Monthly Archives: April 2013

John Sung, Obor Allah bagi Asia

Standard

John Sung lahir di desa Hongchek, wilayah Hinghwa di propinsi Fukien, Tiongkok Tenggara, pada tanggal 27 September 1901. Dia diserahkan pada Allah untuk pelayanan-Nya, dan dinamai Yu-un (kasih karunia Allah). Pada usia sembilan tahun, Yu-un hadir di sebuah pertemuan Jumat Agung, dan Roh Kudus bekerja dalam hatinya. Hidupnya ditandai dengan kasih yang luar biasa pada firman Allah, keinginan kuat untuk berdoa, dan hasrat yang besar untuk berkhotbah.

Pada usia 18 tahun, Yu-un berlayar ke Amerika karena mendapat beasiswa. Ia belajar kimia di Wesley University di Ohio. Beasiswa yang diterima ternyata hanya cukup untuk membayar uang kuliah. Akhirnya dia bekerja keras di sebuah toko mesin dan merangkap menyapu di sebuah hotel. Ia mendapat juara satu di kelas dalam jurusan fisika dengan eksata dan kimia sebagai pelajaran pokok.

Pada tahun 1923, Yu-un mendapat ijazah BA dengan penghormatan tertinggi, anugerah medali emas, hadiah uang tunai untuk fisika dan kimia, dan dipilih menjadi anggota perkumpulan yang sangat eksklusif. Surat-surat kabar Eropa memuat kisahnya. Tawaran kedudukan tinggi dan gaji besar datang mengalir, tapi Yu-un ingin meneruskan pelajarannya untuk mencapai ijazah yang lebih tinggi. Namun dalam hatinya tidak ada damai.

Pada musim gugur, Yu-un masuk di Ohio State University. Program Master of Science diraih hanya dalam waktu sembilan bulan. Dia dianugerahi medali dan kunci emas dari Lembaga Sains. Sesudah itu, dia mengejar dan memperoleh gelar PhD. dalam satu tahun. Pada tahun 1926, Dr. Sung MSc., PhD. didaftarkan sebagai mahasiswa di Union Theological Seminary. Dr. Sung menenggelamkan diri dalam studi teologi liberalnya dan ia memperoleh nilai-nilai tertinggi. Namun hatinya berpaling dari ke-Kristenan dan mengunjungi banyak upacara pemujaan dan lembaga teosofi di New York.

Pada tanggal 10 Pebruari 1927 ia mengalami pertobatan sejati. Dalam tangisan dan doanya, ia mendengar suara, “Anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Roh Kudus memenuhi hidupnya. Namanya disebut John, menurut nama John the Baptist (Yohanes Pembaptis). Ia mulai berbicara kepada setiap orang tentang kebutuhan mereka akan Kristus, termasuk kepada para pengajar di seminari itu.

Di seminari tersebut, John Sung mendapatkan mimpi. Ia melihat mayatnya sendiri, memakai baju sarjana, serta memegang satu ijazah. John Sung mendengar suara berkata, “John Sung sudah mati! Sudah mati untuk dunia.” Kemudian mayat itu bergerak dan bangun, dan para malaikat di atasnya mulai menangis, sehingga ia berseru, “Jangan menangis, hai malaikat-malaikat! Aku akan tetap tinggal mati bagi dunia dan bagiku sendiri.” Tahun-tahun selanjutnya dari hidupnya membuktikan kebenaran pengabdiannya.

Pada tahun 1927, karena ketegangan jiwa yang hebat, belajar melampaui batas, dan konflik rohani selama bertahun-tahun, mengakibatkan pikiran John Sung terganggu dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. John Sung memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat dan membaca Alkitabnya. Selama 193 hari di rumah sakit itu, ia menelaah 1.189 pasal Alkitab dari Kejadian 1 sampai Wahyu 22, sebanyak 40 kali dengan 40 sudut eksegese yang berbeda. Dia keluar rumah sakit sambil membawa 40 naskah eksegese dalam bahasa Inggris dan Mandarin.

