Monthly Archives: February 2013

Karakter yang Kuat

Standard

Perdana Menteri Winston Churchill dijadwalkan pidato yang disiarkan ke seluruh Britania Raya melalui radio. Karena sopirnya terlambat, dia berjalan dan naik ke sebuah taxi yang sedang parkir. Dia menyuruh sopir untuk ngebut ke kantor radio BBC yang terletak di West End London. Mendengar alamat tujuan sang sopir yang tak mengenali penumpangnya itu berkata:
“West End? Maaf pak, sebentar lagi Perdana Menteri akan berpidato di sana. Tak terbayang macetnya. Bapak cari taxi lain saja, saya akan segera pulang dan mendengar lewat radio pidato Perdana Menteri yang sangat saya kagumi dan hormati.”

Churchill terkejut sekaligus bangga mendengar jawaban rakyat kecil yang menghargai dan menghormati pemimpinnya. Dia mengeluarkan lembaran 100£ dan memberikannya kepada sopir, jumlah yang jauh lebih besar dari ongkos yang normal. Sambil menyabet uang tersebut, sang sopir mulai memacu mobilnya dan berkata:
“Ok, saya akan antar Bapak kemana pun tujuannya. Persetan dengan Churchill dan bualannya itu…”

Perspektif dan prinsip seseorang bisa berubah karena uang. Bahkan hamba Tuhan besar sekalipun. Oleh karena itu dalam mengikuti dan melayani Tuhan, kita harus memiliki karakter yang kuat. Agar kita tidak jatuh karena kekuatan daya tarik uang (Mamon).

Tuhan Yesus mengajarkan: “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24).

(Disadur dari broadcast BBM pak Gembala..)

Advertisements

Jika Putus Cinta, Jangan Membaginya di Facebook..

Standard

Facebook, ibarat seorang psikolog yang handal dan canggih, cukup dengan pertanyaan “Apa yang Anda pikirkan?” maka tak segan dan dengan sukarela kita mengutarakan ke Facebook. Bahkan disadari atau tidak, aib kita pun seolah mudah diceritakan di Facebook hingga menjadi konsumsi publik. Dahulu, aib seolah menjadi rahasia yang harus dijaga dengan sepenuh hati, namun kemunculan Facebook menjadi fenomenal bagi kita. Penculikkan, putus cinta, kehidupan pribadi, selingkuh, dll menjadi tak berarti apa-apa. Bahkan saat putus cinta pun, kita dengan senang hati membaginya di Facebook.

Disadari atau tidak, ada dampak negatif yang sebaiknya Anda ketahui..

1. Menjadi konsumsi publik. Kisah asmara selalu ada sisi positif dan negatifnya. ini adalah persoalan pribadi yang selayaknya menjadi rahasia berdua. Manakala asmara harus kandas, dengan disadari kita akan membaginya di Facebook. Facebook bukanlah satu-satunya media yang tepat untuk membagi kegalauan asmara, karena problem ini akan menjadi konsumsi publik. Sebaiknya, berbagi dengan orang yang bisa kita percayai seperti teman dekat dan keluarga.

2. Berganti status. Sobat, ketika masih menjalani hubungan asmara, di manapun, kegiatan apapun dalam kebersamaan selalu dibagikan di Facebook. Foto-foto waktu masih pacaran, lokasi, update status yang seakan membuat orang iri akan kebersamaan dan keromantisan kalian berdua. Tapi, tatkala hubungan sobat kandas, tak ada lagi update status yang romantis, foto-foto kebersamaan dan lain-lain. Yang ada hanyalah pergantian status kebalikannya, rasa kecewa, marah, dan putusnya hubungan seakan digembar-gemborkan ke seluruh “rakyat” Facebook agar semuanya tahu kalau status kamu sudah berubah. Ini adalah hal kurang baik.

