Monthly Archives: October 2017

Penyakit Terburu-buru

Standard

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya…” (Filipi 3:12). 

“Cepat!” 

“Kita terlambat!” 

“Kamu terlalu lambat!” 

Seberapa sering ungkapan tidak sabar tiba-tiba muncul dalam percakapan kita, menunjukkan kehidupan kita yang serba tergesa-gesa? Bila tidak berhati-hati, kita bisa menjadi orang yang selalu cepat-cepat, yang menuntut segala hal hadir segera dan menuntut hasil seketika. Para ahli stres menamai hal ini “penyakit terburu-buru”. 

Pada surat Filipi 3, Rasul Paulus mengatakan bahwa pertumbuhan yang berlangsung di sepanjang hidup mengingatkan kita bahwa proses kedewasaan Kristiani dapat didorong, tetapi tidak bisa dipercepat. Dalam buku “Overcomers Through the Cross”, Paul Billheimer berkata bahwa seperti halnya Allah membutuhkan waktu untuk membuat pohon ek, Dia pun juga memerlukan waktu untuk membentuk orang suci. Pendewasaan Kristiani adalah proses di sepanjang hayat. 

Billheimer menulis, “Sebuah apel mentah tidak enak dimakan, tetapi kita tidak selayaknya menyalahkannya. Apel itu tidak enak dimakan karena Allah belum selesai membuatnya. Itu adalah sebuah tahapan dari proses dan hal itu baik adanya.” 

Apakah Anda merasa tidak sabar dengan perkembangan rohani Anda? Ingatlah, Allah belum selesai dengan Anda—namun Dia juga tidak mengharapkan Anda tetap belum dewasa secara rohani sampai Dia memanggil Anda pulang. Pastikan bahwa tujuan hidup Anda adalah memahami Kristus dan menjadi seperti Dia. Kemudian secara perlahan tetapi pasti, di bawah langit biru dan melalui badai, Dia akan membimbing Anda menuju kematangan rohani. Ini adalah cara-Nya menyembuhkan dengan pasti “penyakit terburu-buru” Anda. 

Tidak ada jalan pintas untuk mencapai kematangan rohani. 

Disadur dari sumber Renungan Harian..

Advertisements

Ringkasan Khotbah: Right Purpose, Attitude, Living

Standard

Punyailah tujuan yang benar, sikap yang benar, maka hidup kita akan benar. 

Ayat Bacaan: Yakobus 1:1-12

Sifat dari pencobaan tidak mendatangkan kebahagiaan. Ayat 2 tidak akan pernah terjadi bila kita memiliki tujuan hidup yang salah, bila fokus hidup kita hanya berfokus pada diri kita sendiri. Bila tujuan hidup kita benar, maka kita akan belajar melihat datangnya pencobaan dalam hidup dari sisi yang berbeda, yakni menjadikan hidup kita menjadi serupa semakin Kristus. Sukses dalam hidup adalah bonus, tetapi tujuan hidup kita sebenarnya adalah membuat kehidupan Kristus menjadi semakin nyata dalam kita. 

Menjadi serupa dengan Kristus: Menjadi orang yang lebih baik dan benar di setiap harinya. Orang lain harus melihat ada perubahan yang nyata dan lebih benar di dalam hidup kita. Melakukan hal yang benar adalah hal penting, tetapi bila kita merasa benar sendiri, maka hal ini berbahaya karena kita dapat terjebak dalam kemunafikan. Yang menjadikan hidup kita benar hanyalah karena kasih karunia dan anugerah dari Tuhan saja yang telah membenarkan hidup kita, bukan karena kekuatan kita sendiri. 

Ayub diijinkan melalui proses untuk mengajar bahwa semua yang terjadi di dalam hidup Ayub hanyalah karena kasih karunia-Nya semata, bukan karena usaha kekuatan Ayub sendiri. Jangan berputus asa ketika menghadapi pencobaan, karena Tuhan masih belum selesai mengungkap rencana-Nya yang besar: Memunculkan Kristus dalam hidup kita. 

2 Korintus 4:8-10, 17-18: Apa yang dialami Paulus dianggap sebagai “penderitaan ringan”, karena ia tahu bahwa berbagai pencobaan tersebut akan memunculkan Kristus di dalam hidupnya. 