Tanggal 4 Oktober, John Sung berlayar kembali ke Shanghai. Ketika kapal makin dekat ke tujuannya, dia teringat akan mimpi dan akan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus di dalam Filipi 3:7. John Sung lalu pergi ke kamarnya, mengeluarkan dari dalam kopornya ijazah, medali emas, kunci-kunci penghormatan, lalu melemparkan semua ke laut kecuali ijazah doktornya, untuk menyenangkan hati Ayahnya.

Mulailah dia bekerja bagi pekerjaan Tuhan. Pertobatan-pertobatan terjadi, kesaksian terus mengalir. Lahan-lahan yang dipersiapkan para misionari sebelumnya memperlihatkan hasil. Pada tahun 1939, ia beberapa kali datang ke Indonesia. Orang datang berduyun-duyun sampai gedung gereja melimpah ruah. Itulah Dr. John Sung dari Tiongkok yang membuat ratusan ribu orang di Indonesia pada tahun 1935-1939 menerima Injil Kristus.

Kesehatan hamba Tuhan yang setia ini semakin lama semakin buruk. Waktu di Surabaya ia berkhotbah sambil berlutut untuk meringankan sakitnya. Pada pukul 7.07 pada tanggal 18 Agustus, John Sung menghembuskan nafas terakhirnya. Ia dipanggil Tuhan pada usia 42 tahun. Orang-orang Kristen di China dan Taiwan, bahkan Indonesia hari ini berhutang banyak kepada pelayanan Sung; ia adalah salah satu karunia terbesar Tuhan bagi Asia. Inilah John Sung, Obor Allah di Asia.

“Masih banyak orang yang lebih baik dari aku! Untuk pembelajaran Alkitab, aku tidak sebanding dengan Watchman Nee! Sebagai pengkotbah, aku tidak sebanding dengan Wang Ming-Tao! Sebagai penulis, aku tidak dapat dibandingkan dengan Marcus Cheng! Sebagai musisi, aku jauh di bawah Timothy Chao. Aku tidak memiliki kesabaran seperti Alfred Chow! Sebagai figur publik, aku tidak memiliki sopan santun seperti Andrew Gih. Hanya ada satu hal di mana aku melebihi mereka: yaitu aku melayani Tuhan dalam setiap kekuatanku” -John Sung

(Disadur dari tulisan Leslie T. Lyall; dari buku “John Sung, Obor Allah bagi Asia”, dan dari berbagai sumber..)

Pernah dimuat di Buletin Phos edisi April 2013..

Advertisements

Engkau Tidak Pernah Sendiri

Standard

Engkau Tidak Pernah Sendiri
(Oleh: Sentuhan Kasih Bangsa)

Kadangkala kita terlalu sibuk untuk meratapi hidup kita sendiri, namun kisah berikut ini mungkin dapat sedikit menyadarkan kita..

Bob Butler kehilangan kakinya saat terkena ranjau di perang Vietnam tahun 1965. 20 tahun kemudian, ia membuktikan bahwa hatinya tidak ikut hilang bersama peristiwa di masa lalunya itu.

Butler sedang bekerja di garasi rumahnya di Arizona, ketika ia mendengar jeritan seorang wanita dari sebuah rumah di dekatnya. Tergelitik oleh perasaannya, ia mulai menggulirkan kursi rodanya menuju rumah tersebut. Tetapi semak-semak  membuat kursi rodanya tidak dapat bergulir lebih jauh. Ia memutuskan turun dari kursi rodanya dan mulai merangkak melewati semak-semak tersebut. “Aku harus kesana,” ia berkata pada dirinya sendiri. “Tidak peduli betapa sakitnya.”

Ketika Butler tiba di tempat jeritan wanita itu berasal, yaitu sebuah kolam renang. Ia melihat seorang gadis 3 tahun, Stephanie Hanes, tercebur ke dalamnya dan saat itu telah berada di dasar kolam renang. Stephanie yang dilahirkan tanpa lengan, tentunya tidak dapat membawa dirinya sendiri naik ke permukaan. Wanita itu – Ibunya – berdiri di samping kolam dan berteriak panik. Tanpa berpikir panjang, Butler langsung terjun ke dasar kolam dan mengangkat anak malang itu naik ke permukaan. Wajahnya membiru, tidak ada denyut nadi dan tidak bernapas.