3. Mengungkapkan aib. Yang paling parah adalah ketika aib sendiri diungkapkan ke “republik” Facebook. Tak jarang saat hubungan asmara kandas, salah satu merasa sangat kecewa, akan menyerang mantan pacarnya dengan update status yang berhubungan dengan aib, bahkan tak jarang foto-foto panas pun tak segan untuk di-share di publik. Menjelekkan mantan, menyindir kekurangan-kekurangan sang mantan pacar.. Hal ini sebenarnya perbuatan merendahkan diri sendiri.

4. Berkomentar negatif. Ketika status hubungan menjadi biasa atau menjadi teman, janganlah seolah menjadi sentimen terhadap mantan pacar dengan berkomentar nada yang kurang baik atau menjelekkan di status Facebook-nya. karena hal ini akan menjadi bumerang bagi sobat sendiri.

5. Kepercayaan. Putus hubungan asmara bukan berarti putus tali silaturahmi. Kepercayaan yang pernah ada di antara kalian dan terpupuk dengan baik jangan sampai kandas akibat hubungan putus. Jaga baik-baik kepercayaan tersebut, baik di “republik” Facebook maupun di dunia nyata. Percayalah, kalau mantan sobat akan menjaga cerita-cerita selama pacaran dengan baik dan rapi. Begitu pula dengan sobat. [Disarikan dari berbagai sumber]

(Pernah dimuat di dalam Buletin Phos edisi Februari 2013..)

Menjauh dari Kubur Pernikahan

Standard

Saya akan membawa Anda berjalan-jalan ke sebuah kuburan pernikahan. Di dalamnya terkubur semua pernikahan yang kematiannya saya saksikan sendiri. Tempat itu adalah tempat yang menyedihkan, tetapi merupakan suatu tempat di mana pelajaran-pelajaran berharga dapat diambil. Semua pasangan yang pernikahannya terkubur di sana pernah saling mencintai.

Banyak di antara mereka mengenal Kristus dan percaya bahwa pernikahannya direncakan untuk hidup bersama seumur hidup. Tidak ada seorang pun dari pasangan tersebut yang berpikir bahwa pernikahan mereka akan berakhir di tempat yang mengerikan itu. Tidak ada pernikahan yang mati karena penyebab alamiah, pastilah karena sikap atau tingkah laku dari satu atau kedua pihak dalam pasangan itu. Mari ikuti saya membaca penyebab kematian yang tertulis di atas batu-batu nisan pernikahan-pernikahan tersebut.

Terbunuh karena pekerjaan. Di sini terkubur sebuah pernikahan yang mati karena kegilaan kerja sang suami. Ia pergi bekerja pagi-pagi sekali dan pulang ketika malam telah larut. Ia membawa pulang pekerjaan ke rumah dan sering bekerja di akhir minggu. Ia memberi tahu istrinya, “Aku bekerja untukmu dan untuk anak-anak.” Ia berjanji untuk menghabiskan waktu bersama keluarga; ia berkata bahwa akan lebih sering berada di rumah ketika “segala pekerjaannya telah agak ringan.” Tetapi pekerjaannya tidak pernah menjadi ringan. Ia berhasil dalam bisnis, tetapi harga yang harus dibayar adalah pernikahan yang mati dan anak-anak yang hatinya hancur.

Terbunuh karena anak-anak. Ia selalu bermimpi menjadi seorang ibu. Ketika memiliki tiga anak, ia mencurahkan kehidupannya bagi mereka. Ia melakukan segala sesuatu: memandikan, memakaikan pakaian, bermain, membacakan buku, berdoa, berbicara, mengerjakan PR, memasak, dan mencuci bagi mereka. Dia melupakan bahwa ia juga seorang istri, dan mengabaikan suaminya. Tugas-tugasnya menjadi seorang ibu tampaknya sejalan dengan menjadi seorang kekasih, sahabat, dan partner bagi suaminya. Ia masih tetap menjadi seorang ibu, tetapi sekarang ia tidur sendirian.

