Monthly Archives: December 2017

Mengucap Syukur

Standard

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kolose 3:17).

Selama berabad-abad, manusia dari berbagai bangsa menyelenggarakan pesta panen untuk mengucapkan syukur atas anugerah alam dan berkat dalam kehidupan. Pada tahun 1863, Presiden Abraham Lincoln menetapkan sebuah hari libur nasional di Amerika Serikat sebagai “hari untuk mengucap syukur dan memuji kebaikan Bapa”. Kolumnis Washington Post, Richard Cohen menganggap bahwa sebagian besar hari libur dirusak oleh semangat perniagaan. Namun, hari raya Pengucapan Syukur sampai sekarang masih tetap sesuai dengan tujuannya. Ia berkata, “Hari ini adalah hari yang luar biasa. Ini adalah hari yang penuh dan seluruhnya tentang pengucapan syukur.”

Entah apa yang dilakukan orang lain, tetapi kita sebagai pengikut Kristus memiliki hak istimewa dan tanggung jawab untuk terus mengucap syukur setiap hari, di sepanjang tahun yang kita jalani. Paulus mendorong jemaat Kolose untuk terus bertumbuh di dalam Kristus dan senantiasa berlimpah dengan ucapan syukur (Kolose 2:6,7). Kita melakukan semua hal “dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kolose 3:17).

Pengumuman resmi dari Abraham Lincoln itu juga menyatakan bahwa seluruh berkat yang kita terima adalah “karunia luar biasa dari Allah yang Mahatinggi, yang, meskipun membenci dosa-dosa kita, Dia tetap berbelas kasihan.”

Hari ini adalah hari yang pantas bagi kita untuk mengucap syukur pada Allah. Begitu juga besok dan hari-hari yang akan datang. Sukacita hidup timbul dari hati yang mengucap syukur. (Ditulis dari sumber Renungan Harian Online..)

Advertisements

Oase Anugerah

Standard

“Tuhan, Engkau mengetahui segala keinginanku, dan keluhkupun tidak tersembunyi bagi-Mu;” (Mazmur 38:10).

Saat hadir dalam acara panel bersama dengan para orangtua yang mengalami berbagai peristiwa kehilangan, kami terkejut bahwa kami bisa belajar banyak dengan cara mendengarkan. Pada awalnya kami hadir dalam acara tersebut hanya untuk membantu orang lain yang sedang berduka, tetapi pada akhirnya kami dapat saling melengkapi.

Ada cerita seorang Ibu yang kehilangan anak perempuannya dikarenakan mengidap penyakit radang selaput otak, dan membagikan kebenaran sederhana yang menyentuh hati kami. Ketika terus menerus bertanya kepada Ayahnya “Mengapa?”, sang Ayah justru menjawab bahwa pertanyaan yang lebih baik dilontarkan adalah “Siapa?”. Ayahnya menjelaskan bahwa ia pasti tidak akan pernah mengerti alasan mengapa anaknya meninggalkan dunia ini dengan begitu cepat. Namun akan sangat membantu apabila ia berpikir akan siapakah pribadi Allah di balik semua tragedi yang dialaminya itu.

Mari merenungkan apa maknanya bagi hidup kita dalam menghadapi berbagai kesulitan yang mungkin diijinkan Tuhan untuk kita lalui hari-hari ini. Ketika menghadapi berbagai peristiwa tidak disangka-sangka dan bertanya “Siapa?” kita mendapat jawaban, “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan,” (2 Korintus 1:3). Saat kita lemah, kita akan mendapati, “Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” (Mazmur 18:3).

Ketika dosa dunia ini tampaknya sudah tidak tertahankan, kita tahu bahwa “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” (Roma 16:20).

Apabila pertanyaan “Mengapa Tuhan?” muncul dalam hati, sebaiknya kita bertanya, “Siapakah Engkau, Allah?” Lalu carilah Dia di dalam firman-Nya. Di padang gurun kedukaan, Tuhan menyediakan oase anugerah. (Diedit dari sumber Renungan Harian Online).

