Ringkasan Khotbah: Terang Kristus Bersinar dalam Kesatuan Umat-Nya

Standard

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” (1 Korintus 1:10).

Allah adalah kasih dan kita harus mengenakannya “…sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3:14) agar terang Kristus dapat bercahaya melalui umat-Nya. Persatuan akan terjadi dalam sebuah komunitas ketika umat-Nya tidak saling menuntut. Seseorang mengalami kekecewaan karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga muncul keputusasaan dan tidak ada lagi hasrat untuk memperbaiki keadaan yang ada. Karena tidak ada lagi hasrat untuk memperbaiki, maka jarak antar sesama menjadi bertambah jauh dan pada akhirnya muncul perpecahan dan berakibat kehancuran.

Lawan dari persatuan adalah perpecahan. Perpecahan terjadi sejak zaman manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Itulah sebabnya dosa menyebabkan perpecahan. Dosa membuat hubungan antar sesama terpecah, membuat seseorang tidak mampu menerima dirinya sendiri, serta membuat dirinya tidak mampu melihat dan menerima kenyataan bahwa Tuhan dapat memberkati hidup orang lain lebih dari dirinya sendiri. Dosa juga menghasilkan penolakan akan Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Dosa mengakibatkan perpecahan dalam keluarga, komunitas, dan antar sesama. Padahal bila kita bersatu hati, Tuhan dapat berbuat luar biasa dalam kehidupan anak-anakNya.

Perpecahan dalam Keluarga

Sebelum jatuh ke dalam dosa dengan tidak menaati perintah Tuhan perihal memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat, Adam menerima kehadiran Hawa dengan berkata, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” (Kejadian 2:23). Tetapi ketika jatuh dalam dosa, kita menemukan adanya perpecahan. Adam tidak dapat menerima dan mensyukuri keberadaan Hawa serta berkata, “…Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” (Kejadian 3:12).

Bahkan anak-anak mereka, Kain dan Habel, juga mengalami perpecahan ketika persembahan Kain tidak diindahkan Tuhan sedangkan Habel diindahkan. Kejadian 4:1-16 mencatat bagaimana dosa berkuasa atas Kain, lalu membunuh Habel adiknya dan “..Kain pergi dari hadapan TUHAN (dan juga dari orangtuanya) dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden.” (Kejadian 4:16).

Keluarga kita tidak dapat bersinar dan tidak menjadi berkat bila kita masih tinggal di dalam kegelapan dan adanya perpecahan yang tidak segera diselesaikan.

Perpecahan dalam Komunitas

Dosa yang tidak segera diselesaikan juga mengakibatkan perpecahan di dalam komunitas. Dosa membuat kita merasa malu dan tidak percaya diri, padahal kita dijadikan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26). Itulah sebabnya kita tidak boleh memandang muka dalam sebuah komunitas karena bila melakukannya, kita berbuat dosa dan melakukan pelanggaran (Yakobus 2:9).

Perpecahan dalam Hubungan Pribadi

Dalam Filipi 4:2, kita belajar tentang adanya perpecahan antara Euodia dan Sintikhe. Ketika umat Tuhan terpecah, tidak ada terang Kristus dan persatuan. Kegelapan dalam dunia tidak dapat menciptakan persatuan. Itulah sebabnya Yesus datang dan mengenalkan diri-Nya sebagai terang dunia yang menuntun setiap umat-Nya untuk tidak berjalan dalam kegelapan dan mempunyai terang hidup (Yohanes 8:12).

Jemaat Tuhan di Korintus terpecah karena dua hal. Pertama, mengkultuskan / mendewakan para pemimpin rohani dan memuja mereka terlalu berlebihan. Tidak salah dengan menghormati para pemimpin, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa mereka tetap manusia biasa, “…Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.” (1 Korintus 3:5). Bila kita masih membanding-bandingkan pemimpin rohani “…bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?” (ayat 4).

Kedua, jemaat Korintus merasa sombong karena banyak karunia rohani berkembang di kota mereka. Dalam 1 Korintus 12-14, Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus dan juga kepada kita bahwa berbagai karunia rohani yang diberikan Tuhan memiliki tujuan membangun tubuh Kristus, bukan untuk pamer diri ataupun sombong rohani.

Terang berbicara tentang memiliki karakter dan hidup benar, serta memiliki hidup yang kudus. “karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,” (Efesus 5:9) maka pilihan ada pada kita. Apakah terang Kristus ingin tetap bersinar melalui kehidupan pribadi dan komunitas kita? Bila jawabnya ya, maka kita harus bersatu, menanggalkan keegoan, serta tetap berjalan bersama untuk melayani Tuhan. Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Ditulis dari khotbah Pdt. Judika Sihaloho di Ibadah LOV Ministry Christmas Celebration pada Tgl. 15 Desember 2017, di Jakarta..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s