Terbunuh karena alkohol. Ia berkata bahwa minum membantunya rileks dan tenang. Ia tidak menyakiti siapa pun dan tidak memiliki masalah. Apa yang ia lakukan adalah penyangkalan besar. Yang ada hanyalah lelucon bodoh, kemarahan hebat, dan tertidur di kursi malam demi malam. Yang ada hanyalah pertengkaran dengan istri dan waktu yang sedikit untuk anak-anak.

Terbunuh oleh obat-obat penenang. Ia mulai minum obat penghilang rasa sakit setelah menjalani sebuah operasi. Ia seharusnya hanya membeli satu resep dan menghabiskannya dalam waktu tiga minggu. Tetapi tekanan dalam kehidupan membuat pil-pil itu terasa enak. Ia menciptakan segala macam penyakit dan menemui dokter-dokter di seluruh penjuru kota. Ia menumpuk persediaan pil-pil penenang dan menyembunyikannya dalam rumah. Lambat tapi pasti, ia menarik diri dari keluarganya. Ia memiliki suasana hati yang tidak baik dan hari-hari di mana ia akan mengunci dirinya dalam kamar.

Terbunuh oleh televisi dan komputer. Ia adalah seorang pecandu televisi. Ia berkata bahwa TV menolongnya menangani pekerjaan yang membuatnya stres. Ia juga senang mengecek email, bermain game, dan menjelajah internet melalui komputer barunya. Bertahun-tahun ia menghabiskan malam demi malam untuk menonton TV atau duduk di depan monitor komputernya. Istri (atau suaminya, red.) menantikan dia untuk memberi kepadanya waktu dan perhatian. Akhirnya pasangannya lelah, dan kini ia memiliki seluruh waktu untuk bermain komputer dan menonton TV tanpa gangguan dari keluarganya.

Kepalsuan-kepalsuan dari keintiman.

Sangat memukul saya bahwa semua tingkah laku spesifik yang dituliskan di sana sebagai penyebab kematian memiliki satu kesamaan: kepalsuan dari keintiman. Penyebab-penyebab itu adalah perbuatan-perbuatan di luar hubungan pernikahan yang menjanjikan kepuasan dan gairah, tetapi berakhir dengan menghancurkan kita dan pernikahan. Kepalsuan tidak dapat membawa apa pun yang baik. Kepalsuan tidak dapat mengantarkan keintiman dalam cara dan bentuk apa pun. Kepalsuan hanya dapat menuntun pada kematian. Jika Anda terus bermain-main dengannya, akhirnya ia akan membunuh Anda, pernikahan, dan keluarga Anda.

Apakah kepalsuan Anda? Apakah pekerjaan, anak-anak, alkohol, obat-obatan, televisi, atau komputer? Mungkin kepalsuan Anda ada juga dalam bidang ini: olahraga, keterlibatan dalam gereja, hiburan, hobi/kerajinan tangan, makanan, berjudi, rokok, binatang peliharaan, berbelanja, gerak badan, uang, kekuasaan, ketenaran, dan seks.

Keintiman atau bencana?

Bagaimana kita dapat menghindari keintiman palsu dan mendapatkan kebutuhan-kebutuhan kita dipenuhi di tempat-tempat yang tepat? Ada satu cara: ikatan spiritual. Iblis tidak tahan terhadap kekuatan spiritual. Ketika kita terikat secara rohani satu dengan yang lain, dan dengan Yesus Kristus, kita memiliki kuasa Allah dan itu lebih dari cukup.

Jika Anda tidak terikat secara spiritual dengan pasangan Anda, Anda tidak akan mengalami keintiman yang sejati. Akibatnya, Anda akan ditarik pada keintiman palsu. Jika Anda tidak memiliki Allah di pusat kehidupan dan hubungan Anda, oknum lain akan berada di sana. Jika Anda tidak “lapar dan haus akan kebenaran” (Mat 5:6), Anda akan tetap lapar dan haus.