Musim Salju Abadi

Standard

“…sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.” (Mazmur 30:6)

Bayangkan dunia fiktif Narnia yang diciptakan C.S. Lewis. Di sana musim dingin berlangsung selama ratusan tahun. Musim dingin yang lengkap dengan salju basah—tidak ada harapan untuk datangnya musim panas yang menghalau suhu beku dan tumpukan salju. Musim dingin abadi dan tidak akan pernah ada Natal! Bagi saya, hal yang paling menyenangkan dari musim dingin adalah pengharapan, kegembiraan, dan tentu saja, perayaan keajaiban Natal. Hidup menjadi suram apabila kita tidak memiliki pengharapan.

Ada sebagian orang yang jiwanya telah membeku. Kekerasan hidup telah mengeras dalam jiwa-jiwa mereka. Karena kekecewaan hidup, setiap hari mereka hidup dalam keputusasaan. “Sepanjang malam ada tangisan,” kata sang pemazmur, “menjelang pagi terdengar sorak-sorai” (Mazmur 30:6). Dalam setiap kegelapan hidup yang kita alami, ada Allah yang rindu untuk mengubah ratapan kita menjadi tarian yang penuh sukacita (ayat 12).

Daud menulis, “Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku” (Mazmur 94:19). Jika kita berseru kepada Allah di tengah “musim dingin”, maka hari ini kita dapat mengalami sukacita Kristus yang lahir pada Natal. Yesus dapat mengubah duka Anda menjadi tarian. (Ditulis dari sumber Renungan Harian Online).

Paradox of Time

Standard

The Paradox of Our Time

1. We live in times when we see many humans, but not enough humanity.

2. We live in times when the rich has more rooms than children and the poor has more children than rooms.

3. We live in times when smart phones bring you closer to those who are far, but distance you from those who are close.

4. We live in times when we open Facebook, more than Holy Book.

5. We live in times when a single mother can look after 10 children, but 10 children can’t look after a single mother.

6. We live in times when the rich walk miles to digest food, while the poor walk miles to obtain food.

7. We live in times when our contact lists are huge, but our relationships are poor.

8. We live in times when our possessions are more, but our appreciation is less.

9. We live in times when we know how to earn a good living, but somehow forget how to live good.

10. We live in times when many know the price of everything, but the value of nothing.

Indeed, we live in a strange world.

Is this what we call a modern world?

Menantikan Allah

Standard

Subject: Menantikan Allah

“Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,” (Lukas 2:25).

Penulis Henri Nouwen mengamati bahwa halaman-halaman pertama dari Injil Lukas dipenuhi dengan orang-orang yang sedang menanti. Mereka adalah Zakharia dan Elisabet, Maria dan Yusuf, Simeon dan Ana.. mereka semua menantikan pemenuhan janji Allah. Akan tetapi, bukannya menanti dengan sikap yang pasif, mereka justru dengan aktif mencari Tuhan setiap hari dalam hidup mereka. Nouwen menyebut sikap mereka sebagai sikap “siap sedia”.

Simeon, misalnya. Alih-alih dikendalikan rasa putus asa, ia justru dituntun oleh Roh yang kemudian mendorongnya untuk pergi ke Bait Allah. Kata-kata pujian yang terlontar dari mulutnya pada saat melihat bayi Yesus, Sang Mesias yang dijanjikan, mencerminkan suatu teladan harapan yang penuh kesabaran kepada Allah. Ia berkata, “Mataku telah melihat keselamatan yang dari-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” (Lukas 2:30-32).

Banyak di antara kita yang menantikan jawaban doa atau pemenuhan janji dari Allah. Firman-Nya datang kepada kita, sama seperti pengalaman mereka yang disatukan dalam berbagai peristiwa yang menandai Natal pertama: “Jangan takut, hai Zakharia” (1:13); “Jangan takut, hai Maria” (1:30); “Jangan takut, [hai para gembala]” (2:10).

Apabila kita mendengarkan Allah melalui firman-Nya dan menaati-Nya, maka kita akan menemukan kebaikan dan kuasa-Nya ketika menanti-Nya –DCM (disadur dari sumber Renungan Harian Online).

