita harus mendidik mereka memiliki karakter yang baik. 

“Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!” (Mazmur 144:12). 

Ditulis dari sharing Ibu Lanny Herawati di Seminar Parenting di SD MDC Surabaya.. (Email: Lanny_herawati@ymail.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s