Setiap pernikahan mengalami masa-masa sulit: saat-saat ketika kehidupan ini menyakitkan, saat-saat ketika keintiman fisik dan emosional Anda tampaknya kering. Akan ada saat-saat di mana Anda ragu apakah Anda masih saling mencintai. Anda bertanya-tanya apakah Anda benar-benar ingin menghabiskan sisa hidup Anda dengan orang ini.

Di saat-saat sulit seperti itu, satu-satunya hal yang dapat menjaga pernikahan Anda tetap hidup adalah hubungan rohani. Anda berdua akan digoda secara serius untuk kembali pada kepalsuan Anda. Mungkin salah seorang dari Anda telah menghampiri kepalsuan itu, dan pernikahan Anda telah hancur. Iblis akan melihat kesempatannya untuk membunuh cinta Anda, dan ia akan mengejarnya. Ikatan spiritual akan menolong Anda menghindari bencana dan menolong untuk bertahan cukup lama pada hubungan Anda untuk menyembuhkan dan membangun kembali.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Paulus,

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13).

(Disarikan dari tulisan David Clarke; dari buku “Pernikahan yang Berkenan di Hati Allah”. Beliau adalah seorang penceramah terkenal dan penulis buku “Men are Clams, Women are Crowbars” dan “Winning the Parenting War”. Sebagai seorang psikolog Kristen yang menjalankan praktik pribadi, ia memiliki gelar master dalam bidang studi Alkitab dari Dallas Seminary dan gelar Ph.D dalam bidang psikologi klinis dari Western Seminary. David tinggal bersama istrinya, Sandy dan keempat anak mereka di Tampa, Florida).

(Pernah dimuat di dalam Buletin Phos edisi Februari 2013..)

Mempergunakan Waktu dan Kesempatan dengan Baik

Standard

Kisah Pertama

Ada sebuah cerita tentang seorang tukang yang telah bekerja selama puluhan tahun, dan pada suatu hari ia ingin pensiun dari pekerjaannya. Ketika hendak pamit, kontraktor yang mempekerjakannya meminta untuk membuat sebuah rumah lagi. Tukang yang sudah ingin pensiun ini tidak begitu senang mendapat tugas terakhir tersebut. Dengan setengah hati, ia mengerjakan tugas itu. Ia tidak bersungguh-sungguh dalam memilih material terbaik, maupun mengerjakan bagian-bagiannya. Yang ada di dalam pikirannya hanya ingin segera menyelesaikan dan bebas dari tugas tersebut. Dan dapat ditebak, rumah tersebut tidak memiliki kualitas terbaik, yang sebenarnya tukang ini dapat ciptakan.

Begitu rumah tersebut jadi, segera ia menyerahkan kuncinya pada sang kontraktor. Namun, kontraktor mengembalikan kunci itu pada bapak tukang tersebut seraya berkata,

“Terimalah rumah ini sebagai hadiah bagimu dan keluargamu. Rumah ini adalah bentuk ucapan terima kasih dari saya atas pekerjaanmu yang baik selama ini.”

Mendengar hal tersebut, menyesallah hati si bapak tukang. Sebab jika tahu rumah itu akan diberikan padanya, pastilah ia akan membangunnya dengan cara yang sangat berbeda. Ia akan membangun dengan material terbaik, dan dengan bersungguh hati mengerjakan setiap bagian dari rumah tersebut.

Kehidupan yang kita bangun ibarat “rumah” yang kelak akan kita tinggali. Bahan dan cara yang kita pergunakan saat membangun merupakan tanggung jawab dan pilihan pribadi kita. Pertanyaannya di sini adalah: sudahkah kita memberi pemikiran, usaha, dan keputusan terbaik? Serta rasa ikhlas ketika kita membangun kehidupan ini? Setiap kita tentu tidak ingin menyesal melihat akhir dari kehidupan kelak. Marilah kita memulai segala sesuatu dengan hidup benar dan melihat pada “tujuan akhir” akan apa yang hendak kita capai. Capailah tujuan akhir hidup kita dengan memberi pengabdian terbaik di setiap hari.