Butler segera melakukan pernapasan buatan untuk membuatnya kembali bernapas, sementara sang ibu menelepon paramedis. Diliputi perasaan tidak berdaya dan takut kehilangan putrinya untuk selamanya, ia menangis dan memeluk bahu Butler. Butler melanjutkan memberikan napas buatan dan dengan tenang meyakinkan siibu. “Jangan khawatir. Saya sudah menjadi tangannya untuk keluar dari kolam renang. Kini, saya akan menjadi paru-parunya”.

Beberapa detik kemudian gadis kecil itu batuk-batuk, sadar kembali dan mulai menangis. Sang ibu langsung memeluk anaknya dengan diliputi perasaan syukur. Sambil tetap memeluk putrinya, ibu itu bertanya kepada Butler, “Bagaimana Anda tahu kalau putriku akan baik-baik saja?”

“Saya tidak tahu,” katanya. “Tapi ketika kaki saya meledak di Vietnam, saya sendirian. Tidak ada seorangpun di sana yang membantu saya, kecuali seorang gadis kecil Vietnam. Ia berjuang menyeret saya ke desanya, ia berbisik dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah, “Tidak apa-apa, Anda dapat hidup lagi. Saya akan menjadi kaki Anda.” Kata-kata itulah yang membawa harapan bagi jiwa saya dan saya ingin melakukan hal yang sama untuk Stephanie.“

Betapa indahnya kisah di atas. Saat kasih seorang gadis kecil, – yang notabene berasal dari negara lawannya saat itu – menyentuh hati seorang prajurit yang sedang di ambang maut, maka tidak hanya nyawa prajurit itu yang diselamatkan, namun lebih dari itu, gadis kecil itu telah menyelamatkan hatinya. Dan hatinya-lah yang membuat Bob Butler menyelamatkan Stephanie, di tengah keterbatasan fisik yang dimilikinya.

Saat berada di tengah situasi yang seakan membuat kita tidak berdaya, jangan semakin terbenam dalam keadaan mengasihani diri sendiri. Namun sebaliknya, kita harus memiliki hati yang dipenuhi dengan harapan dan ucapan syukur, sehingga kita tetap bijak menyikapi keadaan sekeliling kita, dan dapat tetap menjadi berkat untuk orang lain. Karena saat kita bergerak untuk memberkati orang lain, maka Tuhan sendiri akan bergerak untuk memberkati kita, dengan cara dan waktu-Nya..

Engkau tidak pernah ditinggalkan sendiri..

Sebuah Perenungan..

Standard

Sebuah Renungan Malam..

Ketika orang memuji apa yang kumiliki, aku berkata pada mereka bahwa semua ini hanyalah titipan Tuhan saja..

• Mobilku adalah titipan-Nya.
• Rumahku adalah titipan-Nya.
• Hartaku adalah titipan-Nya.
• Putera-puteriku adalah titipan-Nya.

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya..

• Mengapa Dia ‎​‎menitipkan padaku?
• Untuk apa Dia menitipkan semua itu padaku?
• Kalau semuanya bukan milikku, apa yang seharusnya kulakukan untuk milik-Nya ini?
• Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta-Nya kembali, kusebut itu sebagai..

• Musibah.
• Ujian.
• Petaka.
• Apa saja untuk melukiskan bahwa semuanya itu adalah “Derita”.

Seolah-olah semuanya adalah hukuman bagiku..

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang sesuai dengan hawa nafsu dan kedaginganku, aku ingin lebih banyak..

• Mobil.
• Rumah.
• Harta.
• Popularitas.

Seolah-olah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan sesuai dengan kehendakku..

• Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku dan berkat Tuhan seharusnya selalu menghampiriku.
• Betapa egoisnya aku! Kuperlakukan Tuhan seolah-olah mitra dagang dan bukan kekasihku.
• Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginanku. Padahal setiap hari kuucapkan “Hidup dan matiku hanyalah untuk-Mu ya TUHAN..”