Menjadi seperti Yesus akan terwujud jika: 
1. Kita tidak memberontak ketika diproses dan disempurnakan (Yakobus 1:3-4, 12). Dosa membuat hidup kita liar, itulah sebabnya kita perlu tunduk pada proses Tuhan agar kita dapat dipakai bagi kemuliaan-Nya. Bertahan dan jangan mengomel ketika hidup kita diproses Tuhan. 

2. Kita bertumbuh dalam hikmat (Ayat 5-6). Mintalah hikmat Tuhan agar kita dapat memandang setiap pencobaan yang diijinkan-Nya terjadi sesuai dengan sudut pandang-Nya Tuhan. Amsal 28:5: Tuhan akan memberi hikmat dan memampukan hidup kita ketika kita mencari-Nya dengan sungguh-sungguh. 

3. Kita mawas diri dalam segala keadaan (ayat 9-11). Jangan melihat dan mengasihani diri kita sekarang, tetap sadarilah bahwa kita adalah anak-anakNya dan apa yang ada di dalam hidup kita hanyalah titipan Tuhan semata. 

Bersabarlah. Karena hidup kita masih belum selesai diproses Tuhan..

Ditulis dari khotbah Ps. Andreas Rahardjo di Ibadah MDC Surabaya.

Perbedaan itu Indah

Standard

“Satu objek yang sama disikapi secara berbeda tergantung dari tingkat pengetahuan yang menyikapinya.” 

Oleh anak balita secarik kertas dirobek-robek. Oleh pelajar kertas itu ditulis. Oleh pelukis ia melukis sesuatu di atasnya. Oleh pedagang kertas ia ditimbang dan dijual.

Begitulah dengan agama. Ada yang memperindahnya, ada yang merobeknya, dan ada juga yang menjualnya. Agama itu sebenarnya adalah pelita petunjuk jalan. Dengan pelita, seorang tahu mana lubang yang membahayakannya dan ia dapat menghindar darinya. Pelita hanya berguna bagi yang matanya tidak buta. Bagi mereka yang buta mata hatinya, agama tak berguna sedikitpun. Dengan memegang agama, ia tetap menabrak-nabrak hukum, ia tetap menginjak-injak kebijaksanaan, bahkan ia tetap merusak kehidupan.

Anda dapat meluas atau menyempit dengan ilmu pengetahuan. 

Tanda bahwa ilmu Anda luas jika perbedaan tidak membuat Anda sesak napas. Tanda bahwa ilmu Anda menyempit jika perbedaan membuat Anda gelagapan. Orang yang luas ilmu dan yang sempit ilmu dapat dilihat dari pernyataan dan sikapnya terhadap perbedaan paham dan keyakinan. Orang yang paling menderita adalah orang yang tak mampu melihat perbedaan. (Ditulis oleh Bung Helmi, pengasuh Pondok Pancasila). 

Perbedaan itu indah jika bingkainya adalah kedamaian

Lengan Allah yang Penuh Kasih 

Standard

Ayat Bacaan: Ulangan 33:26-29. 

Pada Tgl. 27 Agustus 1960, Kapten Angkatan Udara Amerika Serikat, Joseph Kittinger Jr. duduk di sebuah gondola (sejenis sampan di Venesia) yang tergantung pada sebuah balon yang melayang tinggi dari permukaan bumi. Tatkala balon itu mencapai ketinggian 31.333 meter di atas permukaan bumi (lebih dari 31 kilometer), Kittinger melompat ke bawah. Empat menit 36 detik kemudian parasut utamanya mengembang pada ketinggian 5.486 meter, setelah ia mencapai kecepatan 988 kilometer per jam! Dengan cermat, Kittinger merencanakan pendaratan yang menorehkan rekor. 

Kita sering mendapati bahwa dalam kehidupan ini penuh dengan “terjun bebas” yang tak diharapkan. Kehilangan orang yang dikasihi, hubungan yang hancur, kehilangan pekerjaan yang membuat kita merasa seperti terjatuh ke dalam sesuatu yang tak kita kenal. Namun melalui pembacaan ayat firman Tuhan di atas kembali mengingatkan kita bahwa selalu tersedia “parasut” rohani bagi orang-orang percaya, yakni lengan Allah yang penuh kasih. 