Kisah Kedua

Ada juga kisah seorang guru yang mengajar muridnya tentang apa arti kehidupan. Setelah mengajar dengan menggunakan perumpamaan berupa pohon, bunga, rumput, burung, diri sendiri dan muridnya, sang guru lalu menggenggam pasir dan kemudian secara perlahan membuka tangannya. Bisa kita tebak, pasir yang digenggam tersebut jatuh dan beterbangan dibawa angin bertiup. Lebih lanjut sang guru mengajar bahwa profesi apapun (baik menjadi raja, presiden, konglomerat, bintang film terkenal, petani, buruh kasar, pengemis, dll.), pada akhirnya setiap kita akan kembali menjadi debu, terbang melayang dibawa oleh angin.

Apakah..

1. Orang-orang di sekitar kita mendapat nilai dan makna yang tersisa dari kehidupan yang sudah kita jalani?
2. Orang-orang di sekitar tahu tentang siapa jati diri kita? Tentunya bukan tentang pengetahuan identitas umum, tapi mengenai karakter dan integritas.
3. Orang-orang di sekitar dapat memahami makna dari status dan jabatan yang kita jalani selama ini?
4. Mereka dapat melihat bahwa apa yang kita lakukan dengan “hidup yang sudah dipercayakan” kepada kita, tidaklah diisi dengan hal sia-sia?

Kembali menjadi debu: Baik kaya atau miskin, raja maupun rakyat biasa, rupawan maupun biasa-biasa, pekerjaan mulia atau sederhana saja. Debu sampai kapan pun akan tetap membisu seribu bahasa, siapa yang peduli itu debunya orang terkenal atau orang sederhana? Siapa yang akan ambil pusing kalau itu debunya orang yang rupawan atau berwajah biasa-biasa saja?

Kunci permasalahannya bukan terletak pada siapa, bukan pula pada status dan kondisi hidup, melainkan bagaimana Anda menjalani kehidupan ini dengan benar dan bertanggung-jawab. Tidak hanya pada sesama, tetapi juga pada Tuhan. Tetaplah menjadi orang yang baik, walaupun kita masih diproses ke arah sana. Jangan pernah menyerah, bahkan jangan pernah menukar integritas dan karakter Anda dengan sesuatu yang bernilai sementara. Hidup benar dan memiliki kehidupan yang baik, itulah kemuliaan dan makna hidup.

Status dan jabatan akan digantikan orang lain, ketika kita menjadi debu. Namun makna dan kemuliaan hidup yang kita bangun selama hidup, akan menjadi pohon dan bunga yang indah, yang dapat dinikmati oleh orang-orang di sekitar kita.

“baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan–” (Amsal 1:5).

–Disarikan dari berbagai sumber

Hiu

Standard

Penggemar masakan Jepang tentu tahu bahwa ikan salmon akan jauh lebih enak dinikmati jika ikan tersebut masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah untuk disajikan. Jauh lebih nikmat dibandingkan dengan ikan salmon yang sudah diawetkan dengan es. Itulah sebabnya para nelayan selalu memasukkan ikan salmon hidup hasil tangkapannya ke dalam kolam buatan, agar tetap hidup sampai di pelabuhan. Namun, meski sudah diperlakukan sedemikian rupa, masih banyak ikan salmon yang mati.

Para nelayan kemudian menyiasati dengan memasukkan seekor hiu kecil. Ikan hiu kecil tersebut “memaksa” ikan salmon terus bergerak, menghindari kemungkinan dimangsa oleh ikan hiu tersebut. Ajaib! Jumlah ikan salmon yang mati di dalam perjalanan menuju daratan menjadi berkurang.

Diam membuat kita mati dan bergerak membuat kita hidup. Barangkali itulah pesan moral dari cerita di atas. “Zona nyaman” kerap kali membuat kita merasa puas, tidak mau berusaha lebih baik, lalu lengah dan terlena. Begitu terlenanya sehingga kita tidak lagi berdoa dan berharap kepada Tuhan, dan secara tidak sadar kita telah “mati’ secara rohani.