Tentara Berjiwa Kesatria

Standard

Subject: Tentara Berjiwa Kesatria

“…sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan..” (2 Timotius 2:24,25).

Sebelum mendaftar menjadi anggota Tentara Utara untuk berperang dalam Perang Saudara di Amerika Serikat, Joshua Chamberlain adalah seorang profesor yang tenang dan sederhana. Di medan peperangan militer yang berat, ia dikenal karena tindakan kepahlawanannya dalam mempertahankan garis perbukitan Little Round Top selama Pertempuran Gettysburg. Untuk jasanya ini, ia menerima penghargaan Congressional Medal of Honor.

Untuk menghargai jasa Chamberlain atas kemenangan yang diraih Tentara Utara, Jenderal Ulysses S. Grant memilihnya untuk menerima bendera penyerahan diri musuh di Appomattox Courthouse. Pasukan tentara dari Selatan yang kalah menduga akan menerima hinaan dan pelecehan. Akan tetapi, Chamberlain justru menunjukkan kebaikan dan rasa hormat kepada mereka. Sebab itu, perwira komandan Konfederasi menulis dalam riwayat hidupnya bahwa Chamberlain adalah “salah satu tentara yang paling berjiwa kesatria dalam Angkatan Bersenjata Federal”.

Sebagai seorang kristiani yang taat, Chamberlain mencerminkan kasih karunia Kristus. Kita memang perlu mempertahankan keyakinan kita, tetapi juga perlu bermurah hati kepada mereka yang tidak sepakat dengan kita. Paulus meminta Timotius, “sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus …. harus ramah terhadap semua orang. Ia harus pandai mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan” (2 Timotius 2:3,24,25). Baik dalam perselisihan maupun dalam rekonsiliasi, kita harus mencerminkan kemurahan hati seorang prajurit Kristus yang berjiwa kesatria.

Tidak ada yang seagung kemurahan hati. Tidak ada yang semulia kebenaran. (Ditulis dari sumber Renungan Harian Online)

Daniel Masa Kini

Standard

“Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya..” (Daniel 1:8).

Tokoh Alkitab seperti Daniel memberi kekuatan dan memperlihatkan bagaimana seharusnya kita hidup. Kita masih tetap membutuhkan “Daniel-Daniel” masa kini—pria maupun wanita yang memiliki keyakinan teguh dan keberanian untuk mempertahankan keyakinannya meski dalam situasi terancam penderitaan atau kehancuran.

Ayah saya, Dr. M.R. De Haan adalah orang yang seperti itu. Memang ia tidak sempurna. Ia manusia biasa yang juga memiliki kelemahan. Beberapa rekan bahkan menganggapnya keras kepala. Tetapi ia memiliki karakter tokoh Alkitab itu. Ia berkeyakinan teguh dan berani mempertahankan keyakinannya.

Peristiwa itu sudah terjadi 30 tahun yang lalu, pada tanggal 13 Desember 1965, ketika ayah pulang ke rumah dengan tekad terus bersama Tuhan. Bahkan kata-kata yang diucapkan kepada saya masih jelas terngiang-ngiang di telinga, seakan-akan hal itu baru terjadi kemarin. Sambil mengepalkan tinjunya ke atas meja, ayah berkata dengan tegas,

“Richard, saya tak peduli meski seluruh dunia ini menentang. Saya harus melakukan apa yang benar. Saya harus bertindak sesuai dengan keyakinan saya!”

Tentu saja kita juga harus mawas diri apakah keyakinan kita sudah terpancang pada dasar yang benar. Setelah merasa pasti, kita harus seperti Daniel, yang tidak hanya punya keyakinan tetapi juga punya keteguhan untuk mempertahankan keyakinannya.

Hari ini, bila kita tergoda untuk mengkompromikan prinsip-prinsip hidup, jangan menyerah! Beranilah seperti Daniel! Tuhan menyediakan keteguhan di dalam keyakinan kita.. (disadur dari sumber Renungan Harian Online)