Ribuan tahun silam Musa menuliskan kata-kata ini kepada bangsa Israel tepat sebelum kematiannya, “Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal” (Ulangan 33:27). Perkataan “lengan-lengan yang kekal” mengacu pada perlindungan dan pemeliharaan terhadap umat Allah. Meski berada di tengah keadaan yang penuh tekanan, umat Allah akan tetap merasa tenang saat menyadari bahwa selalu ada jaminan pemeliharaan Allah yang senantiasa menyertai dan mencukupkan. 

Apakah Anda merasa seolah sedang terjun bebas saat ini? Kuatkan hatimu. Lengan Allah yang penuh kasih akan selalu menangkap Anda. 

Tuhan Memberkati..

(Diedit dari berbagai sumber..)

Ringkasan Khotbah: Pelayanan Pemulihan

Standard

Ayat Bacaan: Yakobus 5:19-20

Kekristenan tidak berujung pada kepentingan diri sendiri. Kalau kita mau berbahagia, jangan berfokus pada diri sendiri. Ada banyak permasalahan di dalam hidup yang tidak dapat diselesaikan dengan uang. Pelayanan pemulihan adalah panggilan setiap kita. 

Galatia 6:1-5 : Ayat ini berbicara tentang kerinduan kita untuk mau melakukan pelayanan pemulihan. Dan ketika melakukan pelayanan tersebut, kita sendiri juga akan bertumbuh. Tujuan hidup kita diselamatkan dan dipenuhi Roh bukan untuk kepentingan diri sendiri. Kehidupan spiritualitas bukanlah tujuan akhir, tetapi supaya hidup kita dapat menjadi berkat bagi orang lain. Kalau semua kebaikan Tuhan hanya kita nikmati untuk diri sendiri, maka kita akan berhenti bertumbuh. 

Bagaimana melakukan pelayanan pemulihan?
1. Melakukannya dengan roh lemah lembut, bukan dengan kemarahan. Lemah lembut bukan berbicara tentang sifat lemah, tetapi tentang kekuatan yang sangat besar tapi tetap terkendali. Imamat 19:17: Menegur dengan terus terang, jangan membenci, dan selalu siap mengampuni. Menegur tetapi jangan menjatuhkan mental dan menghancurkan harga dirinya. Kunci kelemah lembutan: Menjaga sikap untuk tidak menghakimi (Roma 2:1) serta tetap menyadari bahwa kita juga memiliki kelemahan diri. 

2. Mau menanggung beban orang lain. Pengampunan: Bersedia menanggung beban akibat kesalahan / dosa orang lain (Roma 15:1). Bertolong-tolonglah dalam menanggung bebanmu (Galatia 6:1). Menegur karena kita peduli dan mau memulihkan, bukan karena sekadar melampiaskan emosi. 2 Korintus 11:29. 

3. Menguji diri kita sendiri. Tidak memandang rendah orang yang kita layani (Obaja 1:12). 1 Korintus 10:12: Jangan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, karena setiap orang tidak sama dalam menghadapi setiap tantangan dalam hidup. 

Tugas kita melakukan pelayanan ini, tetapi tetap jangan melupakan bahwa yang mengubah hidup orang lain itu Tuhan, bukan diri kita. Ketika kita melakukan pelayanan ini, hidup kita juga bertumbuh. Melalui setiap konflik dan permasalahan, hidup kita juga bertumbuh dan dilatih bagaimana kita dapat bersikap. Tuhan menempatkan orang-orang tertentu, bahkan yang sangat sulit untuk dihadapi, untuk membuat hidup kita bertumbuh dan melakukan pelayanan pemulihan ini. 

Doakan orang-orang yang selama ini membuat diri kita marah, menjengkelkan, dan menyakitkan hidup. Doakan agar Tuhan memberkati dan memulihkan hidup mereka, serta juga memberi hati kita belas kasihan agar Tuhan terus memakai hidup kita untuk dapat menjadi saluran berkat bagi mereka. 

Ditulis dari khotbah Pdt. Agus Lianto di Ibadah 1 MDC Surabaya..