Tahukah Anda bahwa masalah, pergumulan, dan tekanan dalam hidup itu bagaikan hiu kecil dalam hidup kita. Hal-hal itu diijinkan Tuhan terjadi di dalam hidup kita, supaya kita terus bergerak dan benar-benar hidup. Tidak hanya itu, masalah diijinkan Tuhan untuk membuat kita menjadi lebih kreatif dan talenta kita berkembang luar biasa.

Ingatlah, kita belajar banyak tentang kehidupan bukan dalam kondisi nyaman, tetapi dalam keadaan yang penuh “badai”. Itulah sebabnya kita harus belajar bersyukur terhadap “hiu kecil” yang sudah diijinkan Tuhan ada dalam kehidupan kita, yang “memaksa” kita untuk terus bergerak, untuk bertahan hidup, di dalam kehidupan ini.

Paulus mengatakan, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Percayalah, ikan hiu kecil yang diijinkan Tuhan datang dalam kehidupan kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Tuhan memberkati.

(Pernah dimuat di Warta GMS Pusat, tanggal 13 Februari 2011..)

Buah Kejujuran

Standard

Seorang CEO hendak mewariskan perusahaan besar miliknya kepada salah seorang eksekutif. Untuk itu ia memanggil seluruh eksekutifnya, dan memberikan masing-masing sebutir benih kepada mereka, serta berkata, “Rawat dan siramilah benih tersbut dengan baik dan teratur. Setahun dari sekarang, saya akan melihat tanaman yang tumbuh dari benih ini. Pemilik tanaman yang terbaik akan menggantikanku sebagai CEO.” Seorang eksekutif bernama Joko membawa benih tersebut pulang. Setiap hari benih tersebut dirawat, disirami, dan diberi pupuk.

Setelah enam bulan, para eksekutif lainnya saling membicarakan perkembangan tanaman mereka. Sedangkan Joko melihat tidak ada perubahan yang terjadi sedikit pun pada benih miliknya. Ia merasa gagal. Setelah setahun, para eksekutif lainnya menghadap sang CEO dengan membawa tanaman hasil benih mereka. Joko berkata pada istrinya bahwa ia tidak mau membawa pot yang kosong pada pimpinannya. Namun istrinya mendorong Joko untuk menceritakan secara jujur kepada pimpinannya apa yang terjadi pada benih tersebut. Joko menyadari bahwa istrinya menyarankan hal yang benar untuk ia lakukan.

Memasuki ruang meeting, para eksekutif lainnya memandang Joko dengan tatapan kasihan. Sang CEO kemudian masuk ruangan dan melihat satu demi satu tanaman yang dibawa pegawainya. Sampai pada akhirnya, sang CEO berhenti tepat di depan Joko yang terlihat tertunduk malu. Sang CEO memintanya untuk maju ke depan dan menceritakan kepada seluruh para eksekutif yang hadir mengenai tragedi apa yang menimpanya sehingga benihnya tidak bertumbuh menjadi tanaman yang indah.

Ketika Joko selesai bercerita, sang CEO berkata, “Mari kita memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Joko, sang CEO yang baru.” Sang CEO berkata, “Aku memberikan kepada kalian sebutir benih yang mati dan tidak mungkin untuk tumbuh menjadi tanaman. Saya yakin kalian telah menukarnya dan berbohong kepadaku. Lain halnya dengan Joko, dia mau berkata jujur.”

Firman Tuhan mengatakan, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:7-8).

Ketika kita belajar untuk menabur kejujuran di dalam hidup, maka kita akan menuai kepercayaan dari kejujuran tersebut. Ketika kita menabur ketekunan, kita akan menuai kemenangan. Dan ketika kita menabur kerja keras, maka kita akan menuai kesuksesan. Bersama Tuhan tidak ada yang mustahil!