Ajari aku ya Tuhan agar menjadi seorang yang bijaksana, selalu bersyukur dalam segala hal, dan hidup berpegang pada janji serta melakukan segenap firman-Mu.” Amin..

Pencitraan Rohani

Standard

“Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi,” (Kolose 2:18).

Pencitraan, istilah yang marak dipakai akhir-akhir ini, khususnya menggambarkan para politisi atau penguasa yang berbuat sesuatu hal positif agar dipuji masyarakat. Tapi ternyata pencitraan juga bukan hanya milik politisi atau penguasa, para pemimpin agamapun juga memakai cara-cara ini agar umat percaya kepadanya.

Padahal sebenarnya kita sedang dipertontonkan dengan sebuah “kemunafikan” yang dibenci Tuhan Yesus. Para ahli Taurat berpuasa dan sengaja tampil dengan wajah lusuh seakan-akan menjalani perjalanan berat, sehingga orang melihat betapa beratnya perjuangan mereka, mereka melakukan ritual keagamaan untuk sebuah pujian, sebuah kepalsuan yang diikuti kepalsuan dan ironisnya berbaju kerohanian.

Rasul Paulus mengeritik mereka yang tampaknya sangat merendahkan diri dalam beribadah, padahal itu hanya sebuah tampilan yang berisi kepalsuan, bahkan dia mengatakan bahwa Allah tidak bisa dipermainkan. Orang yang penuh kepalsuan, munafik, adalah orang yang mempermainkan Allah, menganggap Allah itu mati, tidak bisa berbuat apa-apa, menganggap Allah itu buta dan bodoh. Mereka memanipulasi ibadah demi keuntungan diri dan tragisnya umat semakin terpukau dengan pencintraan, penampilan-penampilan palsu, karena berjubah kerohanian. Mulut pemimpin agama seringkali tersumbat untuk menyatakan kebenaran akibat kepalsuan.

Padahal Yesus mengajarkan agar kita mencintai kebenaran betapapun menyakitkan, jangan kepalsuan betapapun memukau. Pikirkanlah kebenaran! Katakanlah kebenaran! Lakukanlah kebenaran! Alkitab berkata: “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.”

(Disadur dari broadcast BBM pak Gembala..)

Buku yang Terlupakan

Standard

Bacaan: Mazmur 119:89-104
Nats: “Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku.” (Mazmur 119:93).

Suatu kali seorang anak kecil memerhatikan sebuah buku besar berwarna hitam. Buku itu berselimut debu dan ditaruh di sebuah rak yang tinggi. Kemudian dengan penuh rasa ingin tahu ia bertanya kepada ibunya tentang buku itu. Dengan malu sang ibu segera menjelaskan, “Itu Alkitab. Bukunya Allah.” Anak itu berpikir sesaat, lalu berkata, “Kalau itu bukunya Allah, mengapa kita tidak mengembalikannya saja kepada Allah? Kan tidak ada lagi seorang pun di sini yang membacanya.”

Dalam banyak keluarga, Alkitab nyaris tidak pernah dibaca atau bahkan dipedulikan keberadaannya. Orang membacanya hanya tatkala muncul masalah, penyakit, atau kematian di tengah keluarga. Bahkan pada saat seperti itu pun seseorang bisa jadi masih kebingungan ke mana harus mencari bantuan yang dibutuhkan.

Kapan terakhir kali Anda mengambil Alkitab dan mempelajarinya untuk mendapatkan sukacita, menerima teguran rohani, dan mengalami pertumbuhan rohani? Memang Alkitab adalah bukunya Allah, tetapi Dia tidak ingin buku itu dikembalikan kepada-Nya. Dia ingin agar Anda memiliki, merenungkan, memahami, memercayai, dan menaati pesan yang ada di dalamnya.

Sudahkah Anda membaca bacaan Kitab Suci hari ini? Jika belum, mengapa Anda tidak membacanya sekarang juga? Jangan biarkan Alkitab menjadi Buku yang terlupakan di dalam rumah Anda –RWD

SEMAKIN RAJIN ANDA MEMBACA ALKITAB
SEMAKIN BESAR RASA CINTA ANDA KEPADA “PENULIS”NYA