(Pernah dimuat di Warta GMS Pusat, tanggal 20 Februari 2011..)

Mengetuk 12.500 Pintu Rumah

Standard

Saat Dr. Ignatius Piazza masih seorang chiropractor muda–seorang ahli kesehatan yang berfokus penyembuhan dengan perbaikan dan penyempurnaan tulang belakang–yang baru lulus, ia memutuskan ingin membuka praktik di daerah Monterey Bay, California. Ketika meminta bantuan asosiasi chiropractor setempat, mereka menyarankan untuk membuka praktik di tempat lain. Mereka mengatakan bahwa ia takkan berhasil karena di daerah itu sudah terlalu banyak chiropractor. Tanpa gentar, ia menerapkan “Prinsip Berikut”nya. Selama berbulan-bulan, ia berkunjung dari rumah ke rumah, mulai pagi sampai matahari terbenam, mengetuk setiap pintu. Setelah memperkenalkan diri sebagai dokter muda yang baru lulus di kota itu, ia mengajukan beberapa pertanyaan:

“Di mana sebaiknya saya membuka praktik?”

”Di surat kabar apa saya harus memasang iklan yang bisa dibaca oleh para tetangga Anda?”

“Apakah sebaiknya saya praktik pagi hari saja? Atau buka sampai malam untuk mereka yang bekerja dari pagi sampai sore?”

“Apakah nama klinik saya sebaiknya “Chropractic Westor”? Atau “Ignatius Piazza Chiropractic?””

Dan akhirnya ia bertanya,
“Kalau saya mengadakan open house, maukah Anda saya beri undangan?”

Jika orang-orang berkata “Ya,” maka ia akan segera menulis nama dan alamat mereka, lalu melanjutkan ke pintu rumah selanjutnya.

Hari demi hari, bulan demi bulan telah berlalu. Ketika selesai, ia sudah mengetuk lebih dari 12.500 pintu, dan telah berbicara kepada lebih dari 6.500 orang. Ia mendapat banyak jawaban “Tidak”. Ia mendapat banyak jawaban “Tak ada orang di rumah”. Ia bahkan pernah terperangkap di sebuah teras–karena seekor anjing pitbull–di sepanjang siang! Tapi ia juga mendapat cukup banyak “Ya” sehingga pada bulan pertama praktiknya, ia menangani 233 pasien baru, dan memperoleh penghasilan terbesar senilai $72.000–di daerah yang “Tidak memerlukan satu chiropractor lagi!”

Dari kisah Dr. Piazza kita dapat belajar bahwa untuk mencapai apa yang diinginkan, kita harus mengetuk.. mengetuk.. dan mengetuk… sampai mendapat apa yang kita mau. Jangan tersinggung dengan penolakan, karena yang mereka tolak bukanlah pribadi Anda, melainkan apa yang Anda tawarkan. Penolakan adalah bagian alami dari kehidupan, Anda akan menemukannya di manapun. Tapi jika ingin sukses dalam bidang apapun, jangan pernah menyerah dalam menghadapi penolakan.

“Aku berkata kepadamu, teruslah meminta kepada Allah, dan kamu akan menerima. Teruslah mencari dan kamu akan menemukannya. Teruslah mengetuk dan pintu akan dibuka bagimu. Sebab setiap orang yang terus meminta, akan menerima. Dan orang yang terus mencari, akan menemukan. Dan bagi orang yang terus mengetuk pintu, akan dibuka.” (Lukas 11:9-10; Versi Draft World Bible Translation Center)

Sumber: The Success PrinciplesTM, Jack Canfield & Janet Switzer; Gramedia Pustaka

“Jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah, jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah–terhadap apa pun, besar atau kecil, luas atau sempit–jangan pernah menyerah selain pada keyakinan akan kehormatan dan akal sehat.”
–Sir Winston Churchill

Disadur dari email bro Maurits di SITYB
(Pernah dimuat di Warta GMS Pusat, pada tanggal 5 Juni 2011..)